Share

Wangi yang Menghipnotis

Author: Ryu_Queen
last update Last Updated: 2026-03-04 05:33:26

“Kalian tidak bisa terus seperti ini,” ucap Elara dengan tenang.

Dia lalu melirik jarinya yang masih mengeluarkan darah akibat goresan Cermin Obsidian tadi. Luka itu belum sepenuhnya menutup.

Dia ingat kata-kata Kaelath tentang darahnya yang menjadi 'penanda' dan 'penawar'.

Jika dia ingin bertahan hidup di Wilderheim, dia harus membuktikannya sekarang, sebelum ketiga jantan ini meratakan tempat ini dan dirinya karena kegilaan mereka.

“Vrax, kau yang paling dekat dengan batas itu,” Elara melangkah maju ke arah sang Jenderal Harimau.

Lucian mencoba menahannya, namun Elara menepis tangan sang Serigala. “Jangan halangi aku. Jika aku adalah penawarnya, biarkan aku bekerja.”

Elara berdiri tepat di depan Vrax. Pria itu jauh lebih besar darinya; napas Vrax yang panas menerpa wajah Elara, membawa aroma darah dan besi.

Mata merah Vrax mulai meredup, kehilangan pupil manusianya. Ia meraung rendah, sebuah peringatan insting bahwa monster di dalamnya siap mengambil alih.

Tanpa ragu, Elara mengangkat tangan kanannya yang terluka. Dia menekan luka di telunjuknya hingga setetes darah merah segar muncul ke permukaan. “Lihat aku, Vrax. Tetaplah menjadi manusia.”

Elara menempelkan telunjuk berdarahnya tepat ke bibir Vrax yang tebal, lalu memindahkan sentuhannya ke dahi pria itu, mengusapkan sedikit noda merah di sana.

Seketika, reaksi yang terjadi sungguh luar biasa.

Vrax tertegun. Saat darah Elara bersentuhan dengan kulitnya, sebuah getaran hangat merambat masuk ke sistem syarafnya, memadamkan api yang membakar otaknya.

Kabut merah di matanya perlahan memudar, berganti dengan manik mata cokelat tua yang jernih. Kapak raksasanya merosot dari genggamannya, menghantam lantai dengan dentuman pelan yang tak lagi mengancam.

“Ini ... apa ini?” bisik Vrax, suaranya tidak lagi menggelegar, melainkan serak penuh ketakjuban. Ia berlutut di depan Elara, merasa seolah jiwanya yang koyak baru saja dijahit kembali.

Melihat hal itu, Lucian dan Kaelath tidak lagi mampu menahan diri. Mereka tidak menyerang untuk membunuh, melainkan mendekat dengan rasa lapar yang baru, rasa lapar akan kedamaian yang dibawa Elara.

Kaelath merayap mendekat, ekor putihnya kini melilit pinggang Elara dengan lembut, bukan lagi untuk menariknya kasar, melainkan untuk mencari kehangatan.

Dia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Elara, menghirup aroma darah wanita itu seolah itu adalah udara segar setelah berabad-abad terkubur.

“Demi leluhur ... kegaduhan di kepalaku berhenti,” desis Kaelath, sementara matanya terpejam pasrah.

Lucian pun tak mau kalah. Dia berlutut di sisi lain Elara, memeluk pinggang wanita itu dan menyembunyikan wajahnya di perut Elara.

Sang Raja Serigala yang tadinya begitu dominan kini tampak seperti pelindung yang sedang memohon pengampunan.

Elara berdiri di sana, dikelilingi oleh tiga penguasa Wilderheim yang kini bersimpuh padanya. Ia merasakan tangan kasar Vrax yang memegang jemarinya dengan sangat hati-hati, takut melukai kulit halus sang Penunun Jiwa.

Mereka terbuai, mabuk oleh kehadiran Elara yang menstabilkan energi liar di dalam tubuh mereka. Bagi para Beast-Kings, Elara bukan lagi sekadar betina; dia adalah dewi, pusat gravitasi baru yang memberikan mereka kehidupan.

“Jangan tinggalkan kami,” gumam Lucian di antara napasnya yang mulai teratur. “Jangan pernah pergi ke suku lain.”

Elara menghela napas, tangannya secara insting mengusap rambut kasar Lucian dan kulit dingin Kaelath. Dia merasa seperti seorang kurator yang sedang menjinakkan artefak paling berbahaya di dunia.

Namun, tepat saat ia mulai merasa bisa mengendalikan situasi, sebuah aura tajam melesat dari langit-langit aula yang gelap.

SRAKK!

Bayangan hitam bergerak lebih cepat dari kilat. Sesosok pria dengan tubuh yang lebih ramping namun sangat berotot terjun dari kegelapan. Kulitnya gelap sehitam malam, dengan pola-pola samar yang berkilauan di bawah cahaya obor.

Itu adalah Zhen, sang Raja Panther dari Suku Bayangan.

Berbeda dengan tiga raja lainnya yang mencari ketenangan, Zhen datang dengan mata yang menyala ungu gelap, sebuah tanda bahwa ia tidak hanya terjangkit Feral Madness, tapi juga Lust-Fever (Demam Gairah) yang mematikan.

Zhen mendarat tepat di depan kelompok itu. Tanpa kata-kata, dia menerjang. Gerakannya begitu eksplosif hingga Lucian dan Kaelath yang sedang terbuai tidak sempat bereaksi sepenuhnya.

“Penawar!” Zhen menggeram, suaranya seperti gesekan logam. “Aku tidak butuh kesepakatan! Aku hanya butuh dia!”

Zhen menyentak Elara dari dekapan ketiga raja itu dengan kekuatan yang luar biasa. Elara terpekik saat tubuhnya diangkat dan dihempaskan ke dinding batu yang dingin, dikunci oleh tubuh Zhen yang sekeras baja.

Wajah Zhen sangat dekat, matanya yang ungu menatap bibir Elara dengan gairah yang sudah tidak terbendung.

“Ketiga pengecut ini memujamu seperti pengemis, tapi aku ... aku akan mengambil apa yang menjadi hakku dari dunia manusia!”

“Zhen, berhenti!” raung Vrax sambil mencoba berdiri, namun sisa-sisa 'mabuk' dari darah Elara membuatnya sedikit lambat.

Zhen tidak mendengarkan. Tangannya yang kuat mencengkeram leher Elara, tidak untuk mencekik, tapi untuk memposisikan kepala wanita itu agar dia bisa mengklaimnya.

Taringnya yang panjang dan tajam menyentuh permukaan kulit leher Elara, siap untuk memberikan tanda kepemilikan yang permanen.

“Kau berbau sangat manis,” bisik Zhen, dan napasnya yang liar memburu di kulit Elara.

“Kau akan menjadi milik Suku Bayangan, dan aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi.”

Elara terhimpit hingga membuat jantungnya berpacu liar. Dia menatap mata ungu Zhen yang liar. Di sana tidak ada hormat seperti di mata Lucian atau Vrax, yang ada hanyalah insting murni yang ingin menaklukkan.

“Cobalah,” tantang Elara, suaranya sedikit tercekik namun matanya tetap berani.

Kemudian mengangkat tangan yang masih berdarah itu, bersiap untuk menempelkannya ke wajah Zhen.

“Sentuh aku, dan lihat apakah kau akan mendapatkan penawar ... atau justru racun yang akan menghancurkan otakmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Berhasil Menjinakkan para Raja

    “Lucian benar,” sahut Vrax dengan nada suara yang kini lebih berat oleh gairah yang kembali memuncak.“Kau bicara tentang masa depan yang indah, tapi kunci dari masa depan itu ada di dalam rahimmu. Jika kita ingin melihat kota itu berdiri, maka malam ini adalah waktu yang tepat untuk menanamkan benih pertama.”“Tunggu, bukan itu maksudku—”“Darahmu sudah memberi tahu kami bahwa kau siap, Elara,” Malphas berbisik di telinga kirinya, jemarinya yang dingin mulai menelusuri garis leher Elara, membuka kancing sutranya satu demi satu.“Membangun kota butuh waktu bertahun-tahun. Kami akan mulai membangun fondasinya besok, tapi malam ini kami akan memastikan ada nyawa yang akan mewarisi takhta itu.”Zhen menundukkan kepalanya, lalu bibirnya menyentuh kulit pundak Elara yang terbuka. “Satu anak untuk Suku Panther, satu untuk Serigala, Harimau, Ular, dan Elang. Kita punya banyak waktu untuk membangun kota, tapi gairah ini tidak bisa menunggu sedetik pun lagi.”Elara merasa seperti terjebak di d

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Mencari Alasan yang Sempurna

    Zhen, yang sudah bangkit dengan bibir berdarah, menatap Elara dengan pandangan tak percaya. Begitu juga dengan Malphas yang mendarat di belakang Elara.Mereka melihat bagaimana seorang wanita tanpa taring dan kuku tajam sanggup menghentikan invasi monster hanya dengan kata-katanya.Perlahan, makhluk raksasa itu menjatuhkan tubuhnya yang berat ke lantai. Suku Terbuang lainnya, yang bergerak berdasarkan insting pemimpin mereka, ikut merangkak mundur dan menundukkan kepala.“Keluar dari sini,” ucap Elara dingin. “Tunggu di luar gerbang gua. Jika kalian mencoba menyerang lagi, aku sendiri yang akan memastikan kalian tidak pernah melihat cahaya lagi.”Tanpa kata, kawanan monster itu merayap mundur, menghilang ke dalam kegelapan lorong dengan suara seret kaki yang perlahan menjauh.Setelah pintu yang hancur itu kosong, Elara hampir jatuh karena lemas jika Zhen tidak segera menangkap pinggangnya.“Kau benar-benar gila, Elara,” bisik Zhen dengan suara bergetar antara amarah dan kekaguman yang

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Keputusan Besar Elara

    Debu batu berhamburan saat pintu ruang atas itu akhirnya hancur berkeping-keping. Di ambang pintu yang gelap, muncul makhluk-makhluk yang lebih mirip mimpi buruk daripada manusia.Kulit mereka yang keabu-abuan, membusuk di beberapa bagian, dan mata mereka hanya berupa lubang hitam yang memancarkan kebencian murni. Suku Terbuang, para beastman yang telah kehilangan kemanusiaan mereka sepenuhnya karena kegilaan yang terlalu lama.Vrax meraung, sebuah suara yang sanggup meruntuhkan nyali prajurit paling berani sekalipun. Jenderal Harimau itu menerjang maju, lalu kapak batunya berayun membentuk busur maut yang membelah dua makhluk pertama yang berani melangkah masuk.“Jangan biarkan satu pun kuku busuk mereka menyentuh lantai ini!” perintah Vrax dengan suara menggelegar di sela suara tulang yang patah.Elara berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh formasi pelindung yang tak tertembus.Zhen berada tepat di depannya, belatinya menari-nari di udara, menebas tenggorokan setiap lawan yang

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Mandat sang Ratu

    Pintu batu berat itu tertutup dengan dentuman yang menggetarkan debu dari langit-langit gua.Elara berdiri di tengah ruangan dengan punggung tegak, namun jemarinya yang tersembunyi di balik lipatan kain kasar bergetar hebat.Aroma di kamar ini telah berubah, bukan lagi bau tanah kering, melainkan aroma maskulin yang pekat, panas, dan mendesak dari lima predator yang mengurungnya.Zhen melangkah maju, memutus jarak hingga Elara bisa merasakan radiasi panas dari tubuh sang Panther.“Kau baru saja melakukan langkah besar, Elara,” bisik Zhen serak. “Menundukkan lima raja di depan rakyatnya. Itu sangat menggairahkan.”Elara menepis tangan Zhen yang mencoba menyentuh pipinya, lalu berkata, “Aku melakukannya agar kalian tidak saling membunuh. Jangan salah paham, Zhen.”“Tapi darahmu sudah bekerja lebih cepat dari logikamu,” sahut Kaelath. Sang Raja Ular itu sudah berada di belakang Elara tanpa suara. Ekor putihnya yang dingin melilit pergelangan kaki Elara, kontras dengan hawa panas yang dip

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Kontrak Kesepakatan

    Malphas berdiri dengan keanggunan yang mematikan. Kuku-kuku hitamnya yang tajam masih menempel di dagu Elara, memaksa wanita itu untuk terus menatap mata kuning emasnya yang dingin.Berbeda dengan Lucian atau Vrax yang meledak-ledak karena kegilaan, Malphas tampak sangat terkendali, dan itulah yang membuatnya jauh lebih berbahaya.“Kau menatapku seolah aku adalah makanan, Malphas,” ucap Elara, dengan nada suara yang tetap tenang meski napasnya masih sedikit memburu akibat interaksinya dengan Zhen tadi.“Kau memang makanan, Manusia,” jawab Malphas dengan suara jernih yang meremehkan.“Kau adalah anugerah yang seharusnya tidak diperebutkan oleh binatang-binatang darat yang kotor ini. Kau terlalu berharga untuk dibiarkan berjalan di atas tanah.”Zhen menggeram di samping Elara, otot-ototnya menegang siap untuk menerkam kembali. “Lepaskan dia, Malphas. Dia sudah menandai kami dengan darahnya. Kau tidak punya hak di sini.”Malphas melirik Zhen dengan jijik. “Darah? Kalian semua begitu lema

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Harus Melakukan Sesuatu

    Zhen tidak bergeming. Cengkeramannya pada leher Elara terasa seperti lilitan kawat baja yang panas.Mata ungu sang Panther berkilat, memantulkan bayangan Elara yang terhimpit di antara tubuh perkasa pria itu dan dinding gua yang dingin.Gairah yang dipicu oleh Lust-Fever membuat Zhen kehilangan akal sehatnya; baginya, Elara bukan lagi sekadar penawar, melainkan objek pemuasan yang harus ditaklukkan saat itu juga.“Kau pikir ancamanmu akan mempan, Manusia?” desis Zhen dengan nada rendah dan dalam, bergetar tepat di depan bibir Elara. “Darahmu memanggilku. Setiap tetesnya berteriak agar aku mengklaimmu.”Elara bisa merasakan ujung taring Zhen yang tajam menggores permukaan kulit lehernya, memberikan sensasi perih sekaligus getaran aneh yang menjalar ke seluruh tulang belakangnya.Namun, Elara tidak memejamkan mata. Ia justru menarik napas panjang, membiarkan aroma maskulin Zhen yang liar memenuhi paru-parunya.“Kau sedang terbakar, Zhen,” ucap Elara, suaranya kini melunak, hampir menyer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status