Share

BAB 2

Tangan Eliza bergetar, perlahan menyentuh kancing baju Erlan, membuat pria itu memejamkan matanya.

Entah kenapa sentuhan Eliza membuatnya terlena.

Erlan membuka matanya, dan melihat wajah Eliza yang sudah cukup pucat membuatnya menyinggung senyumnya.

"Kenapa harus Aiden Martinez yang memiliki anak selucu dan semanis ini," batin Erlan merasa gemas dengan tingkah Eliza.

Erlan menggelengkan kepalanya, "Ingat dia anak musuhmu. Kamu harus menyiksanya Erlan," batin Erlan, kemudian menarik kasar tangan Eliza dan menghempaskan tubuh kecil gadis itu ke kasur.

Tidak membiarkan Eliza sekedar terpekik. Erlan meraup kasar bibir ranum Eliza yang sudah sejak awal menggoda baginya.

"Eem," lenguh Eliza berusaha memberontak.

Air mata Eliza jatuh, selain karena sakit, tapi juga merasa tidak terima saat tubuhnya disentuh oleh musuhnya.

"Daddy," batin Eliza berharap ada sebuah keajaiban. Pahlawannya, cinta pertamanya datang menyelamatkannya.

Eliza hanya bisa diam, menahan rasa sakit yang diberikan Erlan. Ia bisa saja melawan, tapi bayangan wajah adiknya terus terlintas dalam benaknya.

"Eliza demi adikmu," batinnya menyadarkan diri saat berusaha melakukan perlawanan.

Demi adiknya, ia harus merelakan kesuciannya terengut, oleh pria yang paling ia benci.

"Aku mohon pelan-pelan, ini baru bagiku," pinta Eliza mencengkram kuat lengan berotot Erlan.

"Sayangnya kau anak Aiden Martinez, permohonanmu tidak bisa dikabulkan," ucap Erlan dengan nafas beratnya yang menyentuh kulit wajah Eliza.

"Kau bajingan Erlan, kau sama saja dengan Daddy-mu!" ucap Eliza semakin kuat mencakar punggung Erlan.

Erlan tidak menggubris, ia terlalu larut dalam percintaannya itu. Rasa semangat Erlan semakin membuncah, saat berhasil menerobos paksa bibir bawah Eliza yang masih rapat belum tersentuh.

"Ternyata begini rasanya perawan. Ah, akhirnya aku merasakannya juga!" batin Erlan. Tidak memungkiri merasakan kesenangan luar biasa.

Erlan memang sudah tidur dengan banyak wanita. Tentunya wanita-wanita pilihan yang sehat dari penyakit menjijikkan yang bisa saja tertular padanya. Tetapi, ia bukanlah pria yang suka berlama-lama dalam percintaan. Baginya cukup mengeluarkan sekali, itu sudah cukup.

Kebiasaannya itu seketika hilang dan ia lupakan, karena perasaan semangatnya untuk terus melakukannya.

Bersama Eliza, satu kali tidaklah cukup.

Terkadang Erlan memberikan kecupan lembutnya, membuat Eliza kadang menikmatinya. Tetapi, jika Erlan teringat siapa yang tengah ia tiduri, tanpa rasa kasihan, ia langsung bersikap sangat kasar, dan berulang kali membuat Eliza menjerit.

"Aku membencimu Erlan Rodriguez!" teriak Eliza kesekian kalinya berusaha memberontak setelah tubuhnya merasa lemas.

"Cukup. Aku mohon hentikan!" pinta Eliza memukul-mukul bahu Erlan dengan sisa tenaga yang dimiliki.

"Tidak, Nona Martinez, aku belum selesai," ucap Erlan. Untuk kesekian kalinya membiarkan benihnya ditumpahkan di dalam tubuh Eliza.

"Aku sudah lelah," ucap Eliza dengan mata yang terpejam erat sesaat lalu kembali terbuka. Seolah ia akan kehilangan kesadarannya.

Hal itu tidak membuat Erlan kasihan. Ia malah tetap bersemangat, melakukannya lagi dan lagi.

"Kau tidak boleh pingsan. Kau harus menemaniku hingga selesai, atau kau akan tau akibatnya," ucap Erlan membuat Eliza memukul kepalanya frustasi.

"Kau penjahat!" ucap Eliza dengan lirih, karena sudah tidak sanggup atau memiliki tenaga lagi.

Erlan terus melakukannya secara paksa. Tubuh Eliza yang lemas, karena sudah berkali-kali mencapai puncaknya. Hingga Eliza benar-benar tidak bisa menahan untuk tetap sadarkan diri. Sementara Erlan tetap melakukannya dengan penuh semangat.

Erlan menatap tajam wajah Eliza yang benar-benar terlelap lelah atau pingsan. Erlan tidak peduli.

Cantik dan manis, itulah yang dipikiran Erlan. Ia bertanya-tanya, bagaimana bisa di usia Eliza yang sudah 20 tahun. Wanita itu masih terjaga, sedangkan tempat tinggal mereka, berhubungan satu malam dengan orang tidak dikenal pun kerap terjadi.

Sempat larut dalam wajah manis itu, Erlan lagi-lagi mengingat, Eliza itu siapa. Membuat rahangnya seketika mengeras, dengan matanya yang menyorot penuh kebencian.

"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Eliza Martinez," gumam Erlan menyeringai.

Erlan kemudian bangkit, melepaskan tautan yang menyatukannya dengan Eliza. Ia menatap Eliza sekilas, lalu pergi membiarkan Eliza berbaring di kasurnya, sedangkan ia menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya.

Saat melakukannya tadi, ia bersemangat, dan kini ia merasa cukup lelah tapi lelah dengan sisa kesenangan di wajahnya.

Tidak butuh waktu lama, ia telah keluar dari kamar mandi, hanya dengan balutan bathrobe yang memperlihatkan dada bidangnya yang berbulu halus.

Erlan melirik sekilas pada Eliza, ia menyunggingkan senyumnya. Entah kenapa ada sebuah rasa kesenangan di hatinya dan ingin rasanya ia ungkapkan, membuatnya terus berjalan keluar kamar.

Tidak jauh dari kamarnya terdapat sofa tempat biasanya ia bersantai. Kini dua orang kepercayaannya berada di sana.

Kedua pria itu melirik Erlan yang tubuhnya tidak ada bekas kissmark tapi penuh cakaran.

"Kau sudah selesai? Apa dia seperti wanita lain, yang boleh digilir? Boleh kami mencobanya juga?" ucap Dante menggoyangkan gelasnya yang berisi anggur dengan kadar alkohol tinggi.

"Untuk saat ini tidak. Dia gadis perawan, selagi miliknya masih sempit, hanya aku yang boleh menikmatinya," jawab Erlan tersenyum bangga.

Merasa bangga telah memecahkan selaput inti seorang gadis.

"Wah, benarkan? Ayolah kawan, dia juga sudah bekasmu, biarkan aku merasakannya," ucap Dante menjadi semangat, ingin menyentuh Eliza juga.

Tidak apalah sudah bukan perawan, tapi menjadi pria kedua menyentuh setelah baru saja diperawani tentu saja rasanya cukup sama.

"Tidak. Berani kau menyentuh milikku, berarti kau menentangku!" tegas Erlan menatap dingin pada Dante.

Evan terkekeh, pria itu bersedekap dada menatap Erlan.

"Kau ingin memilikinya sendiri. Kau yakin tidak akan jatuh cinta dengannya, kan?"

Erlan terdiam beberapa saat, lalu terkekeh dengan penuh keyakinan.

"Tentu saja tidak. Dia hanya akan menjadi pemuas nafsuku untuk beberapa bulan nanti, selebihnya aku akan menyerahkannya pada kalian untuk dimainkan," ucap Erlan tersenyum kecil, dengan tatapan tajamnya yang tersorot penuh dendam, membuat Evan mengangguk-angguk.

"Ya semoga saja kau sungguh tidak akan jatuh cinta dengannya," ucap Evan tersenyum, terkesan meragukan Erlan.

Erlan tidak menggubris. Ia menyandarkan punggungnya, meletakkan tangannya, di atas matanya, menutupi setengah wajahnya.

Sebuah senyum manis terukir di wajah Erlan. Ia tidak bisa memungkiri, telah sangat menikmati tubuh dari anak musuhnya sendiri.

Sudah puluhan wanita yang pernah ia bayar tidur bersamanya, tapi tidak ada yang benar-benar yang dia dapatkan seorang gadis polos.

Eliza, anak musuhnya sendiri, telah membayar rasa penasarannya, merasakan sebuah keperawanan.

Di kotanya itu rasanya mustahil menemukan wanita 17 tahun ke atas masih dalam keadaan tersegel. Tetapi, Eliza membuktikan masih ada segelintir wanita yang belum tersentuh.

"Aku bisa saja menerimamu sebagai keluarga Martinez, tapi sebagai anak Aiden Martinez yang telah membantai keluargaku, tidak akan pernah bisa ku terima, kau harus hidup menderita Eliza Martinez," batin Erlan, yang tadi tersenyum, kini rahangnya mengeras menahan amarahnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status