Share

Bab 179

Author: SILAN
last update Huling Na-update: 2025-08-18 22:49:24
Tiga hari berlalu lebih cepat daripada yang Hazel harapkan. Pulau indah yang selama ini menjadi rumah Jacob dan Luna kini terasa seperti sebuah mimpi singkat yang terlalu sulit untuk ditinggalkan. Di sana, waktu seolah melambat, angin laut yang menenangkan, hamparan padang rumput dengan kelinci berlarian bebas, dan malam-malam hangat di meja makan yang penuh tawa.

Bagi Xavier, tiga hari itu adalah kejutan yang tak pernah ia perkirakan. Ia yang terbiasa hidup dalam lingkaran dingin kekuasaan dan darah, tiba-tiba dipaksa merasakan ketenangan yang hampir asing baginya. Pulau itu seperti mengajarkan sesuatu yang belum pernah ia pahami, arti kedamaian yang nyata.

Saat helikopter terbang meninggalkan pulau, mata Xavier menatap ke bawah, memandangi hijau pepohonan dan birunya laut yang semakin menjauh. Nafasnya tertahan, seolah enggan benar-benar pergi.

“Andai ada pulau lain seindah milik Jacob,” gumamnya pelan, “aku rela mengeluarkan semua uangku untuk membelinya.”

Hazel menoleh, bib
SILAN

Bersambung... Sekedar info, Piero sudah terbit, judulnya (Humming Of Death) Jangan lupa mampir ya :)

| 9
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rosy
Piero kak ?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Tawanan Mafia Mesum    Bab 192

    Jam satu dini hari, keheningan yang seharusnya menjadi malam pertama mereka sebagai pengantin baru justru pecah oleh detak cemas. Hazel terbaring dengan tubuh menggigil, wajahnya pucat, dan suhu tubuhnya melonjak tinggi. Xavier yang panik tak sempat berpikir panjang, ia segera mengangkat tubuh Hazel, menyelimutinya, lalu melajukan mobil menuju rumah sakit dengan kecepatan yang tak biasa.Bagi Xavier, itu bukan sekadar rasa cemas biasa. Ia terbiasa menghadapi bahaya, darah, dan bahkan kematian dalam hidupnya, namun melihat Hazel terkulai lemah di pelukannya, tubuhnya gemetar karena demam, membuat hatinya nyaris hancur.Setibanya di rumah sakit, tenaga medis segera membawa Hazel masuk ke ruang perawatan darurat. Xavier hanya bisa menunggu di luar, berjalan mondar-mandir dengan nafas berat. Setiap detik terasa lebih panjang dari biasanya.Tepat pukul dua dini hari, pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter keluar dengan ekspresi tenang, berbeda jauh dari kegelisahan Xavier.“Bagaiman

  • Tawanan Mafia Mesum    Bab 191

    Dua minggu berlalu terasa begitu cepat, dan kini waktu yang dinanti hampir tiba. Resepsi pernikahan Hazel dan Xavier hanya tinggal menghitung jam. Ballroom hotel megah itu telah berubah menjadi istana cahaya, dihiasi ribuan bunga putih yang membentuk lengkungan indah di sepanjang jalan masuk, kristal-kristal lampu gantung berkilau bagaikan bintang, sementara meja-meja bundar ditata dengan elegan, lengkap dengan wine termahal yang siap disajikan untuk para tamu undangan kelas atas yang akan meramaikan pesta. Sekarang masih pukul tiga sore, sedangkan pesta baru akan dimulai pukul tujuh. Hazel duduk di kursi panjang yang menghadap cermin rias. Harusnya, ia merasa bahagia. Seorang pengantin yang baru saja resmi menjadi istri tentu menantikan malam gemilang ini. Namun, entah kenapa, perasaan yang Hazel rasakan berbeda. Ada sesuatu yang menekan dadanya, membuat ia sulit menata emosi. Xavier mendekat dengan langkah tenang. Bayangan tubuh tegapnya terpantul jelas di cermin. “Ada apa? Kau mer

  • Tawanan Mafia Mesum    Bab 190

    Makan malam keluarga malam itu terasa berbeda. Suasana meja makan yang biasanya dipenuhi percakapan dingin dan penuh formalitas, kini justru terasa hangat dan cair. Lilin-lilin di atas meja panjang itu memantulkan cahaya lembut, menambah kesan intim di antara dua keluarga yang baru saja dipersatukan oleh sebuah pernikahan suci. Hadir malam itu hanya George dengan wibawa khasnya yang tak pernah pudar, dan cucu bungsunya, Charlie. Selebihnya, kursi-kursi kosong menjadi tanda bahwa sebagian besar keluarga Xavier memilih untuk tidak hadir, sesuatu yang membuat Hazel sempat bertanya-tanya di dalam hati. Namun, ia memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Bagi Hazel, malam ini cukup istimewa. Ini adalah kali pertama ia resmi duduk di meja makan keluarga sebagai seorang istri Xavier. “Xavier,” suara berat George memecah kesunyian yang sempat tercipta. “Jadi, kapan rencana resepsi pernikahanmu dengan Hazel? Mengapa kalian tidak melakukannya di hari yang sama?” Xavier dengan tenang, meleta

  • Tawanan Mafia Mesum    Bab 189

    Suasana katedral mulai mereda setelah pemberkatan usai. Xavier dan Hazel turun dan berdiri di ujung tangga altar. Berpegangan tangan sambil menatap para tamu yang hadir, musik yang tadinya mengalun sempat berhenti. Hazel berdiri di dekat Xavier yang mengenakan tuksedo hitam mahal, membalut tubuh kekarnya dengan sempurna. Dan di sebelahnya, Hazel mengenakan gaun indahnya yang terlihat sangat cocok mahkota yang begitu indah di kepalanya, seluruh dari mahkota itu terbuat dari berlian yang langka, tidak heran mengapa harganya begitu fantastis. "Mereka mengagumi dirimu." bisik Xavier. Sebelum Hazel sempat merespon, seorang fotografer mendekat, tentu saja untuk mengabadikan momen yang masih ada, dan salah satunya mengabadikan momen dimana Hazel menjadi ratu istimewa Xavier hari ini. Setelah sesi foto di tempat sakral itu selesai. Para tamu secara perlahan meninggalkan ruangan dengan wajah penuh senyum dan doa yang terucap dalam bisikan. Lilin-lilin masih menyala, namun musik organ sepen

  • Tawanan Mafia Mesum    Bab 188

    Xavier beberapa kali menarik nafas dalam, dadanya terasa sesak oleh debaran yang tak kunjung reda. Ia sudah berdiri di altar sejak lima belas menit lalu, namun setiap detik terasa seperti satu jam yang menyiksa. Jemarinya sempat mengepal dan membuka lagi, mencoba menenangkan diri. Hatinya tahu, sebentar lagi, pintu besar itu akan terbuka dan sosok yang paling ia nanti akan muncul, Hazel, calon istrinya. Karpet merah membentang megah dari pintu utama hingga ke altar, seolah menjadi jalan suci yang hanya dipersiapkan untuk kedatangan seorang ratu. Pandangan Xavier sempat teralih ke arah Christina yang masuk lewat pintu samping. Perempuan itu melangkah penuh percaya diri, menatap Xavier dengan senyum tipis yang sarat makna. Senyum yang mengatakan, “Semuanya sudah beres. Tugasmu hanya menunggu dia.” Xavier mengembuskan nafas panjang, namun degup jantungnya justru makin keras saat derit pintu besar katedral terdengar. Suara itu menggaung, membuat suasana menjadi semakin hening dan khidmat

  • Tawanan Mafia Mesum    Bab 187

    Sehari sebelum hari pernikahan yang dinantikan, udara Boston terasa berbeda, seolah ikut merayakan kebahagiaan Hazel. Dua hari terakhir, ia tidak tinggal di rumah Xavier. Sebagai tradisi, ia beristirahat di apartemen mewah yang juga milik Xavier, namun untuk sementara waktu, pria itu “dilarang” menemuinya. Salah satu ruangan apartemen itu dipenuhi balon, pita, dan tawa hangat. Malam ini adalah malam terakhir Hazel sebagai seorang lajang. Gaun pengantin Hazel tergantung anggun di ruangan khusus, dipajang di balik kaca. Cahaya lampu kristal membuat butiran berlian yang menghiasi gaun itu berkilauan seperti bintang yang jatuh ke bumi. Hazel berjalan pelan mendekat, jantungnya berdetak cepat. “Besok... aku akan mengenakanmu,” bisiknya lirih, ujung jarinya menyusuri permukaan gaun putih itu dengan hati-hati, seakan takut merusak keindahannya. Sepupunya yang riang sempat bertanya, “Bagaimana rasanya, Hazel, tahu besok statusmu berubah?” Hazel tersenyum, matanya berkilat. “Mendebarkan...

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status