LOGINZhen tidak bergeming. Cengkeramannya pada leher Elara terasa seperti lilitan kawat baja yang panas.
Mata ungu sang Panther berkilat, memantulkan bayangan Elara yang terhimpit di antara tubuh perkasa pria itu dan dinding gua yang dingin.
Gairah yang dipicu oleh Lust-Fever membuat Zhen kehilangan akal sehatnya; baginya, Elara bukan lagi sekadar penawar, melainkan objek pemuasan yang harus ditaklukkan saat itu juga.
“Kau pikir ancamanmu akan mempan, Manusia?” desis Zhen dengan nada rendah dan dalam, bergetar tepat di depan bibir Elara. “Darahmu memanggilku. Setiap tetesnya berteriak agar aku mengklaimmu.”
Elara bisa merasakan ujung taring Zhen yang tajam menggores permukaan kulit lehernya, memberikan sensasi perih sekaligus getaran aneh yang menjalar ke seluruh tulang belakangnya.
Namun, Elara tidak memejamkan mata. Ia justru menarik napas panjang, membiarkan aroma maskulin Zhen yang liar memenuhi paru-parunya.
“Kau sedang terbakar, Zhen,” ucap Elara, suaranya kini melunak, hampir menyerupai bisikan yang menggoda. “Dan kau tahu, hanya aku yang bisa memadamkannya. Tapi bukan dengan cara ini.”
Elara perlahan mengangkat tangannya yang terluka. Alih-alih menempelkannya secara kasar, dia dengan lembut membelai rahang tegas Zhen, membiarkan noda darah dari jarinya menghiasi kulit gelap sang Panther.
Sentuhan itu terasa kontras, jari Elara yang halus dan dingin melawan kulit Zhen yang kasar dan membara.
Saat darah itu bersentuhan dengan bibir Zhen, sang Panther terkesiap. Ia secara insting menyesap jari Elara, menghisap setetes cairan merah itu dengan rakus.
Seketika, ketegangan di antara mereka meningkat drastis. Mata Zhen terbelalak; rasa darah Elara memberikan sensasi euforia yang lebih kuat dari obat apa pun di Wilderheim.
Kegilaan yang semula kasar berubah menjadi obsesi yang memabukkan. Zhen melepaskan leher Elara, namun ia tidak menjauh. Sebaliknya, dia menyatukan keningnya dengan kening Elara, napasnya yang berat kini beradu dengan napas Elara yang memburu.
“Lagi,” gumam Zhen dengan serak, lalu mulai menciumi garis rahang Elara dengan lembut, beralih ke telinganya, memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat Elara gemetar hebat.
Di belakang mereka, Lucian, Kaelath, dan Vrax menyaksikan adegan itu dengan kemarahan yang tertahan. Suasana aula menjadi sangat panas oleh rasa iri yang membakar.
“Singkirkan lidahmu darinya, Kucing Hitam!” raung Lucian, dengan tangannya mencengkeram lantai batu hingga hancur.
Dia ingin sekali menerjang dan merobek tenggorokan Zhen, namun dia takut gerakannya akan membuat Elara terluka karena posisi Zhen yang mengunci wanita itu.
Vrax berdiri dengan tubuh yang gemetar karena cemburu. “Dia belum memberikan darahnya padaku secara langsung melalui bibir! Kenapa kau membiarkan dia melakukannya, Elara?!”
Kaelath hanya mendesis, sementara mata peraknya menyipit tajam. “Kelicikan Panther memang tak tertandingi. Dia menggunakan kegilaannya untuk mendapatkan keintiman yang kita semua dambakan.”
Elara tidak memedulikan protes mereka. Ia sibuk menenangkan Zhen yang kini tampak seperti pemuja yang sedang menyembah dewinya.
Elara membiarkan tangan Zhen meraba pinggangnya, merasakan otot-otot sang Panther yang perlahan mulai rileks namun tetap tegang oleh gairah. Elara memegang kepala Zhen, memaksanya untuk menatap matanya lagi.
“Cukup, Zhen. Kau sudah stabil sekarang,” ucap Elara dengan napas terengah.
Zhen menatap Elara dengan pandangan yang benar-benar terobsesi. Dia menjilat sisa darah di sudut bibirnya sendiri, memberikan senyum predator yang mematikan.
“Aku tidak akan pernah cukup darimu, Elara. Kau telah meracuniku dengan kedamaian ini.”
Tepat saat Zhen hendak kembali mencium leher Elara, kali ini dengan maksud yang lebih dalam, sebuah suara pekikan tajam membelah udara aula.
Suara itu begitu nyaring hingga membuat gendang telinga sakit, diikuti oleh hembusan angin yang sangat kuat dari arah langit-langit gua yang runtuh.
WUSSSHHH!
Sesosok makhluk berukuran besar menukik turun dengan kecepatan yang tak masuk akal. Sayap raksasa dengan bentang meteran menghalau cahaya obor, menciptakan kegelapan sesaat.
Dengan suara dentuman pelan, sosok itu mendarat di atas pilar batu yang tinggi di sudut aula.
Itu adalah Malphas, sang Raja dari Suku Elang Langit.
Berbeda dengan para raja di lantai bawah yang memiliki fisik darat yang masif, Malphas memiliki tubuh yang ramping, tinggi, dan dibalut oleh pakaian bulu hitam yang berkilauan seperti logam.
Matanya tajam, berwarna kuning emas dengan fokus yang sangat presisi, seolah-olah ia bisa melihat detak jantung Elara dari kejauhan.
Malphas tidak bergerak dengan liar seperti Zhen atau menggeram seperti Lucian. Ia hanya berdiri diam di atas pilar, menatap Elara dari ketinggian dengan pandangan yang sangat dingin, pandangan seekor pemangsa yang sedang menilai kualitas daging buruannya.
“Jadi, inilah penyebab keributan di daratan,” suara Malphas terdengar jernih namun angkuh, bergema di seluruh aula. “Seorang manusia kecil yang membuat para pemimpin Wilderheim bertekuk lutut seperti budak.”
Zhen segera memposisikan dirinya di depan Elara, untuk melindungi wanita itu, sementara Lucian dan Vrax juga bersiap menyerang ke atas.
“Turun dari sana, Malphas! Ini bukan wilayah udaramu!” gertak Lucian.
Malphas tidak memedulikan Lucian. Ia hanya terus menatap Elara. Tatapannya begitu menekan, seolah ia sedang menelanjangi rahasia terdalam Elara.
Dia melompat turun dari pilar dengan gerakan yang sangat ringan, mendarat hanya beberapa langkah di depan kelompok itu.
“Aku tidak butuh penawar untuk kegilaan, karena pikiranku selalu setajam silet,” ucap Malphas dingin sambil melangkah mendekat. Kemudian berhenti tepat di depan Elara, mengabaikan geraman raja lainnya.
Ia mengulurkan tangannya yang memiliki kuku-kuku hitam tajam, mengangkat dagu Elara untuk mempelajari wajahnya.
Tatapan Malphas bukan tentang gairah atau kebutuhan, melainkan rasa lapar yang murni untuk memangsa dan memiliki sesuatu yang langka.
“Tapi kau ... aromamu merusak fokusku,” bisik Malphas dengan matanya yang berkilat berbahaya.
“Aku ingin tahu, apakah rasa dagingmu seindah aromanya saat aku membawamu terbang ke puncak gunung tertinggi, di mana tidak ada satu pun dari mereka bisa menjangkaumu.”
Elara merasakan ancaman yang berbeda dari Malphas. Jika raja-raja lain menginginkannya untuk tetap hidup dan waras, Malphas menatapnya seolah dia adalah piala yang siap untuk dikonsumsi.
“Aku harus melakukan sesuatu!”
“Lucian benar,” sahut Vrax dengan nada suara yang kini lebih berat oleh gairah yang kembali memuncak.“Kau bicara tentang masa depan yang indah, tapi kunci dari masa depan itu ada di dalam rahimmu. Jika kita ingin melihat kota itu berdiri, maka malam ini adalah waktu yang tepat untuk menanamkan benih pertama.”“Tunggu, bukan itu maksudku—”“Darahmu sudah memberi tahu kami bahwa kau siap, Elara,” Malphas berbisik di telinga kirinya, jemarinya yang dingin mulai menelusuri garis leher Elara, membuka kancing sutranya satu demi satu.“Membangun kota butuh waktu bertahun-tahun. Kami akan mulai membangun fondasinya besok, tapi malam ini kami akan memastikan ada nyawa yang akan mewarisi takhta itu.”Zhen menundukkan kepalanya, lalu bibirnya menyentuh kulit pundak Elara yang terbuka. “Satu anak untuk Suku Panther, satu untuk Serigala, Harimau, Ular, dan Elang. Kita punya banyak waktu untuk membangun kota, tapi gairah ini tidak bisa menunggu sedetik pun lagi.”Elara merasa seperti terjebak di d
Zhen, yang sudah bangkit dengan bibir berdarah, menatap Elara dengan pandangan tak percaya. Begitu juga dengan Malphas yang mendarat di belakang Elara.Mereka melihat bagaimana seorang wanita tanpa taring dan kuku tajam sanggup menghentikan invasi monster hanya dengan kata-katanya.Perlahan, makhluk raksasa itu menjatuhkan tubuhnya yang berat ke lantai. Suku Terbuang lainnya, yang bergerak berdasarkan insting pemimpin mereka, ikut merangkak mundur dan menundukkan kepala.“Keluar dari sini,” ucap Elara dingin. “Tunggu di luar gerbang gua. Jika kalian mencoba menyerang lagi, aku sendiri yang akan memastikan kalian tidak pernah melihat cahaya lagi.”Tanpa kata, kawanan monster itu merayap mundur, menghilang ke dalam kegelapan lorong dengan suara seret kaki yang perlahan menjauh.Setelah pintu yang hancur itu kosong, Elara hampir jatuh karena lemas jika Zhen tidak segera menangkap pinggangnya.“Kau benar-benar gila, Elara,” bisik Zhen dengan suara bergetar antara amarah dan kekaguman yang
Debu batu berhamburan saat pintu ruang atas itu akhirnya hancur berkeping-keping. Di ambang pintu yang gelap, muncul makhluk-makhluk yang lebih mirip mimpi buruk daripada manusia.Kulit mereka yang keabu-abuan, membusuk di beberapa bagian, dan mata mereka hanya berupa lubang hitam yang memancarkan kebencian murni. Suku Terbuang, para beastman yang telah kehilangan kemanusiaan mereka sepenuhnya karena kegilaan yang terlalu lama.Vrax meraung, sebuah suara yang sanggup meruntuhkan nyali prajurit paling berani sekalipun. Jenderal Harimau itu menerjang maju, lalu kapak batunya berayun membentuk busur maut yang membelah dua makhluk pertama yang berani melangkah masuk.“Jangan biarkan satu pun kuku busuk mereka menyentuh lantai ini!” perintah Vrax dengan suara menggelegar di sela suara tulang yang patah.Elara berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh formasi pelindung yang tak tertembus.Zhen berada tepat di depannya, belatinya menari-nari di udara, menebas tenggorokan setiap lawan yang
Pintu batu berat itu tertutup dengan dentuman yang menggetarkan debu dari langit-langit gua.Elara berdiri di tengah ruangan dengan punggung tegak, namun jemarinya yang tersembunyi di balik lipatan kain kasar bergetar hebat.Aroma di kamar ini telah berubah, bukan lagi bau tanah kering, melainkan aroma maskulin yang pekat, panas, dan mendesak dari lima predator yang mengurungnya.Zhen melangkah maju, memutus jarak hingga Elara bisa merasakan radiasi panas dari tubuh sang Panther.“Kau baru saja melakukan langkah besar, Elara,” bisik Zhen serak. “Menundukkan lima raja di depan rakyatnya. Itu sangat menggairahkan.”Elara menepis tangan Zhen yang mencoba menyentuh pipinya, lalu berkata, “Aku melakukannya agar kalian tidak saling membunuh. Jangan salah paham, Zhen.”“Tapi darahmu sudah bekerja lebih cepat dari logikamu,” sahut Kaelath. Sang Raja Ular itu sudah berada di belakang Elara tanpa suara. Ekor putihnya yang dingin melilit pergelangan kaki Elara, kontras dengan hawa panas yang dip
Malphas berdiri dengan keanggunan yang mematikan. Kuku-kuku hitamnya yang tajam masih menempel di dagu Elara, memaksa wanita itu untuk terus menatap mata kuning emasnya yang dingin.Berbeda dengan Lucian atau Vrax yang meledak-ledak karena kegilaan, Malphas tampak sangat terkendali, dan itulah yang membuatnya jauh lebih berbahaya.“Kau menatapku seolah aku adalah makanan, Malphas,” ucap Elara, dengan nada suara yang tetap tenang meski napasnya masih sedikit memburu akibat interaksinya dengan Zhen tadi.“Kau memang makanan, Manusia,” jawab Malphas dengan suara jernih yang meremehkan.“Kau adalah anugerah yang seharusnya tidak diperebutkan oleh binatang-binatang darat yang kotor ini. Kau terlalu berharga untuk dibiarkan berjalan di atas tanah.”Zhen menggeram di samping Elara, otot-ototnya menegang siap untuk menerkam kembali. “Lepaskan dia, Malphas. Dia sudah menandai kami dengan darahnya. Kau tidak punya hak di sini.”Malphas melirik Zhen dengan jijik. “Darah? Kalian semua begitu lema
Zhen tidak bergeming. Cengkeramannya pada leher Elara terasa seperti lilitan kawat baja yang panas.Mata ungu sang Panther berkilat, memantulkan bayangan Elara yang terhimpit di antara tubuh perkasa pria itu dan dinding gua yang dingin.Gairah yang dipicu oleh Lust-Fever membuat Zhen kehilangan akal sehatnya; baginya, Elara bukan lagi sekadar penawar, melainkan objek pemuasan yang harus ditaklukkan saat itu juga.“Kau pikir ancamanmu akan mempan, Manusia?” desis Zhen dengan nada rendah dan dalam, bergetar tepat di depan bibir Elara. “Darahmu memanggilku. Setiap tetesnya berteriak agar aku mengklaimmu.”Elara bisa merasakan ujung taring Zhen yang tajam menggores permukaan kulit lehernya, memberikan sensasi perih sekaligus getaran aneh yang menjalar ke seluruh tulang belakangnya.Namun, Elara tidak memejamkan mata. Ia justru menarik napas panjang, membiarkan aroma maskulin Zhen yang liar memenuhi paru-parunya.“Kau sedang terbakar, Zhen,” ucap Elara, suaranya kini melunak, hampir menyer







