LOGINKeesokan paginya, Qingzhou terbangun dengan ritme yang lebih tegas. Genderang istana dipukul pelan—tanda dimulainya urusan negara. Lingga bersiap lebih awal; jubah resminya dikenakan dengan ketelitian yang berbeda dari malam sebelumnya. Zhiya mengamatinya dari ambang pintu, menyadari perubahan itu—dari pria yang tenang menjadi raja yang memikul beban. “Aku akan menghadiri sidang pagi,” kata Lingga sambil mengikat sabuknya. “Ada laporan dari perbatasan barat.” Zhiya mengangguk. “Aku akan menunggumu.” Lingga berhenti sejenak, menatapnya. “Jangan keluar istana hari ini tanpa pengawal.” “Baik,” jawab Zhiya lembut. Setelah Lingga pergi, Wei Wei datang menjemput Zhiya untuk sarapan ringan di taman dalam. Meja kecil disiapkan di bawah pohon plum—teh hangat, bubur beras, dan buah segar. Zhiya makan perlahan, pikirannya melayang. Tatapan angkuh putra Jenderal Han sesekali muncul, lalu menghilang—digantikan oleh ketenangan malam tadi. Namun ketenangan itu tak bertahan lama. Seor
Mereka berjalan lebih cepat meninggalkan keramaian, menembus gang yang lebih lengang. Zhiya baru menyadari tangannya mengepal sejak tadi; ia mengendurkannya perlahan, menarik napas panjang. Wei Wei sesekali menoleh, memastikan jarak mereka aman. “Maafkan aku,” kata Wei Wei akhirnya, suaranya menyesal. “Aku seharusnya membawa pengawal.” Zhiya menggeleng. “Tidak. Kau sudah cukup.” Ia berhenti sejenak, menatap deretan rumah kayu yang berjajar tenang. “Dunia di luar istana ternyata tidak sepenuhnya bebas dari bayangannya.” Wei Wei tersenyum getir. “Qingzhou indah, tapi tetap berlapis-lapis.” Mereka melanjutkan ke sebuah kedai teh kecil di tepi sungai. Zhiya duduk menghadap air yang mengalir pelan, membiarkan ketenangan meresap. Namun di balik damai itu, pikirannya bekerja—mengingat tatapan pria tadi, menyusun firasat yang tak menyenangkan. Sementara itu, di kejauhan, putra Jenderal Han berdiri di bawah kanopi pasar, menyipitkan mata mengikuti arah mereka pergi. Senyumnya kemb
Fajar datan perlahan di Qingzhou. Cahaya pagi merembes masuk melalui celah tirai, menggantikan perak malam dengan semburat keemasan yang hangat. Burung-burung istana mulai bersuara pelan, seolah saling mengingatkan bahwa hari telah kembali berjalan. Zhiya terbangun lebih dulu. Untuk sesaat, ia bingung—lalu menyadari di mana ia berada. Aroma kayu cendana masih menggantung di udara, dan tangan Lingga masih menggenggamnya, longgar namun pasti, seakan tak pernah berniat melepaskan. Ia menoleh. Lingga masih tertidur, wajahnya tenang, jauh dari ketegangan seorang raja. Di saat itu, Zhiya melihatnya bukan sebagai penguasa Qingzhou, bukan sebagai roh terikat kutukan—melainkan seorang pria yang kelelahan oleh tanggung jawab dan waktu. Zhiya bergerak pelan, takut membangunkannya. Namun Lingga membuka mata, menatapnya dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat. “Kau masih di sini,” katanya pelan, seolah itu bukan kepastian, melainkan anugerah. “Aku belum pergi,” jawab Zhiya. Mer
“Aku tidak akan melupakan malam ini,” batin Zhiya. Ciuman mereka semakin memanas. Di atas mereka, bulan menggantung rendah. Cahayanya tidak terang, tidak pula sepenuhnya redup—seperti perak yang disaring kabut tipis. Ia menyusup di antara awan yang bergerak lambat, memecah diri menjadi potongan-potongan cahaya yang jatuh ke paviliun, ke kolam, ke rambut dan bahu mereka. Bayangan Zhiya dan Lingga memanjang di lantai batu, saling bertumpuk, lalu menyatu. Bulan itu belum hitam. “Lingga, tidak disini,” tahan Zhiya saat tangan Lingga mulai meraba bagian sensitifnya. “Tak apa. Tak ada yang melihat,” bisik Lingga. Dengan sekali tarikan, hanfu Zhiya terlepas. Lingga kemudian mengangkat tubuh Zhiya keatas meja dan mencium bibir hadis itu dengan ganas. Pria itu juga mengecupi dan meninggalkan bekas merah dileher dan bahu Zhiya yang terekspos. “Eungh, Stop! Bagaimana jika ada yang lewat?” tanya Zhiya panik. “Tidak akan. Mereka tidak akan berani melihat,” bisik Lingga. Dan dengan
“Dia kembali,” bisik seseorang, nyaris tak terdengar. Lingga tidak menghentikan mereka. Ia berjalan di sisi Zhiya, sejajar—bukan setengah langkah di depan seperti raja, bukan pula di belakang seperti penjaga. Sikap itu sendiri adalah pernyataan. Malam itu, tidak ada perintah. Tidak ada lonceng ritual. Tidak ada tetua yang dipanggil. Zhiya menghentikan langkahnya di koridor sebelum Aula Air Tua. Ia menoleh pada Lingga, dan untuk sesaat, semua beban raja, kutukan, dan bulan hitam seolah menjauh. “Tidak malam ini,” katanya pelan. “Aku kembali… bukan sebagai jawaban dunia.” Lingga menatapnya, membaca sesuatu di wajahnya yang tidak tertulis dalam ramalan mana pun. “Lalu sebagai apa?” Zhiya tersenyum tipis—lelah, jujur. “Sebagai seseorang yang merindukanmu.” Kata-kata itu jatuh sederhana, tanpa dramatisasi. Justru karena itu, Lingga terdiam lama. Wibawa raja itu luruh perlahan, digantikan oleh sesuatu yang lebih manusiawi. Ia mengangguk. “Kalau begitu… ikut aku.” Merek
Tidur itu datang pelan, seperti seseorang yang menutup mata dengan sadar—bukan karena lelah, melainkan karena siap. Zhiya merasakan dirinya melayang, menembus lapisan sunyi yang kini tak lagi asing. Saat kakinya menyentuh tanah, hawa dingin merambat naik dari telapak kaki, membawa aroma tanah basah dan air tua. Qingzhou. Namun kali ini, ia tidak berada di istana. Di hadapannya terbentang Sungai Bayangan—perbatasan yang hanya muncul saat dua dunia saling menoleh. Airnya tidak mengalir seperti sungai biasa. Ia bergerak lambat, memantulkan langit gelap yang bukan langit, seolah setiap riaknya adalah potongan ingatan yang tenggelam. Di seberang sungai itu, seseorang berdiri. Lingga. Ia tidak terikat, tidak terluka. Jubahnya sederhana, rambutnya terikat longgar. Cahaya samar dari entah mana membingkai siluetnya, membuatnya tampak nyata—lebih nyata dari semua kemunculannya sebelumnya. “Kau datang,” kata Lingga, suaranya membawa kelegaan yang tidak ia sembunyikan. Zhiya mel







