INICIAR SESIÓN"Siapa wanita berdarah yang kau bawa ke bawah atap De Luca, Alaric?"
Suara bariton yang berat, dalam, dan sarat akan dominasi mutlak itu bergaung dari arah pintu ganda aula utama. Tuan Besar De Luca, pria paruh baya berambut perak dengan tongkat berkepala serigala emas, melangkah masuk tanpa mengetuk. Di sampingnya, berdiri Lord Voss, patriark dinasti mafia Marseilles yang bertubuh jangkung dengan tatapan mata sehitam jelaga.
Alaric berdiri tegak di puncak tangga melingkar, merapikan kancing kemeja hitamnya tanpa mengalihkan pandangan esnya. Rahangnya mengeras kaku, namun ekspresi wajahnya tetap dingin tak tersentuh.
"Kau melintasi batas wilayahku tanpa pemberitahuan, Ayah," sahut Alaric datar, suaranya tenang namun sanggup mengedapkan udara di ruangan itu.
"Ini wilayah De Luca, dan aku adalah pemilik sah takhta tertinggi keluarga ini," potong Tuan Besar De Luca seraya menghentakkan tongkat kayunya ke lantai marmer dengan dentang keras. "Marcus memberitahuku kau membawa pelacur jalanan dari L’Empire. Apakah kau sudah kehilangan akal sehatmu tepat sebelum aliansi besarmu diresmikan?"
Di balik celah pintu kamar tamu yang terbuka beberapa milimeter, Anastasia menahan napasnya. Punggungnya menyandar kaku pada dinding dingin, indra pendengarannya yang terlatih merekam setiap kata, pola nada suara, dan gerak-gerik ketiga pria berkuasa di aula bawah.
"Perjanjian aliansi dengan keluarga Voss tidak ada hubungannya dengan siapa yang berada di kamar tamuku," balas Alaric dingin seraya menuruni anak tangga secara perlahan.
Lord Voss melangkah satu tingkat ke depan, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan senyuman sinis. "Freya, putriku, tidak akan sudi menginjakkan kakinya di mansion yang tercemar oleh sampah jalanan, Alaric."
"Nona Freya akan menjadi istri sahku dalam tiga bulan ke depan, Lord Voss," tegak Alaric, berdiri sejajar di hadapan kedua pria paruh baya itu dengan aura menekan yang tak kalah pekat. "Namun, di dalam dinding rumahku sendiri, tidak ada seorang pun yang berhak menentukan siapa yang boleh tinggal dan siapa yang harus pergi."
"Jaga bicaramu, Alaric!" bentak Tuan Besar De Luca, matanya berkilat murka. "Kau berada di posisi ini karena darah De Luca yang mengalir di tubuhmu! Singkirkan wanita itu sebelum fajar menyingsing, atau aku sendiri yang akan menyuruh pengawalku menembak kepalanya!"
Ancaman itu mengudara dengan kebencian murni. Anastasia di dalam kamar menekan jemarinya ke dinding batu hingga buku-buku jarinya memutih. Ini adalah konfrontasi politik tingkat tinggi yang dicarinya, retakan pertama di antara aliansi De Luca dan Voss.
Alaric menyunggingkan senyuman tipis tanpa kehangatan. Ia merogoh saku celananya, memutar cincin perak berlogo kepala serigala hitam di jarinya.
"Cobalah sentuh penghuni rumahku, Ayah," desis Alaric dengan nada suara yang begitu rendah dan berbahaya. "Dan lihat apakah pengawalmu sempat menarik pelatuk sebelum kepalanya terpisah dari lehernya."
Suasana di aula utama seketika membeku bagaikan neraka es. Puluhan pengawal bersenjata yang berbaris di belakang Tuan Besar De Luca menegang kaku, tak ada satu pun yang berani menghembuskan napas keras.
"Kau menentangku demi seorang wanita murah?" tanya Tuan Besar De Luca dengan gema amarah yang ditahan.
"Aku tidak menentang siapa pun," sahut Alaric santai, mengibaskan tangannya seolah topik itu hanyalah angin lalu. "Aku hanya menegaskan batas kekuasaanku. Pernikahan politik dengan Freya Voss akan tetap berjalan sesuai rencana demi menguasai jalur logistik Marseilles. Tetapi rumahku, dan urusan pribadiku... tidak akan pernah bisa kau beli dengan aliansi apa pun."
Lord Voss menyipitkan matanya tajam, menatap Alaric dengan pandangan menilai yang sarat akan bahaya terselubung. "Kata-kata yang sangat arogan, Pangeran Muda. Mari kita lihat apakah kau sanggup mempertahankan keangkuhanmu ini saat kargo senjata pertama kita melintas di pelabuhan utara minggu depan."
"Aku tidak pernah gagal mengawal kargo milikku, Lord Voss," balas Alaric tegas.
Tuan Besar De Luca menatap putra tunggalnya dengan tatapan dingin yang sarat ancaman, sebelum memutar tubuhnya kasar. "Kami pergi. Pastikan rumah ini bersih saat berkas perjanjian resmi tiba besok sore."
Kedua patriark mafia itu membalikkan badan dan melangkah keluar dari aula utama, diiringi oleh derap langkah puluhan pengawal bersenjata yang surut seperti gelombang hitam. Pintu ganda raksasa tertutup rapat dengan dentang berat yang bergema panjang.
Di dalam kamar tamu, Anastasia menghembuskan napas pelan yang sejak tadi tertahan. Otaknya berputar cepat mencerna informasi krusial yang baru saja didapatkannya: Pernikahan dalam tiga bulan, aliansi logistik Marseilles, dan kargo senjata di pelabuhan utara minggu depan.
Namun, sebelum Anastasia sempat bergerak kembali ke atas kasur, derap langkah kaki berat melangkah cepat mendekati pintu kamar tamunya.
Brak!
Pintu kayu mahoni terbuka tanpa peringatan.
Alaric melangkah masuk dengan aura membunuh yang kian memuncak. Matanya yang sebiru es berkilat gelap oleh amarah yang belum tuntas dari perdebatannya dengan sang ayah. Ia bergerak cepat memangkas jarak di antara mereka, menyudutkan tubuh ringkih Anastasia hingga punggung wanita itu menghantam dinding marmer yang dingin.
"A-Tuan Alaric..." cicit Anastasia, mendongak dengan pandangan mata hazel yang sengaja diisi oleh ketakutan yang gemetar.
Alaric membungkuk, menumpukan satu tangannya di samping kepala Anastasia, sementara jemarinya yang tegap mencengkeram rahang wanita itu dengan tekanan besi yang memaksa.
"Kau mendengar semuanya, bukan?" desis Alaric tepat di depan wajah Anastasia, napas hangat beraroma tembakau mahal menusuk kulit pucat sang agen.
"Saya... saya tidak bermaksud menguping, Tuan..." jawab Anastasia terbata-bata, air mata buatan merebak di sudut matanya. "Saya hanya takut..."
"Dengar baik-baik, Tikus Kecil," potong Alaric dengan suara bariton yang berat dan tidak menerima penolakan sedikit pun. "Rencanaku untuk melemparmu ke jalanan besok pagi... resmi dibatalkan."
Anastasia mengerjapkan matanya, berpura-pura terkejut dan bingung di balik topeng rapuhnya. "A-apa?"
"Kau tidak akan ke mana-mana," desis Alaric, ibu jarinya mengusap pelipis Anastasia yang berperban dengan sentuhan kasar yang mengancam. "Ayahku menginginkanmu mati, dan keluarga Voss menganggapmu sebagai sampah. Itu artinya... menahannya tepat di bawah atapku adalah cara terbaik untuk mengingatkan mereka siapa penguasa sebenarnya di sini."
Anastasia menelan ludah, merasakan cengkeraman Alaric di rahangnya semakin mengunci.
"Mulai esok hari, kau bukan lagi sekadar pelacur yang terluka," lanjut Alaric dengan senyuman dingin yang mengerikan. "Kau adalah tawanan pribadiku di Sayap Timur. Kau akan melayaniku, mematuhiku, dan tunduk pada setiap perintahku tanpa bertanya."
"Saya... saya mengerti, Tuan Alaric," bisik Anastasia pasrah, menyandarkan pipinya yang halus ke telapak tangan Alaric yang kaku. "Hidup saya milik Anda."
Alaric menatap senyuman pasrah dan ketundukan mutlak di wajah wanita itu. Ego besarnya merasa puas, menutupi analisis rasional yang seharusnya muncul di benak seorang calon penguasa dunia bawah.
"Marcus!" panggil Alaric tanpa memalingkan pandangannya dari mata hazel Anastasia.
"Ya, Tuan De Luca?" sahut Marcus yang muncul di ambang pintu.
"Pindahkan dia ke kamar suite utama di Sayap Timur sekarang," perintah Alaric dingin seraya melepaskan cengkeramannya dari rahang Anastasia. "Berikan dia pakaian yang layak, panggil Reinhardt untuk mengganti perbannya, dan pasang dua pengawal di depan pintunya."
"Baik, Tuan."
Alaric menegakkan tubuhnya, melangkah satu senti mundur lalu menatap Anastasia dari ketinggian fisiknya. "Selamat datang di kurungan emasmu, Anastasia. Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri, karena jika kau melangkah satu inci saja keluar tanpa izin..."
Alaric mendekatkan wajahnya kembali, berbisik rendah yang membekukan darah. "...aku sendiri yang akan mematahkan kedua kakimu."
Pria itu berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan kibasan mantelnya yang megah. Pintu tertutup rapat, menyisakan Anastasia yang terkulai di dekat dinding.
Begitu derap langkah kaki Alaric menjauh di koridor luar, ketakutan di wajah Anastasia menguap tanpa bekas.
Sang agen kepolisian berdiri tegak, merapikan gaunnya yang robek dengan gerakan yang sangat tenang dan presisi. Jemari lentiknya terangkat, menyapu sisa air mata buatan di pipinya, sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang sarat akan kemenangan terselubung.
Pangeran kegelapan itu berpikir bahwa ia baru saja menjadikan Anastasia sebagai bidak pajangan untuk menantang ayahnya, tanpa menyadari bahwa wanita itulah yang baru saja menuntun jari-jemarinya untuk membuka pintu ke jantung pertahanan De Luca.
Dari balik anting mutiaranya, pemancar mikro tersembunyi kembali berkedip tipis.
"Sinyal aktif," bisik Anastasia sangat pelan ke arah kegelapan ruangan. "Saya sudah masuk ke Sayap Timur."
"M-minyak kayu cedar, Tuan?" bisik Anastasia dengan kelopak mata bergetar panik, menatap lurus ke dalam manik mata sebiru es milik Alaric. "Ibu Agnes... Ibu Agnes baru saja membawakan kain pembersih beraroma kayu dari pantry bawah untuk menyeka meja ini sebelum Anda masuk."Alaric menyipitkan matanya tajam. Cengkeramannya pada dagu Anastasia tidak memelonggar sedikit pun. Ibu jarinya justru mengusap pelipis wanita itu dengan tekanan yang menuntut."Kau pikir aku bisa dibohongi oleh kebetulan semacam itu, Anna?" desis Alaric rendah, suaranya memberat membahayakan."Saya tidak berani berbohong pada Anda, Tuan Alaric," sahut Anastasia dengan air mata buatan yang mulai menggenang di sudut mata hazel-nya. "Saya... saya bahkan tidak tahu di mana letak ruang kerja Anda."Alaric menatap bibir pucat yang bergetar ketakutan di hadapannya. Kebohongan atau kejujuran wanita ini tersusun begitu rapi di balik raut wajah polosnya yang tak berdosa."Bagus jika kau tidak tahu," pukas Alaric dingin sera
"Kunci pintu utama dan periksa perimeter lorong timur!"Gema suara berat pengawal di balik pintu ganda ruang kerja membuat seluruh sel di tubuh Anastasia menegang kaku. Dalam hitungan seperseribu detik, refleks terlatih seorang agen kepolisian mengambil alih penuh kendali pikirannya.Tanpa menimbulkan gesekan kain sedikit pun, Anastasia melangkah mundur bagai bayangan. Tubuh mungilnya menyelinap halus ke balik tirai beludru tebal bernuansa merah marun yang melapisi pintu kaca balkon.Krek.Gagang pintu mahoni berputar penuh. Daun pintu terbuka lebar, membiarkan pendar cahaya lampu lorong menyiram sebagian lantai kayu ek."Marcus meminta map manifestasi kargo pelabuhan selatan," ucap seorang pengawal bersenjata otomatis seraya melangkah masuk."Ambil cepat di meja tengah. Kita harus menyisir area gerbang sebelum helikopter Tuan Alaric mendarat," sahut pengawal kedua yang tetap bersiaga di ambang pintu.Di balik lipatan beludru dingin, Anastasia menahan napasnya secara terukur. Jemari l
"Kau pikir kain sutra gading ini bisa menghapus bau selokan tempatku memungutmu, Anna?"Suara bariton Alaric De Luca memecah keheningan pagi di dalam kamar suite Sayap Timur. Pria itu berdiri menjulang di dekat ujung ranjang kanopi, memutar cerutunya yang belum dipantik. Tatapan mata sebiru es miliknya menyapu gaun sutra gading yang kini membungkus tubuh ringkih Anastasia.Anastasia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangannya meremas lembut kain gaun mahal itu, membiarkan tubuhnya gemetar pelan secara terukur."S-saya hanya mencoba merapikan diri, Tuan Alaric," bisik Anastasia dengan nada suara yang parau dan rapuh. "Saya tidak bermaksud..."Bruk!Sebuah map kulit hitam dilemparkan Alaric secara kasar ke atas meja kaca di samping ranjang."Anastasia Moreau. Dua puluh tujuh tahun," desis Alaric seraya melangkah mendekat, menciptakan aura tekanan yang menghimpit udara di antara mereka. "Marcus baru saja menyerahkan laporan latar belakangmu."Jantung Anastasia berdesir tajam. Sebagai se
"Siapa wanita berdarah yang kau bawa ke bawah atap De Luca, Alaric?"Suara bariton yang berat, dalam, dan sarat akan dominasi mutlak itu bergaung dari arah pintu ganda aula utama. Tuan Besar De Luca, pria paruh baya berambut perak dengan tongkat berkepala serigala emas, melangkah masuk tanpa mengetuk. Di sampingnya, berdiri Lord Voss, patriark dinasti mafia Marseilles yang bertubuh jangkung dengan tatapan mata sehitam jelaga.Alaric berdiri tegak di puncak tangga melingkar, merapikan kancing kemeja hitamnya tanpa mengalihkan pandangan esnya. Rahangnya mengeras kaku, namun ekspresi wajahnya tetap dingin tak tersentuh."Kau melintasi batas wilayahku tanpa pemberitahuan, Ayah," sahut Alaric datar, suaranya tenang namun sanggup mengedapkan udara di ruangan itu."Ini wilayah De Luca, dan aku adalah pemilik sah takhta tertinggi keluarga ini," potong Tuan Besar De Luca seraya menghentakkan tongkat kayunya ke lantai marmer dengan dentang keras. "Marcus memberitahuku kau membawa pelacur jalana
"Jahit lukanya tanpa bius jika wanita ini terlalu banyak bersuara, Dokter."Suara bariton dingin itu bergaung ketus di dalam kamar tamu sayap barat Mansion De Luca. Alaric berdiri tegap di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke pelataran malam, mengapit sebatang cerutu yang asap tipisnya membubung pelan ke udara. Jas hitam mewahnya telah dilepas, menyisakan kemeja yang lengan bagian bawahnya digulung kencang, memperlihatkan lengan berotot dan rahang tegas yang membeku tanpa emosi."T-Tuan De Luca..." cicit Dr. Reinhardt, jemarinya yang terampil sedikit gemetar saat memegang jarum bedah dan benang steril. "Pendarahan di pelipisnya cukup deras. Saya harus membersihkan dan menjahitnya dengan ketelitian ekstra.""Lakukan tugasmu tanpa banyak alasan," potong Alaric datar, bahkan tanpa sudi membalikkan badan. "Aku memanggilmu ke mansion ini untuk memastikan dia tidak mati di atas karpetku, bukan untuk mendengarkan keluhanmu.""Baik, Tuan. Saya mengerti," balas sang dokter tergesa-gesa,
"Jangan biarkan jalang itu lolos! Tangkap dia!"Suara teriakan serak itu menggema di sepanjang koridor sunyi lantai VIP Hotel L’Empire. Langkah kaki yang berat dan tergesa memecah keheningan malam musim dingin di pinggiran kota Paris. Di atas karpet merah tebal yang membentang tanpa ujung, Anastasia Moreau berlari dengan sisa tenaga yang ia miliki. Napasnya memburu, terasa panas dan menyiksa di paru-parunya yang seolah hampir meledak.Kedua tangannya yang gemetar berusaha memeluk tubuhnya sendiri. Gaun satin tipis sewarna gading yang ia kenakan telah robek parah dari dada hingga paha, memperlihatkan kulit pucatnya yang kini dihiasi memar kebiruan yang mengerikan. Di pelipis kirinya, darah segar mengalir lambat, melewati pipi, dan menetes ke atas karpet merah, meninggalkan jejak-jejak merah gelap yang kontras."Sialan! Berhenti kau, Anna!"Suara itu terdengar semakin dekat. Itu adalah suara Robert Still, seorang pengusaha lokal bertubuh tambun yang memesan jasanya malam ini. Pria paruh







