ログイン"Oh... syukurlah. Jangan lupa kunci pintunya dari dalam, Rose. Tidurlah lagi," ucap Robin pelan. Langkah kakinya terdengar menjauh, perlahan menghilang di ujung koridor.Begitu keadaan benar-benar sunyi, Leon muncul dari balik selimut. Napasnya memburu, namun matanya masih berkilat penuh hasrat yang belum tuntas. Ia tidak membuang waktu lagi. Dengan gerakan cepat namun efisien, ia segera menyelesaikan "tugasnya", membawa Rosella ke puncak pelepasan yang membuatnya lemas tak berdaya."Tuan... sekarang tolong keluar," bisik Rosella sembari merapikan piyamanya dengan tangan gemetar. "Kalau Kak Robin balik lagi, aku tidak tahu harus bilang apa."Leon mengecup kening Rosella dengan lembut. "Tidurlah, Cintaku. Aku akan kembali ke kamarku." Dengan gerakan tanpa suara bak seorang predator, Leon menyelinap keluar, menutup pintu rapat-rapat.Rosella akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Ia meringkuk di balik selimut, merasakan sisa kehangatan Leon di kulitnya. Rasa puas dan bahagia menyeli
Leon mengecup kening Rosella, turun ke pipi, dan bibir. Mereka berpaut, melepaskan kerinduan yang telah lama dipendam. "Tuan anda ngapain kesini kalau ada yang tahu bagaimana?" Rosella melepas pautannya panik. "Semua sudah tidur." Bisik Leon. "Aku merindukan mu Cinta." Tak ingin menunda lagi leon mengendus leher Rosella dia belum berani meninggalkan jejak kepemilikannya di leher Rosella untuk saat ini, bisa-bisa Robin akan mempersulitnya. Dia membuka piyama Rosella dan langsung menikmati benda kenyal yang sudah mengeras pucuknya. "Uuh Rosella, aku sangat menginginkannya." Leon langsung melahap da da Rosella dengan rakus, dia menghisap pucuknya hingga Rosella mendesah penuh nikmat. "Uuuhh Tuan." Desah Rosella. Takut ada yang mendengar Leon menutup mulut wanita itu dengan tanagnnya. Andai saja ini di mansion miliknya pasti Rosella dibiarkan berteriak sesuka hati. "Jangan keras-keras," bisik Leon. Rosella mengangguk patuh. Leon memasukkan ibu jarinya ke dalam mukut Rosella
Malam itu, setelah para tamu undangan satu per satu meninggalkan aula megah Anderson, keheningan yang nyaman kembali menyelimuti mansion.Namun, alih-alih langsung beristirahat, ketiga Tuan Muda Toretto memilih untuk tetap tinggal. Mereka kini berkumpul di ruang keluarga pribadi keluarga Anderson yang bernuansa klasik hangat.Rosella duduk di sofa panjang, masih mengenakan gaun birunya namun mahkota kecilnya sudah ia lepaskan. Di hadapannya, Leon, Adrian, dan Lucas memperhatikannya.Anehnya, tidak ada yang berubah dari gadis itu. Status barunya sebagai putri konglomerat terkaya di Liverpool seolah tidak mempengaruhinya sama sekali."Teh hangatnya, Tuan Leon, Tuan Adrian, Tuan Lucas," ucap Rosella lembut sembari meletakkan cangkir-cangkir keramik di atas meja.Adrian menghela napas, menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Rose, kamu ini sekarang Putri Anderson. Bisa tidak panggil 'Tuan'-nya dihilangkan saja? Rasanya aneh sekali didengar sekarang."Rosella terkekeh geli, menggelen
Di aula penobatan yang masih dipenuhi gemerlap lampu kristal dan tawa para bangsawan, udara di sekitar meja keluarga Toretto justru terasa mencekam. Nyonya Toretto merasa seolah-olah setiap pasang mata di ruangan itu sedang menatap dan menertawakan kebodohannya. Ditambah lagi dengan senyum tipis ketiga putranya yang tampak begitu puas, dadanya terasa sesak karena amarah dan malu yang bercampur aduk.Tanpa pamit kepada William Anderson maupun Rosella, Nyonya Toretto menyambar tas tangannya dengan kasar."Kita pulang. Sekarang," desis Nyonya Toretto, suaranya bergetar menahan luapan emosi.Laura yang wajahnya sudah sembap hanya bisa menunduk dalam-dalam, mengekor di belakang Nyonya Toretto dengan langkah terburu-buru. Tuan Toretto, dengan rahang mengeras karena harus menanggung malu akibat ulah istrinya, ikut melangkah lebar meninggalkan aula pesta jauh sebelum acara itu usai.Kepergian mereka yang tergesa-gesa tidak luput dari perhatian Leon, Adrian, dan Lucas. Namun, ketiga Tuan M
Nyonya dan Tuan Toretto membeku di tempat mereka berdiri. Napas Nyonya Toretto memburu, sementara wajah Laura sudah kehilangan seluruh rona merahnya, berubah sepucat kertas. Di samping mereka, Tuan Toretto hanya bisa menatap tanpa berkedip, kehilangan kata-kata untuk pertama kali dalam hidupnya.Sementara itu, ketiga Tuan Muda Toretto hanya menyilangkan tangan dengan senyum tipis yang sarat akan sindiran."Kena batunya," bisik Adrian pelan, nyaris tak terdengar di antara riuhnya tepuk tangan."Mungkin ini pelajaran berharga buat Mommy supaya nggak terlalu sombong dan memandang orang sebelah mata," timpal Lucas dengan nada santai yang menusuk.Leon tidak bersuara, namun tatapan matanya yang terkunci pada Rosella memancarkan rasa bangga yang luar biasa.Dari atas podium, Rosella melangkah anggun menuruni anak tangga, tangannya masih melingkar nyaman di lengan Robin. Dengan langkah tenang dan berwibawa, mereka berdua berjalan membelah kerumunan tamu, langsung menuju ke arah meja kel
Melihat Rosella menyeret koper kecilnya melintasi halaman, Nyonya Toretto dan Laura berdiri di teras dengan senyum puas yang menghiasi bibir mereka. Bagi Laura, kepergian Rosella adalah kemenangan mutlak—hambatan terbesarnya untuk mendapatkan Leon akhirnya menyingkir dengan sendirinya."Akhirnya hama itu sadar posisi juga," gumam Laura sembari menyesap minumannya, matanya berbinar senang.Sementara itu, Rosella melangkah santai menuju gerbang luar mansion. Di sana, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam sudah menunggu. Robin turun dari kursi kemudi, langsung menyambut adiknya dengan pelukan hangat sebelum membantunya memasukkan koper ke bagasi.Mereka bergegas membelah jalanan menuju bandara untuk mengejar penerbangan jet pribadi langsung ke Liverpool.Setibanya di tanah kelahiran mereka di Liverpool, sebuah mobil klasik menjemput mereka menuju Mansion Anderson. Begitu menginjakkan kaki di halaman mansion, Ibu Rosella yang kini ingatannya telah pulih seutuhnya langsung menitikka
Rosella kembali ke kamar Leon dengan langkah yang terasa berat. Tangannya memegang obat-obatan yang diberikan Lucas, pikirannya masih berkecamuk dengan apa yang baru saja terjadi. Lucas memeluknya, mengaku cemburu dan mengklaimnya untuk sore ini. Sementara pagi tadi, Leon juga melakukan hal yang
Malam itu, ruang makan semua Tuan Muda sudah duduk di kursinya masing-masing. Leon duduk di ujung meja seperti biasa, meski wajahnya masih terlihat sedikit pucat dari demam yang belum sepenuhnya hilang. Tapi dia bersikeras untuk tidak melewatkan makan malam, meskipun Lucas menyarankan dia untuk is
Rosella mematung mendengar ucapan terima kasih dari Leon.Seorang Leon berterima kasih padanya?Pria yang selama ini hanya menatapnya dengan dingin, sekarang mengucapkan terima kasih dengan nada yang berbeda? Ditambah sebuah kecupan hangat? Rosella tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya masih lema
Lucas tersenyum miring, mencoba mengabaikan pikirannya, lalu dia menggenggam tangan Rosella lebih erat. Suasana hening menyelimuti mereka hingga dia melihat Rosella yang kurang tak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. “Kamu kenapa Rosella?” Tanyanya. “Tidak ada-apa Tuan.” jawab Rosella kikuk.







