Share

Bab 4

Author: Pipin
last update publish date: 2026-09-22 21:18:11

Keesokan harinya, Lea melangkah mantap memasuki ruang besuk tahanan.

Pria itu duduk di seberang meja kayu kusam. Garis wajahnya tegas, brewok tipis terawat, dan rambut gondrongnya diikat rapi ke belakang—gaya khasnya yang selalu karismatik. Ayahnya masih berusia 46 tahun, tampak gagah dan sangat hidup. Bukan jasad dingin berusia 66 tahun yang Lea tangisi di rumah sakit.

"Ayah!" jerit Lea, tak sanggup menahan tangis. Ia langsung menerobos maju dan memeluk leher ayahnya erat-erat.

"Lea..." Brian terkejut, namun senyum hangatnya mengembang saat membalas pelukan putri tunggalnya. Ia mengusap lembut punggung Lea. "Hei, kenapa menangis sesenggukan begini? Ayah kan belum mati."

Kalimat bercanda itu justru makin menghantam dada Lea. Ayah mati karena menyerah di masa depan, batinnya menjerit.

Lea melepaskan pelukannya, menatap wajah ayahnya dengan mata memerah. "Ayah harus sabar, ya. Ayah bakal di sini untuk sementara waktu, tapi aku janji... nggak akan lama. Aku bakal buktiin ke semua orang kalau Ayah nggak bersalah."

Brian menatap Lea dengan pandangan teduh, namun ada sekelebat rasa cemas di matanya. Ia mengusap air mata di pipi Lea lalu mengalihkan pembicaraan, tak ingin putrinya terbebani.

"Sudah, tak perlu dipikirkan terlalu jauh. Yang penting sekarang masa depanmu. Gimana kelanjutan rencana kariermu setelah lulus S1 ini? Kamu tetap kekeh mau masuk jalur Perwira Polisi?"

Lea mengangguk mantap. "Iya, Yah. Ijazah Hukum-ku mau aku pakai buat daftar Sekolah Perwira Karir Polisi."

Mendengar itu, Brian justru tertawa pelan—sebuah tawa renyah namun sarat akan pengalaman pahit.

"Jadi polisi? Lea, dengarkan Ayah," ujar Brian dengan nada bicara yang santai tapi tajam secara logika. "Institusi seperti polisi itu isinya hierarki dan komando. Garis instruksi dari atasan itu mutlak. Tanpa koneksi orang dalam atau dana besar, kamu yang cuma Sarjana Hukum baru lulus ini bakal jadi prajurit di lapangan yang gampang disikut dan dikambinghitamkan kalau ada masalah."

Brian mendekatkan posisinya, menatap mata Lea dalam-dalam. "Kalau kamu mau menegakkan keadilan atau mengacak-acak sistem yang busuk dari luar, jangan masuk ke dalam sistemnya. Berbekal ijazah Hukummu, jadilah Advokat atau Jaksa. Pengacara independen punya kebebasan bergerak tanpa perlu tunduk pada instruksi komandan. Selain itu..." Brian terkekeh tipis, mencoba mencairkan suasana, "...uangnya jelas jauh lebih banyak. Ayah mau kamu hidup enak, bukan malah tiap hari berurusan sama kriminal jalanan."

Di balik nasihat logis itu, Lea tahu alasan terdalam ayahnya: Brian sadar betapa gelap dan berbahayanya dunia kepolisian.

"Tapi Yah, kalau aku jadi polisi—"

"Tidak ada polisi-polisian," potong Brian lembut namun tidak bisa dibantah. "Fokus urus kelulusanmu, jadilah Sarjana Hukum yang cerdas. Biar urusan Ayah di sini jadi tanggung jawab Ayah sendiri. Paham, Princess-nya Ayah?"

Keluar dari gedung Tahanan Kepolisian, Lea tidak langsung pulang. Kakinya melangkah menuju Kantor Kepolisian Resort Kota, tempat Alexander bertugas.

Begitu melangkah ke area pelataran, pandangan Lea tertuju pada seorang ibu berpenampilan berantakan yang berdiri gemetar di bawah terik matahari. Wanita setengah baya itu memeluk erat selembar papan kardus bertuliskan tulisan tangan yang mulai luntur terkena keringat:

"ANAKKU TIDAK MUNGKIN KABUR! TOLONG CARI PENCULIKNYA!"

Wajah wanita itu pucat pasi, matanya sembap dan merah. Beberapa anggota polisi yang lalu-lalang hanya meliriknya dengan tatapan iba sekaligus jenuh, seolah wanita itu adalah gangguan harian.

Tak lama kemudian, sebuah SUV hitam yang sangat Lea kenali berhenti di area parkir. Alexander keluar dari mobil, membenarkan posisi jasnya. Pandangan pria itu seketika tertangkap oleh keberadaan Lea yang berdiri di dekat tangga masuk.

Alexander mengerutkan dahi, melangkah mendekat. "Kamu? Ada perlu apa lagi ke sini?" tanya Alexander heran. Namun, matanya tak bisa menutupi rasa tertarik sekaligus curiga, sebelum akhirnya pandangannya teralih pada ibu-ibu di dekat mereka.

Melihat ada seseorang yang berseragam rapi, wanita setengah baya itu langsung berlari pincang dan berlutut di depan Alexander, memegang pinggir jas pria itu dengan histeris.

"Pak! Tolong, Pak... Tolong cari anak saya!" jerit ibu itu dengan suara parau yang menyayat hati. "Anak saya nggak mungkin lari dari rumah! Sekalipun itu tulisan tangannya... saya yakin dia dipaksa, Pak! Hati seorang ibu nggak pernah bohong!"

Alexander menghela napas berat. Ia menyejajarkan posisinya, mencoba menenangkan wanita itu dengan nada profesional. "Ibu, tolong berdiri dulu. Saya paham betul perasaan Ibu. Tapi laporan dari tim penyidik kemarin sudah jelas. Kami menemukan surat berpamitan di meja belajarnya, dan teman-teman sekolahnya juga mengonfirmasi kalau anak Ibu memang sempat cerita mau pergi dari rumah—"

"Nggak, Pak! Mereka bohong! Anak saya disekap!" tumpah tangis sang ibu, memukul-mukul dadanya sendiri karena frustrasi tak dipercayai. "Sudah seminggu, Pak... Seminggu anak saya nggak pulang! Kenapa polisi malah menutup kasusnya?!"

Alexander terdiam. Prosedur kepolisian memang kaku; tanpa adanya bukti ancaman atau kekerasan, surat meninggalkan rumah secara sukarela membuat kasus ini dianggap sebagai masalah keluarga, bukan tindakan kriminal.

Di samping mereka, Lea menatap foto anak gadis di papan kardus itu. Otaknya yang menyimpan ingatan masa depan 25 tahun meledak seketika.

"Tunggu... foto ini..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 10

    Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri hari itu sesak oleh kilatan lampu kamera wartawan dan bisik-bisik tegang para pengunjung. Di kursi terdakwa, Brian Aditama duduk tenang dengan kemeja putih polos dan rompi tahanan.Lihat saja, Lea... Hari ini bokap lo resmi bakal mendekam seumur hidup di penjara, batin Joshua puas, menunggu Lea hancur sepenuhnya. Tak jauh dari Joshua, Lea duduk dengan posisi tegap, mengenakan kemeja formal dan blazer hitam sederhana. Wajahnya begitu tenang tanpa raut cemas sedikit pun. Mata Lea sekilas menatap punggung tegap Alexander yang berdiri di dekat pintu masuk ruang sidang. Pria itu siap dipanggil sebagai saksi kunci. Ingatan Lea seketika melayang pada kejadian dua malam sebelum persidangan ini digelar...Dua malam sebelum sidang perdana.Mobil Alexander berhenti beberapa meter dari pelataran rumah masa kecil Lea,sebelum Alex dan Lea sempat melangkah keluar, sebuah mobil dinas kepolisian mendadak memotong jalan dan berhenti tepat di belakang mereka.Seora

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 8

    "Malaikat pelindung? Aku bisa jadi malaikat maut buat kamu kalau kamu nekat seperti ini terus, paham?!" Ujar Alexander dengan suara tertahan, melangkah makin mendekat hingga bayangannya menutupi tubuh Lea. "Minum dulu kopinya, Om. Santai... Lagi banyak kerjaan ya, padahal baru jam segini? Semuanya udah aku kendalikan kok. Pelacakan log-nya udah aku hapus, firewall-nya udah aku tambal balik. Tenang aja..." ujar Lea menenangkan, ia mengulurkan salah satu cangkir kopi takeaway yang dibawanya tepat ke depan dada Alexander, memotong jarak intimidasi pria itu. Alexander menerima cangkir kopi itu refleks. "Tetap saja! Kalau sampai hal seperti ini tercium sama Tim Siber Pusat—" "Om, aku punya permintaan," potong Lea cepat, mengubah nada bicaranya menjadi sedikit lebih serius. Alexander memicingkan mata, menatap Lea dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menelisik khas detektif. Ia menghela napas panjang, menebak arah pembicaraan ini. "Katakan..." Alex meletakkan kopi di ata

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 9

    Empat hari berlalu bagai mimpi buruk yang berjalan terlalu cepat.Di pelataran kantor Kejaksaan Negeri, gerimis turun perlahan. Suara sirene mobil tahanan terdengar dikejuahan. Hari ini, pelimpahan berkas perkara dan tersangka—tahap P-21—resmi dilakukan. Kasus pembunuhan yang menjerat Brian Aditama dilimpahkan penuh dari kepolisian ke pihak kejaksaan untuk segera disidangkan.Lea berdiri di balik pagar besi, merapatkan jaketnya yang mulai basah kuyup. Tatapannya terkunci rapat pada sosok pria paruh baya bertubuh tegap yang keluar dari mobil van tahanan dengan rompi oranye bertuliskan Tahanan Kejaksaan dan kedua tangan terikat borgol besi.Ayahnya.Brian sempat menoleh, mendapati putri tunggalnya berdiri sendirian di bawah rinai hujan. Alih-alih meringis atau menunjukkan raut putus asa, Brian justru menyunggingkan senyum paling hangat—senyum tenang yang seolah berbisik: Ayah enggak apa-apa, Princess.Aku gagal... batin Lea menjerit hampa.Di kehidupan pertamanya dulu, ia selalu meratap

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 7

    Suara derap langkah kaki terburu-buru meramaikan koridor Unit Cyber Crime Kepolisian Resort Kota pagi itu."Gila! Ini beneran kebobolan?!" seru seorang perwira muda tim Cyber sambil menatap layar monitor utama yang berkedip-kedip merah.Alexander yang baru saja memasuki area kantor dengan cangkir kopi hitam di tangannya seketika menghentikan langkah. Dahinya berkerut dalam melihat kerumunan anggota kepolisian yang mengelilingi meja tim IT."Ada apa ini? Kenapa heboh sekali pagi-pagi?" suara berat Alexander menginterupsi keributan.Seorang ahli IT kepolisian menoleh dengan wajah pucat pasi. "Komandan! Server arsip digital kita dibobol tadi malam jam dua pagi! Enkripsi keamanan tingkat tinggi kita ditembus cuma dalam waktu kurang dari lima belas menit!"Alexander nyaris tersedak kopi. "Dibobol? Siapa yang melakukannya? Sindikat peretas internasional?""Bukan, Ndan... anehnya pelaku sama sekali nggak merusak data atau mengambil berkas-berkas rahasia negara yang sensitif," jawab sang ahli

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 6

    "Aku?" Lea terkekeh pelan, suaranya melunak—menyimpan sedikit nada getir yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Aku cuma cewek yang terpaksa harus dewasa sebelum waktunya, Om."Alexander tidak bersuara. Tatapannya masih tertuju pada gadis di depannya, menanti kelanjutan kalimat itu."Waktu duniaku hancur dalam semalam—saat Ibu meninggal dan Ayah dituduh jadi pembunuhnya—pilihannya cuma dua," lanjut Lea seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. "Pasrah jadi korban yang diinjak-injak... atau buka mata lebar-lebar dan belajar memahami jalan pikiran iblis."Alexander memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang. Di dadanya, ada denyut empati yang mendadak muncul, bercampur dengan rasa takjub yang makin meluas. Ia bisa merasakan kebenaran dalam kalimat itu. Tapi tetap saja, ketajaman analisis Lea berada di level yang tidak wajar untuk ukuran gadis seusianya."...tapi kalau Om butuh jawaban yang lebih spesifik: aku ini wanita yang bakal buktiin Ayahku nggak bersalah, seka

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 5

    "Sepertinya aku pernah lihat."Ingatan dari kehidupan pertamanya berputar liar. Ini adalah Skandal Pembunuhan Siswi Jalan Tol yang dulu sangat viral di seluruh stasiun televisi nasional!​Di masa depan dulu, jasad gadis ini baru ditemukan tiga hari kemudian di dalam tas olahraga di pinggir jalan tol Jagorawi. Yang membuat publik murka saat itu adalah hasil autopsi forensik: gadis itu baru meninggal dua jam sebelum ditemukan akibat kehabisan oksigen karena dibekap. Artinya, di saat ibunya mengemis bantuan di kantor polisi hari ini, gadis itu masih hidup—terikat dan terbekap di tempat tersembunyi oleh penculiknya!​Napas Lea tertahan. Dia masih hidup! Aku harus menyelamatkannya, tapi aku harus bertindak cermat supaya Alexander nggak curiga kalau aku tahu masa depan.​Lea melangkah mendekati wanita paruh baya itu, lalu memegang lembut bahunya yang bergetar.​"Bu..." panggil Lea pelan dan menenangkan. "Bisa ceritakan ke saya, gimana keseharian dia? Boleh saya lihat foto kamar terakhirnya,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status