تسجيل الدخولSetelah perjalanan melelahkan dari Liverpool, Rosella tidak membuang waktu. Sesuai janjinya di Mansion kemarin, orang pertama yang ditemui di London adalah Lucas. Rosella turun dari mobil jemputan keluarganya dengan penampilan yang jauh berbeda, mengenakan dress selutut berwarna nude yang elegan, tas branded mungil, dan aura bangsawan yang kini tak lagi dia sembunyikan.Begitu melangkah masuk ke lobi rumah sakit, perhatian semua orang langsung tertuju padanya. Rosella berjalan menuju poli spesialis tempat Lucas bertugas. Di ujung koridor, dia melihat Lucas tengah berdiri dikelilingi oleh tiga orang suster yang tampak asyik berbincang, sesekali mereka tertawa kecil mencoba menarik perhatian dokter tampan itu.Namun, begitu mata Lucas menangkap sosok Rosella yang berjalan ke arahnya, dunianya seolah berhenti. Senyum tipis yang tadi dia berikan pada para suster langsung berubah menjadi binar kerinduan yang mendalam."Sayang!" seru Lucas tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang di
Pagi itu, suasana di ruang makan Mansion Anderson terasa sedikit berbeda. Robin, dengan insting kakaknya yang tajam, duduk sembari menyesap kopi hitamnya. Matanya yang menyelidik beralih dari satu wajah ke wajah lainnya, terutama pada ketiga Tuan Muda Toretto yang tampak terlalu tenang."Rose," panggil Robin, suaranya terdengar berat. "Kamu yakin semalam benar-benar tidak terjadi apa-apa? Kakak seperti mendengar suara lagi tadi jam 3." Rosella yang sedang mengoles selai ke rotinya sempat tertegun sejenak. Pipinya merona tipis, namun ia berusaha tetap tenang. "Nggak ada apa-apa, Kak. Mungkin cuma perasaan Kak Robin saja."Leon menatap Adrian yang tersenyum senang, ternyata adiknya juga sama, meminta jatah pada Rosella pukul tiga pagi. Sungguh Adrian lebih berani ketimbang dirinya. "Kamu gila Adrian." Bisik Leon. "Belajar darimu Kak, kalau nggak nekat gak akan dapat jatah kan?" Sahut Adrian. Leon mengangkat ibu jarinya, lalu mereka menatap Lucas, pria itu seperti masih kalah star
"Oh... syukurlah. Jangan lupa kunci pintunya dari dalam, Rose. Tidurlah lagi," ucap Robin pelan. Langkah kakinya terdengar menjauh, perlahan menghilang di ujung koridor.Begitu keadaan benar-benar sunyi, Leon muncul dari balik selimut. Napasnya memburu, namun matanya masih berkilat penuh hasrat yang belum tuntas. Ia tidak membuang waktu lagi. Dengan gerakan cepat namun efisien, ia segera menyelesaikan "tugasnya", membawa Rosella ke puncak pelepasan yang membuatnya lemas tak berdaya."Tuan... sekarang tolong keluar," bisik Rosella sembari merapikan piyamanya dengan tangan gemetar. "Kalau Kak Robin balik lagi, aku tidak tahu harus bilang apa."Leon mengecup kening Rosella dengan lembut. "Tidurlah, Cintaku. Aku akan kembali ke kamarku." Dengan gerakan tanpa suara bak seorang predator, Leon menyelinap keluar, menutup pintu rapat-rapat.Rosella akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Ia meringkuk di balik selimut, merasakan sisa kehangatan Leon di kulitnya. Rasa puas dan bahagia menyeli
Leon mengecup kening Rosella, turun ke pipi, dan bibir. Mereka berpaut, melepaskan kerinduan yang telah lama dipendam. "Tuan anda ngapain kesini kalau ada yang tahu bagaimana?" Rosella melepas pautannya panik. "Semua sudah tidur." Bisik Leon. "Aku merindukan mu Cinta." Tak ingin menunda lagi leon mengendus leher Rosella dia belum berani meninggalkan jejak kepemilikannya di leher Rosella untuk saat ini, bisa-bisa Robin akan mempersulitnya. Dia membuka piyama Rosella dan langsung menikmati benda kenyal yang sudah mengeras pucuknya. "Uuh Rosella, aku sangat menginginkannya." Leon langsung melahap da da Rosella dengan rakus, dia menghisap pucuknya hingga Rosella mendesah penuh nikmat. "Uuuhh Tuan." Desah Rosella. Takut ada yang mendengar Leon menutup mulut wanita itu dengan tanagnnya. Andai saja ini di mansion miliknya pasti Rosella dibiarkan berteriak sesuka hati. "Jangan keras-keras," bisik Leon. Rosella mengangguk patuh. Leon memasukkan ibu jarinya ke dalam mukut Rosella
Malam itu, setelah para tamu undangan satu per satu meninggalkan aula megah Anderson, keheningan yang nyaman kembali menyelimuti mansion.Namun, alih-alih langsung beristirahat, ketiga Tuan Muda Toretto memilih untuk tetap tinggal. Mereka kini berkumpul di ruang keluarga pribadi keluarga Anderson yang bernuansa klasik hangat.Rosella duduk di sofa panjang, masih mengenakan gaun birunya namun mahkota kecilnya sudah ia lepaskan. Di hadapannya, Leon, Adrian, dan Lucas memperhatikannya.Anehnya, tidak ada yang berubah dari gadis itu. Status barunya sebagai putri konglomerat terkaya di Liverpool seolah tidak mempengaruhinya sama sekali."Teh hangatnya, Tuan Leon, Tuan Adrian, Tuan Lucas," ucap Rosella lembut sembari meletakkan cangkir-cangkir keramik di atas meja.Adrian menghela napas, menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Rose, kamu ini sekarang Putri Anderson. Bisa tidak panggil 'Tuan'-nya dihilangkan saja? Rasanya aneh sekali didengar sekarang."Rosella terkekeh geli, menggelen
Di aula penobatan yang masih dipenuhi gemerlap lampu kristal dan tawa para bangsawan, udara di sekitar meja keluarga Toretto justru terasa mencekam. Nyonya Toretto merasa seolah-olah setiap pasang mata di ruangan itu sedang menatap dan menertawakan kebodohannya. Ditambah lagi dengan senyum tipis ketiga putranya yang tampak begitu puas, dadanya terasa sesak karena amarah dan malu yang bercampur aduk.Tanpa pamit kepada William Anderson maupun Rosella, Nyonya Toretto menyambar tas tangannya dengan kasar."Kita pulang. Sekarang," desis Nyonya Toretto, suaranya bergetar menahan luapan emosi.Laura yang wajahnya sudah sembap hanya bisa menunduk dalam-dalam, mengekor di belakang Nyonya Toretto dengan langkah terburu-buru. Tuan Toretto, dengan rahang mengeras karena harus menanggung malu akibat ulah istrinya, ikut melangkah lebar meninggalkan aula pesta jauh sebelum acara itu usai.Kepergian mereka yang tergesa-gesa tidak luput dari perhatian Leon, Adrian, dan Lucas. Namun, ketiga Tuan M
Rosella terdiam, jantungnya berdebar sangat kencang mendengar perkataan Adrian. Kakinya seolah tidak mau bergerak, tapi tangan Adrian yang menariknya dengan lembut tapi pasti membuatnya mengikuti. Adrian menutup pintu, lalu berbalik menatap Rosella yang berdiri dengan tubuh gemetar."Kamu takut?"
Rosella menggeleng pelan, tangannya mencengkeram bahu Lucas dengan erat. "Saya takut."Lucas tertawa lembut mendengar jawaban jujur itu. Tangannya berhenti bergerak, menatap wajah Rosella yang memerah dengan tatapan penuh kelembutan."Takut kenapa, sayang?" tanyanya sambil mengusap pipi Rosella den
Rosella kembali ke kamar Leon dengan langkah yang terasa berat. Tangannya memegang obat-obatan yang diberikan Lucas, pikirannya masih berkecamuk dengan apa yang baru saja terjadi. Lucas memeluknya, mengaku cemburu dan mengklaimnya untuk sore ini. Sementara pagi tadi, Leon juga melakukan hal yang
Malam itu, ruang makan semua Tuan Muda sudah duduk di kursinya masing-masing. Leon duduk di ujung meja seperti biasa, meski wajahnya masih terlihat sedikit pucat dari demam yang belum sepenuhnya hilang. Tapi dia bersikeras untuk tidak melewatkan makan malam, meskipun Lucas menyarankan dia untuk is







