LOGINIbu Adyan selesai di makamkan, Nayla yang ikut kepemakaman dan kini menenangkan adik iparnya sesekali melihat Adyan yang sama sekali tak beranjak dari pusaran sang ibunda. Padahal para pelayat sudah mulai meninggalkan pemakaman.
"Hiks, hiks, aku..aku masih butuh bunda. Tapi kenapa bunda ninggalin aku ya mbak" tangis Anya di pundaknya. Nayla melihat adik iparnya itu yang terus menitikan air mata. "Anya,,ikhlas ya sayang. Kan ada mbak, kalau apa-apa kamu bisa bilang ke mbak ya ikhlasin bunda ya. Semoga bunda tenang di sana," Nayla mengusap lembut pundak adik iparnya itu. Sesekali dia juga melihat kearah Adyan yang memegangi nama bundanya. "dia sesayang itu dengan bundanya" batin Nayla melihat Adyan yang terlihat begitu kehilangan. Wajah pria itu yang dingin kini semakin terlihat begitu dingin. Bertepatan dengan itu Adyan menatap kearahnya, tatapan yang cukup tajam. Nayla buru-buru memalingkan wajahnya, karena jujur ia terintimidasi dengan tatapan tersebut. "Anya, Adyan ayo kita pulang nak sebentar lagi hujan" seru ayah Adyan yang mulai berdiri dari duduknya mengajak kedua anaknya pergi dari pemakaman. Adyan tak bergeming, dia masih menatap pusaran sang ibu. Tangannya mengepal kuat, mengcengkram tanah kuburan itu. Dan tak lama ia berdiri, berjalan melewati Nayla dan juga adiknya. Tapi baru selangkah dia berjalan, ia berbalik dan menatap Nayla yang masih memeluk Anya. "Lihat apa yang akan ku lakukan nanti padamu" ucap Adyan mengancam dengan tatapan penuh amarah, setelah mengatakan itu Adyan langsung pergi lebih dulu. Nayla berdiri terpaku, Anya yang tadi menangis di pelukan kakak iparnya itu melepaskan pelukannya. Dia mendongak menatap Nayla yang terdiam "Mbak, tadi bang Adyan bilang apa?" tanya Anya karena tadi ia tak terlalu mendengar kakaknya itu bicara apa. Nayla yang masih menatap Adyan yang berjalan pergi langsung kaget melihat adik iparnya yang kini menatapnya aneh. "Hah, gimana Anya?" ucapnya bingung. "Tadi bang Adyan bilang apa mbak?" Anya mengulang ucapannya kembali sambil melihat wajah Nayla yang terlihat tertekan. "Nggak, nggak bilang apa-apa kok. Ya..ya udah ayok kita ke mobil ayah sama abang kamu pasti nunggu" ucap Nayla segera mengajak adik iparnya itu menuju mobil mereka. .............. Nayla berjalan mondar-mandir di kamar Adyan, dia resah sendiri dengan ancaman Adyan padanya tadi "Kenapa dia kelihatan marah denganku. Sa..salahku apa, kenapa..kenapa dia marah" Nayla ketakutan sendiri, ia takut kalau Adyan melakukan apa-apa padanya. Dia menggigit jarinya, berusaha menyemunyikan kegugupannya lewat itu. Suara pintu terbuka mengkagetkannya, membuat ia langsung menatap kearah pintu itu. Tapi yang ia takutkan tak terjadi, ternyata itu bukan Adyan melainkan Anya yang membukanya. "maaf ya mbak aku ganggu" ucap Anya lirih, "nggak kok nya, kenapa?" jawab Nayla berusaha tenang, dia mendekatkan dirinya kearah adik iparnya itu yang masih berada di ambang pintu. "itu mbak, di panggil bang Adyan. Katanya bulek pengen ketemu mbak Nayla" ucap Anya memberitahu apa yang di katakan abangnya. "Oh,..iya..a..ayo kalau begitu" Nayla berusaha menghilangkan rasa ketakutannya, ia lalu berjalan keluar bersama dengan adik iparnya. Di ruang tengah terlihat beberapa orang salah satunya ada Adyan di situ, pria itu hanya menatapnya sekilas dan langsung memalingkan wajahnya. "bulek,." panggil Anya, "Sini, sini ajak mbak mu Nya" ucap bulek Adyan. Nayla dan Anya langsung mendekati mereka, dan Nayla langsung di tarik untuk duduk di sebelah bulek dari suaminya itu. Sehingga kini membuatnya duduk di tengah-tengah, di antara Adyan dan buleknya. "Ternyata ini istri kamu Adyan, cantik ya. Lembut juga, kamu pintar cari istri, pasti bunda kamu nggak kecewa Adyan" lirih bulek Adyan dengan sorot mata berkaca-kaca masih menahan sedih. Adyan sendiri hanya diam saja tak terlalu menanggapi, dan tatapannya pun juga masih dingin. "Nayla, bulek titip Adyan sama kamu ya. Selalu ada di samping dia, apalagi di saat-saat dia terpuruk seperti ini" pinta bulek Adyan sambil menggenggam kuat tangan Nayla. Nayla hanya menjawab singkat, jujur ia masih sedikit canggung dengan bulek Adyan yang baru ia temui ini. "Tolong selalu jadi arah kompas buat keponakan bulek ya, dia sudah kehilangan arahnya saat ini. Jadi kamu selalu jadi arah buat dia ya. Pegang terus dia jangan sampai keluar dari arahnya" mata bulek Adyan berkaca-kaca seperti menangis. "Iya bulek, insyaallah ya. Itu juga sudah tugasku sebagai istrinya mas Adyan" jawab Nayla sambil melihat sekilas Adyan yang duduk di sebelahnya. Pria itu memalingkan wajah dengan dingin, "Bagaimana aku bisa menjadi arah kompasnya sedangkan dia saja hanya menjadikanku pelacurnya" batin Nayla sambil melihat Adyan yang tak melihatnya sama sekali. "Adyan kemarikan tanganmu" ucap Bulek Adyan meminta Adyan memberikan tangannya. "kenapa sih bulek" ketus Adyan seperti menolak. "udah sini" bulek Adyan menarik paksa tangan Adyan, dan dia menaruh tangan keponakannya itu di tas tangan Nayla. "kalian berdua janji sama bulek ya, selalu sama-sama apapun yang terjadi" bulek Adyan terlihat sedih mengatakan itu. sedangkan Adyan dan Nayla hanya saling tatap dengan pikiran yang berkecamuk di kepala mereka masing-masing. "aku nggak janji bulek, karena tidak ada cinta di antara kita" batin Adyan. "gimana bisa sama-sama terus, aku nggak tahu kuat atau nggak terus bertahan dengan perlakuannya" batin Nayla, keduanya masih saling menatap satu sama lain. ***“Makasih… kalian sudah mau nganterin aku ke sini.”Ucapan itu keluar dari mulut Anya dengan nada sedikit kaku, seolah ia gengsi untuk benar-benar mengucapkan terima kasih.Ia berdiri di samping motornya, menatap dua tentara yang masih berdiri di depannya.Wajah Anya terlihat agak canggung.Terlebih lagi, bayangan kejadian di jalan tadi masih terlintas di kepalanya.Saat motor melewati jalan yang rusak dan berlubang—Motor Zevan sempat oleng sedikit.Dan karena Anya sengaja tidak berpegangan…Tubuhnya hampir saja jatuh.Refleks.Tangannya langsung memeluk pinggang Zevan dengan erat.Saat itu juga wajahnya langsung panas.Untung saja Zevan tidak mengatakan apa-apa.“Ya, sama-sama,” jawab Zevan dan Fauzi hampir bersamaan.Anya menggaruk tengkuknya pelan, masih merasa sedikit malu.“K
“Bang, pokoknya aku nggak mau dianter sama mereka. Aku berani kok sendiri,” kukuh Anya sambil menyilangkan tangan di depan dada. Wajahnya keras kepala. Matanya menatap kakaknya dengan penuh protes. Jelas ia protes, ia tak mau di antar oleh dua orang yang menurutnya arogan.Namun Adyan tetap berdiri tegap di depannya. Wajahnya datar, tapi auranya jelas tidak bisa dibantah.“Nggak ada penolakan, Anya,” ucap Adyan tegas, nada suaranya rendah… tapi penuh perintah. “Kamu tetap akan diantar Lettu Zevan dan Letda Fauzi.”Anya langsung mengerucutkan bibirnya kesal. Ia mendengus pelan kalau kakaknya sudah bicara dengan nada seperti itu, biasanya tidak ada ruang untuk berdebat lagi.Dan Anya tahu benar kakanya itu bisa sangat mengerikan kalau sudah marah. Dan tatapan yang mengerikan kakaknya lah yang membuat ia takut.“Kalau begitu kita permisi dulu, Ndan,” uc
“Adyan.”Satu panggilan itu langsung memutus suasana hangat di antara mereka.Adyan menoleh dengan wajah jelas tak senang. Tatapan yang tadi lembut saat menatap istrinya seketika mengeras—dingin, kaku, seolah tembok tebal berdiri di antara dirinya dan orang yang baru saja memanggilnya.Nayla ikut menoleh. Alisnya sedikit berkerut, matanya menyapu sosok pria di depan mereka. Nalurinya langsung menangkap perubahan sikap suaminya. Adyan cuma seperti ini kalau bertemu orang yang tak ia sukai.“Mayor satu ini sekarang sibuk sekali,” ucap pria itu santai, senyum tipis terbit di wajahnya. “Kumpul sama teman lama saja sudah jarang.”Tangannya terulur.Adyan membalas jabatan tangan itu—singkat, dingin—dengan senyum tipis yang jelas-jelas palsu.“Istrimu?” tanya pria itu, melirik Nayla.“Iya,” jawab Adyan ce
Hari yang cerah pagi ini seperti menggambarkan suasana hati Nayla yang juga penuh cerah dan bahagia. Pagi ini hatinya sudah berbunga karena kepedulian Adyan padanya, pria itu baru saja selesai memijatnya. Saat bangun ia merasa kakinya terasa sakit, Adyan yang melihat itu langsung memijatnya penuh kelembutan.Nayla keluar kamar sambil menahan senyumnya, sesekali ia melihat sang suami yang memutuskan untuk tidur lagi. Hari ini Adyan tak pergi dinas, karena pria itu nanti janji akan menemaninya kontrol ke dokter kandungan.Baru saja Nayla melangkah kedapur, ia sudah di ledek oleh adik iparnya yang ternyata sudah duduk nyaman di meja makan menatap dirinya dengan senyum meledek. “hemm, hem cie...habis apa mbak kok senyum-senyum sendiri sih” goda Anya pada kakak iparnya yang langsung memasang wajah malu-malu.Nayla refleks menunduk, pipinya memanas.“Ngg… nggak,” jawabnya gugup. “Mbak nggak habis ng
“Nggak usah teriak, Mbak, yang salah mbak sendiri” ucapnya datar, nadanya tenang tapi menusuk.Tatapan itu membuat Anya sedikit tertegun, meski rasa kesalnya belum juga surut. Dadanya naik turun, emosinya masih bergejolak.Sementara pria satunya berjongkok, mulai memunguti belanjaan Anya tanpa banyak bicara.Anya berdiri perlahan, menepuk-nepuk celananya dengan kasar. Tatapannya tajam, tapi di balik itu ada rasa malu kecil yang mulai menyelinap—jatuh di tempat umum, dengan kondisi berantakan.“Apa? Kamu tadi bilang apa? Salahku.? Perasaan masnya yang salah jalan dempet-dempet” ngegas Anya tak terima, dengan kedua tangannya berada di pinggang. Membiarkan belanjaannya di bawah.Pria dingin itu tetap pada posisinya. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi.“Memang salah mbak,” balasnya tenang. “Yang nggak fokus.”“Kamu..” Anya mendesis geram,
“udah nggak usah, kamu duduk aja” Adyan mengambil piring yang miliknya yang di ambil oleh Nayla, istrinya itu akan mencuci piring bekas mereka sarapan.“tapi mas,..” Nayla yang sudah berdiri menatap tak mengerti kearah suaminya.“udah kamu duduk aja, biar Anya yang cuci piring” ucap Adyan, lalu melihat kearah depan tv dimana adiknya duduk santai di sana. “Anya,.” Serunya memanggil sang adik.Anya yang merasa terpanggil melihat kearah abangnya, “Iya bang,” jawabnya menatap sang kakak.“Sini kamu,” perintah Adyan dengan tegas, dengan tatapan tajamnya. Segera Anya langsung berdiri dari duduknya, berjalan mendekati kakaknya yang tengah bersama kakak iparnya.“Iya bang, kenapa?” tanyanya saat sudah berada di depan Adyan,“beresin meja makan, habis itu cuci piring. Kalau mau d







