Share

Kerajaan Yongzhou

Author: QuinzeeQ
last update Last Updated: 2025-12-16 14:48:34

Zhiya tidak langsung terbangun setelah malam itu. Qingzhou menahannya—lembut namun tegas—seolah dunia kuno itu memutuskan ia masih dibutuhkan. Pagi datang tanpa matahari yang jelas, hanya cahaya pucat yang menyaring di antara kabut tipis istana.

Lingga berdiri di balkon batu ketika Zhiya menghampirinya. Jubahnya telah rapi kembali, wajahnya kembali pada keteguhan seorang raja, meski bayang lelah masih tertinggal di matanya.

“Kau akan tinggal di Qingzhou untuk beberapa waktu,” katanya tanpa berbalik. “Sampai pertemuan ini selesai.”

“Pertemuan?” Zhiya menautkan kedua tangannya di depan dada. “Dengan siapa?”

Lingga menoleh. “Raja Yongzhou.”

Nama itu membuat udara terasa berubah—lebih berat, lebih tajam. Zhiya pernah melihat simbol Yongzhou pada salah satu prasasti di museum: kerajaan seberang yang pernah menjadi sekutu, lalu musuh, lalu sesuatu di antaranya. “Apa hubungannya dengan kutukan?”

“Segalanya,” jawab Lingga singkat. “Kutukan Qingzhou tidak lahir sendirian. Yongzhou
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Pendekatan Tuan Muda Han

    Keesokan paginya, Qingzhou terbangun dengan ritme yang lebih tegas. Genderang istana dipukul pelan—tanda dimulainya urusan negara. Lingga bersiap lebih awal; jubah resminya dikenakan dengan ketelitian yang berbeda dari malam sebelumnya. Zhiya mengamatinya dari ambang pintu, menyadari perubahan itu—dari pria yang tenang menjadi raja yang memikul beban. “Aku akan menghadiri sidang pagi,” kata Lingga sambil mengikat sabuknya. “Ada laporan dari perbatasan barat.” Zhiya mengangguk. “Aku akan menunggumu.” Lingga berhenti sejenak, menatapnya. “Jangan keluar istana hari ini tanpa pengawal.” “Baik,” jawab Zhiya lembut. Setelah Lingga pergi, Wei Wei datang menjemput Zhiya untuk sarapan ringan di taman dalam. Meja kecil disiapkan di bawah pohon plum—teh hangat, bubur beras, dan buah segar. Zhiya makan perlahan, pikirannya melayang. Tatapan angkuh putra Jenderal Han sesekali muncul, lalu menghilang—digantikan oleh ketenangan malam tadi. Namun ketenangan itu tak bertahan lama. Seor

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Cerita hari ini

    Mereka berjalan lebih cepat meninggalkan keramaian, menembus gang yang lebih lengang. Zhiya baru menyadari tangannya mengepal sejak tadi; ia mengendurkannya perlahan, menarik napas panjang. Wei Wei sesekali menoleh, memastikan jarak mereka aman. “Maafkan aku,” kata Wei Wei akhirnya, suaranya menyesal. “Aku seharusnya membawa pengawal.” Zhiya menggeleng. “Tidak. Kau sudah cukup.” Ia berhenti sejenak, menatap deretan rumah kayu yang berjajar tenang. “Dunia di luar istana ternyata tidak sepenuhnya bebas dari bayangannya.” Wei Wei tersenyum getir. “Qingzhou indah, tapi tetap berlapis-lapis.” Mereka melanjutkan ke sebuah kedai teh kecil di tepi sungai. Zhiya duduk menghadap air yang mengalir pelan, membiarkan ketenangan meresap. Namun di balik damai itu, pikirannya bekerja—mengingat tatapan pria tadi, menyusun firasat yang tak menyenangkan. Sementara itu, di kejauhan, putra Jenderal Han berdiri di bawah kanopi pasar, menyipitkan mata mengikuti arah mereka pergi. Senyumnya kemb

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Putra Keluarga Han

    Fajar datan perlahan di Qingzhou. Cahaya pagi merembes masuk melalui celah tirai, menggantikan perak malam dengan semburat keemasan yang hangat. Burung-burung istana mulai bersuara pelan, seolah saling mengingatkan bahwa hari telah kembali berjalan. Zhiya terbangun lebih dulu. Untuk sesaat, ia bingung—lalu menyadari di mana ia berada. Aroma kayu cendana masih menggantung di udara, dan tangan Lingga masih menggenggamnya, longgar namun pasti, seakan tak pernah berniat melepaskan. Ia menoleh. Lingga masih tertidur, wajahnya tenang, jauh dari ketegangan seorang raja. Di saat itu, Zhiya melihatnya bukan sebagai penguasa Qingzhou, bukan sebagai roh terikat kutukan—melainkan seorang pria yang kelelahan oleh tanggung jawab dan waktu. Zhiya bergerak pelan, takut membangunkannya. Namun Lingga membuka mata, menatapnya dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat. “Kau masih di sini,” katanya pelan, seolah itu bukan kepastian, melainkan anugerah. “Aku belum pergi,” jawab Zhiya. Mer

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Paviliun Qingzhou

    “Aku tidak akan melupakan malam ini,” batin Zhiya. Ciuman mereka semakin memanas. Di atas mereka, bulan menggantung rendah. Cahayanya tidak terang, tidak pula sepenuhnya redup—seperti perak yang disaring kabut tipis. Ia menyusup di antara awan yang bergerak lambat, memecah diri menjadi potongan-potongan cahaya yang jatuh ke paviliun, ke kolam, ke rambut dan bahu mereka. Bayangan Zhiya dan Lingga memanjang di lantai batu, saling bertumpuk, lalu menyatu. Bulan itu belum hitam. “Lingga, tidak disini,” tahan Zhiya saat tangan Lingga mulai meraba bagian sensitifnya. “Tak apa. Tak ada yang melihat,” bisik Lingga. Dengan sekali tarikan, hanfu Zhiya terlepas. Lingga kemudian mengangkat tubuh Zhiya keatas meja dan mencium bibir hadis itu dengan ganas. Pria itu juga mengecupi dan meninggalkan bekas merah dileher dan bahu Zhiya yang terekspos. “Eungh, Stop! Bagaimana jika ada yang lewat?” tanya Zhiya panik. “Tidak akan. Mereka tidak akan berani melihat,” bisik Lingga. Dan dengan

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Bertukar pikiran

    “Dia kembali,” bisik seseorang, nyaris tak terdengar. Lingga tidak menghentikan mereka. Ia berjalan di sisi Zhiya, sejajar—bukan setengah langkah di depan seperti raja, bukan pula di belakang seperti penjaga. Sikap itu sendiri adalah pernyataan. Malam itu, tidak ada perintah. Tidak ada lonceng ritual. Tidak ada tetua yang dipanggil. Zhiya menghentikan langkahnya di koridor sebelum Aula Air Tua. Ia menoleh pada Lingga, dan untuk sesaat, semua beban raja, kutukan, dan bulan hitam seolah menjauh. “Tidak malam ini,” katanya pelan. “Aku kembali… bukan sebagai jawaban dunia.” Lingga menatapnya, membaca sesuatu di wajahnya yang tidak tertulis dalam ramalan mana pun. “Lalu sebagai apa?” Zhiya tersenyum tipis—lelah, jujur. “Sebagai seseorang yang merindukanmu.” Kata-kata itu jatuh sederhana, tanpa dramatisasi. Justru karena itu, Lingga terdiam lama. Wibawa raja itu luruh perlahan, digantikan oleh sesuatu yang lebih manusiawi. Ia mengangguk. “Kalau begitu… ikut aku.” Merek

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Kembali Ke Rumah

    Tidur itu datang pelan, seperti seseorang yang menutup mata dengan sadar—bukan karena lelah, melainkan karena siap. Zhiya merasakan dirinya melayang, menembus lapisan sunyi yang kini tak lagi asing. Saat kakinya menyentuh tanah, hawa dingin merambat naik dari telapak kaki, membawa aroma tanah basah dan air tua. Qingzhou. Namun kali ini, ia tidak berada di istana. Di hadapannya terbentang Sungai Bayangan—perbatasan yang hanya muncul saat dua dunia saling menoleh. Airnya tidak mengalir seperti sungai biasa. Ia bergerak lambat, memantulkan langit gelap yang bukan langit, seolah setiap riaknya adalah potongan ingatan yang tenggelam. Di seberang sungai itu, seseorang berdiri. Lingga. Ia tidak terikat, tidak terluka. Jubahnya sederhana, rambutnya terikat longgar. Cahaya samar dari entah mana membingkai siluetnya, membuatnya tampak nyata—lebih nyata dari semua kemunculannya sebelumnya. “Kau datang,” kata Lingga, suaranya membawa kelegaan yang tidak ia sembunyikan. Zhiya mel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status