Share

Tawanan Tiga Tuan Muda
Tawanan Tiga Tuan Muda
Author: CitraAurora

Dijadikan Budak

Author: CitraAurora
last update publish date: 2026-02-02 15:29:53

“Turun, Rosella!” titah pria paruh baya sambil menarik tangan putri tirinya, memaksanya keluar dari mobil dengan kasar.

Rosella mempertahankan tubuhnya agar tidak keluar. “Aku tidak mau!” berontaknya, berusaha melepas cengkraman ayah tirinya.

“Kita sudah sampai, kamu harus turun!” Teriaknya.

“Katanya mau beli obat kenapa malah mengajak aku disini!” Rosella tetap kekeh dengan tubuhnya, dia tidak mau turun.

Namun, tenaga Marcus jauh lebih kuat sehingga mampu menyeretnya keluar.

Rosella memekik tertahan. Dia tidak tahu, setelah menginjakkan kaki di mansion mewah itu, dia harus melupakan segalanya, termasuk ibu dan masa depannya.

Marcus berbicara pada seorang yang seumuran dengannya, lalu dia melenggang pergi meninggalkan Rosella tanpa berkata apa-apa.

“Ayah, tunggu! Jangan tinggalkan aku!”

Rosella segera mengejar pria itu, namun para pria berpakaian serba hitam segera menghalanginya.

Dia meronta bahkan melakukan perlawanan. Tapi apalah daya, dia hanya gadis kecil yang tidak cukup kuat untuk menyaingi tenaga para bodyguard itu.

“Menurutlah. Jangan melakukan hal yang sia-sia, semua pelayan yang telah masuk mansion itu tidak ada yang bisa keluar lagi.”

Deg!

Apa maksudnya?

Kepala pelayan meminta Rosella untuk menurut, mengingatkan bahwa dia telah dijual. Saat ini, Rosella sudah menjadi milik keluarga Toretto.

Dengan hati perih, Rosella merosot ke bawah, tangannya mengepal kuat.

Dia tak menduga kalau Marcus benar-benar tega menjual dirinya.

“Tapi ibuku sakit, aku juga masih kuliah. Tolong lepaskan aku.” Dia menangis memohon belas kasihan pria paruh baya itu.

“Bukan urusan kami.”

Sekeras apapun dia menangis, nyatanya tidak merubah keadaan. Ia diminta untuk ikut masuk ke dalam mansion.

“Kamu sekarang jadi pelayan di sini, jadi jaga baik-baik sikapmu atau terima konsekuensinya,” ancam pria itu, membuat tubuh Rosella semakin menciut.

Kepala pelayan itu menunjukkan kamar Rosella, kamar kecil di ujung koridor yang hanya ada single bed dan meja saja.

Semalaman Rosella menangis memikirkan nasibnya yang buruk, hingga dia jatuh terlelap.

Esok harinya, Rosella dibangunkan pagi sekali. Semua pelayan juga sudah bangun dan memakai seragam mereka.

Rosella mendapatkan pekerjaan membersihkan halaman. Tentu dia sangat senang, siapa tahu ada celah untuk kabur.

Tapi harapannya pupus sudah, meskipun masih pagi buta, nyatanya sudah banyak orang berpakaian serba hitam yang berjaga di seluruh sudut mansion.

“Bahkan istana raja tidak seperti ini.” Rosella menghela nafas, niat kabur yang menggebu menguap entah ke mana. Dia merasa begitu putus asa.

Tak terasa air matanya merembes keluar.

Dia rindu ibunya. Dia ingin pulang dan kuliah.

Siang itu semua pelayanan istirahat, sementara kepala pelayan mengecek satu persatu pekerjaan semua pelayan.

Sama seperti sebelumnya, rumah sudah bersih, lantai berkilau tanaman di taman dipangkas rapi tapi masih banyak daun yang masih berserakan.

“Siapa yang membersihkan halaman depan?”

Semua pelayan menunjuk Rosella, dan kepala pelayan menasehati Rosella agar sungguh-sungguh dalam bekerja.

Dia juga menjelaskan kalau pemilik mansion tidak suka ada yang kotor.

Dari penjelasan kepala pelayan, Rosella justru memiliki ide agar dia didepak dari mansion ini.

“Sepertinya bekerja seenaknya akan membuat aku didepak dari sini.”

Wanita itu tersenyum lepas, senyum pertama dari semalam.

….

Baru seminggu Rosella menjadi pelayan di rumah itu, tapi dia sudah berkali-kali membuat kesalahan.

Pelayan lain mengingatkan Rosella agar bekerja dengan baik, tapi Rosella hanya tersenyum sebab semua itu sengaja.

Pagi itu, Rosella diminta membantu koki di dapur. Ketika melihat ada bahan makanan yang habis, Rosella berpikir kalau dia bisa belanja keluar.

“Biar aku saja yang membeli bahan makanan yang habis, aku bisa menyetir.”

Dengan antusias dia menawarkan diri, tapi kepala pelayan bilang kalau akan ada orang supermarket yang datang untuk stok bahan-bahan mereka.

Jawaban itu membuat Rosella bungkam, harapannya kembali terkikis. Sepertinya mansion ini adalah penjara yang berkedok rumah mewah.

Kemudian kepala pelayan memerintahkan dia membersihkan tangga.

Saat asik bersih-bersih, tiba-tiba semua pelayan berlari dan semuanya berbaris rapi.

Rosella menjadi heran, apa ada upacara di mansion itu?

Ketika menoleh lagi, alangkah terkejutnya dia melihat tiga pria dewasa masuk. Mereka tampak begitu gagah, dengan wajah aristokrat yang membuat siapapun sulit berpaling, termasuk Rosella.

Gadis itu terpana sambil memegangi sapu, sepasang matanya masih mengikuti setiap gerakan ketiga pria tampan itu.

Teguran dari salah satu pelayan membuyarkan lamunan Rosella, dia segera menunduk seperti yang dilakukan semua pelayan.

Ketiga pria itu melewati Rosella yang berdiri di ujung tangga, tatapan mereka tajam, membuat Rosella yang menunduk dapat merasakan aura dinginnya.

Perlahan dia menaikkan kepalanya tepat saat salah satu dari mereka menatap langsung ke arahnya.

Deg!

Hati Rosella mencelos, buru-buru dia menunduk, tak tahu kenapa tubuhnya bergetar hebat.

Takut atau kagum?

Entahlah, yang jelas setelah ketiga pria itu berlalu, dia masih saja deg-degan.

“Rosella,” panggil kepala pelayan.

“Ada apa, Pak?” tanyanya.

“Saatnya bekerja, jangan melamun terus.”

Sebelum kembali bekerja, Rosella mendapatkan wejangan tentang peraturan mansion.

Jika para Tuan Muda datang, mereka semua harus berbaris untuk menyambut. Tidak ada yang boleh menaikkan kepala, semua harus menunduk.

Mendengar itu, Rosella hanya bisa menghela nafas. Apa memang begini aturan keluarga kaya?

Meskipun hatinya protes hebat, tapi dia tetap mengangguk. “Baik. Lain kali saya akan menunduk setiap ada para Tuan Muda,” cicitnya pelan.

Karena para Tuan Muda sudah kembali dari liburan, kini saatnya para pelayan bekerja keras. Memastikan kamar para Tuan Muda harus bersih, sprei harus diganti setiap hari. Kamar mandi juga harus disikat dua kali sehari.

Hingga malam Rosella masih bekerja, kepala pelayan benar-benar mengawasinya, menegur ketika dia berbuat kesalahan.

Dia yang baru selesai menyikat kamar mandi para Tuan Muda, tanpa sadar duduk di sofa yang ada di balkon atas sambil memukul-mukul bahunya karena lelah.

“Siapa yang mengizinkan kamu duduk di sofa kami?” Suara bariton salah satu Tuan Muda—Adrian—menggema, membuat Rosella segera bangkit.

“Ma-maaf Tuan. Saya lelah, ja-jadi numpang duduk sebentar.”

Buru-buru Rosella membersihkan sofa itu dengan tangannya, meski sebenarnya sofa itu juga tidak kotor.

“Bekasmu masih ada!” ujar Adrian lagi.

“Maafkan saya, Tuan,” pinta Rosella dengan tubuh gemetar. Dia tidak menduga hal ini akan membuat majikannya itu naik pitam.

Mendengar ada keributan di lantai atas, kepala pelayan segera naik. Alangkah terkejutnya dia melihat Rosella di sana.

Kepala pelayan sangat was-was mengingat Rosella selama ini terlalu banyak membuat kesalahan.

“Maaf Tuan Muda, ada apa?” tanya kepala pelayan was-was.

Selama ini jarang ada pelayan yang terlibat perbincangan dengan para Tuan Muda, karena memang para Tuan Muda enggan berbicara dengan pelayan.

“Tidak ada apa-apa, suruh pelayan itu istirahat.”

Suara lain terdengar. Dia adalah Lucas, Tuan Muda ketiga.

Rosella terperangah, menatap Lucas dengan tatapan tak percaya.

Wajah pria itu tampak tenang, tatapannya juga biasa. Sangat berbeda dengan tatapan kedua saudaranya yang tajam.

Belum sempat Rosella mengucapkan terima kasih, suara bariton yang dalam lebih dulu menyela, “Malam ini juga ganti sofanya dengan yang baru!”

Hah?

Tatapan Rosella berganti ke Leon, Tuan Muda pertama. Pria itu tampak berdiri tegap, bahunya yang lebar serta tatapannya yang tajam membuat aura dominasinya begitu kuat.

‘Apa? Hanya karena tidak sengaja aku duduki, sofanya langsung diganti?!’

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Juanita 88
waw ada yg baru thoor..seruu kyaknya..
goodnovel comment avatar
NACL
aku kasihan sama rosela
goodnovel comment avatar
GistaArnanta
bagus ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Rosella Toretto Anderson

    Mendengar perdebatan seputar undian malam pertama di depan altar, Tuan dan Nyonya Besar Toretto hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau ketiga putra kebanggaan Toretto yang biasanya dingin, kaku, dan disegani di luar sana, bisa menjadi begitu tidak waras dan kekanak-kanakan hanya demi memperebutkan satu wanita.​"Mommy benar-benar tidak habis pikir dengan kalian bertiga," ucap Nyonya Toretto sembari tertawa kecil, melangkah mendekat untuk merangkul pundak Rosella dengan penuh kasih sayang. "Tapi melihat kalian sekompak ini demi menjaga Rosella, Mommy ikhlas. Mulai hari ini, kamu adalah putri kesayangan Mommy, Rose. Jika ketiga pria ini macam-macam, adukan saja pada Mommy."​"Daddy juga akan memastikan tidak ada yang berani membuatmu menangis lagi di mansion ini, Rose," timpal Tuan Besar Toretto dengan senyuman hangat, sebuah pemandangan langka yang membuat Leon, Adrian, dan Lucas tersenyum lega. Rosella kini benar-benar disayang oleh seluruh anggota k

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Malam Pertama

    Pekikan itu membuat pelukan erat di depan altar seketika terlepas. Rosella, trio Toretto, serta keluarga Anderson serentak menoleh ke arah pintu kapel. Di sana, Tuan dan Nyonya Besar Toretto berdiri tegap, menatap lurus ke arah altar dengan gurat penyesalan yang tersirat jelas di wajah mereka yang biasanya angkuh.​Melihat kehadiran kedua orang tuanya, Leon langsung menggeser tubuhnya, berdiri pasang badan paling depan guna melindungi Rosella di balik punggung tegapnya. Sorot mata sang CEO seketika berubah sedingin es, mengingat bagaimana masa lalu kedua orang tuanya yang menentang keras hubungan mereka hanya karena status sosial Rosella yang saat itu merupakan pelayan di mansion ini.​"Mau apa lagi Daddy dan Mommy ke sini?" tanya Leon dengan nada suara rendah yang sarat akan peringatan. "Jika kalian datang untuk mengacaukan pernikahan ini seperti dulu, silakan angkat kaki dari wilayahku."​Adrian membenarkan letak kacamatanya dengan dingin, sementara Lucas melangkah maju, ikut mengun

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Menikah

    ​"Lalu bagaimana ini?" tanya Robin dengan nada frustrasi, menatap ruang kerja yang mendadak diselimuti keheningan berat.​Leon mengetukkan jarinya di atas meja, matanya berkilat tajam sebelum akhirnya dia menyeringai tipis. "Jika kalian semua bingung, maka biar aku yang mengambil jalan tengah. Kita tidak akan mengorbankan perasaan dua orang di antara kami demi selembar kertas legalitas."​Tuan Anderson mengernyitkan alis. "Maksud Anda, Tuan Leon?"​"Secara hukum negara ini, namaku yang akan tertulis di buku nikah sebagai kepala keluarga demi meredam rumor publik dan mengamankan status anak kami," ucap Leon. "Namun, di hadapan hukum Tuhan dan keluarga Anderson maupun Toretto, Adrian dan Lucas memiliki hak yang sama denganku. Kami bertiga akan tetap mengucapkan janji suci di hadapan kalian secara privat."​Adrian dan Lucas saling pandang, lalu mengangguk setuju. Itu adalah satu-satunya cara agar tidak ada yang merasa tersisih.​"Gila... kalian benar-benar di luar nalar," gumam Robin, wa

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Bingung Memilih Yang Mana

    ​Hari-hari berikutnya di mansion Toretto berubah menjadi ajang pembuktian tak kasatmata. Tuan dan Nyonya Anderson, serta Robin yang awalnya menaruh curiga luar biasa, kini hanya bisa tertegun menyaksikan bagaimana putri mereka diperlakukan. Rosella tidak sekadar dirawat, dia diagungkan layaknya seorang putri kerajaan.​Sebagai seorang dokter, Lucas mengambil alih penuh dapur mansion. Setiap pagi, dia sendiri yang memeriksa kalori, vitamin, dan memastikan gizi Rosella terpenuhi tanpa cela. Tidak boleh ada bahan pengawet, dan semua makanan harus organik.​Sementara itu, Adrian yang biasanya kaku, mendadak memenuhi kamar Rosella dengan puluhan buku referensi terbaik seputar kehamilan dan pola asuh anak. Setiap malam sebelum tidur, dengan suara baritonnya yang tenang, sang dosen akan membacakan artikel-artikel penting itu di samping Rosella yang mendengarkan dengan patuh.​Namun yang paling membuat keluarga Anderson tercengang adalah Leon. Sang CEO menjadi pria super over-protektif. Karen

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Keputusan Yang Tepat

    ​Kata-kata mutlak dari Leon mengunci perdebatan internal mereka. Adrian dan Lucas terdiam, memendam ego masing-masing demi kesepakatan bahwa anak itu adalah darah Toretto.​Namun, keheningan di kamar mewah itu tidak bertahan lama. Di sudut ruangan, Ibu Rosella yang sejak tadi menahan tangis akhirnya melangkah maju dengan tubuh gemetar, didampingi oleh Tuan Anderson dan Robin yang wajahnya sudah merah padam menahan amarah.​"Tiga ayah?!" Robin mendesis, suaranya naik satu oktav karena tidak bisa lagi membendung rasa muak. Dia menunjuk Leon, Adrian, dan Lucas bergantian. "Kalian benar-benar sakit! Adikku bukan mainan yang bisa kalian gilir dan kalian klaim anaknya sesuka hati!"​Tuan Anderson pun ikut melangkah maju, wibawa seorang kepala keluarga Anderson memancar kuat. "Tuan Leon, kami menghormati posisi Anda sebagai kepala keluarga Toretto. Tapi ini sudah di luar batas! Rosella adalah putri kami. Kehamilannya justru membuktikan bahwa berada di sini tidak aman untuk masa depannya. Kam

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Hamil

    Kepanikan yang mencekam seketika meledak di ruangan itu. Saat Rosella masih terisak pasrah di tengah kepungan dua keluarga, tiba-tiba pandangannya menggelap dan tubuh mungilnya langsung limbung.​"Rose!" teriak mereka semua gempar.​Sebelum tubuh Rosella menghantam lantai marmer yang dingin, Leon dengan gerakan secepat kilat langsung menyambar dan mendekap tubuh lemas wanitanya. Wajah pucat Rosella dengan mata yang tertutup rapat membuat napas Leon seketika tercekat. Tanpa menunggu sedetik pun, Leon langsung menggendong Rosella dengan protektif, membawanya berlari menaiki tangga menuju kamar utama di lantai atas.​Adrian, Lucas, dan keluarga Anderson yang dilanda kepanikan luar biasa langsung bergegas mengikuti dari belakang. Begitu tubuh Rosella dibaringkan di atas ranjang king size, suasana kamar berubah menjadi sangat tegang.​Lucas yang biasanya selalu tenang dan profesional, kini malah mondar mandir tanpa memeriksa Rosella. ​"Lucas! Kamu kan dokter! Kenapa malah bengong begitu c

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status