Beranda / Romansa / Tawanan Sang Mafia / BAB 5 Di Ujung Jarum Halus

Share

BAB 5 Di Ujung Jarum Halus

Penulis: Kupukupu
last update Tanggal publikasi: 2026-08-06 23:38:49

"Kunci pintu utama dan periksa perimeter lorong timur!"

Gema suara berat pengawal di balik pintu ganda ruang kerja membuat seluruh sel di tubuh Anastasia menegang kaku. Dalam hitungan seperseribu detik, refleks terlatih seorang agen kepolisian mengambil alih penuh kendali pikirannya.

Tanpa menimbulkan gesekan kain sedikit pun, Anastasia melangkah mundur bagai bayangan. Tubuh mungilnya menyelinap halus ke balik tirai beludru tebal bernuansa merah marun yang melapisi pintu kaca balkon.

Krek.

Gagang pintu mahoni berputar penuh. Daun pintu terbuka lebar, membiarkan pendar cahaya lampu lorong menyiram sebagian lantai kayu ek.

"Marcus meminta map manifestasi kargo pelabuhan selatan," ucap seorang pengawal bersenjata otomatis seraya melangkah masuk.

"Ambil cepat di meja tengah. Kita harus menyisir area gerbang sebelum helikopter Tuan Alaric mendarat," sahut pengawal kedua yang tetap bersiaga di ambang pintu.

Di balik lipatan beludru dingin, Anastasia menahan napasnya secara terukur. Jemari lentiknya memegang pisau lipat mikro dengan posisi siap tempur jika penyamarannya terancam bongkar saat itu juga.

Langkah kaki sepatu laras pengawal itu membentur lantai kayu keras, mendekati meja kerja Alaric. Suara gesekan kertas terdengar selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.

"Sudah ketemu. Ayo keluar sebelum sistem pemindai otomatis mengunci ruangan ini."

"Kunci kembali pintunya."

Klik.

Mekanisme kunci besi berbunyi nyaring. Suara derap langkah kaki kedua pengawal itu perlahan menjauh, menyisakan keheningan yang tebal di dalam ruang kerja utama.

Anastasia mengembuskan napas perlahan melalui hidungnya. Ia menantikan sepuluh detik penuh untuk memastikan tidak ada pengawas cadangan yang tertinggal di lorong luar.

Dengan ketangkasan sempurna, ia keluar dari balik tirai, merayap menuju pintu penghubung lorong pelayan, lalu menyelinap masuk kembali ke dalam Sayap Timur tanpa memicu satu pun sensor keamanan.

Pintu ganda kamar suite Sayap Timur tertutup rapat tanpa suara.

Anastasia menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang dingin. Napasnya masih teratur, namun otaknya berputar keras mencerna fakta baru yang baru saja ditemukannya di laci meja Alaric.

Freya Voss. Tiga bulan lagi.

"Pernikahan aliansi..." bisik Anastasia lirih pada kegelapan kamar.

Ia melangkah menuju meja rias, menuangkan air putih dari teko porselen ke dalam cangkir kristal. Tangannya sengaja ia biarkan sedikit gemetar saat mendengar ketukan halus di pintu luarnya.

Tok. Tok.

"Nona Anna? Saya membawakan makan malam Anda," suara ramah seorang pelayan wanita paruh baya terdengar dari luar.

Anastasia seketika mengubah tatanan otot wajahnya. Binar mata hazel-nya yang dingin dan analitis menguap dalam sekejap, berganti menjadi sorot mata yang redup, ketakutan, dan rapuh.

"M-masuklah... Pintunya tidak dikunci," sahut Anastasia dengan suara parau yang dibuat-buat.

Pintu terbuka, memperlihatkan Ibu Agnes, kepala pelayan Sayap Timur, yang melangkah masuk membawa nampan perak berisi sup hangat, daging panggang, dan teh herbal.

"Tuan Alaric memerintahkan agar Anda menghabiskan seluruh hidangan ini, Nona," ujar Ibu Agnes ramah seraya menata piring di atas meja bundar dekat balkon.

Anastasia mendekat dengan langkah ragu, meremas jemarinya di depan gaun gading yang terbalut rapi.

"Terima kasih, Bu," bisik Anastasia lirih, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Apakah... apakah Tuan Alaric sudah kembali?"

Ibu Agnes menatap Anastasia dengan tatapan iba. "Tuan Alaric baru saja mendarat di pelataran helipad bersama Tuan Marcus. Beliau sedang mengadakan pertemuan singkat di ruang rapat bawah."

Anastasia berpura-pura menelan ludah cemas, mengambil posisi duduk di tepi kursi dengan gestur tubuh yang sangat canggung.

"Bu..." panggil Anastasia dengan nada ragu yang kentara.

Ibu Agnes menghentikan gerakannya yang sedang menyeduh teh. "Ya, Nona Anna?"

"Tadi pagi... saat berada di lorong bawah, saya tidak sengaja mendengar beberapa pengawal menyebut sebuah nama," ucap Anastasia pelan, matanya menatap cangkir teh dengan binar polos. "Siapa... siapa Nona Freya Voss?"

Atmosfer di dalam kamar suite seketika berubah tegang. Tangan Ibu Agnes yang memegang cerek porselen membeku di udara selama beberapa detik.

Pelayan tua itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan secara refleks, memastikan tidak ada orang lain di dekat mereka, sebelum akhirnya mendekati meja Anastasia.

"Nona Anna, saya sarankan Anda tidak pernah menyebut nama itu lagi di depan Tuan Alaric atau para pengawal," bisik Ibu Agnes dengan suara yang sangat rendah dan penuh peringatan.

Anastasia mengerjapkan matanya, memperlihatkan raut wajah bingung yang tak berdosa. "A-apa saya melakukan kesalahan, Bu? Saya hanya takut..."

"Nona Freya Voss adalah putri tunggal Lord Voss, penguasa pasar hitam persenjataan di Marseilles," potong Ibu Agnes cepat, matanya memancarkan ketakutan murni. "Wanita itu dibesarkan di tengah pertumpahan darah. Dia sangat dingin, kejam, dan tidak akan ragu melenyapkan siapa pun yang dianggapnya mengganggu."

"Melengyapkan?" cicit Anastasia, merapatkan jubah sutranya ke dada.

"Dua tahun lalu, seorang pelayan muda di kediaman Voss tidak sengaja menumpahkan anggur di gaun Nona Freya," lanjut Ibu Agnes berbisik. "Keesokan harinya, wanita muda itu ditemukan mengambang di Pelabuhan Marseilles tanpa nyawa."

Anastasia menahan napasnya, berpura-pura syok berat hingga wajahnya memucat pasi.

"Beliau adalah calon Nyonya De Luca yang sah," pukas Ibu Agnes seraya merapikan kembali nampan perak. "Pernikahan politik mereka akan mengukuhkan kekuasaan tertinggi di benua ini. Jadi, Nona Anna... jika Anda ingin tetap selamat di mansion ini, jauhi segala hal yang berkaitan dengan keluarga Voss."

"S-saya paham, Bu... Terima kasih sudah memberi tahu saya," sahut Anastasia gemetar.

Ibu Agnes membungkuk hormat sekilas lalu melangkah cepat keluar dari kamar, mengunci pintu dari luar dengan dentang selot besi yang familiar.

Begitu pintu terkunci rapat, Anastasia menyandarkan tubuhnya di kursi. Senyuman tipis yang sangat dingin perlahan terukir di bibirnya.

"Bagus sekali," gumam Anastasia pelan, mengetukkan jemari lentiknya di atas permukaan meja mahoni. "Freya Voss bukan sekadar pasangan aliansi... dia adalah wanita pencemburu dengan ego yang setinggi langit."

Pikiran analitis sang agen kepolisian mulai merangkai skenario panggung baru. Jika Alaric De Luca adalah pria posesif yang membenci kelemahan, dan Freya Voss adalah wanita kejam yang tak ingin kekuasaannya diusik, maka kehadiran "seorang wanita simpanan yang rapuh" di Sayap Timur mansion ini akan menjadi sumbu ledak sempurna.

Adu domba antara dinasti De Luca dan keluarga Voss tidak perlu dilakukan dengan senjata api, cukup dengan memantik api cemburu dan harga diri dari dua penguasa yang sama-sama arogan.

Klek.

Suara gerendel pintu luar yang terbuka secara mendadak memotong lamunan analisis Anastasia.

Aroma tembakau mahal, kayu cedar, dan udara dingin malam seketika menyergap masuk ke dalam ruangan. Anastasia dengan kilat melepas senyuman dinginnya, menggantinya dengan raut wajah panik seraya berdiri tergesa-gesa dari kursinya.

Alaric De Luca melangkah masuk.

Pria itu telah melepas jas mewahnya, menyisakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan leher kokoh dan rahang tegas yang membeku kaku. Sepasang mata sebiru es miliknya mengunci pandangan tepat pada sosok Anastasia yang berdiri gemetar di dekat meja makan.

Langkah kaki Alaric yang berat bergaung di atas karpet tebal, memangkas jarak di antara mereka tanpa tergesa-gesa.

"Kau belum tidur, Tikus Kecil," suara bariton Alaric mengudara rendah, penuh intimidasi yang sanggup menghentikan detak jantung orang biasa.

"S-saya baru saja selesai makan malam, Tuan Alaric," sahut Anastasia lirih, menundukkan kepalanya hingga leher jenjangnya yang pucat terekspos sempurna di bawah pendar lampu hangat.

Alaric berhenti tepat satu jengkal di hadapan Anastasia. Aura dominannya yang pekat membungkus tubuh wanita mungil itu sepenuhnya.

Tangan Alaric yang kekar terangkat perlahan. Jemarinya yang dingin menyentuh dagu Anastasia, mengangkat wajah wanita itu secara paksa hingga sepasang mata hazel mereka bertabrakan dalam jarak yang sangat dekat.

Alaric menyipitkan matanya tajam. Ia meneliti setiap inchi ekspresi di wajah Anastasia, sebelum hidungnya bergerak tipis menyerap aroma yang menguar dari tubuh wanita itu.

"Aneh," desis Alaric rendah, suaranya memberat membahayakan.

Anastasia menahan napasnya, berusaha mempertahankan detak nadinya agar tidak berpacu terlalu kencang. "A-apa yang aneh, Tuan?"

"Aroma tubuhmu," bisik Alaric tepat di depan bibir pucat Anastasia. Jemari tangannya yang lain terangkat, mengusap helai rambut cokelat hazel di bahu wanita itu. "Kau berbau minyak kayu cedar... aroma yang hanya ada di dalam ruang kerja pribadiku."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 13 Tawaran di Balik Bayangan

    Keheningan lorong bawah tanah Sayap Barat terasa dingin dan menyesakkan. Bau lembap batu tua berpadu dengan wangi kayu cedar dan sisa uap air pancuran dapur. Lampu dinding tembaga memancarkan pendar kekuningan yang redup, membiaskan bayangan-bayangan panjang di atas ubin marmer hitam.Anastasia berjalan perlahan membawa baki kayu berisi tumpukan serbet linen yang baru disetrika. Sepatu sol karet tipisnya bergerak tanpa suara, sementara tubuhnya secara fisik masih menampilkan kesan lelah yang pasrah, sisa dari infiltrasi malam harinya dan ketegangan interaksi dengan Alaric beberapa saat lalu.Namun, saat ia melintasi tikungan koridor menuju ruang penyimpanan utama, sebuah sosok tinggi anggun berdiri menunggunya di balik ceruk pilar marmer.Freya Voss.Sang putri mafia berdiri sendirian tanpa dikawal Hector atau barisan penjaga faksi Marseilles. Ia dibalut gaun pagi berwarna kasmir krem, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan aura keangkuhan yang berac

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 12 Binar di Balik Celah Pintu

    Sinar matahari pagi menembus kaca-kaca tinggi koridor Sayap Timur, membiaskan pendar keemasan di atas ubin marmer yang berkilat dingin. Namun bagi Anastasia, hangatnya mentari tak mampu mengusir kelelahan fisik dan mental yang menumpuk setelah aksi infiltrasi malam harinya di ruang bawah tanah.Hanya ada jeda tiga jam tidur bagi sang agen kepolisian sebelum lonceng tugas Sayap Timur berdentang pukul lima pagi. Otot-otot tubuhnya masih menegang dari aksi menyelinap di antara peti senjata, dan benaknya masih terbayang oleh teka-teki kode pengiriman bayangan V-17 / M-04 / A.D.L. yang ia temukan beberapa jam lalu.Di atas nampan kayu mahoni yang ia bawa dengan kedua tangan terbalut perban tipis, tergeletak seperangkat dokumen logistik harian dan laporan inventaris Sayap Barat yang baru saja diserahkan oleh pengawal faksi Voss. Langkah Anastasia teratur, melintasi koridor utama menuju ruang kerja pribadi Alaric De Luca.Namun, beberapa langkah sebelum mencapai pintu

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 11 Jejak Darah di Ruang Bawah Tanah

    Jam dinding kuno di ruang tengah berdentang dua kali, menandakan pukul dua dini hari, momen krusial di mana kewaspadaan sistem keamanan Mansion De Luca berada pada titik terendahnya.Anastasia berdiri melekat pada ceruk dinding koridor belakang, dibalut pakaian pelayan hitam tanpa apron kaku. Sepatu sol karet tipis yang ia sembunyikan di balik lipatan lemari sejak Bab 3 melangkah tanpa menghasilkan bunyi sedikit pun di atas ubin batu tua.Dua menit. Itu adalah jeda waktu persis saat regu pengawal faksi Voss memutar rute patroli Sayap Barat dan barisan penjaga pribadi Alaric melakukan serah terima tugas di pos gerbang depan.Di dalam benak Anastasia, denah digital Mansion De Luca yang dihadiahkan oleh tim peretas kepolisian terpeta dengan presisi tinggi. Namun, saat menyusuri lorong penyimpanan anggur di bawah dapur utama, indra spasial sang agen kepolisian menangkap sebuah anomali arsitektur.Ketebalan dinding batu di ujung lorong bawah tanah tidak simetr

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 10 Pria yang Membela Tawanan

    Ruang makan utama Sayap Timur Mansion De Luca malam itu diselimuti suasana temaram yang terasa kaku dan mengintimidasi. Lampu gantung kristal menggantung megah di atas meja kayu mahoni raksasa yang dilapisi kain linen putih bersih. Di atasnya, perak-perak halus, lilin aromatik beraroma kayu jati, dan piring-piring porselen terata dengan presisi tinggi.Namun, hidangan steak daging domba panggang dan anggur merah Bordeaux yang tersaji tak sanggup mencairkan hawa dingin yang berhembus di antara tiga orang di ruangan tersebut.Freya Voss duduk di sisi kiri meja, dibalut gaun malam velvet berwarna hijau zamrud yang mempertegas lekuk tubuh dan keangkuhannya. Sepasang mata cokelat gelapnya berkilat penuh kedengkian saat ia memutar-mutar tangkai gelas kristalnya.Di kepala meja, Alaric De Luca duduk memimpin dengan kemeja hitam berkerah kaku yang lengannya tergulung rapi. Tangannya yang memegang pisau daging bergerak tenang, memotong hidangan

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 9 Senyum di Balik Pisau

    Kekalahan terselubung di aula utama kemarin pagi menyisakan luka yang membakar pada harga diri Freya Voss. Bagi seorang putri tunggal penguasa pasar hitam Marseilles, dipermalukan di hadapan para pengawalnya sendiri oleh Alaric demi seorang pelayan berkerah kaku adalah tamparan keras yang tak tertahankan.Maka, ketika matahari baru saja beranjak tinggi menembus tirai kamar suite tamu di Sayap Barat, Freya melancarkan pergerakan balasannya."Cari kalung zamrud milikku di kamar ganti," perintahkan Freya tanpa memalingkan wajahnya dari cermin rias. Suaranya merdu, namun dipenuhi dingin yang beracun.Anastasia berdiri patuh dua langkah di belakang kursi Freya, meremas apron rendanya. "Kalung zamrud yang mana, Nona Freya?""Kalung zamrud Haut-Rhin dengan liontin berlian hitam," potong Freya seraya memutar tubuhnya perlahan, menatap Anastasia dengan pendar kemurkaan yang tertahan di mata cokelat gelapnya. "Aku meninggalkannya di atas meja rias

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 8 Pelayan yang Tidak Takut

    Atmosfer di aula utama Mansion De Luca terasa sesak, seolah oksigen di dalam ruangan itu terkuras habis oleh keangkuhan faksi Marseilles. Sejak matahari terbit menyiram jendela-jendela kaca tinggi Sayap Timur, Freya Voss tidak membuang waktu untuk menumpahkan seluruh dominasi beracunnya.Sebagai calon Ratu Pasar Hitam, Freya terbiasa melihat semua orang tunduk di bawah telapak kakinya. Dan pagi ini, pelayan anyar berkerah kaku dengan mata hazel menyedihkan itu menjadi sasaran utama perundungannya."Teh ini terlalu dingin," desis Freya seraya mendorong cangkir porselen di atas meja perak dengan ujung jarinya.Cangkir itu berdenting keras saat membentur baki yang dipegang Anastasia. Anastasia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan baki perak tersebut agar tidak goyah."Maafkan saya, Nona Freya. Saya akan menggantinya dengan yang baru," sahut Anastasia halus, suaranya mengandung getaran cemas yang begitu pas—sebuah penampilan sempurna dari seora

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status