Home / Romansa / Tawanan Tiga Tuan Muda / Lucas, Kenapa Kamu Selalu Membelanya?

Share

Lucas, Kenapa Kamu Selalu Membelanya?

Author: CitraAurora
last update Last Updated: 2026-02-02 15:31:05

Para Tuan muda berjalan menuju kamar masing-masing, sementara Rosella masih terpaku tak percaya.

Dia sungguh tak habis pikir, sofa yang masih sangat bagus itu langsung diganti hanya karena dia tak sengaja mendudukinya.

Dia menghela nafas dalam-dalam, “Sabar, Rosella.”

Saat itu juga kepala pelayan mengganti sofa santai para Tuan Muda. Untuk sofa yang lama dibuang begitu saja di depan.

Rosella yang merasa sayang ingin sekali membawa sofa itu pulang, sangat nyaman untuk istirahat ibunya di rumah.

“Lain kali jangan menyentuh barang milik Tuan Muda.” Pesan kepala pelayan penuh peringatan.

“Dan jangan buat kesalahan atau kamu tahu sendiri konsekuensinya!”

“Baik,” sahut Rosella paham, tatapan kepala pelayan yang tajam membuat bulu kuduk Rosella berdiri.

Kian hari Rosella merasa tak kuat menjadi pelayan, kesalahan yang sengaja dia lakukan tak membuatnya didepak.

Malah dia harus menanggung konsekuensi atas kesalahan yang diperbuat. Rosella diperlakukan lebih buruk, jatah makan dikurangi, jatah istirahat berkurang, dia bahkan dijauhi pelayan lain.

Pagi itu Rosella masuk ke dalam kamar Leon. Dia menghela nafas dalam-dalam melihat baju yang diletakkan seenaknya, handuk basah juga diletakkan di atas tempat tidur. Sandal juga tidak diletakkan di raknya.

“Sudah besar tapi seperti anak kecil, bahkan anak kecil pun tahu kalau handuk basah dijereng, pakaian kotor dimasukkan ke tempatnya. Sandal diletakkan di rak!” Gadis itu terus mengoceh tanpa dia tahu kalau Leon kembali lagi naik ke kamar untuk mengambil berkas.

Tangannya mengepal mendengar ocehan Rosella, selama ini tidak ada pelayan yang mengatainya, di hadapannya langsung.

“Yang bekerja tangan bukan mulut.” Suara bariton Leon menggema.

Rosella yang sedang mengganti sprei mematung, keringat dingin mulai bercucuran.

“Matilah aku,” gumamnya lirih.

Perlahan dia membalikkan badan, menatap Leon yang berjalan ke arah meja. “Maaf, Tuan.”

Tatapan mereka bertemu, Leon tak berkata apa-apa lagi, dia segera mengambil berkas lalu keluar dari kamar.

Dari pagi Rosella bekerja keras, entah kenapa kepala pelayan terus memintanya bekerja. Waktu istirahat juga terasa begitu singkat, padahal hari ini dia tidak merasa membuat kesalahan.

Apakah dia mendapatkan hukuman?

Malam itu puncaknya, tubuh yang kecil tak tahan lagi menanggung kelelahan hingga akhirnya dia tumbang.

Bug…

Di lantai atas, Rosella pingsan. Pelayan yang sedang bertugas dengan Rosella berteriak meminta tolong. Tepat saat itu, para tuan muda baru pulang.

Melihat pelayan yang pingsan mereka seolah tak peduli. Tapi salah satu di antara mereka, Lucas, yang merupakan seorang dokter berjalan mendekat.

Leon dan Adrian turut berhenti melihat Lucas menghampiri pelayan yang pingsan.

“Kamu mau apa Lucas? Biarkan saja!” Dengan dingin Leon melarang Lucas mendekati pelayan itu.

“Dia pingsan Kak, aku harus mengecek keadaannya,” sahut Lucas ringan.

Leon dan Adrian saling pandang, seolah saling mengolok Lucas. Bodoh! Pelayan pingsan bukanlah hal besar, nanti juga siuman sendiri.

Lucas mengeluarkan minyak aromaterapi yang selalu dia bawa. Dia mendekatkan minyak itu ke hidung Rosella.

Tak selang lama Rosella bangun, dia menatap Lucas yang kini di hadapannya dengan bingung.

“Tuan….” Dia segera bangkit dan menunduk, merasa sungkan.

Begitu tahu yang pingsan adalah Rosella, Leon menghela nafas kasar. “Dia lagi.”

“Sepertinya dia selalu buat masalah,” sahut Adrian.

Lucas menatap kakak-kakaknya, seolah kurang suka dengan pernyataan kedua pria itu.

“Kamu kelelahan, untuk itu istirahat dengan cukup, dan ambilah!” Lucas memberikan minyak aromaterapi miliknya kepada Rosella.

Dengan gugup Rosella menerima minyak itu. “Terima kasih, Tuan.”

Lucas tak merespon ucapan terima kasihnya. Pria itu berlalu dan masuk kamar. Sementara itu Rosella memutuskan istirahat sejenak di kamar, itupun setelah mendapatkan izin dari kepala pelayan.

Di dalam kamarnya Rosella menatap botol minyak pemberian Lucas, dia juga mengingat kembali tatapan Lucas waktu itu.

Tak terasa senyumnya mengembang. Lucas jauh lebih ramah dibanding saudara-saudaranya.

“Tuan Lucas Toretto, kamu berbeda.”

Seperti biasa di pagi hari, semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Rosella dan temannya sibuk membersihkan kolam renang, karena biasanya di hari minggu para Tuan Muda akan berenang.

Tiba-tiba kepala pelayan memanggil semua pelayan, Rosella dan teman pelayannya segera masuk.

Kepala pelayan, meminta pelayan yang kemarin laundry dan menyetrika pakaian Tuan Muda naik ke atas.

Hati Rosella bergetar hebat, dia yang kemarin mendapatkan tugas itu.

Dengan langkah bergetar Rosella naik ke atas, dia kemarin sengaja menyetrika baju Tuan Muda asal-asalan, bukan masalah besar kan? Meskipun asal-asalan tapi cukup licin.

Setibanya di atas, Leon sudah menyambutnya dengan tatapan tajam. Pria itu berkacak pinggang menatap kepala pelayan dan Rosella.

“Ini, Tuan, pelayan yang bertugas melaundry baju Anda kemarin,” jelas kepala pelayan.

Rosella hanya menunduk sambil meremas pakaiannya gelisah.

Apa dia marah?

Ketakutannya membuncah ketika kepala pelayan meninggalkannya seorang diri bersama Leon.

“Kamu lagi!” cetus Leon dingin. Pria itu melempar kemeja putih kesayangannya. “Bisa kerja tidak?!”

“Bisa Tuan?” tanya Rosella takut-takut sambil mengambil kemeja Leon.

Rosella benar-benar dibuat bingung. Kemeja itu baik-baik saja… lalu di mana letak kesalahannya?

“Tuan, apa yang terjadi?” Kembali dia bertanya. “Bukankah kemeja ini baik-baik saja?”

Leon semakin menatapnya tajam. Bajunya sangat lecek sementara Rosella tidak tahu dimana kesalahannya.

Pria itu memijat pelipisnya. Kesalahan terbesarnya adalah membeli Rosella dengan harga mahal, namun gadis itu sama sekali tidak becus bekerja. Hanya dalam beberapa waktu, ia sudah melakukan banyak kesalahan.

“Menurutmu, apa aku akan memakai pakaian lecek itu ke kantor?”

Gadis itu menatap Leon dengan tatapan membelalak, baju hanya lecek sedikit kenapa jadi masalah besar?

Kebetulan Adrian dan Lucas keluar dari kamar, mereka bersiap untuk berangkat kerja. Keduanya menghampiri Leon yang tampak murka, sementara Rosella menekuk wajahnya yang masam.

“Ada apa, Kak?” tanya Lucas.

“Tanyakan sama pelayan itu!” ujar Leon kesal.

Melihat baju yang dibawa Rosella, Lucas sudah menduga kalau ada yang salah dengan kemeja sang kakak.

Lucas melihat alat penunjuk waktu di pergelangan tangannya.

“Sudahlah, Kak, pakai kemeja lain. Kenapa harus mempermasalahkan hal kecil begini?”

Tatapan Leok segera mendarat ke arah sang adik. Sepasang mata tajamnya mimicking curiga, “Aku perhatikan kamu selalu membelanya. Ada apa?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Tercebur

    Setelah mengirim pesan, Leon kembali masuk ke kolam dengan senyum tipis yang nyaris tidak terlihat.Lucas menatap kakaknya dengan tatapan bingung. "Kak, kamu kenapa?""Aku lapar," potong Leon datar. "Itu saja."Adrian yang memperhatikan hanya tersenyum kecil. Dia tahu kakaknya berbohong.Lima belas menit kemudian, Rosella muncul dengan nampan besar berisi buah-buahan segar, sandwich, dan beberapa gelas jus dingin.Langkahnya pelan dan hati-hati, tidak ingin mengulangi kesalahan seperti kemarin.Tapi jantungnya berdebar kencang.Kenapa harus dia yang disuruh?Kedua Tuan Muda sedang beristirahat di tepi kolam. Leon duduk di kursi santai sambil memeriksa ponselnya, Adrian berbaring sambil memejamkan mata. Netra Rosella mencari keberadaan anak bungsu keluarga Toretto, perasaan tadi berenang bersama kenapa sekarang tidak ada? Rosella meletakkan nampan di meja samping kolam dengan hati-hati. "Permisi, Tuan. Ini makanan dan minuman yang diminta," ucapnya pelan sambil menunduk.Tapi dia mer

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Tatapan Yang Bertemu

    Hari Minggu pagi, mansion Toretto terasa lebih tenang dari biasanya. Para Tuan Muda biasanya tidak bekerja di hari libur, dan pagi ini mereka bertiga memutuskan untuk berenang di kolam renang pribadi yang ada di belakang mansion.Sementara itu, Rosella mendapat tugas membersihkan ketiga kamar para Tuan Muda saat mereka sedang berenang.Gadis itu berjalan ringan menuju kamar pertama, kamar Lucas.Sambil membersihkan, pikirannya terus melayang ke kejadian semalam.Hujan meteor, Lucas tertawa lepas, bintang-bintang yang indah.Tanpa sadar, senyum kecil menghiasi wajahnya. Tangannya bergerak otomatis melipat selimut, mengganti sprei, tapi pikirannya melayang jauh. "Ternyata dia suka astronomi," gumamnya pelan sambil tersenyum. "Lucu sekali ekspresinya waktu itu." Dia tertawa kecil mengingat antusiasme Lucas saat menjelaskan tentang meteor. Matanya yang berbinar, tangannya yang bergerak-gerak semangat, suaranya yang penuh gairah.Netra Rosella menatap bingkai foto Lucas, siapa sangka jas

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Hujan Meteor

    Sementara itu, Rosella berjalan gontai menuju garasi. Air matanya sudah mengering, yang tersisa hanya rasa lelah yang amat sangat.Dia membuka pintu mobil Leon, mencari-cari berkas yang dimaksud. Tapi tidak ada apa-apa di dalam mobil. Tidak ada berkas, tidak ada map, tidak ada apapun.Rosella terdiam jadi Leon memang sengaja mempermainkannya.Tangannya mencengkeram pintu mobil erat-erat. Seluruh tubuhnya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang sudah meluap-luap."Brengsek!" umpatnya pelan, suaranya serak.Ingin sekali melawan. Ingin sekali berteriak di hadapan Leon, Ingin sekali memberontak tapi apa yang bisa dia lakukan?Dia hanya pelayan. Budak yang dibeli dengan uang, tidak punya kuasa, tidak punya hak tidak punya apapun. Dengan langkah berat, Rosella kembali ke ruang kerja Leon.Tok tok tok.Rosella membuka pintu, berdiri di ambang dengan kepala tertunduk."Tidak ada berkas di mobil, Tuan," lapornya dengan suara datar, hampir tanpa emosi.Leon mengangkat alis, pura-

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Dipermainkan Leon

    Di kantor pusat Toretto Corp yang menjulang tinggi di jantung kota, Leon duduk di kursi kebesarannya. Kursi kulit hitam yang menghadap jendela kaca besar dengan pemandangan kota metropolitan. Di hadapannya, tumpukan dokumen menanti tanda tangan. Layar komputer menampilkan presentasi proposal proyek miliaran dollar. Tapi matanya menatap kosong dia tidak fokus. Pikirannya terus kembali pada gadis itu, Rosella. Wajahnya yang pucat pagi tadi. Matanya yang berkaca-kaca tapi tidak menangis. Tangannya yang gemetar saat membersihkan piring yang dia buang. Leon mengepalkan tangannya di atas meja. “Shit!” Bukan karena dia merasa bersalah. Tidak!? Melainkan kesal, ya, sangat kesal. Entah mengapa dia tidak puas dengan hukuman yang dia berikan. Dia harus lebih menderita, pikir Leon gelap. Dia harus tahu akibatnya melawan aku. "Tuan Leon?" Sekretarisnya mengetuk pintu. "Ada jadwal meeting, klien sudah menunggu." Sambungnya. "Tunda," jawab Leon dingin tanpa mengalihkan pandangan dari j

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Ibu Aku Ingin Pulang

    Lucas mengelus punggung kakaknya dengan lembut, mencoba menenangkan pria dingin itu. "Sabar, Kak. Tidak usah diambil hati."Tatapan Leon yang tadinya tertuju pada pintu kini berpaling tajam ke arah Lucas. Rahangnya mengeras."Dari kemarin pelayan itu terus membuat masalah," ucapnya dingin. "Dia harus diberi pelajaran."Ada kilatan berbahaya di mata Leon, kilatan yang biasanya muncul ketika seseorang sudah melewati batas kesabarannya."Tenang, Kak." Lucas tersenyum tipis, mencoba meringankan suasana.Dia tahu betul kakaknya tidak pernah suka ada yang membantah atau melawannya. Apalagi seorang pelayan. Dan Rosella… gadis itu sepertinya tidak tahu ke dalam lubang apa dia telah melompat.Lucas mengalihkan pembicaraan. "Ngomong-ngomong, soal rencana Mama dan Papa..." Kalimat Lucas menggantung. Leon langsung mengerutkan dahi. Dia tahu ke mana arah pembicaraan ini."Aku tidak mau dijodohkan." Suaranya tegas dan final."Bilang pada Mama, kehidupan pribadiku biar aku yang menentukan sendiri,

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Lihatlah Apa Yang Bisa Aku Lakukan!

    “Bukan membelanya, tapi kalau kamu terus berdebat dengan pelayan kita bisa terlambat,” jelas Lucas ringan.Leon menghela nafas dalam, kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil kemeja lain. Lucas memerintahkan Rosella untuk pergi sebelum kakaknya keluar. “Baik, Tuan Lucas. Terima kasih atas bantuannya,” cicit Rosella sambil menatap Lucas ragu-ragu.Pria itu tertawa kecil, “Aku tidak membantumu sama sekali,” sahutnya sambil mengibaskan tangan. Rosella tersenyum kecut. Mungkin ekspektasinya terhadap Lucas sangat tinggi. Mana mungkin seorang Tuan Muda mau membela atau membantu pelayan. ‘Rosella, sadarlah,’ batin gadis itu, kemudian pamit turun. Leon yang merasa kesal dengan Rosella meminta kepala pelayan memanggilnya, dia ingin sarapan dilayani oleh gadis itu. Melihat Rosella datang, Leon segera memerintahnya. “Kentang, steak, dan sayuran,” titahnya. Tak ingin membuat kesalahan, Rosella segera mengambil semua yang diinginkan oleh pria itu.“Silahkan dimakan, Tuan Leon.” Sendok

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status