LOGINDi Aetheria, waktu berjalan tanpa mengetahui apa yang sedang diputuskan di Qingzhou. Tubuh Zhiya masih terbaring di kamar rumah pesisir milik ibunya. Tirai tipis bergerak pelan tertiup angin laut, membiarkan cahaya pagi jatuh lembut di wajahnya. Napasnya teratur, terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya terjaga. Ibunya duduk di kursi dekat ranjang sejak subuh. Semangkuk sup hangat telah mendingin di meja kecil, disentuh berkali-kali namun tak pernah diminum. Setiap beberapa menit, ia meraih tangan Zhiya—memastikan hangatnya masih ada, denyut nadinya masih stabil. Dokter telah datang malam sebelumnya. Pemeriksaan menunjukkan tidak ada luka, tidak ada gangguan organ. “Tidur yang sangat dalam,” katanya ragu, seolah istilah itu tak cukup menjelaskan. Namun firasat seorang ibu tidak pernah puas dengan jawaban klinis. Di sudut kamar, ponsel Zhiya tergeletak diam. Tidak ada pesan baru. Tidak ada getaran. Dunia modern terus bergerak—ombak datang dan pergi, burung camar melinta
Sore itu berlalu dengan ketegangan yang tertahan rapi, seolah istana berusaha kembali pada ritmenya. Namun Qingzhou memiliki cara sendiri menyimpan gema—tidak menghilang, hanya menunggu. Menjelang malam, seorang utusan istana datang membawa laporan singkat. Lingga membacanya tanpa perubahan ekspresi, lalu melipatnya perlahan. “Keluarga Han mengajukan jamuan malam,” katanya tenang. “Alasannya: membahas dukungan logistik militer.” Zhiya menatapnya. “Dan alasan yang tak tertulis?” “Menguji batas,” jawab Lingga jujur. Ia berdiri, berjalan ke jendela. Lentera-lentera mulai dinyalakan di halaman. “Aku akan menerima jamuan itu,” lanjutnya. “Bukan untuk memberi mereka panggung—melainkan untuk menutup celah.” Zhiya mengangguk. “Aku tidak perlu hadir.” “Tidak,” kata Lingga, lalu menoleh. “Tapi aku ingin kau aman. Malam ini, tetap di area dalam. Pengawal ganda.” Zhiya tersenyum tipis. “Aku mengerti.” Malam turun. Dari kejauhan, bunyi musik jamuan terdengar samar—riuh yang dibuat-
Keesokan paginya, Qingzhou terbangun dengan ritme yang lebih tegas. Genderang istana dipukul pelan—tanda dimulainya urusan negara. Lingga bersiap lebih awal; jubah resminya dikenakan dengan ketelitian yang berbeda dari malam sebelumnya. Zhiya mengamatinya dari ambang pintu, menyadari perubahan itu—dari pria yang tenang menjadi raja yang memikul beban. “Aku akan menghadiri sidang pagi,” kata Lingga sambil mengikat sabuknya. “Ada laporan dari perbatasan barat.” Zhiya mengangguk. “Aku akan menunggumu.” Lingga berhenti sejenak, menatapnya. “Jangan keluar istana hari ini tanpa pengawal.” “Baik,” jawab Zhiya lembut. Setelah Lingga pergi, Wei Wei datang menjemput Zhiya untuk sarapan ringan di taman dalam. Meja kecil disiapkan di bawah pohon plum—teh hangat, bubur beras, dan buah segar. Zhiya makan perlahan, pikirannya melayang. Tatapan angkuh putra Jenderal Han sesekali muncul, lalu menghilang—digantikan oleh ketenangan malam tadi. Namun ketenangan itu tak bertahan lama. Seor
Mereka berjalan lebih cepat meninggalkan keramaian, menembus gang yang lebih lengang. Zhiya baru menyadari tangannya mengepal sejak tadi; ia mengendurkannya perlahan, menarik napas panjang. Wei Wei sesekali menoleh, memastikan jarak mereka aman. “Maafkan aku,” kata Wei Wei akhirnya, suaranya menyesal. “Aku seharusnya membawa pengawal.” Zhiya menggeleng. “Tidak. Kau sudah cukup.” Ia berhenti sejenak, menatap deretan rumah kayu yang berjajar tenang. “Dunia di luar istana ternyata tidak sepenuhnya bebas dari bayangannya.” Wei Wei tersenyum getir. “Qingzhou indah, tapi tetap berlapis-lapis.” Mereka melanjutkan ke sebuah kedai teh kecil di tepi sungai. Zhiya duduk menghadap air yang mengalir pelan, membiarkan ketenangan meresap. Namun di balik damai itu, pikirannya bekerja—mengingat tatapan pria tadi, menyusun firasat yang tak menyenangkan. Sementara itu, di kejauhan, putra Jenderal Han berdiri di bawah kanopi pasar, menyipitkan mata mengikuti arah mereka pergi. Senyumnya kemb
Fajar datan perlahan di Qingzhou. Cahaya pagi merembes masuk melalui celah tirai, menggantikan perak malam dengan semburat keemasan yang hangat. Burung-burung istana mulai bersuara pelan, seolah saling mengingatkan bahwa hari telah kembali berjalan. Zhiya terbangun lebih dulu. Untuk sesaat, ia bingung—lalu menyadari di mana ia berada. Aroma kayu cendana masih menggantung di udara, dan tangan Lingga masih menggenggamnya, longgar namun pasti, seakan tak pernah berniat melepaskan. Ia menoleh. Lingga masih tertidur, wajahnya tenang, jauh dari ketegangan seorang raja. Di saat itu, Zhiya melihatnya bukan sebagai penguasa Qingzhou, bukan sebagai roh terikat kutukan—melainkan seorang pria yang kelelahan oleh tanggung jawab dan waktu. Zhiya bergerak pelan, takut membangunkannya. Namun Lingga membuka mata, menatapnya dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat. “Kau masih di sini,” katanya pelan, seolah itu bukan kepastian, melainkan anugerah. “Aku belum pergi,” jawab Zhiya. Mer
“Aku tidak akan melupakan malam ini,” batin Zhiya. Ciuman mereka semakin memanas. Di atas mereka, bulan menggantung rendah. Cahayanya tidak terang, tidak pula sepenuhnya redup—seperti perak yang disaring kabut tipis. Ia menyusup di antara awan yang bergerak lambat, memecah diri menjadi potongan-potongan cahaya yang jatuh ke paviliun, ke kolam, ke rambut dan bahu mereka. Bayangan Zhiya dan Lingga memanjang di lantai batu, saling bertumpuk, lalu menyatu. Bulan itu belum hitam. “Lingga, tidak disini,” tahan Zhiya saat tangan Lingga mulai meraba bagian sensitifnya. “Tak apa. Tak ada yang melihat,” bisik Lingga. Dengan sekali tarikan, hanfu Zhiya terlepas. Lingga kemudian mengangkat tubuh Zhiya keatas meja dan mencium bibir hadis itu dengan ganas. Pria itu juga mengecupi dan meninggalkan bekas merah dileher dan bahu Zhiya yang terekspos. “Eungh, Stop! Bagaimana jika ada yang lewat?” tanya Zhiya panik. “Tidak akan. Mereka tidak akan berani melihat,” bisik Lingga. Dan dengan







