แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Pipin
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-22 19:23:27

"Diem, gue nggak ada urusan sama lo. Gue cuma tertarik sama pria yang matang, bukan bocah lempeng kayak lo," potong Lea dingin.

Joshua terbelalak. "Lempeng?! Tapi tadi kan lo—"

"Tadi apa? Gue nyatain cinta? Ah, gue udah lupa tuh," sahut Lea santai tanpa beban.

Alexander yang berdiri di sana mulai merasa janggal. Tatapan matanya yang tajam menyapu sekeliling aula pesta. Sebagai detektif, instingnya curiga kalau ini adalah semacam prank acara TV atau taruhan konyol anak muda. Mana mungkin seorang mahasiswi berani melakukan tindakan senekat ini padanya tanpa ada maksud tertentu?

Melihat Alexander berbalik hendak pergi, Lea langsung bergerak mengikutinya. "Om! Mau ke mana?"

Joshua yang merasa dianggap bak angin lalu berteriak geram, "Eh, lo ngapain ngejar bokap gue?! Maksud lo apa, hah?!"

Lea menghentikan langkahnya sejenak, memutar kepala, lalu menatap Joshua dengan pandangan meremehkan. "Diem-di-sana! Gue. Udah. Nggak. Selera. Sama. Bocah. Kayak. Lo," eja Lea jelas dan menohok, sebelum akhirnya berlari kecil menyusul Alexander.

"Sialan! Maksud tuh anak apa?! Sengaja bikin gue malu?!" umpat Joshua dengan napas memburu. Tangannya terkepal erat. "Lo boleh aja ngejar bokap gue, tapi kalau gue nolak dan Papa nggak sudi, lo bisa apa, hah?!"

Di luar gedung pesta, Lea berhasil mengejar langkah lebar Alexander dan dengan lancang memegang lengan jas pria itu.

Alexander seketika menghentikan langkahnya, lalu menepis tangan Lea dengan gerakan tegas—seperti mengusir nyamuk yang mengganggu.

"Kita sudah di luar. Kamu menjadikan saya bahan taruhan, kan? Di mana teman-temanmu? Di mana kameranya?"

Lea terkekeh tipis. "Om, aku nggak selicik anak Om."

Mata Alexander memicing bahaya. "Ini sudah berapa kali kamu menjelekkan anak saya? Pertama, kamu bilang dia lempeng. Kedua, kamu bilang dia licik. Dan kamu masih berharap saya mau meladeni pembicaraan konyol ini?"

Lea tertawa renyah, mengibaskan rambutnya dengan gaya anggun yang sama sekali tidak canggung di depan pria dewasa. "Apaan sih, Om? Namanya juga anak muda, kadang impulsif kan wajar. Lagian Om kaku amat, sih? Makanya, sesekali gaul sama yang muda, Om... jangan sama berkas kasus mulu. Btw, Om mau ke mana?"

"Bukan urusanmu," jawab Alexander singkat, lalu melangkah menuju mobil SUV hitamnya.

Lea melirik jam tangan jadul di pergelangannya. Waktu terus berjalan, dan ia tidak boleh membuang-buang kesempatan.

"Om, aku punya satu permintaan..." suara Lea mendadak berubah serius. "Om tahu kasus Brian Aditama, kan?"

Alexander menghentikan langkahnya tepat di depan pintu mobil. Tatapannya menajam. "Pria pembunuh istrinya sendiri itu?"

"Aku anaknya, Om," tegas Lea, menatap lurus ke dalam iris mata Alexander tanpa sedikit pun keraguan. "Dan aku bakal buktiin ke Om kalau Ayah sama sekali nggak bersalah."

"Mahasiswi hukum seperti kamu? Yang baru paham teori dan bahkan belum pernah turun ke lapangan?"

"Lihat aja nanti, Om..."

Alexander menghela napas panjang. Ia ada di TKP saat penyidikan awal dilakukan. Dilihat dari sudut mana pun, bukti fisik dan saksi mengarah kuat pada Brian Aditama. Keyakinan buta seorang anak tidak akan bisa mengubah fakta hukum, dan Alexander sudah kenyang menghadapi drama keluarga seperti ini.

"Kamu harus tahu, saya ikut menangani kasus itu," ujar Alexander datar. "Dan dalam beberapa hari ke depan, kasusnya akan resmi ditutup. Ayahmu akan dilimpahkan ke kejaksaan."

"Bagaimana kalau analisis polisi selama ini salah?" tantang Lea.

"Bagaimana kalau buktinya memang benar?" balik Alexander.

Lea menyunggingkan senyum tipis, lalu melangkah mendekat dan menyandarkan tubuhnya dengan santai di pintu mobil Alexander.

"Kalau gitu, mau taruhan, Om? Dalam dua bulan ini, kalau aku berhasil ngebuktiin Ayah nggak bersalah... Om harus mau kencan sama aku."

Alexander menatap gadis di depannya dari atas ke bawah dengan pandangan tak percaya. "Kencan? Sebenarnya kamu ke sini demi kasus ayahmu, atau cuma akal-akalan kamu buat mendekati saya?"

"Dua-duanya, Om. Soalnya aku udah jatuh cinta... sejak pandangan pertama."

Alexander menggelengkan kepala, menganggap ucapan itu hanyalah omong kosong remaja labil. Namun, sebelum pria itu sempat membuka pintu mobil untuk pergi, Lea maju satu langkah dan berbisik tepat di samping telinga Alexander.

"Tapi kalau Om masih menganggap ini main-main..." Lea merendahkan suaranya, "...coba Om periksa ulang hasil autopsi Ibu. Luka tusuk di dada kiri Ibu bukan berasal dari pisau dapur berkarat yang Om temukan di TKP, tapi dari pisau bedah nomor 11. Dan Om... melewatkan detail sekecil itu, kan?"

Deg!

Tubuh Alexander seketika membeku kaku. Pupil matanya melebar sempurna.

Detail tajam soal jenis pisau bedah itu... bahkan belum pernah dirilis ke publik dan baru saja masuk ke dalam lembar dokumen rahasia tim forensik sore tadi!

Bagaimana bisa seorang mahasiswi hukum tahu detail kejahatan se-rahasia itu?!

Sebelum Alexander sempat membalikkan badan dan mencecar pertanyaannya, Lea sudah melangkah mundur, mengedipkan sebelah matanya dengan manis, lalu melambai santai.

"Sampai ketemu di pengadilan, Om Tampan!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 10

    Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri hari itu sesak oleh kilatan lampu kamera wartawan dan bisik-bisik tegang para pengunjung. Di kursi terdakwa, Brian Aditama duduk tenang dengan kemeja putih polos dan rompi tahanan.Lihat saja, Lea... Hari ini bokap lo resmi bakal mendekam seumur hidup di penjara, batin Joshua puas, menunggu Lea hancur sepenuhnya. Tak jauh dari Joshua, Lea duduk dengan posisi tegap, mengenakan kemeja formal dan blazer hitam sederhana. Wajahnya begitu tenang tanpa raut cemas sedikit pun. Mata Lea sekilas menatap punggung tegap Alexander yang berdiri di dekat pintu masuk ruang sidang. Pria itu siap dipanggil sebagai saksi kunci. Ingatan Lea seketika melayang pada kejadian dua malam sebelum persidangan ini digelar...Dua malam sebelum sidang perdana.Mobil Alexander berhenti beberapa meter dari pelataran rumah masa kecil Lea,sebelum Alex dan Lea sempat melangkah keluar, sebuah mobil dinas kepolisian mendadak memotong jalan dan berhenti tepat di belakang mereka.Seora

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 8

    "Malaikat pelindung? Aku bisa jadi malaikat maut buat kamu kalau kamu nekat seperti ini terus, paham?!" Ujar Alexander dengan suara tertahan, melangkah makin mendekat hingga bayangannya menutupi tubuh Lea. "Minum dulu kopinya, Om. Santai... Lagi banyak kerjaan ya, padahal baru jam segini? Semuanya udah aku kendalikan kok. Pelacakan log-nya udah aku hapus, firewall-nya udah aku tambal balik. Tenang aja..." ujar Lea menenangkan, ia mengulurkan salah satu cangkir kopi takeaway yang dibawanya tepat ke depan dada Alexander, memotong jarak intimidasi pria itu. Alexander menerima cangkir kopi itu refleks. "Tetap saja! Kalau sampai hal seperti ini tercium sama Tim Siber Pusat—" "Om, aku punya permintaan," potong Lea cepat, mengubah nada bicaranya menjadi sedikit lebih serius. Alexander memicingkan mata, menatap Lea dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menelisik khas detektif. Ia menghela napas panjang, menebak arah pembicaraan ini. "Katakan..." Alex meletakkan kopi di ata

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 9

    Empat hari berlalu bagai mimpi buruk yang berjalan terlalu cepat.Di pelataran kantor Kejaksaan Negeri, gerimis turun perlahan. Suara sirene mobil tahanan terdengar dikejuahan. Hari ini, pelimpahan berkas perkara dan tersangka—tahap P-21—resmi dilakukan. Kasus pembunuhan yang menjerat Brian Aditama dilimpahkan penuh dari kepolisian ke pihak kejaksaan untuk segera disidangkan.Lea berdiri di balik pagar besi, merapatkan jaketnya yang mulai basah kuyup. Tatapannya terkunci rapat pada sosok pria paruh baya bertubuh tegap yang keluar dari mobil van tahanan dengan rompi oranye bertuliskan Tahanan Kejaksaan dan kedua tangan terikat borgol besi.Ayahnya.Brian sempat menoleh, mendapati putri tunggalnya berdiri sendirian di bawah rinai hujan. Alih-alih meringis atau menunjukkan raut putus asa, Brian justru menyunggingkan senyum paling hangat—senyum tenang yang seolah berbisik: Ayah enggak apa-apa, Princess.Aku gagal... batin Lea menjerit hampa.Di kehidupan pertamanya dulu, ia selalu meratap

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 7

    Suara derap langkah kaki terburu-buru meramaikan koridor Unit Cyber Crime Kepolisian Resort Kota pagi itu."Gila! Ini beneran kebobolan?!" seru seorang perwira muda tim Cyber sambil menatap layar monitor utama yang berkedip-kedip merah.Alexander yang baru saja memasuki area kantor dengan cangkir kopi hitam di tangannya seketika menghentikan langkah. Dahinya berkerut dalam melihat kerumunan anggota kepolisian yang mengelilingi meja tim IT."Ada apa ini? Kenapa heboh sekali pagi-pagi?" suara berat Alexander menginterupsi keributan.Seorang ahli IT kepolisian menoleh dengan wajah pucat pasi. "Komandan! Server arsip digital kita dibobol tadi malam jam dua pagi! Enkripsi keamanan tingkat tinggi kita ditembus cuma dalam waktu kurang dari lima belas menit!"Alexander nyaris tersedak kopi. "Dibobol? Siapa yang melakukannya? Sindikat peretas internasional?""Bukan, Ndan... anehnya pelaku sama sekali nggak merusak data atau mengambil berkas-berkas rahasia negara yang sensitif," jawab sang ahli

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 6

    "Aku?" Lea terkekeh pelan, suaranya melunak—menyimpan sedikit nada getir yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Aku cuma cewek yang terpaksa harus dewasa sebelum waktunya, Om."Alexander tidak bersuara. Tatapannya masih tertuju pada gadis di depannya, menanti kelanjutan kalimat itu."Waktu duniaku hancur dalam semalam—saat Ibu meninggal dan Ayah dituduh jadi pembunuhnya—pilihannya cuma dua," lanjut Lea seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. "Pasrah jadi korban yang diinjak-injak... atau buka mata lebar-lebar dan belajar memahami jalan pikiran iblis."Alexander memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang. Di dadanya, ada denyut empati yang mendadak muncul, bercampur dengan rasa takjub yang makin meluas. Ia bisa merasakan kebenaran dalam kalimat itu. Tapi tetap saja, ketajaman analisis Lea berada di level yang tidak wajar untuk ukuran gadis seusianya."...tapi kalau Om butuh jawaban yang lebih spesifik: aku ini wanita yang bakal buktiin Ayahku nggak bersalah, seka

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 5

    "Sepertinya aku pernah lihat."Ingatan dari kehidupan pertamanya berputar liar. Ini adalah Skandal Pembunuhan Siswi Jalan Tol yang dulu sangat viral di seluruh stasiun televisi nasional!​Di masa depan dulu, jasad gadis ini baru ditemukan tiga hari kemudian di dalam tas olahraga di pinggir jalan tol Jagorawi. Yang membuat publik murka saat itu adalah hasil autopsi forensik: gadis itu baru meninggal dua jam sebelum ditemukan akibat kehabisan oksigen karena dibekap. Artinya, di saat ibunya mengemis bantuan di kantor polisi hari ini, gadis itu masih hidup—terikat dan terbekap di tempat tersembunyi oleh penculiknya!​Napas Lea tertahan. Dia masih hidup! Aku harus menyelamatkannya, tapi aku harus bertindak cermat supaya Alexander nggak curiga kalau aku tahu masa depan.​Lea melangkah mendekati wanita paruh baya itu, lalu memegang lembut bahunya yang bergetar.​"Bu..." panggil Lea pelan dan menenangkan. "Bisa ceritakan ke saya, gimana keseharian dia? Boleh saya lihat foto kamar terakhirnya,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status