Home / Romansa / Telanjur Khilaf / Santri Nakal Itu Bernama Ayu Samira

Share

Santri Nakal Itu Bernama Ayu Samira

Author: Zee Jofany
last update Petsa ng paglalathala: 2021-06-03 16:48:46

Membahas Angela tak akan adahabisnya, dia bagai rumus matematika. Sulit dipecahkan isi pikirannya, kenapaselalu mengetahui setiap kesalahan yang kuperbuat di luar rumah? Berbohong punpercuma, akan tetap ketahuan. Apa kepalanya berisi metal detektor?

“Dari mana?” tanya ini selalumenyambut kepulanganku, tanpa senyum sejuk yang menghalau lelah. Seharusnya sebagai istri, Angela lebih mempelajari teknik memanjakan suami. Bukan meningkatkan performa menindas pasangan.

Aku tahu, setiap manusia terlahirsebagai pemarah andal. Adakah avatar yang dinobatkan sebagai pengendali emosi?Jika ada, aku akan datangi agar Angela lupa pada nada untuk marah. Bosan setiap malam mendapat sambutan khusus.

Dia tidak cerewet, tetapi sedikit menikam setiap kali melontarkan kata-kata. Tak heranjika lidah mampu membunuh tanpa perlu menyentuh orang lain, cukup menjadi pemilik kosakata sadis dengan pemilihan diksi paling buruk. Iya, seperti Angela! Dia begitu ahli dalam menebas perasaandan melukai harga diri seorang pria.

“Apa aku harus selalu melaporkan semuanya padamu, kamu tukang sensus?”Laki-laki sejati jangan mau diatur seorang wanita, akan hilang harkat dan martabatnya. Mereka terlalu memantau kegiatan tanpa mau memberi kebebasan, selalu berpraduga seolah setiap langkah yang dilakukan akan menuju Neraka. Padahal hanya bermain game bersama teman-teman di Puskesmas.

Oh iya, kisah kali ini terjadi di tahun 2017. Kita flash back dulu. Jadi, kalian akan tahu betapa merintihnya hatiku menjadi suami yang terdzolimi. Jangan hanya karena satu kubu, lalu menyimpulkan permasalahan berat sebelah. Faktanya, Angela memang super posesif dan impulsif sebagai seorang istri.

“Silakan, aku tak mau mendikte untuk urusan rumah tangga. Namun,kamu bernapas bukan hanya untuk bersenang-senang, tapi ada banyak hal memuakkan yang perlu dilalui. Kenapa aku yang harus mengecap pahitnya pernikahan, sementara kamu kebagian yang manis-manis?” Angela mulai meracau hal tak masukakal yang sama sekali sulit dipahami, “Apa setelah kamu memberi jatah uang detergen, lalu bebas pulang subuh? Di sini bukan kontrakan, ada mertuamu yang memerhatikan. Setidaknya jangan tampakkan kebusukan karakter pada mereka.”

Benar bukan? Sulit berkaca diri sedangkan untuk mengomentari orang lain, Angela begitu andal. Mengapa lidahnya sangat cepat menanggapi kesalahanorang sedangkan dia belum tentu bersih dari kesalahan? Menjadi istri saja tak becus, rumah masih berantakan saat aku pulang.

Begitu mudahnya  mengomentari orang lain, tanpa berkaca terlebih dahulu. Ketika aku

berbuat salah, dia terus saja mengomentari. Bahkan, sekecil apa pun akan terusia gali sampai besar.

Betapa berbahayanya anggota tubuh tanpa tulang ini, jika dibiarkan akan berbuah fitnah. Parahnya, Angela tak sadar dengan semua yang ia lontarkan, seolah aku memangtelah melakukan hal keji di luar sana. Apa salahnya bermain bersama rekan kerja?

“Apa lagi yang aku lakukan sekarang, kenapa kamu begitu mudah menjudge seolah suamimu initak memiliki celah kebaikan? Kamu mendengarkan omongan orang kembali? Mereka melancarkan fitnah apa lagi?”

“Siapa pemilik akun Muhammad Zulfan?” tanya Angela menampar kesadaran sekali lagi, “Dia kekasih Ayu Samira, bukan? Anak magang dari pondok pesantren yang legendaris di kota ini? Haruskah kulakukan aksi serupa dengan dua tahun lalu?”

Sial! Kenapa lagi dengan Angela? Apa dia membenamkan semacam cip rahasia dalam diriku sampai semua kegiatan di luar rumah mampu diketahui dengan baik? Aku baru memulai, masa harus mengakhiri kesenangan bersama Ayu?

“Hati-hati dengan penilaianmu, dia hanya anak pondok yang sedang magang. Tak tahu apa yang kamu dengar, jangan melakukan hal bodoh padanya.”

“Kenapa, kamu sudah jatuh cinta karena sukses membuat dia kagum dengan tulisanmu?Berani-beraninya kamu memlagiat cerpen dan puisi milikku untuk merayu anak SMKlagi? Apa kamu punya kelainan mental?”

Lidah seharusnya digunakan untuk mengucap kebaikan, bukan malah dimanfaatkan sebagai alat dalam mengomentari kesalahan orang lain. Ternyata benar, lidah lebih tajamdari pedang.

Ia bisa membunuh, merusak hubungan, menjauhkan dari yang dekat, dan memisahkan dari hal baik. Bahkan lebih buruknya lagi, akan mampu menghapus kebaikan yang pernahdilakukan. Mungkin saja Angela kelebihan muatan pahala sehingga mau menyeimbangkannya dengan dosa.

Lagi pula, dari mana dia tahu jika akun palsu itu adalah milikku? Kenapa Angela harus mengenal setiap bahasa tulisku dengan baik? Ia hanya seorang istri yang selama 24 jam kali tujuh hari berkutat dengan tulisan, mengarang indah tanpa berpikir normal.

Bukankah pekerjaan itu sia-sia? Menulis sesuatu yang hanya ada dalam rahim imajinasi, melahirkan kisah-kisah manis penuh kepalsuan. Dialah sosok berkelainan mental sesungguhnya, melampiaskan setiap kesalahan padaku. Bersikap seolah aku adalah antagonis paling tak berperasaan!

Angela memang ahli dalam menarik kesimpulan sesuai apa yang ia pikirkan, menempatkan suaminya pada situasi rumit. Penuh intrik dan jebakan, seakan setiap tindakanku merupakan kekeliruan tak termaafkan. Menjadikan seorang Dyo sebagai bulan-bulanan dosa, munafik sekali!

Aku hanya menjadikan Ayu sebagai kekasih biasa, tak berbuat sejauh yang kulakukan bersama Cindy. Dia lebih naif, belum tersentuh. Tahu sendirilah pergaulan anak pondok,hanya perlu dipancingi kisah-kisah romantis milik istriku. Setidaknya, tulisan Angela memiliki manfaat, mampu menggugah hati pembaca.

Bukankah aku membantunya mengenalkan karya yang ia tulis? Seharusnya berterima kasih, malah menuduh suami yang baik ini sebagai plagiat. Sangat sulit dinalar, memberikan setiap penilaian buruk ketika belum melihat dengan mata kepala sendiri. Dia menilai berdasarkan praduga saja, egois!

“Perlu aku laporkan pada bagian keamanan pondok pesantren atau datang langsung menghadap pengasuh dan membeberkan bukti chat mesra kalian?”

“Kamu jangan gila, belum puas merusak masa depan Cindy? Dia dibully karena ulahmu.”

Angela tertawa lepas, benar-benar perempuan licik. Pasti bangga dia, sukses membuat hidup orang lain sengsara. Bahkan, Cindy dikeluarkan sebelum sempat ikut ulangan. Kasihan bukan? Hanya demi ambisinya, ia rela melibas takdir perempuan lain.

“Masa depan seseorang itu bergantung dengan amal dan perbuatan di masa lalunya, enggak mungkin menyemai padi tumbuh benalu. Dia sudah memanen hasil dari yang tertanam, apa kamu belum sadar jika setiap konsep sebab akan berakhir menjadi akibat?”

Jadi, dia mengutukku sekarang? Mencoba menakut-nakuti dengan karma, picik sekali! Dia yang membuat hidup Cindy berantakan, masih mencari banyak alasan guna menempatkan gadis itu di posisi paling bersalah.

“Selama posisiku benar, akan kupertahankan apa yang menjadi hak. Namun, ketika yang bersangkutan tak layak dipertahankan sebagai kewajiban mutlak di sisiku, pasti kulepas tanpa berpikir panjang.”

“Kamu mengancamku?”

“Kamu ada sisa kepingan otak di dalam batok kepala?” balasnya dengan begitu anggun sembari menghadiahkan tatap lembut, “Selalu ada kesempatan paling akhir, Mas. Bukan karena aku mencintaimu dengan bodoh, tetapi pernikahan ini masih kuhormati kesakralannya. Dua kali kamu bertingkah binatang, kuanggap Tuhan sedang menguji kelanggengan hati. Bertobatlah, masih ada waktu memperbaiki kesalahan demi kesalahan. Jangan menunggu murka Tuhan, karena kita tak tahu kapan takdir akan menjungkirbalikkan keadaan.”

Lagi-lagi hanya menakuti, dia pasti cuma menggertak. Menakuti seolah tahu segalanya, manamungkin memergoki kami. Sangat mustahil. Sebab, aku dan Ayu menjalin hubungan diam-diam tapa meninggalkan jejak di f******k.

Tunggu, kenapa dia tahu tentang akun kloninganku sekali lagi? Apa dia menyadap ponsel milikku? Sebab, mustahil mengetahuinya tanpa menemukan bukti akurat. Siapa di balik semua kepintarannya itu?

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Telanjur Khilaf   Usai Berpisah

    Tidak ada satu pasangan pun yang menginginkan perceraian, apalagi aku yang belum pernah membayangkan mengenai fase tersebut. Namun, jika kondisi tak memungkinkan lagi, mau tidak mau semuanya harus dihadapi. Setidaknya hubungan sehat yang harus didapatkan olehku.Sebelum memutuskan untuk menjalani perceraian, aku sudah mengetahui risiko yang bisa didapat. Bukan hanya rasa sedih dan sakit, ternyata juga memicu terjadinya gangguan mental. Jadi, jangan sampai meremehkan mengenai situasi ini.Kadang aku pun sulit menerima kenyataan mengenai situasi kami, aku dan Dyo tak lagi bersama. Oleh karena itu, sering lupa tentang status diri. Hanya saja, tak sampai merasa sangat tertekan oleh masa-masa sulit ini.Gangguan kesehatan mental pasca perceraian jelas terasa, pergumulan psikologis pun menggangguku. Terkadang aku merasa terisolasi dari diri sendiri, bahkan keluarga, dan teman-teman. Mengalami rasa tidak aman dalam bertindak, bahkan apa pun yang dilakukan terasa tidak biasa.Akibatnya, pikir

  • Telanjur Khilaf   Memaafkan

    Aku merasa sedikit lebih lega setelah bertemu Aira, setidaknya beban yang begitu berat tak dirasakan seorang diri. Namun, ketika berada di rumah seorang diri justru menjadikan suasana hati semakin memburuk. Perasaan sedih begitu mendominasi.Aku menghela napas dengan berat, mengingat setiap detail kejadian yang terjadi beberapa bulan terakhir. Semua terangkai begitu sempurna, seolah memang sudah direncanakan dengan matang. Hera memang bukan lawan yang bisa dianggap enteng, setidaknya wanita itu memiliki sisi tak tahu malu yang sangat besar.Keasyikannya dalam merenungi nasib terganggu oleh getar ponsel genggam yang diletakkan di saku celana, “Iya, ini aku.”Rupanya Edho menghubungi kembali melalui panggilan pribadi, aku berdiri untuk mencari tempat paling aman dalam mengobrol. Memasuki kamar yang tak terpakai, tetapi sering kugunakan saat mengerjakan tulisan. Ruang kerja rahasia yang berada di bagian belakang bangunan.“Katakan saja, aku akan mendengarkan.” Aku berkata sambil mengunci

  • Telanjur Khilaf   Berhak Bahagia

    “Angela!” seru seorang perempuan berusia sekitar 36 tahun, salah seorang sahabat terbaik yang kumiliki menghampiri.Aira yang sudah membaca pesan dari teman terbaiknya menyambut dengan dekap hangat, penguat di kala masalah membelit sempurna. Aku memang tidak setuju saat wanita tersebut memutuskan menikah dengan lelaki asing, tetapi posisiku kala itu memang bukan sosok yang bisa memilih hal terbaik. Apalagi musibah yang menimpa, tak bisa dibayangkan betapa mengerikan situasi hidupnya saat itu.“Mereka berkolaborasi dengan sempurna, aku sampai terkecoh dibuatnya.” Aku melaporkan temuan yang sangat mengejutkan, dibanding kembali pulang. Lebih memilih mengutarakan semua kebejatan keluarga suaminya pada sang sahabat.Seharusnya aku mendengarkan apa yang dikatakan oleh Aira, tidak menyimpan kepercayaan pada Dyo. Semua orang yang semula begitu jahat mendadak baik, tentu ada niat terselubung. Aku terlalu naïf untuk kehidupan nyata, padahal sangat ahli menciptakan kisah super halu yang mengeju

  • Telanjur Khilaf   Mencari Kesalahan

    “Angela, temui aku. Ada yang harus kamu lihat sendiri, ini tentang suamimu.” Kalimat dari Edho inilah yang membuatku menunda pergi ke rumah orang tua Dyo, mengubah rute menuju taman kota.Di sana, seorang pria tampan tengah melambaikan tangan sebagai isyarat keberadaannya, dan aku tersenyum sembari mendekat. Langsung kusambar tablet di tangan Edho, memeriksa semua hasil temuan teman terbaik. Beberapa poin cukup dipahami, tetapi sisanya hanya dilewati karena tak mengerti.“Jelaskan saja garis besarnya,” ujarku pada rekan yang hanya mengangguk patuh, “kirim gambar-gambar yang berhasil kamu ambil dari media sosial.”Edho kembali mengangguk sebelum membuka mulut, “Suamimu sedang dalam pengawasan serius, sepertinya pimpinan pabrik sudah menemukan hal-hal mencurigakan terkait penggelapan dana. Hanya menunggu semua bukti terkumpul, apa informasi ini berguna?”Aku hanya terdiam, akan lebih nyaman jika segera mengetahui mengenai kebenaran tentang perselingkuhan Dyo bersama Hera. Akan tetapi, m

  • Telanjur Khilaf   Tak Pernah Jera

    Jika bukan karena ingin memberikan pembalasan setimpal, aku sudah menggugat cerai. Sebab, apa lagi yang bisa dipertahankan dari rumah tangga menjjikkan ini? Dyo bahkan sudah menodai pernikahan kami sejak lama tanpa otak.Aku jelas merasa jijik setiap kali melihat wajah Dyo, tetapi untuk sementara memang harus menahan hingga waktu balas dendam tiba. Sekuat apa pun mencoba terlihat baik-baik saja, tetap perasaan kesal mendominasi sehingga tak mampu menyingkirkan jarak yang sengaja dibuat sejak pagi. Bagaimana bisa tersenyum mesra ketika kenyataan buruk menampar kesadaran?‘Jangan pikir aku bodoh, apa pun bisa kulakukan demi sakit hati yang kalian buat. Lihat saja!’ Aku bergumam dalam batin sembari meluruskan tatap pada pria yang sedang menikmati sarapan, benar-benar tak punya otak sampai masih bisa tetap santai di depanku.Akting paripurna yang begitu bagus, aku memuji kemahiran Dyo dalam menyembunyikan semua perbuatan busuknya. Bahkan, sampai memiliki anak kecil bersama gundik yang ter

  • Telanjur Khilaf   Masih Dipantau

    Semua tak hanya sampai di sana, sekalipun pelabrakan menuai hasil maksimal. Tetap saja dua manusia menjijikkan itu justru menjadi sangat mengerikan, menjelma iblis tanpa mau peduli pada perasaanku. Bahkan, Hera sengaja meneror agar aku mengetahui aksi mereka.“Halo …?” Aku sengaja mengeluarkan suara meskipun curiga, “Mas, ada apa?”Fokus pecah begitu saja ketika menyadari masih tentang panggilan dari nomor ponsel Dyo, tanpa obrolan. Hanya grasak-grusuk suara benda bergesekan, kulirik jam yang tertempel di dinding. Pukul satu malam, tetapi desau napas tak teratur jelas menunjukkan aktivitas mencurigakan di seberang sana.Ini bukan sekali, aku sudah menerima panggilan demikian setiap kali suami tercinta pamit dalam perjalanan bisnis. Bahkan, ini yang terparah. Apa Dyo sedang menonton film dewasa untuk menggodanya?Biasanya memang lelaki tampan tersebut memiliki cara konyol dalam mengutarakan kerinduan, sekalipun pernikahan telah berusia 7 tahun. Akan tetapi, pria yang kunilai baik selal

  • Telanjur Khilaf   Bonus Shift Malam

    Ini di tahun yang sama, kejadian 2017 lalu. Ketika aku masih bersama Ayu, santri asal pondok pesantren ternama yang dianggap alim nan lugu itu sudah dilepas segelnya oleh Dyo Kusuma. Bangga? Jelas, dong! Usia 28 tahun masih laku pada gadis.Sebenarnya malas sekali untuk dinas malam, tetapi

  • Telanjur Khilaf   Kisah dari 2017

    Masih dari tahun 2017, saat aku sudah bekerja di salah satu Puskesmas. Memang ada seorang gadis cantik yang dekat denganku, tetapi kami hanya sebatas saling menggenggam tangan. Sebab, dia anak pondok yang menjaga sikap untuk jauh dari khilaf.Kami membahas hal seru di setiap tulisan yang k

  • Telanjur Khilaf   Kisah dari 2005

    Ini kisah tragisku tahun 2015, ya. Kala itu, setelah ketahuan selingkuh dengan Cindy Elfareza. Sikap istriku terlalu tenang, tetapi kalian tahu peribahasa bukan? Tentang air yang beriak tanda tak dalam dan akan tenang dalam menghanyutkan, Angela ada pada poin kedua.Tanpa riak, tandanya mu

  • Telanjur Khilaf   Flashback On - Cindy Elfareza

    Aku bahkan tak berpikir tentang perceraian, kenapa Angela bisa sejauh itu? Oke, aku salah. Sering berbuat curang, mengkhianati satu-satunya perempuan yang selalu ada untukku selama ini. Semua itu hanya iseng, berpikir benar-benar kehilangan istriku bukan bagian dari rencana terstruktur di kepala.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status