Beranda / Romansa / Tawanan Sang Mafia / BAB 3 Di Antara Serigala dan Takhta

Share

BAB 3 Di Antara Serigala dan Takhta

Penulis: Kupukupu
last update Tanggal publikasi: 2026-08-06 23:15:32

"Siapa wanita berdarah yang kau bawa ke bawah atap De Luca, Alaric?"

Suara bariton yang berat, dalam, dan sarat akan dominasi mutlak itu bergaung dari arah pintu ganda aula utama. Tuan Besar De Luca, pria paruh baya berambut perak dengan tongkat berkepala serigala emas, melangkah masuk tanpa mengetuk. Di sampingnya, berdiri Lord Voss, patriark dinasti mafia Marseilles yang bertubuh jangkung dengan tatapan mata sehitam jelaga.

Alaric berdiri tegak di puncak tangga melingkar, merapikan kancing kemeja hitamnya tanpa mengalihkan pandangan esnya. Rahangnya mengeras kaku, namun ekspresi wajahnya tetap dingin tak tersentuh.

"Kau melintasi batas wilayahku tanpa pemberitahuan, Ayah," sahut Alaric datar, suaranya tenang namun sanggup mengedapkan udara di ruangan itu.

"Ini wilayah De Luca, dan aku adalah pemilik sah takhta tertinggi keluarga ini," potong Tuan Besar De Luca seraya menghentakkan tongkat kayunya ke lantai marmer dengan dentang keras. "Marcus memberitahuku kau membawa pelacur jalanan dari L’Empire. Apakah kau sudah kehilangan akal sehatmu tepat sebelum aliansi besarmu diresmikan?"

Di balik celah pintu kamar tamu yang terbuka beberapa milimeter, Anastasia menahan napasnya. Punggungnya menyandar kaku pada dinding dingin, indra pendengarannya yang terlatih merekam setiap kata, pola nada suara, dan gerak-gerik ketiga pria berkuasa di aula bawah.

"Perjanjian aliansi dengan keluarga Voss tidak ada hubungannya dengan siapa yang berada di kamar tamuku," balas Alaric dingin seraya menuruni anak tangga secara perlahan.

Lord Voss melangkah satu tingkat ke depan, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan senyuman sinis. "Freya, putriku, tidak akan sudi menginjakkan kakinya di mansion yang tercemar oleh sampah jalanan, Alaric."

"Nona Freya akan menjadi istri sahku dalam tiga bulan ke depan, Lord Voss," tegak Alaric, berdiri sejajar di hadapan kedua pria paruh baya itu dengan aura menekan yang tak kalah pekat. "Namun, di dalam dinding rumahku sendiri, tidak ada seorang pun yang berhak menentukan siapa yang boleh tinggal dan siapa yang harus pergi."

"Jaga bicaramu, Alaric!" bentak Tuan Besar De Luca, matanya berkilat murka. "Kau berada di posisi ini karena darah De Luca yang mengalir di tubuhmu! Singkirkan wanita itu sebelum fajar menyingsing, atau aku sendiri yang akan menyuruh pengawalku menembak kepalanya!"

Ancaman itu mengudara dengan kebencian murni. Anastasia di dalam kamar menekan jemarinya ke dinding batu hingga buku-buku jarinya memutih. Ini adalah konfrontasi politik tingkat tinggi yang dicarinya, retakan pertama di antara aliansi De Luca dan Voss.

Alaric menyunggingkan senyuman tipis tanpa kehangatan. Ia merogoh saku celananya, memutar cincin perak berlogo kepala serigala hitam di jarinya.

"Cobalah sentuh penghuni rumahku, Ayah," desis Alaric dengan nada suara yang begitu rendah dan berbahaya. "Dan lihat apakah pengawalmu sempat menarik pelatuk sebelum kepalanya terpisah dari lehernya."

Suasana di aula utama seketika membeku bagaikan neraka es. Puluhan pengawal bersenjata yang berbaris di belakang Tuan Besar De Luca menegang kaku, tak ada satu pun yang berani menghembuskan napas keras.

"Kau menentangku demi seorang wanita murah?" tanya Tuan Besar De Luca dengan gema amarah yang ditahan.

"Aku tidak menentang siapa pun," sahut Alaric santai, mengibaskan tangannya seolah topik itu hanyalah angin lalu. "Aku hanya menegaskan batas kekuasaanku. Pernikahan politik dengan Freya Voss akan tetap berjalan sesuai rencana demi menguasai jalur logistik Marseilles. Tetapi rumahku, dan urusan pribadiku... tidak akan pernah bisa kau beli dengan aliansi apa pun."

Lord Voss menyipitkan matanya tajam, menatap Alaric dengan pandangan menilai yang sarat akan bahaya terselubung. "Kata-kata yang sangat arogan, Pangeran Muda. Mari kita lihat apakah kau sanggup mempertahankan keangkuhanmu ini saat kargo senjata pertama kita melintas di pelabuhan utara minggu depan."

"Aku tidak pernah gagal mengawal kargo milikku, Lord Voss," balas Alaric tegas.

Tuan Besar De Luca menatap putra tunggalnya dengan tatapan dingin yang sarat ancaman, sebelum memutar tubuhnya kasar. "Kami pergi. Pastikan rumah ini bersih saat berkas perjanjian resmi tiba besok sore."

Kedua patriark mafia itu membalikkan badan dan melangkah keluar dari aula utama, diiringi oleh derap langkah puluhan pengawal bersenjata yang surut seperti gelombang hitam. Pintu ganda raksasa tertutup rapat dengan dentang berat yang bergema panjang.

Di dalam kamar tamu, Anastasia menghembuskan napas pelan yang sejak tadi tertahan. Otaknya berputar cepat mencerna informasi krusial yang baru saja didapatkannya: Pernikahan dalam tiga bulan, aliansi logistik Marseilles, dan kargo senjata di pelabuhan utara minggu depan.

Namun, sebelum Anastasia sempat bergerak kembali ke atas kasur, derap langkah kaki berat melangkah cepat mendekati pintu kamar tamunya.

Brak!

Pintu kayu mahoni terbuka tanpa peringatan.

Alaric melangkah masuk dengan aura membunuh yang kian memuncak. Matanya yang sebiru es berkilat gelap oleh amarah yang belum tuntas dari perdebatannya dengan sang ayah. Ia bergerak cepat memangkas jarak di antara mereka, menyudutkan tubuh ringkih Anastasia hingga punggung wanita itu menghantam dinding marmer yang dingin.

"A-Tuan Alaric..." cicit Anastasia, mendongak dengan pandangan mata hazel yang sengaja diisi oleh ketakutan yang gemetar.

Alaric membungkuk, menumpukan satu tangannya di samping kepala Anastasia, sementara jemarinya yang tegap mencengkeram rahang wanita itu dengan tekanan besi yang memaksa.

"Kau mendengar semuanya, bukan?" desis Alaric tepat di depan wajah Anastasia, napas hangat beraroma tembakau mahal menusuk kulit pucat sang agen.

"Saya... saya tidak bermaksud menguping, Tuan..." jawab Anastasia terbata-bata, air mata buatan merebak di sudut matanya. "Saya hanya takut..."

"Dengar baik-baik, Tikus Kecil," potong Alaric dengan suara bariton yang berat dan tidak menerima penolakan sedikit pun. "Rencanaku untuk melemparmu ke jalanan besok pagi... resmi dibatalkan."

Anastasia mengerjapkan matanya, berpura-pura terkejut dan bingung di balik topeng rapuhnya. "A-apa?"

"Kau tidak akan ke mana-mana," desis Alaric, ibu jarinya mengusap pelipis Anastasia yang berperban dengan sentuhan kasar yang mengancam. "Ayahku menginginkanmu mati, dan keluarga Voss menganggapmu sebagai sampah. Itu artinya... menahannya tepat di bawah atapku adalah cara terbaik untuk mengingatkan mereka siapa penguasa sebenarnya di sini."

Anastasia menelan ludah, merasakan cengkeraman Alaric di rahangnya semakin mengunci.

"Mulai esok hari, kau bukan lagi sekadar pelacur yang terluka," lanjut Alaric dengan senyuman dingin yang mengerikan. "Kau adalah tawanan pribadiku di Sayap Timur. Kau akan melayaniku, mematuhiku, dan tunduk pada setiap perintahku tanpa bertanya."

"Saya... saya mengerti, Tuan Alaric," bisik Anastasia pasrah, menyandarkan pipinya yang halus ke telapak tangan Alaric yang kaku. "Hidup saya milik Anda."

Alaric menatap senyuman pasrah dan ketundukan mutlak di wajah wanita itu. Ego besarnya merasa puas, menutupi analisis rasional yang seharusnya muncul di benak seorang calon penguasa dunia bawah.

"Marcus!" panggil Alaric tanpa memalingkan pandangannya dari mata hazel Anastasia.

"Ya, Tuan De Luca?" sahut Marcus yang muncul di ambang pintu.

"Pindahkan dia ke kamar suite utama di Sayap Timur sekarang," perintah Alaric dingin seraya melepaskan cengkeramannya dari rahang Anastasia. "Berikan dia pakaian yang layak, panggil Reinhardt untuk mengganti perbannya, dan pasang dua pengawal di depan pintunya."

"Baik, Tuan."

Alaric menegakkan tubuhnya, melangkah satu senti mundur lalu menatap Anastasia dari ketinggian fisiknya. "Selamat datang di kurungan emasmu, Anastasia. Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri, karena jika kau melangkah satu inci saja keluar tanpa izin..."

Alaric mendekatkan wajahnya kembali, berbisik rendah yang membekukan darah. "...aku sendiri yang akan mematahkan kedua kakimu."

Pria itu berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan kibasan mantelnya yang megah. Pintu tertutup rapat, menyisakan Anastasia yang terkulai di dekat dinding.

Begitu derap langkah kaki Alaric menjauh di koridor luar, ketakutan di wajah Anastasia menguap tanpa bekas.

Sang agen kepolisian berdiri tegak, merapikan gaunnya yang robek dengan gerakan yang sangat tenang dan presisi. Jemari lentiknya terangkat, menyapu sisa air mata buatan di pipinya, sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang sarat akan kemenangan terselubung.

Pangeran kegelapan itu berpikir bahwa ia baru saja menjadikan Anastasia sebagai bidak pajangan untuk menantang ayahnya, tanpa menyadari bahwa wanita itulah yang baru saja menuntun jari-jemarinya untuk membuka pintu ke jantung pertahanan De Luca.

Dari balik anting mutiaranya, pemancar mikro tersembunyi kembali berkedip tipis.

"Sinyal aktif," bisik Anastasia sangat pelan ke arah kegelapan ruangan. "Saya sudah masuk ke Sayap Timur."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 13 Tawaran di Balik Bayangan

    Keheningan lorong bawah tanah Sayap Barat terasa dingin dan menyesakkan. Bau lembap batu tua berpadu dengan wangi kayu cedar dan sisa uap air pancuran dapur. Lampu dinding tembaga memancarkan pendar kekuningan yang redup, membiaskan bayangan-bayangan panjang di atas ubin marmer hitam.Anastasia berjalan perlahan membawa baki kayu berisi tumpukan serbet linen yang baru disetrika. Sepatu sol karet tipisnya bergerak tanpa suara, sementara tubuhnya secara fisik masih menampilkan kesan lelah yang pasrah, sisa dari infiltrasi malam harinya dan ketegangan interaksi dengan Alaric beberapa saat lalu.Namun, saat ia melintasi tikungan koridor menuju ruang penyimpanan utama, sebuah sosok tinggi anggun berdiri menunggunya di balik ceruk pilar marmer.Freya Voss.Sang putri mafia berdiri sendirian tanpa dikawal Hector atau barisan penjaga faksi Marseilles. Ia dibalut gaun pagi berwarna kasmir krem, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan aura keangkuhan yang berac

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 12 Binar di Balik Celah Pintu

    Sinar matahari pagi menembus kaca-kaca tinggi koridor Sayap Timur, membiaskan pendar keemasan di atas ubin marmer yang berkilat dingin. Namun bagi Anastasia, hangatnya mentari tak mampu mengusir kelelahan fisik dan mental yang menumpuk setelah aksi infiltrasi malam harinya di ruang bawah tanah.Hanya ada jeda tiga jam tidur bagi sang agen kepolisian sebelum lonceng tugas Sayap Timur berdentang pukul lima pagi. Otot-otot tubuhnya masih menegang dari aksi menyelinap di antara peti senjata, dan benaknya masih terbayang oleh teka-teki kode pengiriman bayangan V-17 / M-04 / A.D.L. yang ia temukan beberapa jam lalu.Di atas nampan kayu mahoni yang ia bawa dengan kedua tangan terbalut perban tipis, tergeletak seperangkat dokumen logistik harian dan laporan inventaris Sayap Barat yang baru saja diserahkan oleh pengawal faksi Voss. Langkah Anastasia teratur, melintasi koridor utama menuju ruang kerja pribadi Alaric De Luca.Namun, beberapa langkah sebelum mencapai pintu

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 11 Jejak Darah di Ruang Bawah Tanah

    Jam dinding kuno di ruang tengah berdentang dua kali, menandakan pukul dua dini hari, momen krusial di mana kewaspadaan sistem keamanan Mansion De Luca berada pada titik terendahnya.Anastasia berdiri melekat pada ceruk dinding koridor belakang, dibalut pakaian pelayan hitam tanpa apron kaku. Sepatu sol karet tipis yang ia sembunyikan di balik lipatan lemari sejak Bab 3 melangkah tanpa menghasilkan bunyi sedikit pun di atas ubin batu tua.Dua menit. Itu adalah jeda waktu persis saat regu pengawal faksi Voss memutar rute patroli Sayap Barat dan barisan penjaga pribadi Alaric melakukan serah terima tugas di pos gerbang depan.Di dalam benak Anastasia, denah digital Mansion De Luca yang dihadiahkan oleh tim peretas kepolisian terpeta dengan presisi tinggi. Namun, saat menyusuri lorong penyimpanan anggur di bawah dapur utama, indra spasial sang agen kepolisian menangkap sebuah anomali arsitektur.Ketebalan dinding batu di ujung lorong bawah tanah tidak simetr

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 10 Pria yang Membela Tawanan

    Ruang makan utama Sayap Timur Mansion De Luca malam itu diselimuti suasana temaram yang terasa kaku dan mengintimidasi. Lampu gantung kristal menggantung megah di atas meja kayu mahoni raksasa yang dilapisi kain linen putih bersih. Di atasnya, perak-perak halus, lilin aromatik beraroma kayu jati, dan piring-piring porselen terata dengan presisi tinggi.Namun, hidangan steak daging domba panggang dan anggur merah Bordeaux yang tersaji tak sanggup mencairkan hawa dingin yang berhembus di antara tiga orang di ruangan tersebut.Freya Voss duduk di sisi kiri meja, dibalut gaun malam velvet berwarna hijau zamrud yang mempertegas lekuk tubuh dan keangkuhannya. Sepasang mata cokelat gelapnya berkilat penuh kedengkian saat ia memutar-mutar tangkai gelas kristalnya.Di kepala meja, Alaric De Luca duduk memimpin dengan kemeja hitam berkerah kaku yang lengannya tergulung rapi. Tangannya yang memegang pisau daging bergerak tenang, memotong hidangan

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 9 Senyum di Balik Pisau

    Kekalahan terselubung di aula utama kemarin pagi menyisakan luka yang membakar pada harga diri Freya Voss. Bagi seorang putri tunggal penguasa pasar hitam Marseilles, dipermalukan di hadapan para pengawalnya sendiri oleh Alaric demi seorang pelayan berkerah kaku adalah tamparan keras yang tak tertahankan.Maka, ketika matahari baru saja beranjak tinggi menembus tirai kamar suite tamu di Sayap Barat, Freya melancarkan pergerakan balasannya."Cari kalung zamrud milikku di kamar ganti," perintahkan Freya tanpa memalingkan wajahnya dari cermin rias. Suaranya merdu, namun dipenuhi dingin yang beracun.Anastasia berdiri patuh dua langkah di belakang kursi Freya, meremas apron rendanya. "Kalung zamrud yang mana, Nona Freya?""Kalung zamrud Haut-Rhin dengan liontin berlian hitam," potong Freya seraya memutar tubuhnya perlahan, menatap Anastasia dengan pendar kemurkaan yang tertahan di mata cokelat gelapnya. "Aku meninggalkannya di atas meja rias

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 8 Pelayan yang Tidak Takut

    Atmosfer di aula utama Mansion De Luca terasa sesak, seolah oksigen di dalam ruangan itu terkuras habis oleh keangkuhan faksi Marseilles. Sejak matahari terbit menyiram jendela-jendela kaca tinggi Sayap Timur, Freya Voss tidak membuang waktu untuk menumpahkan seluruh dominasi beracunnya.Sebagai calon Ratu Pasar Hitam, Freya terbiasa melihat semua orang tunduk di bawah telapak kakinya. Dan pagi ini, pelayan anyar berkerah kaku dengan mata hazel menyedihkan itu menjadi sasaran utama perundungannya."Teh ini terlalu dingin," desis Freya seraya mendorong cangkir porselen di atas meja perak dengan ujung jarinya.Cangkir itu berdenting keras saat membentur baki yang dipegang Anastasia. Anastasia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan baki perak tersebut agar tidak goyah."Maafkan saya, Nona Freya. Saya akan menggantinya dengan yang baru," sahut Anastasia halus, suaranya mengandung getaran cemas yang begitu pas—sebuah penampilan sempurna dari seora

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status