Share

Tawanan Tangguh Sang Mafia
Tawanan Tangguh Sang Mafia
Author: Kina

BAB 1

"Katakan, apa yang kamu inginkan? Jangan pernah kau melukai adikku!" ucap Eliza menatap tajam pada Erlan yang tengah menatapnya dengan senyum angkuhnya.

"Turuti apa pun yang kukatakan maka adikmu akan baik-baik saja. Sekali kau melawan, sepuluh cambukan akan melayang di tubuhnya," ucap Erlan menyeringai.

Eliza mengepalkan tangannya, giginya saling bergesekan kuat menahan rasa geramnya. Pria di depannya yang merupakan musuh dari keluarganya dan telah membantai habis seluruh keluarga besarnya, hingga hanya menyisakan dirinya dan adiknya Sean.

"Kakak jangan pedulikan aku. Bunuh saja dia, dia sudah membunuh Daddy!" teriak Sean berusaha memberontak dari jeratan bawahan Erlan.

Erlan terkekeh, mendengar penuturan polos Sean. Erlan bergerak mendekati Sean.

"Jangan menyakiti adikku Erlan Rodriguez!" bentak Eliza.

Erlan benar-benar berhenti, lalu berbalik menatap Eliza dengan seringaian jahat terukir di wajahnya.

Perlahan ia mengeluarkan pisau kecil lalu mengulurkannya ke leher Sean.

"Erlan, aku bilang jangan melukai adikku, bajingan!" teriak Eliza memberontak. Hingga bawahan Erlan semakin mengeratkan jeratannya.

"Kau cukup manis, aku suka gadis-gadis kecil sepertimu. Masuk ke kamar, dan layani aku, maka akan kulepaskan adikmu. Tapi, jika kau menolak, kau akan melihat dia mati dihadapanmu," ucap Erlan dengan seringaian nakal di wajahnya, juga tatapannya yang seolah tertarik dengan Eliza.

Eliza membulatkan matanya, merasa jijik, atas apa yang diucapkan Erlan. Tapi, jika ia menolak, bagaimana dengan adiknya? Eliza tau, ancaman Erlan yang akan membunuh Sean di depannya bukanlah ancaman sekedar menggertak.

"Kakak jangan mau!" ucap Sean.

Kau bajingan, jika kau berani menyentuh kakakku, aku akan membunuhmu!" teriak Sean berusaha melawan, sembari menatap tajam pada Erlan yang tampak begitu tenang.

Erlan tenang, tapi detik berikutnya, tamparan keras mendarat di pipi Sean.

"Sean!" pekik Eliza terkejut, ia berusaha memberontak, tapi tenaga tetap tidak bisa mengalahkan empat pria pria yang menahan pergerakannya.

"Lepaskan aku sialan!" sentak Eliza.

"Erlan, sudah kubilang jangan menyakiti adikku!"

Eliza menarik tangannya, mengabaikan rasa perih akibat terus melawan.

"Lepaskan dia!" perintah Erlan, membuat Eliza sontak tersungkur karena berusaha melawan dan malah dilepaskan tiba-tiba.

Saat akan bangkit menyerang Erlan. Pria itu kembali meletakkan pisau kecilnya di leher Sean.

"Semakin lama kau berpikir, semakin kuat aku memukul adikmu. Aku beri kau waktu lima detik untuk berpikir," ucap Erlan dingin.

Eliza melotot, nafasnya memburu, menatap tajam pada Erlan. Rasanya tidak sudi dia disentuh oleh orang yang telah membunuh keluarganya. Tapi, satu-satunya keluarganya sekarang sedang menjadi tawanan untuk mengancam dirinya.

"Kakak jangan—," Sean dengan nafas tersengal berusaha untuk bicara, menahan rasa sakit di pipinya.

"Dian kamu Sean! Ini semua gara-gara kamu. Andai saja kamu tidak bertindak ceroboh, kita tidak akan ada di sini!" bentak Eliza dengan air mata di pelupuk mata, membuat Sean mengatup mulutnya.

Air mata Eliza jatuh, menatap tajam Erlan yang sama sekali tidak tergerak untuk melepaskan mereka.

"Oke, aku harus ke kamar mana?" tanya Eliza dengan suara yang sedikit merendah, dan hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi.

Erlan tersenyum puas. Ia kemudian melirik bawahan wanitanya, untuk mengantar Eliza ke kamarnya.

"Kau sudah tau apa yang harus dilakukan?"

"Ya Tuan."

Wanita berpakaian serba hitam itu membungkuk, lalu mendekati Eliza. "Ayo ikut saja Nona," ucapnya.

Eliza menghela nafas. Melirik Sean yang menggelengkan kepalanya, berharap Eliza tidak pergi.

Eliza membalikkan tubuhnya, mengikuti langkah wanita tadi yang memasuki lift dan naik ke lantai atas.

"Bajingan, lepaskan kakakku! Jangan pernah kau menyentuhnya!" ucap Sean penuh penekanan.

Erlan bersedekap dadanya menatapnya sinis, "Kau masih kecil. Benar kata kakakmu, kau ceroboh! Jadi, terimalah konsekuensinya."

Erlan mencengkram dagu Sean dengan kuat, "Kakakmu cukup manis, akan kubuat dia meminta ampun di bawah kukunganku."

Cuih!

Sean yang geram, meludahi wajah Erlan. Erlan geram, mengusap kasar wajahnya.

"Berani sekali kau!" geram Erlan melayangkan tamparannya lebih kuat untuk kedua kalinya.

"Kurung dia di bawah tanah, dan jangan memberinya makan tanpa perintah dariku!"

Dua tamparan di wajah Sean, membuat pria itu juga kehilangan kesadarannya. Tubuhnya diseret tanpa perlawanan.

Wajah kesal Erlan berubah menyeringai, "Tidak ada ampunan bagi kalian keluarga Martinez," ucap Erlan menyisir rambutnya ke belakang.

"Erlan, apa kau serius ingin menyentuh wanita itu?" tanya Evan mendudukkan tubuhnya dengan santai di sofa.

"Tentu. Ini akan menjadi hukuman paling indah untuk keluarga Martinez," ucap Erlan dengan tatapan dinginnya, meraih sebotol anggur di atas meja dan meneguknya langsung dari botol.

Setelah menghabiskan lebih dari satu botol anggur. Suhu tubuh Erlan sudah meningkat, tapi ia masih cukup sadar. Pria itu melonggarkan kemejanya. Kembali meneguk anggur ke mulutnya untuk terakhir kalinya. Ia tidak ingin sampai mabuk, ia ingin menyiksa Eliza secara sadar.

Erlan melangkah menuju lift, menekan tombol yang akan membawanya ke lantai paling atas.

Sesampainya di lantai atas, ia melangkahkan kakinya dengan tenang, "Di mana dia?" tanya Erlan pada wanita bersama Eliza tadi.

"Dia ada di dalam Tuan. Kami sudah mendandaninya," ucap wanita itu menunduk hormat.

Erlan berdehem, ia membuka pintu kamar dan langsung menutupnya. Wanita berpakaian serba hitam bernama Clara menghela nafas, menatap nanar pada pintu kokoh yang tertutup rapat.

"Aku yang sudah bersamanya sudah bertahun-tahun tidak pernah diajak tidur bersama. Kenapa, gadis kecil musuhnya, ia langsung tertarik," batinnya merasakan cemburu.

Clara sudah lama menyimpan rasa pada Tuan-nya. Berbagai bentuk perhatian manis pun diungkapkan, tapi Erlan tidak pernah menganggapnya.

Di dalam sana. Eliza yang hanya memakai lingerie tipis duduk di atas kasur, terdiam dengan nafas memburu takut setelah melihat Erlan yang menatapnya dengan tatapan buas.

"Berjanjilah kau akan melepaskan aku dan adikku setelah ini," ucap Eliza dengan suara bergetar takut. Untuk pertama kalinya ia merasakan ketakutan.

Erlan memiringkan kepalanya, dengan senyumnya yang menyeringai. Ia kemudian terkekeh merasa ia akan memiliki mainan baru.

"Aku tidak pernah berjanji seperti itu Nona. Kau akan menjadi wanita pemuasku hingga mati," ucap Erlan menyeringai membuat Eliza membulatkan matanya.

"Ka-kalau begitu cukup adikku. Cukup adikku yang kau lepaskan!" Eliza mulai bangkit dari kasur, merasa kesepakatannya tidak sesuai yang diinginkan.

"Oh, adikmu akan terus menjadi tawananku untuk mengancammu," ucap Erlan mendudukkan tubuhnya pada kasur, Eliza semakin berjalan menjauh.

"Kemari, duduk dipangkuan ku jika kau ingin adikmu selamat," ucap Erlan menepuk pangkuannya.

Eliza memejamkan matanya, tidak berani mendekat.

"Aku tidak suka menunggu. Cepat ke sini!" sentak Erlan memberikan tatapan tajamnya yang juga mengancam Eliza.

Tidak ada pilihan, selain Eliza menurut. Gadis itu berjalan mendekat dengan langkah yang pelan dan gemetar, membuat Erlan menyeringai.

"Dari rasa takutmu, sepertinya kau masih perawan, apa kau bahkan belum pernah berciuman?"

Nafas Erlan semakin memburu semangat. Melihat Eliza berjalan takut padanya, justru berhasil meningkatkan hasratnya.

"Te-tentu saja tidak. A-aku sudah beberapa kali melakukannya dengan pacarku," kelit Eliza gugup dan berbohong, namun sama sekali tidak bisa menyembunyikan kebohongannya dari wajahnya.

Erlan terkekeh, "Oh ya kalau gitu, aku lihat saja dan nilai, sudah seberapa luas lubangmu."

Eliza memejamkan matanya, kini ia sudah duduk dipangkuan Erlan. Tangannya mengepal dengan kuat, bayangan adiknya membuatnya menahan untuk tidak memukul Erlan.

Erlan melingkarkan tangannya di pinggang Eliza, "Ingat untuk patuh setiap perintahku, atau ...."

Erlan tidak melanjutkan ucapannya, ia menekan sebuah tombol. Dari langit-langit kamar turun sebuah layar lebar yang tergantung. Saat tv itu menyala terlihat adiknya yang tangan dan kakinya diikat menggantung.

"Itu, kau!" pekik Eliza hendak beranjak dari pangkuan Erlan, namun ditahannya.

Eliza menatap tajam pada Erlan.

"Kenapa kau mengikat adikku!" geram Eliza.

"Shhuttt!" Erlan meletakkan telunjuknya di bibir Eliza.

"Sudah ku bilang jangan membantahku, atau adikmu ...." Erlan tidak melanjutkan ucapannya, dia tersenyum, dan cukup membuat Eliza paham.

Nafas, Eliza memburu menahan kekesalannya.

"Ayo buka bajuku," ucap Erlan.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status