LOGINSinar mentari masuk melalui cela-cela jendela, Nayla yang masih tergelum selimut perlahan mengerjapkan matanya saat sinar surya itu mengenai wajahnya. Dengan gerak perlahan Nayla menyandarkan dirinya di sandaran kasur. Tubuhnya teramat lelah dan terasa pegal-pegal, tulangnya seperti remuk. Dia melihat kearah jendela yang masih tertutup tirai, di luar terdengar suara beberapa orang yang mengobrol dan terdengar suara riuah para tentara yang tengah lari pagi bersama. "Diluar sepertinya sudah ramai, aku keluar atau tetap di dalam saja?" batin Nayla sambil mencuri dengar suara di luar. "sepertinya aku di dalam saja, nanti kalau aku keluar mereka pasti heran melihatku" putus Nayla. Dia lalu beralih melihat pintu kamarnya yang masih tertutup "di luar kayaknya sepi, mas Adyan sepertinya belum pulang" lirih Nayla.
Nayla perlahan melangkah turun dari tempat tidurnya, meskipun badannya terasa remuk ia tak seharusnya malas-malasan begini. Lebih baik ia bergerak sebelum Adyan pulang dan akan marah dengannya nanti.
"Semoga saja mas Adyan belum pulang, jadi aku bisa masak tanpa sungkan" batin Nayla berharap, jujur kalau ada Adyan ia mungkin akan canggung bahkan tak berkutik dengan pria itu. Mengingat hatinya yang terasa sakit dengan perlakuan Adyan semalam.
Dengan langkah pelannya Nayla membuka knop pintu, dia menyembulkan sedikit kepalanya keluar melihat situasi di dalam rumah dinas Adyan itu. Dan hanya kesunyian saja yang ia temui, dengan langkah mantap Nayla keluar dari kamar dan ia langsung berjalan menuju dapur kecil di rumah dinas tersebut. Dia berjalan ke kulkas mengambil air putih terlebih dahulu, tenggorokannya terasa kering saat ini, perlahan ia meneguk air putih itu dari botolnya langsung, rasanya dahaganya perlu di tuntaskan.
"Perempuan baik seperti apa yang minum langsung dari botolnya begitu" nada sindirian terdengar jelas, Nayla spontan langsung tersedak dan air itu langsung tersebur kedepan. Ia terbatu-batuk karena tersedak air,
Adyan muncul di belakang Nayla, pria itu berjalan dengan bertelanjang dada dengan handuk kecil yang menyampir di bahunya. Nayla langsung berbalik menatap Adyan yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Ma..mas Adyan dirumah," kagetnya melihat Adyan yang kini berada di depannya.
Adyan mengabaikan ucapan itu, ia berjalan melewati Nayla begitu saja lalu ia membuka kulkas mengabil botol lain dari dalam lemari es tersebut.
"Cepat mandi dan nanti ikut saya" suruh Adyan dan langsung mengambil air mineral di dalam kulkas.
"memang kita mau kemana mas?" tanya Nayla penasaran, dia mengamati Adyan yang tengah menarik kursi meja makan dan langsung meminum air dingin di tangannya.
"jangan banyak tanya cukup ikuti saja apa susahnya" ketus Adyan setelah meneguk minuman di tangannya. Ia lalu menatap Nayla yang juga menatap kearahnya. Ia mengamati perempuan itu dari atas kebawah, "Ternyata kau tak sependiam itu" sinisnya pada Nayla.
Nayla diam melihat Adyan yang seperti tak menyukai dirinya,"ternyata kau juga tak sebaik itu mas, aku pikir orang yang selalu di bilang pakde orang lembut ternyata, malah kayak lelembut" cibir Nayla lalu menghentakkan botol mineral di pantry. Setelah mengatakan itu dia langsung pergi begitu saja.
Adyan hanya menatap datar saja, tapi sebenarnya ia sedikit terkejut saja karena Nayla berani membantah ucapannya padahal semalam perempuan itu terlihat lemah saat ia menjamahnya. "Jangan lama-lama, saya tunggu di depan" ucap Adyan sebelum Nayla masuk kedalam kamar.
Nayla diam saja, ia tak menjawab perkataan Adyan barusan. Ia langsung masuk kedalam kamarnya saat ini. Dia tak segera berjalan ke kamar mandi yang ada di kamar. Malah Nayla memilih duduk di tepi tempat tidur dengan tangannya yang ia tekan di kedua sisi ke kasur.
"apa yang terjadi dengan hubungan ini kedepannya?" gumam Nayla seperti bingung sendiri. Ia tak menyangka ia menikah melalui perjodohan seperti ini.
..............
"Arggh pelan-pelan, sakit" rintih Nayla saat tangannya di tarik kuat oleh Adyan berjalan cepat masuk kedalam rumah sakit. Adyan seperti tak memperdulikan rintihan Nayla itu, ia terus menarik tangan Nayla dengan cepat.
"Kau tuli hah, aku bilang sakit" Nayla menyentak tangan Adyan hingga terlepas dari tangannya. Ia tak bisa lagi menahan rasa sakit itu. dia berhenti sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah, sedangkan Adyan menatapnya tajam.
"Saya tidak perduli tanganmu sakit atau tidak, ayo cepat. Saya tidak butuh dramamu yang menjijikkan" Adyan kembali mencengkram pergelangan tangan Nayla. Tapi Nayla kembali menghempasnya.
"Kalau kau masih menarikku dengan kuat seperti tadi, aku nggak akan ikut denganmu" ancam Nayla, dia menatap serius Adyan.
Wajah Adyan mengeras, dan memerah seperti menahan ledakan emosi yang akan meledak tapi di tahan-tahan. "Kalau kau masih bersikeras seperti membuat drama, jangan harap saya akan mengampunimu nanti. " Dengan sorot mata tajam dan ucapan yang mematikan itu, Nayla sedikit melunak. Dia seperti tak berani berucap lagi,
Dengan cepat Adyan langsung menarik kembali tangan Nayla, kini Nayla tak menolak dia hanya pasrah saja meskipun tarikan kuat itu begitu menyakitkan baginya. Adyan sedikit berlari otomatis Nayla juga ikut berlari mengikuti langkah kaki Adyan, ia mengamati wajah pria itu yang terlihat ketakutan dan gelisah. "Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa wajahnya terlihat seperti gelisah begitu" batin Nayla sambil memperhatikan wajah Adyan yang menatap lurus kedepan .
Mereka berlari menuju ruang ICU dimana ibunda Adyan di rawat, terlihat dari jauh saat ini terlihat beberapa orang berkumpul. Kaki Adyan yang tadi melangkah cepat kini mulai memelan, dan pandangannya terfokus ke arah ayah dan adiknya yang menangis.
"Anya, ada apa?" ucap Adyan, dan tangannya juga perlahan melepaskan tangan Nayla yang sedari tadi ia cengkram. Perempuan muda bernama Anya yang tadi menangis di pelukan ayahnya kini melihat padanya,
"Bang Adyan,..bu..bunda bang. .." Anya langsung berhambur kepelukan kakaknya. Dia memeluk kakaknya itu sambil menangis tanpa henti. Tangan Adyan perlahan membalas pelukan adiknya, mengusap lembut punggung sang adik.
"Jangan nangis, ngomong sama abang. Kenapa?" ucap Adyan, hatinya semakin tak karuan saat ini. Ketakutan serasa masuk dalam tubuhnya. Adyan merenggangkan pelukan adiknya. Menatap wajah sang adik yang masih menangis tak henti.
"ANYA, JAWAB ABANG" bentak Adyan pada adiknya tersebut.
Anya yang tadinya sedikit menunduk, kini perlahan dengan takut-takut menatap wajah kakaknya yang mulai emosi.
"Nggak usah cengen, kenapa nangis? bunda kenapa jawab?" ucap Adyan lagi dengan cukup tegas. Nayla yang berada di sebelahnya, ingin sekali menenangkan Adyan tapi tak cukup keberanian dalam dirinya.
Habis kesabaran Adyan, dia sedikit mendorong pelan adiknya dan menghampiri ayahnya yang tak jauh dari mereka menunduk sedih. Dan Om serta keluarganya lain juga menunjukkan ekspresi yang sama.
"Ayah, bunda kenapa yah?" tanya Adyan pada ayahnya.
"Ikhlas ya Adyan, bunda.bunda kamu udah pergi ninggalin kita" dengan menahan sedih ayah Adyan menyampaikan itu semua.
"APA? nggak yah. Nggak mungkin" Adyan menggeleng keras, mengelak itu semua. "Aku mau masuk, aku mau ketemu bunda" ucapnya dan akan masuk. Tapi di tahan oleh ayah dan omnya..
"Adyan, tenangin diri kamu, bunda kamu udah nggak sakit lagi. Udah ikhlasin ya.." Om Adyan berusaha menenangkan keponakannya itu.
"nggak Om, bunda nggak mungkin pergi gitu aja tanpa ngelihat aku OM. nggak mungkin, dia tadi nyuruh aku ngajak istri Om." Adyan masih berusaha mengelak hal itu. Matanya sudah mulai berkaca-kaca, Nayla yang melihat itu menghampiri Adyan dia mencoba menenangkan suaminya.
"Sudah mas, bunda udah nggak sa.." saat Nayla memegang pundak Adyan, pria itu berbalik menatapnya dengan sorot mata merah nan tajam.
"Gara-gara kau,." lirih Adyan menatap tajam
***
Nayla pulang kerumah membawa makanan, dia sengaja sekalian membelikan makan malam untuk suaminya. Wajah lelah serta mata yang masih sediit sembab terlihat jelas di wajah Nayla. Ia melangkah membuka pintu rumahnya, tapi sebelum ia memutar knop pintu, pintu di depannya itu sudah terbuka lebih dulu. Siapa lagi yang membukanya kalau bukan Adyan, dua orang itu sama-sama terlihat terkejut saling tatap.“mas Adyan mau kemana?” tanya Nayla melihat suaminya yang terlihat sudah mandi dan berpakaian rapi dengan tangannya yang memegang kunci mobil.“Darimana saja kamu?” bukannya menjawab, Adyan malah balik bertanya dengan dingin. Menatap menuntut jawaban dari sang istri.“Aku habis ketemu temanku mas, maaf kalau aku kesorean pulangnya” Nayla merasa bersalah karena pulang sore, apalagi melihat tatapan Adyan yang seperti menahan kemarahan.“masuk” Adyan tak membalas,
Hari ini Adyan dan Nayla sudah berada di Semarang, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing karena tugas mereka sudah menunggu. Apalagi Adyan banyak pekerjaan yang harus ia urus menghadiri acara-acara yang seharusnya di hadiri Danyon tapi terpaksa ia yang harus hadir karena Danyon masih di luar negeri. Bukan itu saja yang ia lakukan, ia juga harus melihat latihan di tempat yang berbeda, saat ini Adyan baru selesa memantau latihan dan dia baru kembali ke kantornya.Ia duduk di kursi kerjanya, menyandarkan diri sambil sesekali menghela nafas. Ia terlihat cukup lelah kemarin baru pulang dari sumsel kini ia harus di sibukkan dengan pekerjaan yang sangat padat.Saat Adyan tengah merilekskan tubuhnya, bunyi getar singkat di benda pipih yang teronggok di meja depan mengalihkannya. Pandangan Adyan langsung terarah kebenda pipih itu, dimana layarnya yang menyala. Tangan Adyan bergerak mengambil ponselnya, melihat nama Nayla yang mengirimkan pesan.&nbs
Adyan yang sudah membayar saat berbalik dia melihat Lettu Faris tengah bicara dengan Nayla, melihat itu membuat Adyan penasaran sekaligus sedikit kaget. Dalam kepalanya bertanya-tanya kenapa Lettu Faris bicara dengan istrinya, apa yang tengah mereka bicarakan. Begitulah kira-kira yang dipikirkan Adyan, langkahnya ia percepat mendekat ke arah mereka berdua yang terlihat serius.“hemm,” Adyan berdehem saat sudah berada di dekat mereka berdua. Sontak keduanya bersamaan berbalik melihat kearah Adyan yang menatap datar mereka.“Mayor Adyan” “mas” ucap mereka berdua bersamaan, Nayla terlihat was-was, takut kalau suaminya akan salah paham. Apalagi meihat tatapan tak suka Adyan membuatnya seperti tengah di introgasi.“Lettu Faris, sedang apa kau disini?” Adyan menatap serius Faris, sesekali ia juga menatap sang istri yang terlihat akan menjelaskan tapi saat melihat tatapan dinginny
Nayla terbangun dari tidurnya, ia membuka matanya perlahan lalu sedikit menoleh kesamping dimana Adyan tengah tidur lelap di sebelahnya. Ingatannya berputar pada sore tadi dimana mereka berhubungan intim tapi Adyan terlihat berbeda pria itu sedikit lembut dari biasanya bahkan terkesan tak memaksa.“Aku nggak mimpikan, tadi mas Adyan bisa selembut itu denganku” batin Nayla masih tak percaya, ia sedikit memiringkan tubuhnya menghadap Adyan. Wajah Nayla bersemu merah, pipinya merona mengingat suara Adyan yang meminta ijin padanya.Refleks kedua tangan Nayla memegang wajahnya, berusaha mentralkan diri agar tak kepanasan dengan hal manis tadi. “ternyata mas Adyan bisa selembut itu melakukannya” gumam Nayla, bibirnya merekah dengan tatapan berbinar menatap Adyan yang lelap. Perlahan tangan Nayla refleks ingin mengelus wajah tampan suaminya, tapi itu hanya mengambang di udara saja. Ia ragu untuk melakukannya, bagaimana kalau Adyan nanti b
Nayla terlihat tak tenang matanya menyisir sekitar sesekali tangannya juga bergerak gelisah. Dia merasa tak tenang menunggu kedatangan pakdenya. Kira-kira ia harus bersikap seperti apa saat bertatap muka nanti, dua bulan lebih ia memblokir nomor pakdenya dan kini malah akan bertemu. Pertemuan yang tak di rencanakan sebelumya.“Nanti pakde bakal ngungkit nggak ya?’ batin Nayla penasara, penuh tanya dalam dirinya sendiri.Adyan yang duduk di sebelah Nayla jelas juga merasakan ada yang aneh dengan sang istri, terlihat ia sesekali melihat Nayla seperti melamun nampak gugup.“Kenapa?” tanya Adyan singkit, mendengar pertanyaan dari suaminya Nayla menoleh menatap suaminya.“Nggak, nggak pa-pa mas” jawab Nayla berusaha terlihat biasa, agar Adyan tak semakin curiga dengan ekspresinya kini.Adyan lalu diam, tapi tatapannya sesekali masih melihat kearah Nayla, beberapa menit akhirnya yang mereka
Nayla terus memperhatikan Adyan, ia merasa risau takut kalau suaminya marah dengan ceritanya tadi soal Yusuf.“kenapa melihatku seperti itu, kau nggak mau makan?” tanya Adyan saat mendapati Nayla yang memperhatikannya.Nayla langsung glagapan karena ketahuan memperhatikan Adyan, “I..iya ini aku makan mas” jawab Nayla kikuk. Dia lalu fokus dengan makannya meskipun masih sedikit gugup. Sedangkan Adyan juga kembali makan lagi, pria itu sepertinya tak terlalu menganggap serius.Tapi bagi Nayla, terus kepikiran sesekali ia masih memperhatikan Adyan yang makan. Pria itu seperti tak menganggap serius ini semua. “kenapa ya mas Adyan tanya-tanya soal masa lalu ku, sebegitu ingin tahu kah dirinya denganku” batin Nayla dengan pandangannya yang sesekali melihat Adyan yang sibuk makan.Tangan Nayla yang tadi menyendok makanan berhent sejenak, pandangannya kembali menata kearah suaminya. &ldq







