Share

Bab 3

Author: Pipin
last update publish date: 2026-09-22 19:53:58

"Ya ampun... kangen banget sama rumah ini," bisik Lea pelan. Jarinya bergetar lembut saat mengusap debu tipis di atas bingkai foto kedua orang tuanya yang terpajang di sudut ruang tamu.

Di kehidupan pertamanya dulu, beberapa tahun setelah sang ayah mendekam di penjara, pria itu mendesaknya untuk menjual rumah ini dari balik jeruji besi.

“Kamu butuh biaya hidup dan pengurusan gelar hukummu, Lea. Belajar ilmu hukum itu mahal, dan kamu harus punya pegangan hidup. Jual aja rumah kita. Sertifikat dan segalanya sudah Ayah balik nama atas namamu,” kenang Lea mengingat suara serak ayahnya dulu. Ayahnya bahkan telah menyiapkan seluruh dokumen itu jauh-jauh hari sebelum tragedi terjadi.

Kala itu, Lea yang putus asa akhirnya menjual tanah ini. Pemilik barunya tanpa ragu meratakan bangunan penuh kenangan tersebut hingga rata dengan tanah, lalu mengubahnya menjadi kompleks ruko beton yang dingin.

"Sayang banget... padahal sepuluh tahun ke depan, harga tanah di area ini bakal melonjak berkali-kali lipat," gumam Lea dengan senyum tipis.

Namun, senyum itu perlahan memudar, digantikan oleh genangan air mata yang membasahi pelupuk matanya. Bagi Lea, hal yang paling menyakitkan dari kehilangan rumah ini di masa depan bukanlah soal nominal uang. Melainkan kenyataan bahwa ia kehilangan satu-satunya tempat yang menyimpan jejak tawa, kehangatan, dan kenangan manis masa kecilnya sebelum keluarganya dihancurkan oleh fitnah.

"Kali ini enggak akan ada yang dijual. Aku bakal buktikan Ayah enggak bersalah, dan rumah ini bakal tetap jadi tempat kita pulang."

Namun, keputusasaan mendadak menyelip di dadanya.

Di kehidupan pertamanya dulu, Lea bahkan sampai merintis karier mati-matian di kepolisian demi membuka kembali kasus ini. Tapi selama hampir 20 tahun ia menyelidiki secara independen di masa depan, kasus ini selalu membentur tembok tebal.

Dead end.

Lea mengacak rambutnya frustrasi. "Ya ampun... apa yang terlewati olehku? Apa ada petunjuk yang kuabaikan?"

Sebuah nama mendadak melintas di kepalanya.

Paman Heri.

Paman Heri—adik kandung ibunya—menghilang tanpa jejak sejak Lea masih duduk di bangku SMP. Dulu, Ayah bercerita bahwa Paman Heri kabur karena terlilit utang judi yang menumpuk. Pria itu bahkan nekat menjual rumah peninggalan almarhumah istrinya hingga membuat keluarga pihak istrinya mengamuk.

Sejak saat itu, Paman Heri lenyap bagai ditelan bumi. Bahkan di hari pemakaman ibunya sendiri, pria itu sama sekali tidak muncul.

Apakah Paman Heri masih hidup? Atau dia sengaja dilenyapkan?

Lea bergegas membuka laci meja kerja ayahnya. Ia menggeledah beberapa buku catatan tua milik pria itu. Tidak ada dokumen mencurigakan, hanya berlembar-lembar resep masakan yang ditulis tangan dengan rapi—mengingat memasak adalah hobi terbesar ayahnya.

"Aneh," gumam Lea. "Bagaimana bisa semua bukti tertutup begitu rapi kalau Ayah tidak sedang berhadapan dengan orang besar? Kasus ini pasti ada hubungannya dengan masa lalu Ayah."

Di masa depan dulu, ayahnya selalu membisu tiap kali Lea mencoba menggali lebih dalam dari balik jeruji besi.

“Sudahlah, Nak. Ayah sudah pasrah. Ini bukan masalah yang bisa kamu selesaikan cuma berbekal pangkat,” bisik ayahnya kala itu dengan tatapan muram.

“Tapi Ayah! Sedikit lagi! Kasih tahu aku, siapa sebenarnya yang terlibat?!”

Ayahnya terus menyembunyikan kebenaran demi melindungi Lea. Dan karena terus-menerus ditolak, Lea akhirnya menyerah menanyakannya. Namun sekarang, jika ayahnya tetap bungkam, maka Paman Heri adalah kunci satu-satunya.

Sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, Lea mulai memikirkan nasib pendidikannya.

Di kehidupan pertamanya, ia adalah mahasiswi Jurusan Hukum penerima beasiswa prestasi. Namun, akibat ulah Joshua yang menyebarkan gosip di malam pesta kelulusan kampus, gelombang protes dari para mahasiswa merebak. Pihak kampus mendesak agar beasiswa semester akhir Lea dicabut karena tak sudi meluluskan mahasiswa bertitel 'anak pembunuh'.

Dulu, Lea muda menangis bombastis, memohon pada pihak rektorat agar mempertimbangkan kembali keputusan itu, tapi hasilnya nihil. Ia lalu mencoba melamar magang dan kerja paruh waktu di mana-mana, namun semua kantor hukum dan perusahaan menolaknya setelah tahu latar belakang kerluarganya.

Hingga akhirnya, berbekal nekat dan otak encernya, Lea belajar ilmu komputer dan hacking secara otodidak. Selama satu tahun menganggur, ia berhasil menguasai seluk-beluk IT dan menghasilkan uang yang lumayan sebagai freelancer di dunia maya.

Sayangnya, begitu memasuki masa penyelesaian studi—saat ia akhirnya bisa membayar biaya wisuda sendiri—pesanan proyek IT-nya mendadak sepi, yang berujung pada keputusan tragis menjual rumah ini.

Lea tersenyum tipis, meraba keningnya. "Skenarionya sudah beda sekarang," bisik Lea dengan mata berbinar tajam. "Langkah pertama besok pagi... aku harus ketemu Ayah di kantor polisi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 10

    Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri hari itu sesak oleh kilatan lampu kamera wartawan dan bisik-bisik tegang para pengunjung. Di kursi terdakwa, Brian Aditama duduk tenang dengan kemeja putih polos dan rompi tahanan.Lihat saja, Lea... Hari ini bokap lo resmi bakal mendekam seumur hidup di penjara, batin Joshua puas, menunggu Lea hancur sepenuhnya. Tak jauh dari Joshua, Lea duduk dengan posisi tegap, mengenakan kemeja formal dan blazer hitam sederhana. Wajahnya begitu tenang tanpa raut cemas sedikit pun. Mata Lea sekilas menatap punggung tegap Alexander yang berdiri di dekat pintu masuk ruang sidang. Pria itu siap dipanggil sebagai saksi kunci. Ingatan Lea seketika melayang pada kejadian dua malam sebelum persidangan ini digelar...Dua malam sebelum sidang perdana.Mobil Alexander berhenti beberapa meter dari pelataran rumah masa kecil Lea,sebelum Alex dan Lea sempat melangkah keluar, sebuah mobil dinas kepolisian mendadak memotong jalan dan berhenti tepat di belakang mereka.Seora

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 8

    "Malaikat pelindung? Aku bisa jadi malaikat maut buat kamu kalau kamu nekat seperti ini terus, paham?!" Ujar Alexander dengan suara tertahan, melangkah makin mendekat hingga bayangannya menutupi tubuh Lea. "Minum dulu kopinya, Om. Santai... Lagi banyak kerjaan ya, padahal baru jam segini? Semuanya udah aku kendalikan kok. Pelacakan log-nya udah aku hapus, firewall-nya udah aku tambal balik. Tenang aja..." ujar Lea menenangkan, ia mengulurkan salah satu cangkir kopi takeaway yang dibawanya tepat ke depan dada Alexander, memotong jarak intimidasi pria itu. Alexander menerima cangkir kopi itu refleks. "Tetap saja! Kalau sampai hal seperti ini tercium sama Tim Siber Pusat—" "Om, aku punya permintaan," potong Lea cepat, mengubah nada bicaranya menjadi sedikit lebih serius. Alexander memicingkan mata, menatap Lea dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menelisik khas detektif. Ia menghela napas panjang, menebak arah pembicaraan ini. "Katakan..." Alex meletakkan kopi di ata

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 9

    Empat hari berlalu bagai mimpi buruk yang berjalan terlalu cepat.Di pelataran kantor Kejaksaan Negeri, gerimis turun perlahan. Suara sirene mobil tahanan terdengar dikejuahan. Hari ini, pelimpahan berkas perkara dan tersangka—tahap P-21—resmi dilakukan. Kasus pembunuhan yang menjerat Brian Aditama dilimpahkan penuh dari kepolisian ke pihak kejaksaan untuk segera disidangkan.Lea berdiri di balik pagar besi, merapatkan jaketnya yang mulai basah kuyup. Tatapannya terkunci rapat pada sosok pria paruh baya bertubuh tegap yang keluar dari mobil van tahanan dengan rompi oranye bertuliskan Tahanan Kejaksaan dan kedua tangan terikat borgol besi.Ayahnya.Brian sempat menoleh, mendapati putri tunggalnya berdiri sendirian di bawah rinai hujan. Alih-alih meringis atau menunjukkan raut putus asa, Brian justru menyunggingkan senyum paling hangat—senyum tenang yang seolah berbisik: Ayah enggak apa-apa, Princess.Aku gagal... batin Lea menjerit hampa.Di kehidupan pertamanya dulu, ia selalu meratap

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 7

    Suara derap langkah kaki terburu-buru meramaikan koridor Unit Cyber Crime Kepolisian Resort Kota pagi itu."Gila! Ini beneran kebobolan?!" seru seorang perwira muda tim Cyber sambil menatap layar monitor utama yang berkedip-kedip merah.Alexander yang baru saja memasuki area kantor dengan cangkir kopi hitam di tangannya seketika menghentikan langkah. Dahinya berkerut dalam melihat kerumunan anggota kepolisian yang mengelilingi meja tim IT."Ada apa ini? Kenapa heboh sekali pagi-pagi?" suara berat Alexander menginterupsi keributan.Seorang ahli IT kepolisian menoleh dengan wajah pucat pasi. "Komandan! Server arsip digital kita dibobol tadi malam jam dua pagi! Enkripsi keamanan tingkat tinggi kita ditembus cuma dalam waktu kurang dari lima belas menit!"Alexander nyaris tersedak kopi. "Dibobol? Siapa yang melakukannya? Sindikat peretas internasional?""Bukan, Ndan... anehnya pelaku sama sekali nggak merusak data atau mengambil berkas-berkas rahasia negara yang sensitif," jawab sang ahli

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 6

    "Aku?" Lea terkekeh pelan, suaranya melunak—menyimpan sedikit nada getir yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Aku cuma cewek yang terpaksa harus dewasa sebelum waktunya, Om."Alexander tidak bersuara. Tatapannya masih tertuju pada gadis di depannya, menanti kelanjutan kalimat itu."Waktu duniaku hancur dalam semalam—saat Ibu meninggal dan Ayah dituduh jadi pembunuhnya—pilihannya cuma dua," lanjut Lea seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. "Pasrah jadi korban yang diinjak-injak... atau buka mata lebar-lebar dan belajar memahami jalan pikiran iblis."Alexander memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang. Di dadanya, ada denyut empati yang mendadak muncul, bercampur dengan rasa takjub yang makin meluas. Ia bisa merasakan kebenaran dalam kalimat itu. Tapi tetap saja, ketajaman analisis Lea berada di level yang tidak wajar untuk ukuran gadis seusianya."...tapi kalau Om butuh jawaban yang lebih spesifik: aku ini wanita yang bakal buktiin Ayahku nggak bersalah, seka

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 5

    "Sepertinya aku pernah lihat."Ingatan dari kehidupan pertamanya berputar liar. Ini adalah Skandal Pembunuhan Siswi Jalan Tol yang dulu sangat viral di seluruh stasiun televisi nasional!​Di masa depan dulu, jasad gadis ini baru ditemukan tiga hari kemudian di dalam tas olahraga di pinggir jalan tol Jagorawi. Yang membuat publik murka saat itu adalah hasil autopsi forensik: gadis itu baru meninggal dua jam sebelum ditemukan akibat kehabisan oksigen karena dibekap. Artinya, di saat ibunya mengemis bantuan di kantor polisi hari ini, gadis itu masih hidup—terikat dan terbekap di tempat tersembunyi oleh penculiknya!​Napas Lea tertahan. Dia masih hidup! Aku harus menyelamatkannya, tapi aku harus bertindak cermat supaya Alexander nggak curiga kalau aku tahu masa depan.​Lea melangkah mendekati wanita paruh baya itu, lalu memegang lembut bahunya yang bergetar.​"Bu..." panggil Lea pelan dan menenangkan. "Bisa ceritakan ke saya, gimana keseharian dia? Boleh saya lihat foto kamar terakhirnya,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status