Share

Bab 4

"Pesankan aku makanan."

Beliau yang ingin makan, aku yang kegirangan.

Menahan pekikan senangku, kuambil telepon rumah yang ada di atas mejanya.

Menekan nomor langganan sebuah restoran mewah dan memesan beberapa paket makanan yang biasa Tuan Abizar pesan.

Yang jujur saja, semua makanan kesukaan beliau adalah makanan kesukaanku. Entah ini kebetulan atau kesengajaan.

Menunggu paket makanan sampai, aku duduk manis di atas sofa yang ada di ruangannya.

Saat suara deru motor terdengar di halaman depan, aku melaju bak kilat untuk menerima pesanan dari kurir hidangan.

Seharusnya tingkahku ini aneh, tapi Tuan Abizar seperti memakluminya.

Aku mengambil piring, menyiapkan setiap makanan dan hidangan yang dibeli keatas meja Tuan Abizar. Sebelum giliranku, aku mempersilahkan tuanku menikmati makanan-makanan ini terlebih dahulu.

"Silahkan Tuan." Gerakan tanganku seperti tidak sabar, lalu duduk menghadapnya.

Tuan Abizar menepikan map, kertas dan laptopnya dari atas meja. Beliau melirikku. "Ambilkan aku air untuk cuci tangan."

Aku mengisi baskom dengan air, memerhatikan jemari indahnya masuk dan menggesek satu jemari dengan jemari yang lain untuk membersihkan tangan.

Setelah tangannya bersih, beliau mulai makan. Gerakan tangan dan mulutnya sangat lambat, aku gregetan menunggunya.

Kusadari tangannya seperti mengabaikan lauk enak kesukaanku—yang sebenarnya semua isi piringnya, masakan kesukaanku—beliau hanya memasukkan nasi dan sayur rebus ke dalam mulutnya, selain itu Tuan Abizar seperti tidak berminat.

Tuan Abizar melirikku yang memerhatikan gerakan bibir dan tangannya, beliau diam cukup lama, menatapku dalam.

Tuan Abizar mengabaikan piringnya, lalu bertanya padaku. "Kamu tahu kenapa aku terbiasa menyiksamu seperti ini?"

Aku mengernyitkan dahi. "Menyiksa seperti apa, Tuan?"

Tuan Abizar mendengus, sepertinya kesal saat aku bersikap tidak peka. "Membuatmu kelaparan, tidak bisa makan sebelum aku selesai makan."

Aku manggut-manggut, menebak jawabannya. "Mungkin hiburan tersendiri bagi Tuan saat melihatku kelaparan, bertingkah layaknya kucing yang menatap isi piringmu penuh damba, berharap Anda mendadak kenyang dan menyisakan banyak makanan untukku?"

Dia kembali mendengus, seperti tidak suka dengan jawabanku. Apakah tebakanku salah?

"Agar aku punya alasan untuk memakan sesuatu." Tangan kiri Tuan Abizar sudah terulur dan menyentuh lembut pipiku. Sebuah kontak fisik yang membuatku terperanjat.

Tuan Abizar yang tersadar seketika menjauhkan telapak tangannya lalu memerintah. "Buatkan aku kopi."

Aku mengangguk lalu membuatkannya kopi panas. Lupa dengan pesan Nyonya Ulfa.

Kopi panas kuletakkan ke atas mejanya, sekali lagi kuaduk agar kopi dan gulanya bercampur rata.

Aku kembali duduk manis di depan mejanya, menantinya selesai makan.

Seharusnya aku sedikit melanggar aturan, demi perutku sendiri makan diam-diam, membeli makanan di warung depan atau memesan makanan tanpa sepengetahuan Tuan Abizar.

Tapi tidak layaknya beliau yang tidak merasa bersalah saat menyiksaku seperti itu, aku merasa bersalah jika mengkhianati orang yang sudah menggajiku dan memberikan tempat berlindung untukku.

"Bawa semua makanan ini ke dapur, makan sesukamu. Sisanya simpan untuk nanti malam."

Sambil tersenyum lebar aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku. Sepertinya cengiranku cukup mengerikan di mata Tuan Abizar, beliau menatapku aneh.

Saat aku meninggalkannya sambil membawa nampan makanan menuju dapur, Tuan Abizar menatap dingin gelas kopi yang kubuat.

Jemari kanannya melingkari ganggang gelas, lalu mengangkatnya. Tanpa ragu, menumpahkan isi kopi yang masih sangat panas ke tangan kirinya.

Tangan yang tadinya menyentuh pipiku itu mendapat konsekuensinya sendiri, dia memerah, kulitnya mengelupas dan terasa begitu perih.

Bibir beliau meringis, tangannya tidak bisa bergerak leluasa seperti tiga detik yang lalu sebelum Tuan Abizar berbuat bodoh.

Lama, Tuan Abizar menatap tangannya dalam diam.

>><<

Abizar berasal dari keluarga yang tegas, hal yang wajar baginya jika Abizar lebih tegas pada dirinya sendiri.

Saat Tuhan belum memberikan ganjaran untuknya sekarang, jika Abizar sadar dia sudah melakukan sebuah kesalahan maka dia akan memberi konsekuensi pada dirinya sendiri.

Tapi jika dia tidak melakukan apapun saat dia melakukan sesuatu yang salah di mata Tuhan dan orang di sekitarnya, berarti Abizar tidak sadar kalau dia baru saja berbuat dosa.

Seperti menghancurkan mimpi setiap mantan istrinya, menceraikan mereka begitu saja, Abizar melakukan sebuah kesalahan karena berbuat demikian, tapi Abizar seperti tidak menyadarinya. Bukan tidak perduli, tapi tidak menyadari.

Abizar tidak suka kopi, tapi dia selalu meminta Mawar untuk membuatkannya kopi.

Biasanya itu terjadi, jika terjadi kontak fisik antara mereka.

Jika tangan Abizar berani menyentuh Mawar, seditik saja, maka Abizar akan menghukumnya dengan kopi atau air panas yang Mawar sendiri yang membuatkannya, tapi wanita itu sama sekali tidak tahu untuk apa Abizar meminta dibuatkan minuman panas kecuali untuk diminum setelah cukup dingin.

Pertama kali Abizar tegas pada dirinya sendiri, enam bulan setelah Mawar bekerja di rumah ini.

Kali ini Abizar tidak akan berbohong, Mawar adalah kelemahannya. Wanita yang membuatnya tergantung dan berharap Mawar ikut bergantungan.

Mawar yang saat itu tertidur, tangan kiri Abizar yang lancang mengusap rambut dan pipinya.

Saat itu juga Abizar mulai memberi konsekuensi pada diri sendiri. Dia mengambil segelas air panas dan menyiram telapak tangannya sendiri, rasa sakitnya sama dengan rasa perih saat mencekram bara api.

Bagi Abizar, ini lebih baik untuknya. Meskipun, jika Mawar sedekat ini, Abizar mustahil tidak menyentuhnya sama sekali.

Selalu saja ada dorongan tersendiri untuknya menyentuh sosok figur yang membuatnya tak bisa beralih.

Untuk menjaga Mawar dari kelakuannya yang lebih dari itu—Abizar harus memprioritaskan harga diri dan kehormatan Mawar—satu sentuhan yang menjadi awal dari sentuhan lain akan jera saat ditemukan dengan rasa sakit.

Karena sejak kecil, keluarga Abizar sudah menegaskan tanggung jawab dan rasa sakit kepada lelaki itu.

Lamunan Abizar buyar saat ponselnya memekik kencang.

Lelaki itu meringis, tidak sadar mengambil ponsel dengan tangan kirinya yang terluka.

Abizar menggantinya dengan tangan kanan, lalu menerima sambungan telepon, setelah mengecek siapa yang menelpon raut wajah Abizar langsung berubah.

"Assalamualaikum."

Salam itu Abizar abaikan sejenak, lalu bibirnya menjawab dingin. "Walaikumsalam."

"Ya Abizar, kudengar Ulfa sudah keluar dari rumahmu? Masa iddahnya sudah selesai, kamu benar-benar tidak berniat merujuknya ternyata."

Abizar hanya diam.

"Kau tahu, Abi sangat marah, dia masih begitu kecewa padamu. Beliau belum mendatangimu karena berpikir kecantikan Ulfa akan memutar otakmu dan kamu pasti akan merujuk Ulfa lagi. Ternyata, sama saja seperti sebelum-sebelumnya, kamu tidak bisa diharapkan."

Abizar masih diam. Pandangannya dingin, bibirnya enggan berkutik.

"Hei, padahal Ulfa adalah wanita tercantik yang pernah kulihat, seharusnya begitu pula di matamu. Kupikir, Ulfa akan membuatmu berhenti pada kebiasaanmu yang tidak berprikemanusiaan itu."

"Kalau begitu, kamu saja yang menikahinya."

"Bisa saja, tapi istriku sudah empat, aku tidak bisa menambahnya kecuali menceraikan salah satunya."

Abizar adalah satu-satunya anak dari ayahnya yang asli Arab Saudi dengan istri pertamanya yang berdarah Jawa yang sudah meninggal.

Setelah ibunya meninggal sepuluh tahun yang lalu, Abizar memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan menetap di tanah kelahiran ibunya.

Agar berdekatan dengan makam sang Ibu, yang sejak Abizar berusia satu tahun sudah bercerai dari ayahnya.

Alasan perceraian orang tuanya tidak jauh-jauh dari yang Akmal bahas barusan, wanita seharusnya memiliki prinsip, lebih baik berpisah dari pada diduakan. Karena hadirnya wanita lain, tak pernah bagus untuk hati dan pikiran seorang wanita.

Sebenarnya Abizar bangga dengan keputusan ibunya, sekalipun dia bukan tipe yang begitu menghargai wanita, dilihat dari kelakuannya selama ini. Tapi menyakiti wanita yang diakui dicintai, selalu terdengar aneh di telinga atau kata lainnya, bohong.

Dulu, ayahnya selalu bilang mencintai ibunya, sehingga itulah Abizar berhenti memercayai apapun yang ayahnya katakan tentang cinta, perasaan dan keluarga.

"Jika kamu tidak puas dengan Ulfa, kamu tidak usah menceraikannya. Kamu bisa mencari wanita kedua, ketiga dan keempat. Pikiranmu sangat buntung dan dangkal."

Abizar mengetatkan rahang, "bahasanmu tidak perlu, akan kututup."

"Sebenarnya ada berita penting yang ingin kusampaikan, yang tadi hanya basa-basi. Abi akan mencarikan wanita lain untukmu, dia tidak akan berhenti sampai kamu bertahan pada satu wanita—atau lebih. Jangan kecewakan keputusan kami, Abizar. Keluarga kita sangat mengharapkanmu."

"Atau jangan-jangan, ada wanita lain yang kamu inginkan ...?"

Abizar diam. Jika ditanya, jawabannya; ada. Tapi jika menikahinya, apakah Abizar bisa menjamin dapat menjaganya?

Jika sudah memiliki, Abizar tidak mau menyakiti. Tapi jika wanita itu menjadi miliknya, kemungkinan terbesar dia akan membuat wanita itu terluka, sama persis seperti ibunya. Wanita jawa yang tersesat di negeri gurun, lalu pulang dengan luka.

Abizar tidak mau, wanitanya bernasib seperti itu.

"Kamu boleh menikah dengan siapapun, dari kasta manapun, negeri manapun, jadi jika kamu memang punya wanita pilihan, silahkan—"

"Aku tahu."

Abizar memotong dan melanjutkan. "Bahkan, jika aku menikahi pengemis kalian akan mengijinkannya. Tapi ... aku tidak mau membuat dia terjebak oleh budaya keluarga kita. Setelah kunikahi, saat dia berpikir menjadi satu-satunya wanita yang bersanding di sebelahku, malah keluargaku sendiri yang secara bergantian menawarkan wanita kedua, ketiga dan keempat untukku, di depan istriku langsung.

Sekalipun aku menolaknya, kalian yang terus berusaha meyakinkan pasti akan membuat istriku meragukan kesetiaanku. Apalagi, sebenarnya kalian bukan menawarkan, tapi memaksa. Bukan hanya itu, keluarga kita jauh dari kesetaraan gender. Lekat dengan patriaki, pengekangan dan semacamnya.

Sekalipun aku memiliki wanita pilihan, sekalipun aku sangat ingin menikahinya, tapi aku tidak mau dia merasakannya—merasakan apa yang tidak pernah dia rasakan, disakiti padahal dia bisa memilih pria lain yang tidak akan menyakiti dengan cara terkejam—diduakan—terkekang padahal banyak lelaki lain yang memberikannya kebebasan, tidak adanya kesetaraan gender padahal banyak lelaki lain yang menganggap peran wanita dan lelaki itu sama pentingnya."

Akmal kehilangan kata-kata, kalimat panjang-lebar Abizar menyadarkannya. Saudaranya ada benarnya.

"Padanya, aku sangat ingin menawarkan pernikahan. Tapi aku tahu, apa yang kutawarkan sama saja menawarkan sebongkah bara api yang harus digenggamnya seerat mungkin. Jadi, aku hanya bisa menjebaknya di rumah ini. Tidak bisa menikahinya, tapi tidak akan membiarkannya pergi."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status