Home / Fantasi / Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang / Tak Menyangka akan Jadi Rebutan

Share

Tak Menyangka akan Jadi Rebutan

Author: Ryu_Queen
last update Last Updated: 2026-03-04 05:25:53

“Kau selalu rakus, Lucian. Perang antar wilayah baru saja usai, dan kau sudah ingin menelan anugerah paling langka di Wilderheim seorang diri?”

Dari kegelapan, muncul Kaelath. Kulitnya sepucat rembulan, kontras dengan pakaian dari sutra hutan hitam yang melekat di tubuhnya yang atletis.

Matanya tidak berpendar emas seperti Lucian sang Serigala, melainkan perak tajam dengan pupil vertikal yang bergerak-gerak liar.

Kaelath adalah pemimpin Suku Ular Putih, kaum yang mendiami rawa-rawa es dan dikenal sebagai pembunuh bayangan yang mematikan.

Lucian tidak melepaskan cengkeramannya pada Elara, namun Elara memberikan perlawanan yang tenang. Dia tidak menjerit. Dia justru menggunakan telapak tangannya untuk menekan dada Lucian, menciptakan jarak yang cukup agar ia bisa bernapas.

“Kaelath. Beraninya kau masuk ke sarangku tanpa izin!” desis Lucian geram, taringnya mulai menyembul.

“Izin?” Kaelath tertawa halus, namun suaranya mendesis tajam.

“Aku sudah mencium aroma 'penawar' ini sejak dia pertama kali muncul di perbatasan. Kau hanya kebetulan berada di titik jatuh sang Penunun Jiwa.”

Elara menoleh ke arah Kaelath. Matanya tidak lagi memancarkan ketakutan buta, melainkan rasa ingin tahu yang waspada.

“Penunun Jiwa? Penawar? Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi di sini. Aku tidak akan bergerak satu inci pun sebelum aku mendapat jawaban yang masuk akal.”

Kaelath berhenti tepat di sisi ranjang. Ia tertegun melihat wanita itu tidak pingsan atau memohon.

Dia menatap kulit Elara yang halus dengan tatapan yang lebih mirip pemujaan daripada sekadar lapar.

“Kau tidak bisa pulang, Kecil. Darahmu sudah menandai atmosfer Wilderheim. Di dunia ini, ada tiga kekuatan besar: Suku Serigala Barat yang kasar, Suku Ular Utara yang cerdik, dan Suku Harimau Timur yang haus darah. Kami semua sedang sekarat karena kegilaan biologis, dan kau adalah satu-satunya obatnya.”

“Dia milikku, Kaelath! Pergi sebelum kupatahkan leher licinmu itu!” raung Lucian.

Kaelath menjentikkan jarinya. Dari balik bayangan, ekor ular putih yang halus melesat keluar, melilit pergelangan kaki Elara.

Sensasinya dingin dan bersisik. Namun, alih-alih panik, Elara justru membeku dan memperhatikan tekstur sisik itu.

Dia teringat pada artefak reptil di museum; dia tahu bahwa bagi makhluk berdarah dingin, gerakan tiba-tiba adalah pemicu serangan.

“Lepaskan ekormu, Kaelath,” perintah Elara dengan suara yang stabil. “Dan kau, Lucian, berhenti meremas bahuku seolah aku ini mangsa. Kalian bilang aku adalah obat, bukan? Seorang dokter tidak akan bekerja dengan baik jika pasiennya mencoba mencekiknya.”

Kedua raja itu terdiam sesaat, terkejut oleh otoritas dalam suara wanita itu. Namun, insting posesif mereka jauh lebih kuat daripada logika.

Kaelath justru menarik Elara menjauh dari Lucian dengan satu sentakan ekornya. Elara terseret di atas kulit binatang yang kasar, lalu tertangkap oleh tangan dingin Kaelath.

“Kau terlalu rapuh untuk serigala kasar ini,” bisik Kaelath di telinga Elara.

“Kalian berdua sama saja,” sahut Elara, sebmbari mencoba berdiri tegak meski kakinya masih terlilit.

“Kalian bicara tentang keselamatan kaum kalian, tapi kalian berkelahi seperti hewan yang memperebutkan potongan daging. Apakah ini cara para pemimpin Wilderheim bersikap?”

Lucian melangkah maju, auranya yang panas beradu dengan hawa dingin Kaelath.

“Diam! Kau tidak tahu apa yang ada di luar gua ini! Ribuan binatang liar akan mencabikmu jika kau keluar dari perlindunganku!”

“Dan kau pikir kau lebih baik?” Kaelath menyela. “Kau hanya ingin mengurungnya untuk memuaskan nalurimu sendiri.”

Tepat saat ketegangan antara keduanya nyaris meledak menjadi benturan fisik, lantai batu di bawah kaki mereka bergetar hebat.

Sebuah dentuman luar biasa keras bergema dari koridor gua, diikuti oleh suara hancurnya batu-batu besar.

BOOM!

Asap dan debu memenuhi ruangan. Elara terbatuk, namun ia tetap berdiri di tempatnya, menolak untuk terlihat lemah.

Dari balik reruntuhan, sebuah kapak batu raksasa bergerigi dihantamkan ke lantai, membelah batu menjadi dua.

Di sana stands Vrax, sang Jenderal dari Suku Harimau Timur. Tubuhnya lebih besar dari Lucian, dipenuhi loreng hitam di kulit kecokelatannya. Matanya menyala merah padam karena haus darah yang sudah di ujung tanduk.

“Singkirkan tangan kalian dari hadiah perangku!” suara Vrax menggelegar, hingga membuat debu di udara bergetar. “Lucian, Kaelath! Kalian pikir aku tidak mencium aroma manis ini?”

Vrax melangkah masuk, dengan kapak raksasanya disampirkan di bahu yang lebar. “Wanita ini milik siapa pun yang paling kuat di Wilderheim. Dan itu adalah aku!”

Elara memandang sosok ketiga ini, sosok yang jauh lebih mengancam secara fisik. Namun, alih-alih lari, Elara justru melangkah maju ke depan, berdiri tepat di tengah-tengah antara Lucian, Kaelath, dan Vrax.

“Jadi sekarang ada tiga?” teriak Elara cukup keras untuk menghentikan niat Vrax yang hendak mengayunkan kapaknya.

Elara memandang Vrax, lalu beralih ke Lucian dan Kaelath. “Kalian semua menderita penyakit yang sama, bukan? 'Kegilaan' yang kalian bicarakan tadi. Aku bisa merasakannya. Udara di sini penuh dengan energi yang tidak stabil, dan itu berasal dari kalian.”

Vrax mengerutkan kening, matanya yang merah menatap Elara dengan bingung. “Apa yang kau bicarakan, Betina?”

“Aku bukan betina. Namaku Elara,” tegasnya.

Elara menyadari satu hal: di dunia ini, kecerdasannya adalah senjata yang lebih mematikan daripada kapak Vrax.

“Dan jika kalian terus bertarung, getaran emosi negatif kalian hanya akan mempercepat kegilaan itu. Lihat tanganmu, Vrax. Gemetar itu bukan karena semangat perang, tapi karena syarafmu mulai rusak.”

Vrax melihat tangannya yang memegang kapak; Elara benar, ada getaran halus di sana.

“Aku punya pengetahuan untuk menenangkan kalian tanpa perlu pertumpahan darah,” Elara menyilangkan tangan di depan dada seraya menatap ketiga predator puncak itu dengan pandangan yang membuat mereka merasa seperti pasien di bawah pengawasan dokter ahli.

“Tapi aku hanya akan membantu jika kalian semua meletakkan senjata dan berhenti memperlakukanku seperti barang rampasan. Wilderheim butuh pemimpin yang waras, bukan monster yang saling membunuh.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Berhasil Menjinakkan para Raja

    “Lucian benar,” sahut Vrax dengan nada suara yang kini lebih berat oleh gairah yang kembali memuncak.“Kau bicara tentang masa depan yang indah, tapi kunci dari masa depan itu ada di dalam rahimmu. Jika kita ingin melihat kota itu berdiri, maka malam ini adalah waktu yang tepat untuk menanamkan benih pertama.”“Tunggu, bukan itu maksudku—”“Darahmu sudah memberi tahu kami bahwa kau siap, Elara,” Malphas berbisik di telinga kirinya, jemarinya yang dingin mulai menelusuri garis leher Elara, membuka kancing sutranya satu demi satu.“Membangun kota butuh waktu bertahun-tahun. Kami akan mulai membangun fondasinya besok, tapi malam ini kami akan memastikan ada nyawa yang akan mewarisi takhta itu.”Zhen menundukkan kepalanya, lalu bibirnya menyentuh kulit pundak Elara yang terbuka. “Satu anak untuk Suku Panther, satu untuk Serigala, Harimau, Ular, dan Elang. Kita punya banyak waktu untuk membangun kota, tapi gairah ini tidak bisa menunggu sedetik pun lagi.”Elara merasa seperti terjebak di d

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Mencari Alasan yang Sempurna

    Zhen, yang sudah bangkit dengan bibir berdarah, menatap Elara dengan pandangan tak percaya. Begitu juga dengan Malphas yang mendarat di belakang Elara.Mereka melihat bagaimana seorang wanita tanpa taring dan kuku tajam sanggup menghentikan invasi monster hanya dengan kata-katanya.Perlahan, makhluk raksasa itu menjatuhkan tubuhnya yang berat ke lantai. Suku Terbuang lainnya, yang bergerak berdasarkan insting pemimpin mereka, ikut merangkak mundur dan menundukkan kepala.“Keluar dari sini,” ucap Elara dingin. “Tunggu di luar gerbang gua. Jika kalian mencoba menyerang lagi, aku sendiri yang akan memastikan kalian tidak pernah melihat cahaya lagi.”Tanpa kata, kawanan monster itu merayap mundur, menghilang ke dalam kegelapan lorong dengan suara seret kaki yang perlahan menjauh.Setelah pintu yang hancur itu kosong, Elara hampir jatuh karena lemas jika Zhen tidak segera menangkap pinggangnya.“Kau benar-benar gila, Elara,” bisik Zhen dengan suara bergetar antara amarah dan kekaguman yang

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Keputusan Besar Elara

    Debu batu berhamburan saat pintu ruang atas itu akhirnya hancur berkeping-keping. Di ambang pintu yang gelap, muncul makhluk-makhluk yang lebih mirip mimpi buruk daripada manusia.Kulit mereka yang keabu-abuan, membusuk di beberapa bagian, dan mata mereka hanya berupa lubang hitam yang memancarkan kebencian murni. Suku Terbuang, para beastman yang telah kehilangan kemanusiaan mereka sepenuhnya karena kegilaan yang terlalu lama.Vrax meraung, sebuah suara yang sanggup meruntuhkan nyali prajurit paling berani sekalipun. Jenderal Harimau itu menerjang maju, lalu kapak batunya berayun membentuk busur maut yang membelah dua makhluk pertama yang berani melangkah masuk.“Jangan biarkan satu pun kuku busuk mereka menyentuh lantai ini!” perintah Vrax dengan suara menggelegar di sela suara tulang yang patah.Elara berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh formasi pelindung yang tak tertembus.Zhen berada tepat di depannya, belatinya menari-nari di udara, menebas tenggorokan setiap lawan yang

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Mandat sang Ratu

    Pintu batu berat itu tertutup dengan dentuman yang menggetarkan debu dari langit-langit gua.Elara berdiri di tengah ruangan dengan punggung tegak, namun jemarinya yang tersembunyi di balik lipatan kain kasar bergetar hebat.Aroma di kamar ini telah berubah, bukan lagi bau tanah kering, melainkan aroma maskulin yang pekat, panas, dan mendesak dari lima predator yang mengurungnya.Zhen melangkah maju, memutus jarak hingga Elara bisa merasakan radiasi panas dari tubuh sang Panther.“Kau baru saja melakukan langkah besar, Elara,” bisik Zhen serak. “Menundukkan lima raja di depan rakyatnya. Itu sangat menggairahkan.”Elara menepis tangan Zhen yang mencoba menyentuh pipinya, lalu berkata, “Aku melakukannya agar kalian tidak saling membunuh. Jangan salah paham, Zhen.”“Tapi darahmu sudah bekerja lebih cepat dari logikamu,” sahut Kaelath. Sang Raja Ular itu sudah berada di belakang Elara tanpa suara. Ekor putihnya yang dingin melilit pergelangan kaki Elara, kontras dengan hawa panas yang dip

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Kontrak Kesepakatan

    Malphas berdiri dengan keanggunan yang mematikan. Kuku-kuku hitamnya yang tajam masih menempel di dagu Elara, memaksa wanita itu untuk terus menatap mata kuning emasnya yang dingin.Berbeda dengan Lucian atau Vrax yang meledak-ledak karena kegilaan, Malphas tampak sangat terkendali, dan itulah yang membuatnya jauh lebih berbahaya.“Kau menatapku seolah aku adalah makanan, Malphas,” ucap Elara, dengan nada suara yang tetap tenang meski napasnya masih sedikit memburu akibat interaksinya dengan Zhen tadi.“Kau memang makanan, Manusia,” jawab Malphas dengan suara jernih yang meremehkan.“Kau adalah anugerah yang seharusnya tidak diperebutkan oleh binatang-binatang darat yang kotor ini. Kau terlalu berharga untuk dibiarkan berjalan di atas tanah.”Zhen menggeram di samping Elara, otot-ototnya menegang siap untuk menerkam kembali. “Lepaskan dia, Malphas. Dia sudah menandai kami dengan darahnya. Kau tidak punya hak di sini.”Malphas melirik Zhen dengan jijik. “Darah? Kalian semua begitu lema

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Harus Melakukan Sesuatu

    Zhen tidak bergeming. Cengkeramannya pada leher Elara terasa seperti lilitan kawat baja yang panas.Mata ungu sang Panther berkilat, memantulkan bayangan Elara yang terhimpit di antara tubuh perkasa pria itu dan dinding gua yang dingin.Gairah yang dipicu oleh Lust-Fever membuat Zhen kehilangan akal sehatnya; baginya, Elara bukan lagi sekadar penawar, melainkan objek pemuasan yang harus ditaklukkan saat itu juga.“Kau pikir ancamanmu akan mempan, Manusia?” desis Zhen dengan nada rendah dan dalam, bergetar tepat di depan bibir Elara. “Darahmu memanggilku. Setiap tetesnya berteriak agar aku mengklaimmu.”Elara bisa merasakan ujung taring Zhen yang tajam menggores permukaan kulit lehernya, memberikan sensasi perih sekaligus getaran aneh yang menjalar ke seluruh tulang belakangnya.Namun, Elara tidak memejamkan mata. Ia justru menarik napas panjang, membiarkan aroma maskulin Zhen yang liar memenuhi paru-parunya.“Kau sedang terbakar, Zhen,” ucap Elara, suaranya kini melunak, hampir menyer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status