Inicio / Romansa / Tawanan Sang Mafia / BAB 4 Mahkota dan Rahasia

Compartir

BAB 4 Mahkota dan Rahasia

Autor: Kupukupu
last update Fecha de publicación: 2026-08-06 23:29:57

"Kau pikir kain sutra gading ini bisa menghapus bau selokan tempatku memungutmu, Anna?"

Suara bariton Alaric De Luca memecah keheningan pagi di dalam kamar suite Sayap Timur. Pria itu berdiri menjulang di dekat ujung ranjang kanopi, memutar cerutunya yang belum dipantik. Tatapan mata sebiru es miliknya menyapu gaun sutra gading yang kini membungkus tubuh ringkih Anastasia.

Anastasia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangannya meremas lembut kain gaun mahal itu, membiarkan tubuhnya gemetar pelan secara terukur.

"S-saya hanya mencoba merapikan diri, Tuan Alaric," bisik Anastasia dengan nada suara yang parau dan rapuh. "Saya tidak bermaksud..."

Bruk!

Sebuah map kulit hitam dilemparkan Alaric secara kasar ke atas meja kaca di samping ranjang.

"Anastasia Moreau. Dua puluh tujuh tahun," desis Alaric seraya melangkah mendekat, menciptakan aura tekanan yang menghimpit udara di antara mereka. "Marcus baru saja menyerahkan laporan latar belakangmu."

Jantung Anastasia berdesir tajam. Sebagai seorang agen kepolisian terlatih, ia mempertahankan detak napasnya tetap stabil meski adrenalin meluncur deras di pembuluh darahnya.

"Laporan... laporan apa, Tuan?" cicit Anastasia, menengadahkan wajahnya dengan manik mata hazel yang dipenuhi pendar ketakutan.

"Catatan sipilmu lima tahun terakhir sangat bersih," pukas Alaric, jemarinya terangkat mencengkeram dagu Anastasia dengan tekanan yang menuntut. "Namun sebelum usia dua puluh dua tahun, riwayat hidupmu kosong tanpa bekas. Terlalu rapi untuk seekor tikus jalanan yang mengaku tidak punya siapa-siapa."

Anastasia menahan napasnya. Cengkeraman dingin di rahangnya terasa nyata, namun matanya tetap mengunci pandangan es Alaric tanpa berkedip.

"Saya... saya terpaksa menghapus nama lama saya, Tuan," sahut Anastasia terbata-bata, membiarkan air mata buatan merebak di sudut matanya. "Ayah saya... ayah saya memiliki utang besar pada lintah darat di Marseilles sebelum dia tewas. Jika saya tidak menghilang dan mengganti identitas, mereka akan menjual saya lebih cepat dari yang dilakukan Robert."

Alaric menyipitkan matanya tajam. Ia meneliti setiap pergerakan otot wajah Anastasia, mencari kebohongan di balik getaran bibir pucat wanita itu.

"Cerita yang sangat manis," cetus Alaric sinis. "Kau pikir aku percaya pada dongeng keputusasaanmu ini?"

"Jika Anda tidak percaya..." Anastasia mengambil langkah nekad. Ia meraih pergelangan tangan Alaric yang mencengkeram dagunya, menarik tangan tegap itu turun dan menempelkannya tepat di atas lehernya, pada denyut nadinya yang terpacu kencang. "...tembak kepala saya sekarang, Tuan De Luca. Tembak saya di sini daripada membiarkan saya dicincang oleh orang-orang dari masa lalu saya."

Alaric membeku sesaat. Ibu jarinya merasakan denyut nadi hangat yang berdetak liar di balik kulit halus leher Anastasia. Kepasrahan tanpa syarat dan keberanian gila wanita ini kembali mengusik ego dominannya sebagai calon penguasa dunia bawah.

"Kau sangat suka bertaruh dengan nyawamu sendiri, Anna," desis Alaric rendah, suaranya memberat saat ibu jarinya mengusap pelan kulit leher Anastasia yang memar.

"Saya tidak sedang bertaruh," bisik Anastasia lembut, menyandarkan pipinya ke telapak tangan Alaric yang kaku. "Saya hanya menyerahkan sisa hidup saya kepada pria yang telah menyelamatkan saya."

Alaric melepaskan cengkeramannya secara mendadak. Pria itu tegak kembali, mengibaskan tangannya seolah baru saja tersengat panas.

"Jangan terlena dengan kemewahan Sayap Timur ini, Tikus Kecil," pukas Alaric dingin seraya memutar tubuhnya. "Kamar ini bukan hadiah, melainkan kurungan emasmu. Jika kau berani melangkah satu inci saja keluar tanpa izinku..."

"Aku tahu," potong Anastasia pelan, mengulas senyuman pasrah. "Anda akan mematahkan kedua kaki saya."

Alaric melirik lewat sudut matanya dengan tatapan tajam, sebelum melangkah lebar keluar dari kamar suite. Pintu ganda mahoni tertutup rapat dengan dentang berat yang bergema panjang.

Klik.

Begitu suara selot pintu luar terkunci, seluruh kerapuhan di wajah Anastasia menguap tanpa bekas.

Anastasia berdiri tegar. Jemari lentiknya menyapu sisa air mata di pipinya dengan gerakan yang sangat presisi. Binar mata hazel-nya yang tadi redup oleh ketakutan kini berkilat penuh dingin dan kepintaran analitis.

"Dasar pria sombong," gumam Anastasia pelan.

Ia melangkah cepat menuju pintu balkon kamar, memperhatikan pelataran bawah melalui celah tirai tipis. Beberapa menit kemudian, dua mobil sedan hitam meluncur meninggalkan gerbang utama mansion. Alaric dan Marcus telah pergi untuk mengurus persiapan kargo senjata di pelabuhan utara.

Waktu yang dicarinya telah tiba.

Anastasia berbalik, melepas anting mutiara di telinga kirinya, lalu menekan bagian belakang perhiasan tersebut.

"Rowan, kau mendengarku?" bisik Anastasia dengan suara yang begitu tenang dan rendah.

"Sinyalmu terhubung, Agent Moreau," sahut suara Inspektur Rowan melalui transmisi audio mikro di telinganya. "Tim taktis kami bersiap di luar perimeter. Bagaimana situasi di dalam?"

"Alaric dan Marcus baru saja meninggalkan kediaman," lapor Anastasia seraya memeriksa gaun gadingnya. "Saya akan menyusup ke ruang kerja utamanya sekarang untuk mencari draf perjanjian aliansi De Luca dan Voss."

"Hati-hati, Anna," tegas Rowan. "Sistem keamanan internal De Luca menggunakan pemindai gerak berfrekuensi tinggi. Kau hanya punya waktu dua belas menit sebelum jadwal patroli pengawal berikutnya."

"Sepuluh menit sudah cukup," sahut Anastasia mantap.

Anastasia mematikan transmisi, lalu melangkah menuju pintu penghubung rahasia di balik lemari pakaian kamar suite. Menggunakan keahlian infiltrasi yang telah ditempa bertahun-tahun di akademi kepolisian, ia membuka kait pintu tanpa suara.

Lorong pelayan di balik Sayap Timur tampak gelap dan sunyi. Anastasia bergerak cepat bagai bayangan, meniti langkah kaki yang tanpa alas sepatu di atas lantai batu dingin. Setiap lekuk koridor dan posisi kamera pengawas telah dihafalnya dari peta spasial yang diberikan tim intelijen.

Dalam waktu kurang dari empat menit, Anastasia telah berdiri di depan pintu kayu mahoni ganda berukir serigala emas, ruang kerja pribadi Alaric De Luca.

Ia merogoh jepit rambut logam tipis dari gulungan rambutnya. Dengan ketangkasan yang luar biasa, jemari lentiknya memutar pin tersebut di dalam lubang kunci kuningan.

Klik.

Mekanisme kunci terlepas halus. Anastasia menyelinap masuk, merapat ke balik pintu, lalu menguncinya kembali dari dalam.

Aroma tembakau mahal, kayu cedar, dan kulit menyergap indra penciumannya. Anastasia tidak membuang waktu untuk mengagumi kemewahan ruang kerja raksasa itu. Ia melangkah cepat ke belakang meja kerja ek hitam milik Alaric.

Jemarinya yang terlatih mulai memeriksa laci-laci kayu tanpa menggeser posisi barang satu milimeter pun. Pada laci paling bawah yang tersembunyi di balik panel ganda, matanya menangkap sebuah map kulit hitam berlapis stempel lilin merah darah berlogo kepala serigala.

Anastasia menarik napas panjang. Menggunakan pisau lipat mikro dari saku tersembunyi gaunnya, ia mengangkat segel lilin itu tanpa merusaknya.

Lembaran kertas tebal di dalamnya dibuka dengan hati-hati.

Dokumen Perjanjian Aliansi Logistik & Draf Pernikahan Resmi Dinasti De Luca dengan Keluarga Voss.

Mata hazel Anastasia menyipit tajam, menyerap setiap poin klausul hukum, alokasi persenjataan pelabuhan Marseilles, hingga satu nama yang tercetak tegas dengan tinta emas di bagian akhir berkas.

Nona Freya Voss.

"Freya Voss..." bisik Anastasia, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin. "Jadi ini mahkota aliansi yang kau agungkan, Alaric?"

Namun, sebelum Anastasia sempat mengabadikan dokumen berharga itu menggunakan pemindai mikro di perhiasannya.

Krek!

Gagang pintu ganda ruang kerja mendadak berputar dari luar. Suara gerendel besi terlepas bergema nyaring di dalam ruangan yang sunyi!

Anastasia membeku kaku di tempatnya berdiri, jantungnya berdegup keras saat bayangan tinggi besar seseorang melangkah masuk menembus celah pintu yang terbuka!

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 6 Pelayan Sang Ratu Malam

    "M-minyak kayu cedar, Tuan?" bisik Anastasia dengan kelopak mata bergetar panik, menatap lurus ke dalam manik mata sebiru es milik Alaric. "Ibu Agnes... Ibu Agnes baru saja membawakan kain pembersih beraroma kayu dari pantry bawah untuk menyeka meja ini sebelum Anda masuk."Alaric menyipitkan matanya tajam. Cengkeramannya pada dagu Anastasia tidak memelonggar sedikit pun. Ibu jarinya justru mengusap pelipis wanita itu dengan tekanan yang menuntut."Kau pikir aku bisa dibohongi oleh kebetulan semacam itu, Anna?" desis Alaric rendah, suaranya memberat membahayakan."Saya tidak berani berbohong pada Anda, Tuan Alaric," sahut Anastasia dengan air mata buatan yang mulai menggenang di sudut mata hazel-nya. "Saya... saya bahkan tidak tahu di mana letak ruang kerja Anda."Alaric menatap bibir pucat yang bergetar ketakutan di hadapannya. Kebohongan atau kejujuran wanita ini tersusun begitu rapi di balik raut wajah polosnya yang tak berdosa."Bagus jika kau tidak tahu," pukas Alaric dingin sera

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 5 Di Ujung Jarum Halus

    "Kunci pintu utama dan periksa perimeter lorong timur!"Gema suara berat pengawal di balik pintu ganda ruang kerja membuat seluruh sel di tubuh Anastasia menegang kaku. Dalam hitungan seperseribu detik, refleks terlatih seorang agen kepolisian mengambil alih penuh kendali pikirannya.Tanpa menimbulkan gesekan kain sedikit pun, Anastasia melangkah mundur bagai bayangan. Tubuh mungilnya menyelinap halus ke balik tirai beludru tebal bernuansa merah marun yang melapisi pintu kaca balkon.Krek.Gagang pintu mahoni berputar penuh. Daun pintu terbuka lebar, membiarkan pendar cahaya lampu lorong menyiram sebagian lantai kayu ek."Marcus meminta map manifestasi kargo pelabuhan selatan," ucap seorang pengawal bersenjata otomatis seraya melangkah masuk."Ambil cepat di meja tengah. Kita harus menyisir area gerbang sebelum helikopter Tuan Alaric mendarat," sahut pengawal kedua yang tetap bersiaga di ambang pintu.Di balik lipatan beludru dingin, Anastasia menahan napasnya secara terukur. Jemari l

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 4 Mahkota dan Rahasia

    "Kau pikir kain sutra gading ini bisa menghapus bau selokan tempatku memungutmu, Anna?"Suara bariton Alaric De Luca memecah keheningan pagi di dalam kamar suite Sayap Timur. Pria itu berdiri menjulang di dekat ujung ranjang kanopi, memutar cerutunya yang belum dipantik. Tatapan mata sebiru es miliknya menyapu gaun sutra gading yang kini membungkus tubuh ringkih Anastasia.Anastasia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangannya meremas lembut kain gaun mahal itu, membiarkan tubuhnya gemetar pelan secara terukur."S-saya hanya mencoba merapikan diri, Tuan Alaric," bisik Anastasia dengan nada suara yang parau dan rapuh. "Saya tidak bermaksud..."Bruk!Sebuah map kulit hitam dilemparkan Alaric secara kasar ke atas meja kaca di samping ranjang."Anastasia Moreau. Dua puluh tujuh tahun," desis Alaric seraya melangkah mendekat, menciptakan aura tekanan yang menghimpit udara di antara mereka. "Marcus baru saja menyerahkan laporan latar belakangmu."Jantung Anastasia berdesir tajam. Sebagai se

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 3 Di Antara Serigala dan Takhta

    "Siapa wanita berdarah yang kau bawa ke bawah atap De Luca, Alaric?"Suara bariton yang berat, dalam, dan sarat akan dominasi mutlak itu bergaung dari arah pintu ganda aula utama. Tuan Besar De Luca, pria paruh baya berambut perak dengan tongkat berkepala serigala emas, melangkah masuk tanpa mengetuk. Di sampingnya, berdiri Lord Voss, patriark dinasti mafia Marseilles yang bertubuh jangkung dengan tatapan mata sehitam jelaga.Alaric berdiri tegak di puncak tangga melingkar, merapikan kancing kemeja hitamnya tanpa mengalihkan pandangan esnya. Rahangnya mengeras kaku, namun ekspresi wajahnya tetap dingin tak tersentuh."Kau melintasi batas wilayahku tanpa pemberitahuan, Ayah," sahut Alaric datar, suaranya tenang namun sanggup mengedapkan udara di ruangan itu."Ini wilayah De Luca, dan aku adalah pemilik sah takhta tertinggi keluarga ini," potong Tuan Besar De Luca seraya menghentakkan tongkat kayunya ke lantai marmer dengan dentang keras. "Marcus memberitahuku kau membawa pelacur jalana

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 2 Di Bawah Atap Sang Pangeran Kegelapan

    "Jahit lukanya tanpa bius jika wanita ini terlalu banyak bersuara, Dokter."Suara bariton dingin itu bergaung ketus di dalam kamar tamu sayap barat Mansion De Luca. Alaric berdiri tegap di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke pelataran malam, mengapit sebatang cerutu yang asap tipisnya membubung pelan ke udara. Jas hitam mewahnya telah dilepas, menyisakan kemeja yang lengan bagian bawahnya digulung kencang, memperlihatkan lengan berotot dan rahang tegas yang membeku tanpa emosi."T-Tuan De Luca..." cicit Dr. Reinhardt, jemarinya yang terampil sedikit gemetar saat memegang jarum bedah dan benang steril. "Pendarahan di pelipisnya cukup deras. Saya harus membersihkan dan menjahitnya dengan ketelitian ekstra.""Lakukan tugasmu tanpa banyak alasan," potong Alaric datar, bahkan tanpa sudi membalikkan badan. "Aku memanggilmu ke mansion ini untuk memastikan dia tidak mati di atas karpetku, bukan untuk mendengarkan keluhanmu.""Baik, Tuan. Saya mengerti," balas sang dokter tergesa-gesa,

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 1 Darah di Atas Karpet Merah

    "Jangan biarkan jalang itu lolos! Tangkap dia!"Suara teriakan serak itu menggema di sepanjang koridor sunyi lantai VIP Hotel L’Empire. Langkah kaki yang berat dan tergesa memecah keheningan malam musim dingin di pinggiran kota Paris. Di atas karpet merah tebal yang membentang tanpa ujung, Anastasia Moreau berlari dengan sisa tenaga yang ia miliki. Napasnya memburu, terasa panas dan menyiksa di paru-parunya yang seolah hampir meledak.Kedua tangannya yang gemetar berusaha memeluk tubuhnya sendiri. Gaun satin tipis sewarna gading yang ia kenakan telah robek parah dari dada hingga paha, memperlihatkan kulit pucatnya yang kini dihiasi memar kebiruan yang mengerikan. Di pelipis kirinya, darah segar mengalir lambat, melewati pipi, dan menetes ke atas karpet merah, meninggalkan jejak-jejak merah gelap yang kontras."Sialan! Berhenti kau, Anna!"Suara itu terdengar semakin dekat. Itu adalah suara Robert Still, seorang pengusaha lokal bertubuh tambun yang memesan jasanya malam ini. Pria paruh

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status