로그인Matahari pagi menembus celah jendela paviliun, menyinari Elara yang sudah berdiri tegak di depan meja pemetaan besar.Setelah sesi pengisian energi yang intens di kolam air panas semalam, kulitnya kini tampak bercahaya dengan pendaran sihir yang lebih stabil.Dia mengenakan jubah kebesaran berwarna kelabu gelap dengan sulaman benang perak yang menggambarkan lima klan binatang.Di belakangnya, kelima raja masuk dengan langkah berat namun patuh. Bekas cakar dan gigitan di punggung serta bahu mereka menunjukkan betapa liarnya pergulatan energi yang terjadi beberapa jam lalu.Elara tidak membuang waktu. Dia meletakkan jemarinya di atas peta wilayah Barat yang masih tertutup kabut hitam.“Wilderheim tidak bisa hanya bertahan di balik tembok ini,” Elara memulai dengan suara yang jernih dan penuh otoritas.“Wilayah Barat adalah kunci. Di sana terdapat tambang kristal mana yang bisa memperkuat segel pelindung kita secara permanen. Aku telah menyusun strategi ekspansi yang melibatkan koordinas
Uap panas mengepul tebal dari permukaan kolam batu alam yang terletak di paviliun terdalam istana.Air mineral yang mengandung belerang dan energi purifikasi itu terus mengalir dari mulut patung naga, menciptakan suara gemericik yang menenangkan.Elara duduk di undakan batu paling atas di dalam air, membiarkan cairan hangat itu merendam tubuhnya hingga sebatas dada.Demonstrasi kekuatan elemen di siang hari tadi benar-benar menguras cadangan sihirnya, membuat sendi-sendinya terasa kaku dan jiwanya mendambakan asupan energi murni.Jubah hitamnya telah tergeletak di lantai marmer, menyisakan tubuhnya yang polos di bawah permukaan air yang jernih.Elara memejamkan mata, namun dia bisa merasakan kehadiran lima energi besar yang mendekat. Pintu kayu cendana bergeser terbuka.Satu per satu, Lucian, Vrax, Malphas, Kaelath, dan Zhen melangkah masuk.Mereka telah menanggalkan seluruh zirah dan pakaian mereka, memperlihatkan tubuh-tubuh jantan yang penuh otot, luka parut sisa perang, dan kejant
Matahari siang menyengat tepat di atas alun-alun utama istana Wilderheim. Ribuan rakyat dari berbagai klan, Serigala, Harimau, Elang, Ular, dan Panther berkumpul dalam formasi melingkar yang rapat.Mereka berdiri dalam kesunyian yang mencekam, menatap podium batu raksasa yang masih menyisakan retakan sisa pertempuran sebelumnya.Ketegangan terasa nyata di udara, bukan karena ancaman musuh, melainkan karena desas-desus tentang kekuatan sang Ratu yang telah berevolusi setelah malam kemenangan di Lembah Kabut.Elara melangkah keluar dari bayang-bayang pilar istana. Dia tidak lagi mengenakan sutra tipis yang provokatif.Hari ini, dia mengenakan jubah perang kulit berwarna hitam pekat dengan aksen perak yang membalut tubuhnya secara fungsional namun tetap memperlihatkan lekuk dominasinya.Di belakangnya, kelima raja binatang berjalan dengan langkah serempak. Mereka mengenakan jubah kebesaran klan masing-masing, namun posisi mereka berada satu langkah di belakang Elara, menandakan secara vi
Suara langkah kaki berat yang beradu dengan lantai marmer koridor terdengar seperti derap genderang perang yang belum usai.Pintu ganda kamar Elara terbanting terbuka dengan dentuman keras, menyingkap lima sosok raksasa yang tampak mengerikan sekaligus memikat.Lucian, Vrax, Malphas, Kaelath, dan Zhen berdiri di sana, zirah mereka retak, bercak darah musuh mengering di wajah dan lengan mereka, namun mata mereka menyala dengan satu jenis kelaparan yang sama.Aroma tembaga dan debu medan laga menyerbu masuk, namun segera kalah oleh wangi semerbak bunga sedap malam dan feromon kewanitaan yang kental di dalam kamar.Elara duduk tenang di tepi ranjang raksasanya. Dia hanya mengenakan jubah sutra transparan tipis yang sama sekali tidak menyembunyikan apa pun.Kain itu jatuh terbuka di bagian depan, memamerkan sepasang payudara kenyal dengan puting kemerahan yang menegang terkena udara dingin, serta hutan kecil di pangkal pahanya yang terpampang nyata.“Kalian kembali tepat waktu,” suara Ela
Lembah Kabut bukanlah sekadar nama; itu adalah rahim kematian. Kabut kelabu yang tebal dan berbau belerang menyelimuti dasar lembah, menyembunyikan ribuan prajurit Suku Terbuang yang haus darah.Namun, di baris terdepan pasukan Wilderheim, sebuah fenomena ajaib terjadi.Lucian, Vrax, Malphas, Kaelath, dan Zhen merasakan sesuatu yang hangat dan bertenaga mengalir di bawah kulit mereka, sebuah denyutan yang sinkron dengan detak jantung Elara di istana.Jauh di puncak menara istana, Elara duduk bersila di tengah lingkaran segel sihir yang memancarkan cahaya keemasan.Tubuhnya hanya dibalut jubah sutra tipis yang tersingkap, memperlihatkan kulitnya yang masih memerah akibat penyatuan liar semalam. Dia memejamkan mata, tangannya mencengkeram udara seolah memegang kendali atas takdir di kejauhan.“Rasakan aku...” bisik Elara, suaranya bergema melalui Spirit Link.Di medan perang, Lucian yang memimpin klan Serigala mendongak. Dia melihat sebuah kubah cahaya keperakan yang transparan mulai me
Fajar menyingsing dengan warna merah tembaga yang merayap di dinding kamar, namun hawa panas di dalam ruangan itu belum juga memudar.Elara terkapar di tengah hamparan seprai sutra yang kini berantakan, basah oleh keringat dan sisa-sisa penyatuan liar semalam.Napasnya masih pendek-pendek, dadanya naik turun dengan ritme yang berat. Tubuhnya terasa remuk, namun ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang bergejolak di balik pembuluh darahnya.Saat kelima raja itu mulai mengenakan zirah pertempuran mereka dalam keheningan yang khidmat, Elara merasakan sebuah denyutan hebat di pangkal rahimnya. Itu bukan rasa sakit. Itu adalah ledakan energi yang dingin namun sekaligus membakar.Setiap tetes benih yang ditinggalkan oleh Lucian, Vrax, Malphas, Kaelath, dan Zhen di dalam tubuhnya tidak mengalir keluar.Sebaliknya, cairan itu seolah terserap ke dalam pori-pori dinding rahimnya, berubah menjadi partikel cahaya keperakan yang merambat naik melalui tulang belakangnya.“Ah...” Elara melenguh pelan, ma







