Se connecter“ARKKKK Hantu..” teriak istri Toni saat keluar dari kamar mendapati seorang berbaring di sofa sambil berselimut putih.Dari dalam kamar keluar Toni yang menbarak istrinya masih berteria. “Ada apa sih bun, kenapa?” ucapnya menyalakan lampu ruang tengah tersebut.Dari arah sofa terlihat orang itu bergerak membuka selimut, mendengar kgaduan – Adyan. Dialah pelakunya, membuka selimut tanpa rasa bersalah melihat kearah dua orang yang menatap heran.Toni terlihat menghela nafas, berjalan mendekati suami keponakannya. Sedangkan istrinya terlihat sedikit kesal berjalan cepat mendekat, berkacak pinggang di depan Adyan.“Yaampun Adyan, bude kira kamu hantu!. Kenapa tidur di luar” bude Nayla menatap heran.“kenapa kamu disini, kenapa nggak dalam kamar?” tanya Toni menatap Adyan, rasa penasaran muncul.Perlahan Adyan mendudukkan diri, melihat du
“terus tadi kamu bil..arhkkk” ucap Nayla terhenti, perempuan itu tiba-tiba memegangi perutnya sambil merintih kesakitan. Melihat istrinya kesakitan sambil memegangi perut jelas membuat Adyan langsung khawatir, ia mendekat memegang perut istrinya juga.“kenapa sayang? Perut kamu kenapa?” panik Adyan, sambil melihat wajah Nayla yang terus merintih sakit.Nayla diam merasakan sakit diperutnya, ia tak menjawab pertanyaan-pertanyaan Adyan yang panik. Malah Nayla seperti orang kebingungan mengerjap-ngerjapkan matanya seperti merasakan kenapa perutnya sakit. “Aku laper mas” ucapnya kemudian setelah sempat loading sesaat.Mulut Adyan seketika mengenganga mendengar itu, “kamu laper?” tanyanya tak percaya.“Sshhh, iya arkh aku..aku laper” desis Nayla, memeluk perutnya sambil merintih. Merasakan perih. Dia memang sedari tadi belum makan, ia tadi yang i
Nayla baru keluar kamar setelah lama didalam sejak Adyan pergi tadi. Bahkan ia melewatkan makan malam bersama keluarga pakdenya, perasaan tak enak merambah. Perlahan kakinya berjalan pelan keluar kamar, mencari keberadaan pemilik rumah. Terdengar suara yang mengobrol di ruang tamu, membuat Nayla merasa penasaran. Kakinya itu membawanya mendekat, belum sampai di ruang tamu sebuah ucapan menghentikannya untuk mendekat.“Ayah boleh percaya dengan Adyan saat tugas, tapi ini menyangkut kehidupan pribadi. Bagaimana bisa dia masih membantu mantan kekasihnya disaat dia punya istri” protes istri Toni melihat sikap suaminya itu yang terlalu percaya dengan Adyan. “Ayah nggak lihat rumah tangganya sama Nayla saja masih gantung, ayah nggak kasihan sama Nayla? Ayah nggak ada rasa bersalah dengannya” lanjut istri Toni dengan emosi yang menggebu, bicaranya tak henti.Toni menunduk mendengar omelan istrinya, mengusap wajah kasar kemud
Adyan berjalan keluar, menatap lurus kedepan dengan rasa penasaran. Ia mendengar suara seseorang yang tengah bicara di luar, rasa penasarannya semakin terasa tak kalau suara sesegukan diringi ucapan memohon perempuan terdengar jelas di telinganya. “Siapa pakde?” tanya Adyan saat sudah berada dekat mereka. Pakde Nayla yang berdiri di tengah pintu berbicara denan seorang perempuan yang ada di luar, pria paruh baya itu menoleh melihat Adyan. Wajah pria pakde terlihat merah padam, dengan tangan terkepal. Adyan jelas menyadari kalau ada yang tak beres dari pakdenya.Ia melihat kedepan dan ia kaget saat melihat seorang perempuan paruh baya berdiri sambil menangis di depan pakde Nayla itu. Seorang yang amat sangat ia kenal menangis dengan tatapan memohon. “Adyan," panggil perempuan itu sedikit maju "tolong ibu nak. Tolong bujuk Amel agar mau dibawa kerumah sakit jiwa. Dia..dia mengamuk tadi. Dan ibu butuh bantuan kamu” itu ibu Ame
“Nayla,.” Suara pria yang tegas nan khawatir.Nayla langsung menoleh, matanya melebar melihat seorang yang berdiri di depannya saat ini.“mas Adyan,.ke..kenapa kamu ada disini mas?” Nayla seketika berdiri dari duduknya ia kaget melihat suaminya yang kini berada di depannya. Jelas ia kaget, karena saat ia pergi tadi Adyan tengah ijin ke kantor. Tapi tiba-tiba suaminya mengikuti dirinya kerumah pakdenya.“bukannya aku sudah melarangmu pergi, kenapa kamu masih nekat kesini” Adyan bicara dengan dingin, sorot matanya menatap sang istri sedikit kecewa. Benar ia tadi sudah melarang Nayla, dan ia memang sengaja bilang ke kantor, ingin mengetas istrinya bakal menuruti larangannya atau tetap memilih pergi. Ternyata Nayla malah memilih pergi.Nayla yang sudah berdiri dari duduknya memegang tangan Adyan, sedikit menariknya “Ayo mas, kita bicara di luar” ucap Nayla sambil mengajak Adyan keluar dari dalam rumah pakdenya.
Langit gelap malam kini terganti dengan cahaya silau yang menyilaukan mata,. Sinar mentarai itu begitu menyilaikan tepat mengenai mata Adyan yang tengah lelap dalam tidur. Tidur yang tadi nyenyak kini terganggu saat ia memiringkan tubuhnya kekanan, sinar matahari tepat mengenai matanya. Membuat pria tampan nan tegap itu merasa tak nyaman, beberapa kali matanya mengernyit silau.Mata yang berat seperti tak bisa terbuka, rasa kantuk begitu menjalarnya. Namun sinar itu seakan memaksanya untuk bangun bersamaan dengan rasa panas nan gerah, seolah matahari marah dengannya karena tak bangun-bangun. Akhirnya Adyan bangun dari tidurnya, masih dengan rasa kantuk yang teramat, ia mendudukkan dirinya menunduk dengan mata yang masih terpejam.Perlahan ia membuka matanya sambil meregangkan tubuhnya, dan matanya langsung tertuju pada jendela kamar yang terbuka lebar. Matanya langsung membola saat melihat begitu teriknya di luar.“kenapa panas begitu, ini jam berapa?” ucapnya, rasa panik nerpa diriny
Hari yang cerah pagi ini seperti menggambarkan suasana hati Nayla yang juga penuh cerah dan bahagia. Pagi ini hatinya sudah berbunga karena kepedulian Adyan padanya, pria itu baru saja selesai memijatnya. Saat bangun ia merasa kakinya terasa sakit, Adyan yang melihat itu langsung memijatnya penuh
“Nggak usah teriak, Mbak, yang salah mbak sendiri” ucapnya datar, nadanya tenang tapi menusuk.Tatapan itu membuat Anya sedikit tertegun, meski rasa kesalnya belum juga surut. Dadanya naik turun, emosinya masih bergejolak.Sementara pria satunya berjongkok, mulai memungu
“udah nggak usah, kamu duduk aja” Adyan mengambil piring yang miliknya yang di ambil oleh Nayla, istrinya itu akan mencuci piring bekas mereka sarapan.“tapi mas,..” Nayla yang sudah berdiri menatap tak mengerti kearah suaminya.&l
“Katanya tadi pengen jambu, kenapa pas aku bawa, nggak kamu sentuh sama sekali?” Suara Adyan terdengar datar, tapi ada nada dongkol yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah, handuk menggantung di leher. Matanya langsung







