FAZER LOGINTok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu dari rumah sederhana dan indah milik Roy. Sejak bergabung dengan Hugo, Roy kini mampu membeli rumah yang ia senangi. Rumah itu bukan rumah mewah, sebenarnya ia bisa saja membeli rumah super mewah bertingkat. Namun Roy memilih rumah sederhana idamannya ini. Rumah ini memiliki halaman yang luas, dari belakang rumah tersebut tampak pemandangan seperti pedesaan. Roy mengatur halaman belakang dengan konsep pedesaan. Di sana ditanami sayuran yaNaga Merah adalah geng mafia paling berbahaya dan ditakuti di kota ini, di bawah kepemimpinan Hugo dan banyak anggota inti mereka. Salah satunya adalah Roy sebagai juru eksekutor penembak utama di kubu Naga Merah. Kamu bilang Roy punya pacar, itu tidak mungkin. Roy tidak akan berani menentang Hugo. Di sana tidak boleh ada yang terlibat dengan asmara. Asmara membuat lelaki lemah. Oleh karena itu, aku dikirim ke Naga Merah sebagai pasangan Roy dan untuk memuaskannya di ranjang," jelas Raya.Axel serasa disambar petir di tengah terik matahari. Dia seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia memang curiga Roy terlibat dengan komplotan ini sebelumnya, tapi dia tidak menyangka Roy adalah bagian inti dan merupakan orang penting di kubu mafia yang harus diberantas oleh Axel."Apakah Hendro dan Doni juga anggota inti?" tanya Axel."Ya, Doni dan Hendro adalah tangan kanan Hugo, orang kepercayaannya. Dan satu lagi, Devan! Lelaki muda tampan yang terlihat ter
Saat tiba di markas, teman-teman yang melihat kedatangan Roy segera mengucapkan selamat datang. Mereka bersulang untuk kepulangan Roy. Dokter pribadi di markas tersebut segera membawa Roy ke kamar dan mengobatinya. Mendengar kebisingan yang terjadi di luar, Raya segera beranjak untuk mengecek situasi. Betapa terharu Raya saat melihat Roy ternyata sudah kembali dengan selamat. Refleks, dia langsung memeluk erat Roy dan menangis.Melihat Raya, muncul ide di benak Roy. Dia pikir agar malam besok dia bisa keluar, dia bisa beralasan untuk jalan-jalan dengan Raya. Hugo pasti tidak akan curiga yang tidak-tidak, pikir Roy."Kak Roy, aku rindu kamu. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Kak Roy, yang mana yang sakit, boleh aku lihat?" tanya Raya."Raya, lepas ya, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah begitu khawatir. Kamu tenang saja, ada dokter yang akan mengobati u." Roy melepaskan pelukan Raya."Kakak masih marah denganku karena kejadian terakhir?" Raya tampak
Hugo berbalik, kemudian mendapati sebuah penayangan video yang langsung berasal dari depan Gedung Merah, tempat biasa Hugo menjalankan bisnis perdagangan manusia.Semua mata kini tertuju pada layar tersebut."Hugo, sekarang juga perintahkan orangmu yang ada di gedung untuk membakar gedung tersebut. Hancurkan semua akses dan sistem untuk orang-orang menuju ke sana, kecuali kamu ingin melihat Roy mati di depan matamu. Sebelum kepergiannya, aku juga akan mengirim video pengakuan Roy tentang kejahatan kalian, di mana di dalamnya ada nama Hendro, Doni, dan orang-orang kesayanganmu lainnya. Tidak lupa, kamu adalah orang yang paling bertanggung jawab alias dalang utama atas kejahatan kalian." Elshi tersenyum sinis.Tiba-tiba saja Roy berdiri dari tempat duduknya. Tangannya terlihat tidak dalam keadaan terikat seperti sebelumnya. Dia mengambil pistol di dekat pinggang Elshi dan langsung mengarahkannya tepat di kepala Elshi.Melihat keadaan lengah, Hendro,
Setelah memakan perjalanan sekitar tiga jam, mereka akhirnya tiba di kediaman masing-masing. Vita memilih diantarkan terlebih dulu ke rumahnya, sementara yang lainnya turun di kediaman Axel, baru pulang ke rumah masing-masing.Axel terkulai lemah saat ibunya bertanya di mana Vita, mengapa tidak balik sama-sama."Bu, Vita marah karena aku tidak membalas cintanya, dia bilang mau melupakanku, menurut ibu apa aku salah? Tapi ya sudahlah, Axel juga tidak mau Bu dibikin repot urusan cinta, Axel mau fokus di karier. Lagian Vita orang kaya, Axel tidak pantas juga bersanding dengannya. Lebih baik Axel memantaskan diri dulu," jelas Axel.Ibu Axel tersenyum mendengar cerita anaknya. Dia bilang dia menyukai Vita. Menurut ibunya tidak apa-apa kalau mau memantaskan diri dulu, tapi jangan menyesal kelak jika Vita justru bersama orang lain. Karena yang memilih ingin jalan masing-masing adalah Axel. Ibunya lebih menyarankan kalau memang suka, jalani saja, apa susahnya hid
"Axel, leher kamu? Hemm, bagus lah," kata Roy dengan ceplas-ceplos.Sementara Vita tampak membawa tas yang berisi barang-barangnya keluar. Dia sudah mencuci muka dan siap berangkat."Vita, biar aku yang bawa tas kamu, tasnya berat. Kamu masuk saja ke mobil," kata Axel."Tidak perlu. Oya, satu lagi, tolong hapus kontakku, atau kalau tidak biar aku yang memblokir nomormu," kata Vita.Axel tampak mematung. Kenapa dia berkata begitu tadi ke Vita? Mungkin seharusnya dia senang mendapat ciuman selamat bangun tidur dari Vita. Kenapa dia justru menuduh Vita yang tidak-tidak?Roy, Zea, Elshi, dan Roy membatu melihat pertengkaran mereka.Zea dan Elshi segera menyusul Vita yang buru-buru ke mobil."Elshi, aku mau duduk bersama kamu dan Damian di kursi belakang." Vita tampak masuk mobil dan duduk di kursi belakang lebih dulu.Mendengar Vita mengucapkan itu, Damian berinisiatif untuk duduk di kursi bagian tengah mobil bersam
Tiba-tiba saja alat pendeteksi kata yang baru saja di aktifkan Axel, sebagai percobaan awal mengeluarkan sinyal alarm, tertulis di layar alat sebesar ponsel genggam, nama Hugo, bahkan kata itu terdeteksi di ucapkan sebanyak lebih dari 5 kali. Jarak deteksi maksimal adalah 200 meter. Berarti orang yang menyebut nama itu ada di sekitar atau tidak jauh dari Axel. Benar saja di sebuah tempat duduk santai, di dekat kamar Elshi dan Damian yang ada di ujung, terlihat Elshi dan Roy sedang bicara berduaan. Axel mendekat dan mencoba menguping pembicaraan mereka. "Roy, jadi bagaimana? apa sebenarnya rencana Hugo, kenapa dia tidak membalas pesan yang ku kirim dengan surat? Jangan-jangan kamu berkhianat padaku, kamu bilang dia akan menghubungi Minggu dini hari, bukti nya besok hari sudah Senin, tapi dia tidak ada menghubungiku sama sekali." Elshi tampak mencengkram kerah kemeja Roy. Mata Axel terbelalak, rasa-rasanya dia ingin berteriak karena kaget, dia berusaha menstabilkan dirinya, percaka
Damian menatap Elshi dengan tegas dan dalam, kemudian menunduk dengan lemas. Elshi mendekat dan memegang wajah Damian yang tertunduk, memaksanya menatapnya dalam-dalam. “Damian, apa kamu marah?” “Tidak, hanya saja aku merasa bodoh. Maaf, Elshi.”
“Damian, besok apa kamu sibuk? Mau tidak aku ajak jalan ke sebuah tempat yang indah?” tanya Elshi lembut.“Emm… lain kali saja ya. Besok aku sudah ada janji,” jawab Damian pelan.“Kamu mau jalan sama Dara?” Elshi tersenyum tipis. “Iya, tidak apa-apa. Kalau begitu aku tidur dulu.
Damian menatap ke arah perkataan Nenek Vio. Kalimat terakhir sang nenek serasa menggema berulang-ulang dan membuatnya terngiang-ngiang. Bukannya Damian perhitungan, tetapi dia sempat terpikir, jika bukan karena dirinya yang membiayai Dara mati-matian, apa Dara bisa sesukses sekarang. Ayah dan ibu
Saat asyik berdansa, tiba-tiba Zea menghampiri Elshi. Dia berbisik ke telinga kakaknya itu. Beberapa saat kemudian, Elshi pergi dari tempat dansa. Pria misterius itu mengikuti arah kepergian Elshi.Ternyata Elshi masuk ke kamarnya. Melihat Elshi masuk ke kamar, pria bertopeng Buruk Rupa







