Share

Bab 5.

Author: Fafacho
last update publish date: 2025-12-15 15:08:10

Ibu Adyan selesai di makamkan, Nayla yang ikut kepemakaman dan kini menenangkan adik iparnya sesekali melihat Adyan yang sama sekali tak beranjak dari pusaran sang ibunda. Padahal para pelayat sudah mulai meninggalkan pemakaman.

"Hiks, hiks, aku..aku masih butuh bunda. Tapi kenapa bunda ninggalin aku ya mbak" tangis Anya di pundaknya. Nayla melihat adik iparnya itu yang terus menitikan air mata.

"Anya,,ikhlas ya sayang. Kan ada mbak, kalau apa-apa kamu bisa bilang ke mbak ya ikhlasin bunda ya. Semoga bunda tenang di sana," Nayla mengusap lembut pundak adik iparnya itu. Sesekali dia juga melihat kearah Adyan yang memegangi nama bundanya. "dia sesayang itu dengan bundanya" batin Nayla melihat Adyan yang terlihat begitu kehilangan. Wajah pria itu yang dingin kini semakin terlihat begitu dingin.

Bertepatan dengan itu Adyan menatap kearahnya, tatapan yang cukup tajam. Nayla buru-buru memalingkan wajahnya, karena jujur ia terintimidasi dengan tatapan tersebut.

"Anya, Adyan ayo kita pulang nak sebentar lagi hujan" seru ayah Adyan yang mulai berdiri dari duduknya mengajak kedua anaknya pergi dari pemakaman. Adyan tak bergeming, dia masih menatap pusaran sang ibu. Tangannya mengepal kuat, mengcengkram tanah kuburan itu. Dan tak lama ia berdiri, berjalan melewati Nayla dan juga adiknya. Tapi baru selangkah dia berjalan, ia berbalik dan menatap Nayla yang masih memeluk Anya.

"Lihat apa yang akan ku lakukan nanti padamu" ucap Adyan mengancam dengan tatapan penuh amarah, setelah mengatakan itu Adyan langsung pergi lebih dulu.

Nayla berdiri terpaku, Anya yang tadi menangis di pelukan kakak iparnya itu melepaskan pelukannya. Dia mendongak menatap Nayla yang terdiam "Mbak, tadi bang Adyan bilang apa?" tanya Anya karena tadi ia tak terlalu mendengar kakaknya itu bicara apa.

Nayla yang masih menatap Adyan yang berjalan pergi langsung kaget melihat adik iparnya yang kini menatapnya aneh. "Hah, gimana Anya?" ucapnya bingung.

"Tadi bang Adyan bilang apa mbak?" Anya mengulang ucapannya kembali sambil melihat wajah Nayla yang terlihat tertekan.

"Nggak, nggak bilang apa-apa kok. Ya..ya udah ayok kita ke mobil ayah sama abang kamu pasti nunggu" ucap Nayla segera mengajak adik iparnya itu menuju mobil mereka.

..............

Nayla berjalan mondar-mandir di kamar Adyan, dia resah sendiri dengan ancaman Adyan padanya tadi "Kenapa dia kelihatan marah denganku. Sa..salahku apa, kenapa..kenapa dia marah" Nayla ketakutan sendiri, ia takut kalau Adyan melakukan apa-apa padanya. Dia menggigit jarinya, berusaha menyemunyikan kegugupannya lewat itu.

Suara pintu terbuka mengkagetkannya, membuat ia langsung menatap kearah pintu itu. Tapi yang ia takutkan tak terjadi, ternyata itu bukan Adyan melainkan Anya yang membukanya.

"maaf ya mbak aku ganggu" ucap Anya lirih,

"nggak kok nya, kenapa?" jawab Nayla berusaha tenang, dia mendekatkan dirinya kearah adik iparnya itu yang masih berada di ambang pintu.

"itu mbak, di panggil bang Adyan. Katanya bulek pengen ketemu mbak Nayla" ucap Anya memberitahu apa yang di katakan abangnya.

"Oh,..iya..a..ayo kalau begitu" Nayla berusaha menghilangkan rasa ketakutannya, ia lalu berjalan keluar bersama dengan adik iparnya. Di ruang tengah terlihat beberapa orang salah satunya ada Adyan di situ, pria itu hanya menatapnya sekilas dan langsung memalingkan wajahnya.

"bulek,." panggil Anya,

"Sini, sini ajak mbak mu Nya" ucap bulek Adyan. Nayla dan Anya langsung mendekati mereka, dan Nayla langsung di tarik untuk duduk di sebelah bulek dari suaminya itu. Sehingga kini membuatnya duduk di tengah-tengah, di antara Adyan dan buleknya.

"Ternyata ini istri kamu Adyan, cantik ya. Lembut juga, kamu pintar cari istri, pasti bunda kamu nggak kecewa Adyan" lirih bulek Adyan dengan sorot mata berkaca-kaca masih menahan sedih. Adyan sendiri hanya diam saja tak terlalu menanggapi, dan tatapannya pun juga masih dingin.

"Nayla, bulek titip Adyan sama kamu ya. Selalu ada di samping dia, apalagi di saat-saat dia terpuruk seperti ini" pinta bulek Adyan sambil menggenggam kuat tangan Nayla.

Nayla hanya menjawab singkat, jujur ia masih sedikit canggung dengan bulek Adyan yang baru ia temui ini.

"Tolong selalu jadi arah kompas buat keponakan bulek ya, dia sudah kehilangan arahnya saat ini. Jadi kamu selalu jadi arah buat dia ya. Pegang terus dia jangan sampai keluar dari arahnya" mata bulek Adyan berkaca-kaca seperti menangis.

"Iya bulek, insyaallah ya. Itu juga sudah tugasku sebagai istrinya mas Adyan" jawab Nayla sambil melihat sekilas Adyan yang duduk di sebelahnya. Pria itu memalingkan wajah dengan dingin,

"Bagaimana aku bisa menjadi arah kompasnya sedangkan dia saja hanya menjadikanku pelacurnya" batin Nayla sambil melihat Adyan yang tak melihatnya sama sekali.

"Adyan kemarikan tanganmu" ucap Bulek Adyan meminta Adyan memberikan tangannya.

"kenapa sih bulek" ketus Adyan seperti menolak.

"udah sini" bulek Adyan menarik paksa tangan Adyan, dan dia menaruh tangan keponakannya itu di tas tangan Nayla.

"kalian berdua janji sama bulek ya, selalu sama-sama apapun yang terjadi" bulek Adyan terlihat sedih mengatakan itu.

sedangkan Adyan dan Nayla hanya saling tatap dengan pikiran yang berkecamuk di kepala mereka masing-masing.

"aku nggak janji bulek, karena tidak ada cinta di antara kita" batin Adyan.

"gimana bisa sama-sama terus, aku nggak tahu kuat atau nggak terus bertahan dengan perlakuannya" batin Nayla, keduanya masih saling menatap satu sama lain.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 68.

    Esok harinya Nayla sudah sadar tapi bedanya kini ia berada di ruang yang beda dari sebelumnya. Melihat sekeliling, merasa ada yang aneh dengan tangannya seperti ada yang terikat. Sedikit mendongak tubuh melihat kebawah dimana tangannya sudah terikat. "apa? kenapa aku diikat begini. kenapa?" herannya bertanya-tanya. "tolong siapapun lepaskan aku, lepaskan" teriaknya memanggil seseorang. Satu menit, dua menit, tiga menit ia memanggil tak ada jawaban hingga pintu ruangannya kini sudah terbuka. Seorang perawat membawakan sarapan untuknya. "bu Nayla sudah bangun. mari sarapn dulu bu" ucap perawat itu dengan lembut. menaruh pelan piring sarapan Nayla di nakar. Lalu berjalan membuka ikatan yang ada di tangan Nayla.Nayla memperhatikannya dengan seksama, ada rasa heran dalam dirinya. Heran kenapa ia bisa berada di ruangan seperti isolasi dengan tangannya yang terikat."Sebenarnya ada apa denganku, kenapa aku di ikat seperti binatang

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 67.

    Nayla jatuh pingsan dalam dekapan sang suami, tentu Adyan panik melihat istrinya tak sadarkan diri. Untung saja ia sigap menangkap sang istri, dengan cepat Adyan langsung mengangkat Nayla dan membaringkannya ke tempat tidur.Bertepatan dengan itu pintu ruangan terbuka, orang tua Nayla datang terburu-buru masuk. "Adyan, ada apa dengan Nayla?" tanya Ayah Nayla panik melihat putrinya yang terkulai lemas saat direbahan oleh menantunya itu.Adyan melihat sekilas kearah mertuanya, sambil membenarkan posisi sang istri "Nayla pingsan ya, dia..dia syok dengar kabar" jelas Adyan, menyelimuti Nayla mengusap lembut kepala istrinya. Lalu mengecup kening Nayla dengan sayang. Melihat sedih wajah pucat sang istri, seminggu tak sadarkan diri dan saat bangun harus menerima kabar pait soal anak mereka."kamu ngasih tau dia soal anak kalian?" Ibu Nayla membuka suara, saat tepat berdiri di sebelah ranjang Nayla. Tatapan tak senang melihat ke

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 66

    Nayla sudah di tangani oleh dokter, Adyan berjalan mondar-mandir tak tenang di depan ruang operasi. Yusp, Nayla terpaksa harus melahirkan saat ini, perempuan itu mengalami pendarahan yang cukup hebat dan mau tak mau harus melahirkan sebelum waktunya.Adyan benar-benar tak bisa tenang, sesekali ia duduk sesekali juga ia berdiri tangannya mengepal gemetar mengingat wajah pucat Nayla tadi. Begitu takut menerpa pikiran, takut kalau terjadi apa-apa dengan Nayla."yaallah selamatkan istri dan anak-anakku, jaga mereka tuhan" gumamnya penuh harap, ia benar-benar tak bisa tenang."Yaampun kenapa ini harus terjadi. kenapa saat ini!!" Adyan benar-benar panik, bingung menjadi satu dalam tumpukan rasa yang harus ia rasakan.Adyan berjalan dengan lemah duduk di kursi besi yang ada di situ, pandangannya tak tenang sesekali melihat kearah lampu yang ada di depan ruang operasi."nay, kamu harus bertahan sayang.""Kalau

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 65.

    Setelah ikut suaminya kerja Nayla memilih pulang, ia bosan sendiri di ruangan Adyan. Lebih baik ia tidur atau apa dirumah yang jelas tak merasa sumpek diruangan yang kecil. Tadi ia sempat bilang pada Adyan kalau ia pulang, suaminya tak mengijinkan. Meskipun tak di ijinkan Nayla tetap pulang, ia tak sabar harus menunggu kakinya terasa keram jika harus duduk terus.Hanya beberapa menit ia berjalan sudah sampai di depan rumah, belum ia berbelok ke halaman rumah dinas langkahnya berhenti saat sebuah motor berhenti di depannya, dan sapaan nama memanggil lembut masuk kedalam telinga."nay, apa kabar?' ucap seorang pria dengan pelan penuh rasa bersahabat."Yusuf," lirih Nayla sambil melihat sekitar takut ada yang melihat, apalagi takut kalau Adyan melihat, suaminya itu pasti akan marah diliputi cemburu buta."tenang nggak ada suamimu, dia lagi pergi sama Danyon." kata Yususf seolah tahu apa yang dikhawatirkan oleh Nayla.

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 64.

    Didalam kamar hanya ada keheningan, Bahkan Nayla tidur membelakangi Adyan meskipun Adyan beberpa kali mendekatkan diri. Tapi Nayla malah semakin bergeser memberi jarak, tentu Nayla sadar kalau Adyan semakin mendekati dirinya. Ia sendiri kini belum tidur, mata terasa susah untuk di buat terpejam. Semakin hari semakin ia tahan malah terasa lelah dan capek apalagi bayangan Adyan yang tak mengenakan baju memeluk erat Amel di tempat tidur itu terus mengusiknya.Disaat Nayla tengah larut dalam pikirinnya, tubuhnya seketiga menegang saat merasakan sebuah tangan yang akan masuk kedaSualam bajunya. Sedikit menunduk melihat tangan yang akan mulai masuk, mengerayangi buah dadanya. Dengan cepat Nayla menahan tangan kekar sang suami yang akan masuk kedalam baju, matanya terbuka melihat kearah Adyan yang seperti tertangkap basah."Kamu belum tidur sayang?" tanya Adyan menelan ludah."Mau apa mas?" tanya Nayla, perlahan bangkit sambil

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 63.

    Nayla masuk kedalam rumah dengan berat, seperti masuk kedalam sebuah gua penuh beban. Ia yang tadi riang keluar dari mobil Bela, kini wajahnya berubah saat masuk kedalam rumah. Wajah sendur terkesan dingin begitu nampak, apalagi rasa letih itu juga terasa.Dua hari ini Nayla rajin bertemu dengan Bela, untuk sekedar meluapkan beban agar tak ia simpan sendiri. Apalagi Anya juga sudah tak dirumah, sehingga hanya ia dan Adyan. Berdua dengan suaminya membuat ia merasa begitu sesak, seperti tak ada udara masuk dalam rongga nafas.Saat langkah kakinya berjalan masuk, menuju dapur setengah jalan ia di kagetkan dengan pintu kamar yang tiba-tiba terbuka."Selamat pulang kerumah sayang," seru Adyan membuka pintu kamar, dengan tangannya yang membawa sebuah goodiebag. Adyan mendekat, merengkuh Nayla sembari mengecup kening.Dengan pasrah Nayla memejamkan mata, berusaha menikmati ciuman yang diberikan Adyan. Perlahan matanya te

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 36.

    Hari ini Nayla menemani Adyan, meskipun dengan suasana hati yang ta menyenangkan. Bagaimana menyenangkan, ia kesal dengan pria itu semalaman karena ia ingin minum es tapi tidak boleh dan pagi ini, ia malah di ajak mendapingi suaminya itu dalam dinas menyambut perwakilan dari luar negeri.M

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 31.

    “Jadi..pacarmu yang kamu maksud selama ini adalah Nayla,.” Suara Danyon terdengar berat, ia berdiri tegap menatap adiknya yang duduk tertunduk tak berani melihat kearahnya.“Nayla perempuan yang selama ini kamu gumamkan dalam tidurmu,?” Nada suaranya melembut, tapi

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 30.

    Suasana sunyi yang terasa di dalam mobil, berbanding terbalik dengan suasana jalan yang ramai dengan kendaraan menyalip pelan satu sama lain. Nayla yang duduk tepat di sebelah Adyan sesekali mencuri pandang kearah sang suami yang diam fokus menyetir tanpa suara. “Mas..” panggil Nayla

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 28.

    Hari ini Adyan dan Nayla sudah berada di Semarang, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing karena tugas mereka sudah menunggu. Apalagi Adyan banyak pekerjaan yang harus ia urus menghadiri acara-acara yang seharusnya di hadiri Danyon tapi terpaksa ia yang harus hadir karena Danyon masih di l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status