INICIAR SESIÓN"M-minyak kayu cedar, Tuan?" bisik Anastasia dengan kelopak mata bergetar panik, menatap lurus ke dalam manik mata sebiru es milik Alaric. "Ibu Agnes... Ibu Agnes baru saja membawakan kain pembersih beraroma kayu dari pantry bawah untuk menyeka meja ini sebelum Anda masuk."
Alaric menyipitkan matanya tajam. Cengkeramannya pada dagu Anastasia tidak memelonggar sedikit pun. Ibu jarinya justru mengusap pelipis wanita itu dengan tekanan yang menuntut.
"Kau pikir aku bisa dibohongi oleh kebetulan semacam itu, Anna?" desis Alaric rendah, suaranya memberat membahayakan.
"Saya tidak berani berbohong pada Anda, Tuan Alaric," sahut Anastasia dengan air mata buatan yang mulai menggenang di sudut mata hazel-nya. "Saya... saya bahkan tidak tahu di mana letak ruang kerja Anda."
Alaric menatap bibir pucat yang bergetar ketakutan di hadapannya. Kebohongan atau kejujuran wanita ini tersusun begitu rapi di balik raut wajah polosnya yang tak berdosa.
"Bagus jika kau tidak tahu," pukas Alaric dingin seraya melepaskan cengkeramannya secara mendadak hingga kepala Anastasia terdorong pelan. "Karena jika aku menangkapmu melangkah satu inci saja menuju lorong ruang kerja utamaku... aku sendiri yang akan menembakmu."
"Saya mengerti, Tuan..." cicit Anastasia, meremas jemarinya yang gemetar di depan gaunnya.
Alaric memutar tubuhnya, melangkah dua tingkat menuju pintu ganda sebelum melirik lewat sudut matanya.
"Freya Voss akan tiba di sini esok hari," ucap Alaric dengan suara bariton yang berat. "Dan kau... akan menjadi pelayan pribadinya selama wanita itu berada di bawah atap De Luca."
Anastasia tersentak pelan, memperlihatkan raut wajah bingung dan panik yang sempurna. "Menjadi pelayan Nona Freya?"
"Melayani Freya Voss adalah satu-satunya alasan aku belum membuang jasadmu ke Sungai Seine," desis Alaric dengan senyuman tipis tanpa kehangatan. "Dia akan mengulitimu hidup-hidup jika kau berani melangkah satu inci saja di luar garis kewenanganmu."
"Saya akan mematuhi semua perintah Anda, Tuan," janji Anastasia dengan nada serak yang pasrah. "Bahkan jika... jika Nona Freya membenci kehadiran saya."
"Dia tidak hanya akan membencimu, Anna," potong Alaric dingin. "Dia akan memusnahkanmu."
Alaric melangkah keluar dari kamar suite Sayap Timur.
Klik.
Mekanisme kunci besi berbunyi nyaring dari luar, menandakan pintu kamar telah terkunci rapat kembali.
Anastasia melangkah cepat tanpa suara menuju kamar mandi berlantai marmer hitam. Ia mengunci pintu dari dalam, memutar kran air tempat pembilasan hingga deru air mengalir deras untuk menyamarkan frekuensi suara.
Dengan gerakan presisi, ia melepas anting mutiara di telinga kirinya, menekan titik mikroskopis di bagian belakang perhiasan tersebut.
"Rowan, kau di sana?" bisik Anastasia dengan suara rendah dan tegas.
"Sinyalmu terhubung, Agent Moreau," suara Inspektur Rowan bergaung halus melalui pemancar mikro di telinganya. "Bagaimana situasi di dalam? Kami mendeteksi peningkatan aktivitas perimeter di sekitar kediaman De Luca."
"Alaric memutuskan untuk menempatkanku sebagai pelayan pribadi Freya Voss selama wanita itu berada di mansion," lapor Anastasia cepat.
Hening sejenak di seberang jaringan terenkripsi sebelum Rowan bersuara dengan nada khawatir yang kentara.
"Itu terlalu berbahaya, Anna! Freya Voss bukan sekadar putri bangsawan pasar hitam. Dia memiliki skuad pembunuh pribadi dari Marseilles. Satu kesalahan kecil, dia tidak akan ragu mengeksekusimu di tempat."
"Ini justru peluang emas yang kita tunggu, Rowan," potong Anastasia dingin, matanya menatap tajam pantulan dirinya di cermin kamar mandi. "Freya adalah wanita pencemburu dengan ego setinggi langit. Jika aku memosisikan diriku sebagai 'simpanan yang dilindungi Alaric', Freya akan terprovokasi."
"Kau berniat mengadu domba dua dinasti besar itu dari dalam?"
"Aliansi De Luca dan Voss bertumpu pada pernikahan politik ini," tegas Anastasia. "Jika aku bisa menyulut api kecemburuan dan merusak kepercayaan Lord Voss pada Alaric, retakan aliansi mereka akan terbuka lebar sebelum pengiriman kargo senjata minggu depan."
"Tetap waspada, Anna. Tim taktis kami bersiap di luar batas kota. Jika penyamaranmu terbongkar, langsung aktifkan sinyal darurat."
"Dimengerti."
Anastasia mematikan transmisi mikro, merapikan kembali anting mutiaranya, lalu mematikan kran air.
Keesokan paginya, sebelum fajar menyingsing sepenuhnya di ufuk timur, ketukan halus terdengar di pintu ganda Sayap Timur.
"Nona Anna? Saya membawakan pakaian Anda untuk hari ini," suara Ibu Agnes terdengar dari ambang pintu yang terbuka perlahan.
Anastasia berdiri dari tepi ranjang, menyambut kepala pelayan tua itu dengan raut wajah canggung dan menunduk dalam.
Ibu Agnes melangkah masuk membawa sepasang pakaian pelayan berwarna abu-abu gelap dengan kerah putih tinggi yang kaku, dilengkapi apron renda sederhana.
"Tuan Alaric menginstruksikan agar Anda mengenakan ini mulai pagi ini, Nona," ujar Ibu Agnes dengan nada iba yang tertahan saat meletakkan pakaian itu di atas meja.
"Terima kasih, Bi," bisik Anastasia lirih, meraba kain katun kasar pakaian tersebut. "Apakah... Nona Freya sudah tiba?"
"Rombongan dari Marseilles dijadwalkan mendarat siang nanti," sahut Ibu Agnes seraya merapikan lipatan apron. "Tetapi seluruh pengawal faksi Voss sudah bersiap di aula utama. Saya sarankan Anda berhati-hati, Nona. Jangan pernah menatap mata Nona Freya secara langsung."
"Saya mengerti, Bi. Saya tidak akan membuat masalah."
Setelah Ibu Agnes melangkah keluar, Anastasia segera mengenakan seragam pelayan tersebut. Kain katun abu-abu kaku itu membungkus tubuh mungilnya secara tertutup, memperlihatkan kerah tinggi yang menutupi seluruh leher jenjangnya.
Namun, alih-alih membuat penampilannya tampak redup, warna abu-abu gelap itu justru semakin mempertegas kulit pucatnya yang halus dan binar mata hazel-nya yang unik.
Krek.
Pintu kamar ganda mendadak terdorong terbuka tanpa pemberitahuan.
Alaric De Luca melangkah masuk. Pria itu telah mengenakan kemeja hitam mahalnya dengan dasi yang terikat sempurna, memancarkan aura dominasi mutlak yang membekukan atmosfer ruangan.
Langkah kaki Alaric mendadak terhenti di tengah ruangan. Sepasang mata sebiru es miliknya menatap lurus pada sosok Anastasia yang berdiri patuh di dekat meja rias.
Pandangan Alaric menyapu tubuh mungil Anastasia dalam balutan seragam pelayan abu-abu kaku tersebut. Rahang tegas Alaric mengeras seketika, dan kilatan asing yang pekat membakar di balik manik mata birunya.
"Siapa yang menyuruhmu memakai pakaian ini?" desis Alaric dengan suara bariton yang mendadak memberat membahayakan.
Anastasia mengerjapkan matanya, berpura-pura bingung dan panik. "I-Ibu Agnes yang membawakannya, Tuan... Bukankah Anda yang memerintahkan saya menjadi pelayan Nona Freya?"
Alaric melangkah lebar memangkas jarak di antara mereka. Aura mengancamnya membungkus tubuh Anastasia sepenuhnya saat pria itu berdiri hanya satu senti di hadapan sang wanita.
Tangan Alaric yang tegap terangkat kasar, mencengkeram kerah putih tinggi pakaian Anastasia, menarik wanita itu sedikit terangkat hingga napas hangat Alaric yang beraroma tembakau mahal menyapu permukaan wajah Anastasia.
"Kau sengaja memakai pakaian kaku ini agar terlihat begitu menyedihkan dan memancing iba, Anna?" bentak Alaric rendah, matanya berkilat penuh amarah yang tak rasional.
"S-saya hanya menjalankan perintah Anda, Tuan Alaric!" sahut Anastasia histeris, air mata buatan merebak mendadak di sudut matanya. "Saya tidak bermaksud apa-apa..."
Alaric menatap bibir pucat Anastasia yang bergetar ketakutan. Ibu jarinya terangkat, mengusap pelipis Anastasia yang berperban dengan tekanan kasar yang menuntut. Ego besarnya bergolak melihat bagaimana pakaian pelayan yang paling sederhana sekalipun sama sekali tidak sanggup menyembunyikan daya pikat alami wanita di cengkeramannya.
Keheningan lorong bawah tanah Sayap Barat terasa dingin dan menyesakkan. Bau lembap batu tua berpadu dengan wangi kayu cedar dan sisa uap air pancuran dapur. Lampu dinding tembaga memancarkan pendar kekuningan yang redup, membiaskan bayangan-bayangan panjang di atas ubin marmer hitam.Anastasia berjalan perlahan membawa baki kayu berisi tumpukan serbet linen yang baru disetrika. Sepatu sol karet tipisnya bergerak tanpa suara, sementara tubuhnya secara fisik masih menampilkan kesan lelah yang pasrah, sisa dari infiltrasi malam harinya dan ketegangan interaksi dengan Alaric beberapa saat lalu.Namun, saat ia melintasi tikungan koridor menuju ruang penyimpanan utama, sebuah sosok tinggi anggun berdiri menunggunya di balik ceruk pilar marmer.Freya Voss.Sang putri mafia berdiri sendirian tanpa dikawal Hector atau barisan penjaga faksi Marseilles. Ia dibalut gaun pagi berwarna kasmir krem, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan aura keangkuhan yang berac
Sinar matahari pagi menembus kaca-kaca tinggi koridor Sayap Timur, membiaskan pendar keemasan di atas ubin marmer yang berkilat dingin. Namun bagi Anastasia, hangatnya mentari tak mampu mengusir kelelahan fisik dan mental yang menumpuk setelah aksi infiltrasi malam harinya di ruang bawah tanah.Hanya ada jeda tiga jam tidur bagi sang agen kepolisian sebelum lonceng tugas Sayap Timur berdentang pukul lima pagi. Otot-otot tubuhnya masih menegang dari aksi menyelinap di antara peti senjata, dan benaknya masih terbayang oleh teka-teki kode pengiriman bayangan V-17 / M-04 / A.D.L. yang ia temukan beberapa jam lalu.Di atas nampan kayu mahoni yang ia bawa dengan kedua tangan terbalut perban tipis, tergeletak seperangkat dokumen logistik harian dan laporan inventaris Sayap Barat yang baru saja diserahkan oleh pengawal faksi Voss. Langkah Anastasia teratur, melintasi koridor utama menuju ruang kerja pribadi Alaric De Luca.Namun, beberapa langkah sebelum mencapai pintu
Jam dinding kuno di ruang tengah berdentang dua kali, menandakan pukul dua dini hari, momen krusial di mana kewaspadaan sistem keamanan Mansion De Luca berada pada titik terendahnya.Anastasia berdiri melekat pada ceruk dinding koridor belakang, dibalut pakaian pelayan hitam tanpa apron kaku. Sepatu sol karet tipis yang ia sembunyikan di balik lipatan lemari sejak Bab 3 melangkah tanpa menghasilkan bunyi sedikit pun di atas ubin batu tua.Dua menit. Itu adalah jeda waktu persis saat regu pengawal faksi Voss memutar rute patroli Sayap Barat dan barisan penjaga pribadi Alaric melakukan serah terima tugas di pos gerbang depan.Di dalam benak Anastasia, denah digital Mansion De Luca yang dihadiahkan oleh tim peretas kepolisian terpeta dengan presisi tinggi. Namun, saat menyusuri lorong penyimpanan anggur di bawah dapur utama, indra spasial sang agen kepolisian menangkap sebuah anomali arsitektur.Ketebalan dinding batu di ujung lorong bawah tanah tidak simetr
Ruang makan utama Sayap Timur Mansion De Luca malam itu diselimuti suasana temaram yang terasa kaku dan mengintimidasi. Lampu gantung kristal menggantung megah di atas meja kayu mahoni raksasa yang dilapisi kain linen putih bersih. Di atasnya, perak-perak halus, lilin aromatik beraroma kayu jati, dan piring-piring porselen terata dengan presisi tinggi.Namun, hidangan steak daging domba panggang dan anggur merah Bordeaux yang tersaji tak sanggup mencairkan hawa dingin yang berhembus di antara tiga orang di ruangan tersebut.Freya Voss duduk di sisi kiri meja, dibalut gaun malam velvet berwarna hijau zamrud yang mempertegas lekuk tubuh dan keangkuhannya. Sepasang mata cokelat gelapnya berkilat penuh kedengkian saat ia memutar-mutar tangkai gelas kristalnya.Di kepala meja, Alaric De Luca duduk memimpin dengan kemeja hitam berkerah kaku yang lengannya tergulung rapi. Tangannya yang memegang pisau daging bergerak tenang, memotong hidangan
Kekalahan terselubung di aula utama kemarin pagi menyisakan luka yang membakar pada harga diri Freya Voss. Bagi seorang putri tunggal penguasa pasar hitam Marseilles, dipermalukan di hadapan para pengawalnya sendiri oleh Alaric demi seorang pelayan berkerah kaku adalah tamparan keras yang tak tertahankan.Maka, ketika matahari baru saja beranjak tinggi menembus tirai kamar suite tamu di Sayap Barat, Freya melancarkan pergerakan balasannya."Cari kalung zamrud milikku di kamar ganti," perintahkan Freya tanpa memalingkan wajahnya dari cermin rias. Suaranya merdu, namun dipenuhi dingin yang beracun.Anastasia berdiri patuh dua langkah di belakang kursi Freya, meremas apron rendanya. "Kalung zamrud yang mana, Nona Freya?""Kalung zamrud Haut-Rhin dengan liontin berlian hitam," potong Freya seraya memutar tubuhnya perlahan, menatap Anastasia dengan pendar kemurkaan yang tertahan di mata cokelat gelapnya. "Aku meninggalkannya di atas meja rias
Atmosfer di aula utama Mansion De Luca terasa sesak, seolah oksigen di dalam ruangan itu terkuras habis oleh keangkuhan faksi Marseilles. Sejak matahari terbit menyiram jendela-jendela kaca tinggi Sayap Timur, Freya Voss tidak membuang waktu untuk menumpahkan seluruh dominasi beracunnya.Sebagai calon Ratu Pasar Hitam, Freya terbiasa melihat semua orang tunduk di bawah telapak kakinya. Dan pagi ini, pelayan anyar berkerah kaku dengan mata hazel menyedihkan itu menjadi sasaran utama perundungannya."Teh ini terlalu dingin," desis Freya seraya mendorong cangkir porselen di atas meja perak dengan ujung jarinya.Cangkir itu berdenting keras saat membentur baki yang dipegang Anastasia. Anastasia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan baki perak tersebut agar tidak goyah."Maafkan saya, Nona Freya. Saya akan menggantinya dengan yang baru," sahut Anastasia halus, suaranya mengandung getaran cemas yang begitu pas—sebuah penampilan sempurna dari seora







