Share

Bab 4.

Author: Fafacho
last update publish date: 2025-12-15 14:34:26

Sinar mentari masuk melalui cela-cela jendela, Nayla yang masih tergelum selimut perlahan mengerjapkan matanya saat sinar surya itu mengenai wajahnya. Dengan gerak perlahan Nayla menyandarkan dirinya di sandaran kasur. Tubuhnya teramat lelah dan terasa pegal-pegal, tulangnya seperti remuk. Dia melihat kearah jendela yang masih tertutup tirai, di luar terdengar suara beberapa orang yang mengobrol dan terdengar suara riuah para tentara yang tengah lari pagi bersama. "Diluar sepertinya sudah ramai, aku keluar atau tetap di dalam saja?" batin Nayla sambil mencuri dengar suara di luar. "sepertinya aku di dalam saja, nanti kalau aku keluar mereka pasti heran melihatku" putus Nayla. Dia lalu beralih melihat pintu kamarnya yang masih tertutup "di luar kayaknya sepi, mas Adyan sepertinya belum pulang" lirih Nayla.

Nayla perlahan melangkah turun dari tempat tidurnya, meskipun badannya terasa remuk ia tak seharusnya malas-malasan begini. Lebih baik ia bergerak sebelum Adyan pulang dan akan marah dengannya nanti.

"Semoga saja mas Adyan belum pulang, jadi aku bisa masak tanpa sungkan" batin Nayla berharap, jujur kalau ada Adyan ia mungkin akan canggung bahkan tak berkutik dengan pria itu. Mengingat hatinya yang terasa sakit dengan perlakuan Adyan semalam.

Dengan langkah pelannya Nayla membuka knop pintu, dia menyembulkan sedikit kepalanya keluar melihat situasi di dalam rumah dinas Adyan itu. Dan hanya kesunyian saja yang ia temui, dengan langkah mantap Nayla keluar dari kamar dan ia langsung berjalan menuju dapur kecil di rumah dinas tersebut. Dia berjalan ke kulkas mengambil air putih terlebih dahulu, tenggorokannya terasa kering saat ini, perlahan ia meneguk air putih itu dari botolnya langsung, rasanya dahaganya perlu di tuntaskan.

"Perempuan baik seperti apa yang minum langsung dari botolnya begitu" nada sindirian terdengar jelas, Nayla spontan langsung tersedak dan air itu langsung tersebur kedepan. Ia terbatu-batuk karena tersedak air,

Adyan muncul di belakang Nayla, pria itu berjalan dengan bertelanjang dada dengan handuk kecil yang menyampir di bahunya. Nayla langsung berbalik menatap Adyan yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Ma..mas Adyan dirumah," kagetnya melihat Adyan yang kini berada di depannya.

Adyan mengabaikan ucapan itu, ia berjalan melewati Nayla begitu saja lalu ia membuka kulkas mengabil botol lain dari dalam lemari es tersebut.

"Cepat mandi dan nanti ikut saya" suruh Adyan dan langsung mengambil air mineral di dalam kulkas.

"memang kita mau kemana mas?" tanya Nayla penasaran, dia mengamati Adyan yang tengah menarik kursi meja makan dan langsung meminum air dingin di tangannya.

"jangan banyak tanya cukup ikuti saja apa susahnya" ketus Adyan setelah meneguk minuman di tangannya. Ia lalu menatap Nayla yang juga menatap kearahnya. Ia mengamati perempuan itu dari atas kebawah, "Ternyata kau tak sependiam itu" sinisnya pada Nayla.

Nayla diam melihat Adyan yang seperti tak menyukai dirinya,"ternyata kau juga tak sebaik itu mas, aku pikir orang yang selalu di bilang pakde orang lembut ternyata, malah kayak lelembut" cibir Nayla lalu menghentakkan botol mineral di pantry. Setelah mengatakan itu dia langsung pergi begitu saja.

Adyan hanya menatap datar saja, tapi sebenarnya ia sedikit terkejut saja karena Nayla berani membantah ucapannya padahal semalam perempuan itu terlihat lemah saat ia menjamahnya. "Jangan lama-lama, saya tunggu di depan" ucap Adyan sebelum Nayla masuk kedalam kamar.

Nayla diam saja, ia tak menjawab perkataan Adyan barusan. Ia langsung masuk kedalam kamarnya saat ini. Dia tak segera berjalan ke kamar mandi yang ada di kamar. Malah Nayla memilih duduk di tepi tempat tidur dengan tangannya yang ia tekan di kedua sisi ke kasur.

"apa yang terjadi dengan hubungan ini kedepannya?" gumam Nayla seperti bingung sendiri. Ia tak menyangka ia menikah melalui perjodohan seperti ini.

..............

 "Arggh pelan-pelan, sakit" rintih Nayla saat tangannya di tarik kuat oleh Adyan berjalan cepat masuk kedalam rumah sakit. Adyan seperti tak memperdulikan rintihan Nayla itu, ia terus menarik tangan Nayla dengan cepat.

"Kau tuli hah, aku bilang sakit" Nayla menyentak tangan Adyan hingga terlepas dari tangannya. Ia tak bisa lagi menahan rasa sakit itu. dia berhenti sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah, sedangkan Adyan menatapnya tajam.

"Saya tidak perduli tanganmu sakit atau tidak, ayo cepat. Saya tidak butuh dramamu yang menjijikkan" Adyan kembali mencengkram pergelangan tangan Nayla. Tapi Nayla kembali menghempasnya.

"Kalau kau masih menarikku dengan kuat seperti tadi, aku nggak akan ikut denganmu" ancam Nayla, dia menatap serius Adyan. 

Wajah Adyan mengeras, dan memerah seperti menahan ledakan emosi yang akan meledak tapi di tahan-tahan. "Kalau kau masih bersikeras seperti membuat drama, jangan harap saya akan mengampunimu nanti. " Dengan sorot mata tajam dan ucapan yang mematikan itu, Nayla sedikit melunak. Dia seperti tak berani berucap lagi,

Dengan cepat Adyan langsung menarik kembali tangan Nayla, kini Nayla tak menolak dia hanya pasrah saja meskipun tarikan kuat itu begitu menyakitkan baginya. Adyan sedikit berlari otomatis Nayla juga ikut berlari mengikuti langkah kaki Adyan, ia mengamati wajah pria itu yang terlihat ketakutan dan gelisah. "Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa wajahnya terlihat seperti gelisah begitu" batin Nayla sambil memperhatikan wajah Adyan yang menatap lurus kedepan .

Mereka berlari menuju ruang ICU dimana ibunda Adyan di rawat, terlihat dari jauh saat ini terlihat beberapa orang berkumpul. Kaki Adyan yang tadi melangkah cepat kini mulai memelan, dan pandangannya terfokus ke arah ayah dan adiknya yang menangis. 

"Anya, ada apa?" ucap Adyan, dan tangannya juga perlahan melepaskan tangan Nayla yang sedari tadi ia cengkram. Perempuan muda bernama Anya yang tadi menangis di pelukan ayahnya kini melihat padanya,

"Bang Adyan,..bu..bunda bang. .." Anya langsung berhambur kepelukan kakaknya. Dia memeluk kakaknya itu sambil menangis tanpa henti. Tangan Adyan perlahan membalas pelukan adiknya, mengusap lembut punggung sang adik. 

"Jangan nangis, ngomong sama abang. Kenapa?" ucap Adyan, hatinya semakin tak karuan saat ini. Ketakutan serasa masuk dalam tubuhnya. Adyan merenggangkan pelukan adiknya. Menatap wajah sang adik yang masih menangis tak henti.

"ANYA, JAWAB ABANG" bentak Adyan pada adiknya tersebut.

Anya yang tadinya sedikit menunduk, kini perlahan dengan takut-takut menatap wajah kakaknya yang mulai emosi.

"Nggak usah cengen, kenapa nangis? bunda kenapa jawab?" ucap Adyan lagi dengan cukup tegas. Nayla yang berada di sebelahnya, ingin sekali menenangkan Adyan tapi tak cukup keberanian dalam dirinya.

Habis kesabaran Adyan, dia sedikit mendorong pelan adiknya dan menghampiri ayahnya yang tak jauh dari mereka menunduk sedih. Dan Om serta keluarganya lain juga menunjukkan ekspresi yang sama.

"Ayah, bunda kenapa yah?" tanya Adyan pada ayahnya.

"Ikhlas ya Adyan, bunda.bunda kamu udah pergi ninggalin kita" dengan menahan sedih ayah Adyan menyampaikan itu semua.

"APA? nggak yah. Nggak mungkin" Adyan menggeleng keras, mengelak itu semua. "Aku mau masuk, aku mau ketemu bunda" ucapnya dan akan masuk. Tapi di tahan oleh ayah dan omnya..

"Adyan, tenangin diri kamu, bunda kamu udah nggak sakit lagi. Udah ikhlasin ya.." Om Adyan berusaha menenangkan keponakannya itu.

"nggak Om, bunda nggak mungkin pergi gitu aja tanpa ngelihat aku OM. nggak mungkin, dia tadi nyuruh aku ngajak istri Om." Adyan masih berusaha mengelak hal itu. Matanya sudah mulai berkaca-kaca, Nayla yang melihat itu menghampiri Adyan dia mencoba menenangkan suaminya.

"Sudah mas, bunda udah nggak sa.." saat Nayla memegang pundak Adyan, pria itu berbalik menatapnya dengan sorot mata merah nan tajam.

"Gara-gara kau,." lirih Adyan menatap tajam 

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 68.

    Esok harinya Nayla sudah sadar tapi bedanya kini ia berada di ruang yang beda dari sebelumnya. Melihat sekeliling, merasa ada yang aneh dengan tangannya seperti ada yang terikat. Sedikit mendongak tubuh melihat kebawah dimana tangannya sudah terikat. "apa? kenapa aku diikat begini. kenapa?" herannya bertanya-tanya. "tolong siapapun lepaskan aku, lepaskan" teriaknya memanggil seseorang. Satu menit, dua menit, tiga menit ia memanggil tak ada jawaban hingga pintu ruangannya kini sudah terbuka. Seorang perawat membawakan sarapan untuknya. "bu Nayla sudah bangun. mari sarapn dulu bu" ucap perawat itu dengan lembut. menaruh pelan piring sarapan Nayla di nakar. Lalu berjalan membuka ikatan yang ada di tangan Nayla.Nayla memperhatikannya dengan seksama, ada rasa heran dalam dirinya. Heran kenapa ia bisa berada di ruangan seperti isolasi dengan tangannya yang terikat."Sebenarnya ada apa denganku, kenapa aku di ikat seperti binatang

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 67.

    Nayla jatuh pingsan dalam dekapan sang suami, tentu Adyan panik melihat istrinya tak sadarkan diri. Untung saja ia sigap menangkap sang istri, dengan cepat Adyan langsung mengangkat Nayla dan membaringkannya ke tempat tidur.Bertepatan dengan itu pintu ruangan terbuka, orang tua Nayla datang terburu-buru masuk. "Adyan, ada apa dengan Nayla?" tanya Ayah Nayla panik melihat putrinya yang terkulai lemas saat direbahan oleh menantunya itu.Adyan melihat sekilas kearah mertuanya, sambil membenarkan posisi sang istri "Nayla pingsan ya, dia..dia syok dengar kabar" jelas Adyan, menyelimuti Nayla mengusap lembut kepala istrinya. Lalu mengecup kening Nayla dengan sayang. Melihat sedih wajah pucat sang istri, seminggu tak sadarkan diri dan saat bangun harus menerima kabar pait soal anak mereka."kamu ngasih tau dia soal anak kalian?" Ibu Nayla membuka suara, saat tepat berdiri di sebelah ranjang Nayla. Tatapan tak senang melihat ke

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 66

    Nayla sudah di tangani oleh dokter, Adyan berjalan mondar-mandir tak tenang di depan ruang operasi. Yusp, Nayla terpaksa harus melahirkan saat ini, perempuan itu mengalami pendarahan yang cukup hebat dan mau tak mau harus melahirkan sebelum waktunya.Adyan benar-benar tak bisa tenang, sesekali ia duduk sesekali juga ia berdiri tangannya mengepal gemetar mengingat wajah pucat Nayla tadi. Begitu takut menerpa pikiran, takut kalau terjadi apa-apa dengan Nayla."yaallah selamatkan istri dan anak-anakku, jaga mereka tuhan" gumamnya penuh harap, ia benar-benar tak bisa tenang."Yaampun kenapa ini harus terjadi. kenapa saat ini!!" Adyan benar-benar panik, bingung menjadi satu dalam tumpukan rasa yang harus ia rasakan.Adyan berjalan dengan lemah duduk di kursi besi yang ada di situ, pandangannya tak tenang sesekali melihat kearah lampu yang ada di depan ruang operasi."nay, kamu harus bertahan sayang.""Kalau

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 65.

    Setelah ikut suaminya kerja Nayla memilih pulang, ia bosan sendiri di ruangan Adyan. Lebih baik ia tidur atau apa dirumah yang jelas tak merasa sumpek diruangan yang kecil. Tadi ia sempat bilang pada Adyan kalau ia pulang, suaminya tak mengijinkan. Meskipun tak di ijinkan Nayla tetap pulang, ia tak sabar harus menunggu kakinya terasa keram jika harus duduk terus.Hanya beberapa menit ia berjalan sudah sampai di depan rumah, belum ia berbelok ke halaman rumah dinas langkahnya berhenti saat sebuah motor berhenti di depannya, dan sapaan nama memanggil lembut masuk kedalam telinga."nay, apa kabar?' ucap seorang pria dengan pelan penuh rasa bersahabat."Yusuf," lirih Nayla sambil melihat sekitar takut ada yang melihat, apalagi takut kalau Adyan melihat, suaminya itu pasti akan marah diliputi cemburu buta."tenang nggak ada suamimu, dia lagi pergi sama Danyon." kata Yususf seolah tahu apa yang dikhawatirkan oleh Nayla.

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 64.

    Didalam kamar hanya ada keheningan, Bahkan Nayla tidur membelakangi Adyan meskipun Adyan beberpa kali mendekatkan diri. Tapi Nayla malah semakin bergeser memberi jarak, tentu Nayla sadar kalau Adyan semakin mendekati dirinya. Ia sendiri kini belum tidur, mata terasa susah untuk di buat terpejam. Semakin hari semakin ia tahan malah terasa lelah dan capek apalagi bayangan Adyan yang tak mengenakan baju memeluk erat Amel di tempat tidur itu terus mengusiknya.Disaat Nayla tengah larut dalam pikirinnya, tubuhnya seketiga menegang saat merasakan sebuah tangan yang akan masuk kedaSualam bajunya. Sedikit menunduk melihat tangan yang akan mulai masuk, mengerayangi buah dadanya. Dengan cepat Nayla menahan tangan kekar sang suami yang akan masuk kedalam baju, matanya terbuka melihat kearah Adyan yang seperti tertangkap basah."Kamu belum tidur sayang?" tanya Adyan menelan ludah."Mau apa mas?" tanya Nayla, perlahan bangkit sambil

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 63.

    Nayla masuk kedalam rumah dengan berat, seperti masuk kedalam sebuah gua penuh beban. Ia yang tadi riang keluar dari mobil Bela, kini wajahnya berubah saat masuk kedalam rumah. Wajah sendur terkesan dingin begitu nampak, apalagi rasa letih itu juga terasa.Dua hari ini Nayla rajin bertemu dengan Bela, untuk sekedar meluapkan beban agar tak ia simpan sendiri. Apalagi Anya juga sudah tak dirumah, sehingga hanya ia dan Adyan. Berdua dengan suaminya membuat ia merasa begitu sesak, seperti tak ada udara masuk dalam rongga nafas.Saat langkah kakinya berjalan masuk, menuju dapur setengah jalan ia di kagetkan dengan pintu kamar yang tiba-tiba terbuka."Selamat pulang kerumah sayang," seru Adyan membuka pintu kamar, dengan tangannya yang membawa sebuah goodiebag. Adyan mendekat, merengkuh Nayla sembari mengecup kening.Dengan pasrah Nayla memejamkan mata, berusaha menikmati ciuman yang diberikan Adyan. Perlahan matanya te

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 38.

    “Katanya tadi pengen jambu, kenapa pas aku bawa, nggak kamu sentuh sama sekali?” Suara Adyan terdengar datar, tapi ada nada dongkol yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah, handuk menggantung di leher. Matanya langsung

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 36.

    Hari ini Nayla menemani Adyan, meskipun dengan suasana hati yang ta menyenangkan. Bagaimana menyenangkan, ia kesal dengan pria itu semalaman karena ia ingin minum es tapi tidak boleh dan pagi ini, ia malah di ajak mendapingi suaminya itu dalam dinas menyambut perwakilan dari luar negeri.M

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 31.

    “Jadi..pacarmu yang kamu maksud selama ini adalah Nayla,.” Suara Danyon terdengar berat, ia berdiri tegap menatap adiknya yang duduk tertunduk tak berani melihat kearahnya.“Nayla perempuan yang selama ini kamu gumamkan dalam tidurmu,?” Nada suaranya melembut, tapi

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 30.

    Suasana sunyi yang terasa di dalam mobil, berbanding terbalik dengan suasana jalan yang ramai dengan kendaraan menyalip pelan satu sama lain. Nayla yang duduk tepat di sebelah Adyan sesekali mencuri pandang kearah sang suami yang diam fokus menyetir tanpa suara. “Mas..” panggil Nayla

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status