LOGINRosella menuruni tangga dengan langkah yang sangat pelan, satu tangan di railing. Diantara pahanya benar-benar sakit, hingga jalannya agak pincang. Di meja makan Adrian sudah duduk dengan kopinya. Lucas di seberangnya dengan ponsel di tangan.Keduanya menoleh begitu mendengar langkah kaki Rosella.Rosella duduk di kursinya dengan gerakan yang sangat hati-hati, tidak mengangkat wajahnya, tangannya langsung meraih cangkir teh yang sudah disiapkan."Rosella." Suara Lucas keluar pelan. "Kamu kenapa?"Adrian sudah meletakkan kopinya, menatap Rosella dengan ekspresi yang membaca terlalu banyak hal sekaligus.Rosella tidak menjawab, dia masih bergeming masih takut dengan kejadian semalam. Tak selang lama, langkah kaki terdengar di tangga. Leon turun, duduk di kepalanya meja, mengambil kopinya seperti biasa."Semalam dia pulang bersama pria lain." Kata Leon tanpa mengangkat matanya dari cangkir. "Jam sebelas malam." Imbuhnya. Lucas dan Adrian menatap Leon, lalu menatap Rosella.Rosella ma
“Tuan apa kita ikuti Nona Rosella?” Tanya sopir Leon "Tidak perlu." Leon menghentikannya dengan dua kata. Sopir itu mengangguk, masih menunggu perintah Leon selanjutnya. Leon menatap mobil Hardan yang sudah melaju keluar dari area kampus dari balik kaca jendela, rahangnya mengencang dengan cara yang membuat siapapun di dekatnya tahu bahwa lebih baik tidak berbicara apapun saat ini."Pulang." Titahnya datar."Baik, Tuan."Di dalam mobilnya yang melaju kembali ke mansion, Leon tidak mengeluarkan ponselnya, tidak membuka berkas kerjanya yang biasanya selalu terbuka di perjalanan, hanya duduk dengan tangan bertumpu di lutut menatap jalanan London yang mulai ramai di jam pulang kerja.Dia menunggu di rumah dengan dada yang bergemuruh. Menjelang malam Leon mengecek ponselnya, tidak ada pesan dari Rosella.Jam delapan lewat, ponselnya bergetar. Buru-buru Leon membukanya, bukan pesan dari Rosella, tapi notifikasi dari bank, kartu yang dia berikan ke Rosella baru saja menarik sejumlah uan
Malam itu Rosella berdiri di depan cermin kamarnya, menatap bayangannya sendiri.Gaun tidur tipis berwarna krem sudah terpasang, rambutnya dilepas, dan dia sudah memutuskan untuk tidak memakai apapun di baliknya.Dia menghela nafas, sebentar lagi dia akan dieksekusi. "Sudahlah toh rasanya juga enak." Gumamnya ke bayangannya sendiri.Rosella berjalan keluar, berdiri di depan pintu Adrian lalu mengetuknya. "Masuk."Adrian sudah ada di dalam, duduk di tepi ranjangnya dengan buku yang sudah diletakkan tertutup di meja nakas, artinya dia memang sudah menunggu dan sudah tidak berpura-pura sibuk dengan hal lain.Matanya naik ke Rosella begitu pintu terbuka, turun sekali lagi naik lagi. "Tutup pintunya." Katanya.Rosella menutup pintu tak lupa menguncinya.Adrian menepuk sisi ranjang meminta Rosella agar segera naik. “Sudah siap dengan hukumanmu?” Tanyanya. “Memang kalau belum siap saya dibebaskan Tuan?” Tanya Rosella. “Tidak, malam ini kamu milikku.” Bisik Adrian sambil membuka kaki Ro
Usai menerima panggilan dari Lucas, Rosella terduduk lemas di bangku taman."Aku dipanggil." Kata Rosella pelan."Pergi sana." Ane mendorongnya pelan. “Bagaimana kelas berikutnya?” Rosella bingung. “Sepertinya dosen ga masuk, mungkin hanya memberikan tugas saja.” Bujuk Ane. Rosella menarik nafas panjang, merapikan bajunya, dan berjalan ke gedung dengan langkah yang teratur meski di dalam dadanya tidak ada satupun yang teratur.Di depan pintu ruang Adrian dia berhenti, mengambil nafas kemudian mengetuk pintu. "Masuk."Rosella mendorong pintu dengan jantung berdebar. Tiga pasang mata langsung tertuju padanya begitu pintu terbuka, dan Rosella butuh satu detik ekstra untuk tidak langsung berbalik keluar.Rosella masuk, menutup pintu di belakangnya, dan berdiri di tengah ruangan itu dengan tangan rapi di depan."Saya minta maaf." Katanya duluan sebelum siapapun berbicara.Tidak ada yang merespon, sehingga Rosella semakin ketakutan. "Tadi saya berbicara tanpa berpikir Tuan." Lanjutnya
Rosella menoleh ke samping, Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya dalam satu detik itu.Leon berdiri paling kiri dengan kedua tangan bersilang di dada, ekspresinya sangat terkontrol tapi di matanya ada sesuatu yang berkilat yang Rosella kenal terlalu baik.Di tengah, Adrian dengan posisi yang sama, sudut bibirnya naik tipis ke satu sisi dengan cara yang sudah sangat Rosella hafal dan selalu menandakan sesuatu tidak baik untuk dirinya.Lucas di sisi kanan, ekspresinya paling tenang dari ketiganya tapi justru itu yang paling berbahaya, ketiganya menatap Rosella dengan senyum yang sangat licik.Rosella mundur selangkah, kakinya menyentuh kaki Ane di belakangnya.Dia menoleh ke sahabatnya dengan wajah yang sudah kehilangan semua warna. "Matilah aku Ane." Bisiknya.Ane membalas dengan ekspresi yang sangat tidak membantu."Aku tidak tahu harus bilang apa, Rose."Di depannya Angel dan kelompoknya melihat situasi itu dengan ekspresi yang berubah dari puas menjadi sangat puas, kare
Ane berbaring di sisi ranjang menatap langit-langit dengan ekspresi seseorang yang sedang mencerna terlalu banyak hal sekaligus. "Rose aku iri sama kamu." Suara Ane keluar setengah meratap. "Dengan sepenuh hatiku, aku iri."Rosella menoleh ke arahnya dengan ekspresi yang sangat datar."Kamu mau gantiin posisiku?"Ane diam beberapa saat. "Tidak." Jawabnya akhirnya. "Tapi tetap iri."Rosella tertawa kecil, membalik posisinya, kembali ke laptopnya."Sudah, ayo lanjut lagi."Makan malam datang ke kamar seperti yang Lucas bilang, dua porsi yang lengkap, dan mereka makan sambil mengerjakan makalah sampai akhirnya selesai menjelang pukul sepuluh.Ane pulang dengan taksi yang dipesankan kepala pelayan, melambaikan tangan ke Rosella dari balik jendela kendaraan dengan ekspresi yang masih menyimpan semua yang dia lihat dan dengar malam itu.Pagi berikutnya Ane sudah ada di kampus lebih awal, menunggu Rosella di depan gerbang."Cepat." Ane menarik lengannya. "Kita cek tanaman dulu sebelum kela
Leon dan Rosella masih duduk di bangku taman dalam keheningan yang canggung. Tidak ada yang dibicarakan lagi setelah Leon memintanya berhenti bertanya.Lima belas menit berlalu terasa seperti berjam-jam.Leon melirik jam tangannya, lalu berdiri. "Sudah cukup. Kita pulang."Rosella mengangguk meski
Leon berdiri dengan kertas resep masih tergenggam di tangannya. Pikirannya berputar, sesuatu yang jarang terjadi pada Leon Toretto yang selalu tegas dan pasti dalam setiap keputusan.‘Hibur dan bujuk dia agar bisa keluar dari traumatis itu’Kata-kata Dr. Arthur terus berputar di kepalanya, bagaiman
Rosella terdiam, wajahnya memerah mendengar pertanyaan Adrian yang begitu blak-blakan.Mulutnya ingin menolak, dan mengatakan tidakTapi tubuhnya menginginkan hal lain, tanpa sadar, kepalanya mengangguk pelan nyaris tak terlihat. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang penuh kemenangan sekal
"Lucas, tidak perlu. Kamu yang memeriksa Rosella," ucap Leon sambil menyeka bibirnya dengan serbet dengan tatapan yang tetap datar.Lucas terkejut mendengar penuturan Leon, "Kenapa? Aku dokter, Kak. Sudah tugas ku memeriksa…""Aku sudah meminta kepala pelayan memanggil dokter," potong Leon dengan n







