Share

Bab 6

Author: SILAN
last update Huling Na-update: 2025-04-20 11:29:16

Waktu liburan di kapal pesiar pada akhirnya usai, semua turun dan menjalani rutinitas seperti biasanya. Hazel melihat Luna kembali di tangan Xavier, tapi ia yakin, butuh waktu sebentar lagi sampai pertunangan Luna dan Xavier selesai, ia tak akan membiarkan Luna menderita dengan pria brengsek itu.

"Kejutan akan datang tidak lama lagi, aku tidak sabar melihat pertunangan Luna dan pria itu usai." ucap Hazel.

Jacob di sebelahnya menoleh, "Sebaiknya kita pulang, untuk memastikan semuanya lancar." katanya.

Hazel mengangguk mantap, ia benar-benar tak sabar menjauhkan Luna dari pria sialan itu.

Dan benar saja, hanya berselang empat hari, terjadi kekacauan besar yang menimpa keluarga Calderon, kabar itu tersebar cepat membuat keluarga Xavier memutus hubungan sepihak dengan keluarga Luna. Pada akhirnya pertunangan Luna dan Xavier resmi dibatalkan, untuk pertama kalinya, Hazel merasa puas. Tujuannya tercapai.

Tapi, hal itu tampaknya juga menjadi masalah baru untuknya.

Hazel yang larut dalam rasa puas, memutuskan untuk menghadiahi dirinya sendiri. Sudah terlalu lama ia tak bertemu tunangannya, Neil. Ia ingin menghabiskan waktu bersama pria yang dicintainya, melepas penat, dan mungkin… merayakan keberhasilannya.

Dengan semangat yang menggebu, ia melangkah ke apartemen Neil. Kode pintu dimasukkan dengan hafal, dan suara bip terdengar bersahabat saat pintu terbuka. Tapi… suasana di dalam apartemen terasa aneh. Terlalu sunyi. Hazel mengira Neil masih di kantor, sempurna untuk sebuah kejutan kecil.

Namun saat ia melangkah lebih dalam, suara samar mulai terdengar… suara yang tak asing. Suara desahan. Suara ranjang yang berderit pelan.

Langkah Hazel terhenti. Detak jantungnya menggila. Ia menelan ludah, dan perlahan mendorong pintu kamar yang terbuka sedikit. Dan di situlah, dunianya seakan runtuh.

Di atas ranjang ia melihat pria yang ia percayai dan akan menjadi suaminya, kini tengah bercinta dengan wanita lain.

"Bajingan," ucap Hazel dengan suara parau, bergetar karena amarah dan luka yang menyesak.

Neil terkejut, wajahnya memucat. Dengan panik ia menyibakkan selimut dan buru-buru mengenakan celananya. Wanita di ranjang hanya bisa mematung.

"Hazel! Aku bisa jelaskan!" serunya.

Hazel menepis tangan Neil yang mencoba menyentuhnya. Dengan kekuatan yang lahir dari rasa dikhianati, tinjunya melayang ke wajah Neil, darah langsung mengalir dari sudut bibir pria itu.

“Kau pikir aku tidak akan tahu, hah? Aku kira kau pria yang bisa kuandalkan, yang akan menjadi suami yang baik. Tapi saat aku sibuk membantu orang lain, kau malah tidur dengan wanita lain!” teriak Hazel, emosi menguasainya saat ia baru tau fakta pengkhianatan calon suaminya.

Neil tampak tergagap, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun yang masuk akal.

“Tidak usah berusaha menjelaskan! Aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri! Dan mulai hari ini, kita selesai.” Hazel melepas cincin pertunangannya, melemparkannya ke lantai seperti membuang sampah.

Dengan suara gemetar penuh luka, ia berkata, "Aku tidak tau kalau ternyata kau juga sebrengsek ini, Neil." dan setelah itu ia berbalik pergi tanpa memperdulikan seruan dari Neil.

Demi apapun, hatinya sakit mengetahui pria yang akan menjadi suaminya berkhianat seperti ini, Hazel tidak tau, seberapa sering Neil membawa wanita asing ke dalam apartemennya. Air matanya jatuh, hatinya benar-benar sakit dan ia butuh obat untuk melarikan diri sejenak dari kekacauan hari ini.

Dan klub malam adalah pilihan yang Hazel pilih, dentuman musik mengguncang dinding, alkohol mengalir deras. Hazel meneguk gelas demi gelas tanpa berpikir. Ia tak peduli dengan pandangan orang-orang. Dunianya sedang runtuh, dan ia hanya ingin melupakannya, setidaknya malam ini.

"Brengsek!" desisnya lirih sambil meletakkan gelas kosong ke meja, "Tuangkan kembali," perintahnya pada bartender, ia sudah tak peduli saat kepalanya sudah mulai pusing, kesadarannya pun mulai hilang kendali.

"Seseorang harus membawanya pergi, perempuan ini sudah terlalu banyak meneguk alkohol." ucap bartender dengan samar-samar terdengar di telinga Hazel.

Dengan tubuh limbung dan pandangan yang mulai gelap, Hazel bangkit dari duduknya setelah meneguk isi gelas terakhir. Ia meraih meja untuk menjaga keseimbangan, namun segalanya terasa berputar. Musik dari klub masih menghentak keras di belakang, tapi pikirannya kini hanya terfokus pada satu hal, ia harus ke toilet. Rasa mual yang membakar dari perutnya memaksa ia bergerak, meskipun langkah-langkahnya goyah seperti boneka yang kehilangan keseimbangan.

Toilet... di mana? Kenapa terasa seperti jaraknya bermil-mil dari tempat ia berdiri?

Setiap langkah yang diambil membuat dunia di sekelilingnya bergoyang. Kepalanya berdenyut hebat, tapi anehnya, untuk sesaat, sakit di hatinya seperti teredam oleh alkohol. Luka karena pengkhianatan Neil tetap ada, namun tak lagi menjerit, hanya mendesah pelan di balik gelombang mabuk yang membungkus kesadarannya.

Tapi entah bagaimana, Hazel justru melangkah ke arah yang salah. Bukannya menuju toilet, ia malah berjalan ke area eksklusif, tempat yang seharusnya tak bisa diakses sembarangan. Namun Hazel tak sadar. Matanya buram, pikirannya tak fokus, dan tubuhnya hanya mengikuti insting.

Sampai akhirnya ia menabrak sesuatu, atau... seseorang.

Hazel mendongak perlahan, dan meski semuanya samar, ada satu hal yang dikenalnya, aroma cedarwood yang begitu khas. Hangat. Maskulin. Menggoda.

Refleks, kepalanya bersandar ke dada pria itu. Aroma itu memeluk indra penciumannya dan membuatnya merasa… aman? Atau mungkin hanya tersesat?

“Kau sangat mabuk, Hazel,” suara bariton itu terdengar lembut namun jelas, dalam, dan sangat familiar. Tapi Hazel tak mampu menghubungkan suara itu dengan wajah siapa pun. Ia terlalu lelah untuk peduli.

Tangannya terangkat pelan, menyentuh dada pria itu yang hangat dan berotot, dibalut kemeja linen dengan tiga kancing teratas terbuka. Jemarinya menelusuri kain itu dengan gerakan lambat, hampir tak sadar. Ia tak tahu siapa pria ini. Tapi untuk saat ini, yang ia tahu, ia butuh seseorang. Butuh pelarian. Butuh kehangatan. Butuh rasa yang bisa menutupi luka yang terus menumpuk di dalam hatinya.

Pandangannya buram, tapi Hazel masih mencoba menyipitkan mata, mencoba melihat jelas sosok di hadapannya. Namun yang terlihat hanya bayangan samar.

Masa bodoh.

Ia mencengkeram kerah pria itu, berdiri di ujung jinjit, berusaha mencapai bibirnya. Entah karena nafsu, mabuk, atau sekadar ingin dilupakan oleh dunia malam ini.

Pria itu menatapnya, menahan gerakan Hazel, namun tak menjauh.

“Kau menginginkan diriku?” tanyanya, suaranya terdengar lebih rendah, bergetar dengan ketegangan yang belum dilepaskan.

Hazel tak menjawab dengan kata-kata. Tangannya bergerak naik, menyentuh rahang pria itu, membelai dengan gerakan sensual, seakan berusaha mengukir bentuk wajahnya ke dalam memorinya, atau mungkin hanya mencari pegangan di tengah kekacauan pikirannya.

"Aku ingin tidur denganmu," bisiknya, nafasnya berat, bibirnya gemetar karena alkohol, emosi, dan ketidaksadaran yang perlahan mulai mengambil alih.

Dan saat itu, dunia Hazel berputar lebih cepat, menelan logika dan moral di dalam dirinya hingga ia tak tau, pria itu menyunggingkan seringai sinis.

"Kau yang memintanya, jangan menyesalinya saat kau bangun nanti, kucing liarku."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Tawanan Mafia Mesum    TAMAT

    Hari-hari terus bergulir, dan tanpa sadar, Hazel mulai memahami betapa ajaibnya peran sebagai seorang ibu. Setiap kali ia mendekap Mason di dadanya untuk menyusui, hatinya selalu dipenuhi rasa syukur yang tak terlukiskan. Namun, dibalik kelembutan itu, ada sosok lain yang tak kalah besar pengorbanannya, Xavier. Xavier begitu setia berada di sisi mereka. Malam-malam panjang yang penuh tangisan bayi tak membuatnya mengeluh sedikit pun. Bahkan ketika Hazel sudah terlelap karena kelelahan, Xavier rela begadang, memangku Mason di lengannya hingga fajar menyingsing, memastikan bayi kecil itu merasa aman dan hangat. Tidak sekalipun Hazel mendengar Xavier menggerutu, justru setiap pagi, senyum lembut selalu tersungging di wajah Xavier, seolah menjaga Mason adalah kehormatan terbesar dalam hidupnya. Kehadiran Mason membuat rumah mereka jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi sunyi dan kaku, melainkan ramai oleh tangisan, rengekan, lalu perlahan berubah menjadi celoteh manja, tawa riang, dan

  • Tawanan Mafia Mesum    Bab 195

    Pagi itu menjadi hari bersejarah baru untuk hidup Xavier. Degup jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, setiap detik yang berjalan terasa seperti satu jam penuh penyiksaan. Tatapannya terpaku pada pintu ruang bersalin yang masih tertutup rapat, sementara jemari tangannya terus mengepal, seakan hanya itu satu-satunya cara menahan rasa cemas yang bergolak dalam dadanya. Begitu pintu berderit terbuka, Xavier langsung berdiri tegak, tubuhnya kaku menahan harap sekaligus takut. Ia hampir tak berani bernafas saat dokter keluar dengan wajah tenang. "Bagaimana, Dokter?" tanyanya terburu-buru, suaranya serak penuh kegelisahan. "Semua baik-baik saja, Tuan. Anda bisa masuk." Jawaban itu bagai beban raksasa yang lepas dari dadanya. Xavier melangkah cepat, dan matanya langsung menangkap pemandangan yang membuat dadanya sesak oleh emosi, bayi mungil mereka sedang dibersihkan perawat, tubuh kecil itu masih tampak merah, tangannya mengepal, hidup, nyata. Namun alih-alih menyambut bayinya te

  • Tawanan Mafia Mesum    Bab 194

    Waktu terasa berjalan semakin cepat bagi Hazel. Kandungannya kini sudah memasuki usia delapan bulan, dan segala hal di sekelilingnya seolah hanya berputar pada satu titik, persiapan menyambut sang buah hati. Xavier tidak pernah berhenti sibuk, setiap hari selalu ada saja yang ia lakukan demi memastikan semua sempurna. Kamar bayi yang tadinya kosong kini berubah menjadi ruangan penuh kehangatan. Dindingnya dicat lembut dengan warna biru muda berpadu putih, rak kecil penuh buku dongeng berjajar rapi di sudut, dan sebuah ranjang bayi berlapis kain halus tampak sudah siap menunggu kehadiran seorang penghuni mungil. Semua detail dipilih langsung oleh Xavier, bahkan ia sendiri yang memasang hiasan dinding berbentuk bintang dan bulan, seakan ia ingin bayi mereka selalu tidur dalam mimpi yang indah. Selama sebulan terakhir, meski tubuhnya sempat dihajar morning sickness yang parah, Xavier tetap memaksakan diri untuk aktif. Ia melatih dirinya merawat bayi, belajar mengganti popok, memandikan,

  • Tawanan Mafia Mesum    Bab 193

    Hazel duduk di ruang tamu, tangannya memijat pelan perutnya yang masih datar. Sekilas ia melirik ke arah dapur, mendengar suara piring dan pisau beradu satu sama lain. Senyum kecil tak bisa ia tahan. Xavier seorang pria yang selama ini dikenal keras, dingin, bahkan brutal di dunia luar, kini sibuk seperti ayah rumah tangga, mempersiapkan potongan buah, susu rendah lemak, hingga camilan sehat seolah Hazel benar-benar tak boleh menyentuh apapun yang kurang bermanfaat.Namun, di balik rasa hangat itu, Hazel juga merasa dirinya seolah “terikat.” Baru keluar rumah sakit, Xavier memperlakukannya seperti porselen yang rapuh. Duduk di kursi roda, diantar ke sana kemari, bahkan berjalan lima langkah saja sudah dilarang.“Aku bisa berjalan sendiri,” gumam Hazel, kali ini dengan nada agak kesal. Ia melirik kursi roda yang Xavier lipat dan letakkan di sudut ruangan. “Aku bukan pasien lagi, Xavier…”Tak lama kemudian, pria itu muncul membawa nampan. Di atasnya tersusun rapi potongan apel, pir, dan

  • Tawanan Mafia Mesum    Bab 192

    Jam satu dini hari, keheningan yang seharusnya menjadi malam pertama mereka sebagai pengantin baru justru pecah oleh detak cemas. Hazel terbaring dengan tubuh menggigil, wajahnya pucat, dan suhu tubuhnya melonjak tinggi. Xavier yang panik tak sempat berpikir panjang, ia segera mengangkat tubuh Hazel, menyelimutinya, lalu melajukan mobil menuju rumah sakit dengan kecepatan yang tak biasa. Bagi Xavier, itu bukan sekadar rasa cemas biasa. Ia terbiasa menghadapi bahaya, darah, dan bahkan kematian dalam hidupnya, namun melihat Hazel terkulai lemah di pelukannya, tubuhnya gemetar karena demam, membuat hatinya nyaris hancur. Setibanya di rumah sakit, tenaga medis segera membawa Hazel masuk ke ruang perawatan darurat. Xavier hanya bisa menunggu di luar, berjalan mondar-mandir dengan nafas berat. Setiap detik terasa lebih panjang dari biasanya. Tepat pukul dua dini hari, pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter keluar dengan ekspresi tenang, berbeda jauh dari kegelisahan Xavier. “Bagai

  • Tawanan Mafia Mesum    Bab 191

    Dua minggu berlalu terasa begitu cepat, dan kini waktu yang dinanti hampir tiba. Resepsi pernikahan Hazel dan Xavier hanya tinggal menghitung jam. Ballroom hotel megah itu telah berubah menjadi istana cahaya, dihiasi ribuan bunga putih yang membentuk lengkungan indah di sepanjang jalan masuk, kristal-kristal lampu gantung berkilau bagaikan bintang, sementara meja-meja bundar ditata dengan elegan, lengkap dengan wine termahal yang siap disajikan untuk para tamu undangan kelas atas yang akan meramaikan pesta. Sekarang masih pukul tiga sore, sedangkan pesta baru akan dimulai pukul tujuh. Hazel duduk di kursi panjang yang menghadap cermin rias. Harusnya, ia merasa bahagia. Seorang pengantin yang baru saja resmi menjadi istri tentu menantikan malam gemilang ini. Namun, entah kenapa, perasaan yang Hazel rasakan berbeda. Ada sesuatu yang menekan dadanya, membuat ia sulit menata emosi. Xavier mendekat dengan langkah tenang. Bayangan tubuh tegapnya terpantul jelas di cermin. “Ada apa? Kau mer

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status