แชร์

Bab 38.

ผู้เขียน: Fafacho
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-28 19:00:49

“Katanya tadi pengen jambu, kenapa pas aku bawa, nggak kamu sentuh sama sekali?” Suara Adyan terdengar datar, tapi ada nada dongkol yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah, handuk menggantung di leher. Matanya langsung tertuju pada Nayla yang duduk di pinggir tempat tidur, punggungnya bersandar lemah, jemarinya sibuk menggeser layar ponsel.

Sejak sore tadi dadanya terasa panas.

Ia sudah susah payah meme
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 44.

    “Makasih… kalian sudah mau nganterin aku ke sini.”Ucapan itu keluar dari mulut Anya dengan nada sedikit kaku, seolah ia gengsi untuk benar-benar mengucapkan terima kasih.Ia berdiri di samping motornya, menatap dua tentara yang masih berdiri di depannya.Wajah Anya terlihat agak canggung.Terlebih lagi, bayangan kejadian di jalan tadi masih terlintas di kepalanya.Saat motor melewati jalan yang rusak dan berlubang—Motor Zevan sempat oleng sedikit.Dan karena Anya sengaja tidak berpegangan…Tubuhnya hampir saja jatuh.Refleks.Tangannya langsung memeluk pinggang Zevan dengan erat.Saat itu juga wajahnya langsung panas.Untung saja Zevan tidak mengatakan apa-apa.“Ya, sama-sama,” jawab Zevan dan Fauzi hampir bersamaan.Anya menggaruk tengkuknya pelan, masih merasa sedikit malu.“K

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 43.

    “Bang, pokoknya aku nggak mau dianter sama mereka. Aku berani kok sendiri,” kukuh Anya sambil menyilangkan tangan di depan dada. Wajahnya keras kepala. Matanya menatap kakaknya dengan penuh protes. Jelas ia protes, ia tak mau di antar oleh dua orang yang menurutnya arogan.Namun Adyan tetap berdiri tegap di depannya. Wajahnya datar, tapi auranya jelas tidak bisa dibantah.“Nggak ada penolakan, Anya,” ucap Adyan tegas, nada suaranya rendah… tapi penuh perintah. “Kamu tetap akan diantar Lettu Zevan dan Letda Fauzi.”Anya langsung mengerucutkan bibirnya kesal. Ia mendengus pelan kalau kakaknya sudah bicara dengan nada seperti itu, biasanya tidak ada ruang untuk berdebat lagi.Dan Anya tahu benar kakanya itu bisa sangat mengerikan kalau sudah marah. Dan tatapan yang mengerikan kakaknya lah yang membuat ia takut.“Kalau begitu kita permisi dulu, Ndan,” uc

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 42.

    “Adyan.”Satu panggilan itu langsung memutus suasana hangat di antara mereka.Adyan menoleh dengan wajah jelas tak senang. Tatapan yang tadi lembut saat menatap istrinya seketika mengeras—dingin, kaku, seolah tembok tebal berdiri di antara dirinya dan orang yang baru saja memanggilnya.Nayla ikut menoleh. Alisnya sedikit berkerut, matanya menyapu sosok pria di depan mereka. Nalurinya langsung menangkap perubahan sikap suaminya. Adyan cuma seperti ini kalau bertemu orang yang tak ia sukai.“Mayor satu ini sekarang sibuk sekali,” ucap pria itu santai, senyum tipis terbit di wajahnya. “Kumpul sama teman lama saja sudah jarang.”Tangannya terulur.Adyan membalas jabatan tangan itu—singkat, dingin—dengan senyum tipis yang jelas-jelas palsu.“Istrimu?” tanya pria itu, melirik Nayla.“Iya,” jawab Adyan ce

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 41.

    Hari yang cerah pagi ini seperti menggambarkan suasana hati Nayla yang juga penuh cerah dan bahagia. Pagi ini hatinya sudah berbunga karena kepedulian Adyan padanya, pria itu baru saja selesai memijatnya. Saat bangun ia merasa kakinya terasa sakit, Adyan yang melihat itu langsung memijatnya penuh kelembutan.Nayla keluar kamar sambil menahan senyumnya, sesekali ia melihat sang suami yang memutuskan untuk tidur lagi. Hari ini Adyan tak pergi dinas, karena pria itu nanti janji akan menemaninya kontrol ke dokter kandungan.Baru saja Nayla melangkah kedapur, ia sudah di ledek oleh adik iparnya yang ternyata sudah duduk nyaman di meja makan menatap dirinya dengan senyum meledek. “hemm, hem cie...habis apa mbak kok senyum-senyum sendiri sih” goda Anya pada kakak iparnya yang langsung memasang wajah malu-malu.Nayla refleks menunduk, pipinya memanas.“Ngg… nggak,” jawabnya gugup. “Mbak nggak habis ng

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 40.

    “Nggak usah teriak, Mbak, yang salah mbak sendiri” ucapnya datar, nadanya tenang tapi menusuk.Tatapan itu membuat Anya sedikit tertegun, meski rasa kesalnya belum juga surut. Dadanya naik turun, emosinya masih bergejolak.Sementara pria satunya berjongkok, mulai memunguti belanjaan Anya tanpa banyak bicara.Anya berdiri perlahan, menepuk-nepuk celananya dengan kasar. Tatapannya tajam, tapi di balik itu ada rasa malu kecil yang mulai menyelinap—jatuh di tempat umum, dengan kondisi berantakan.“Apa? Kamu tadi bilang apa? Salahku.? Perasaan masnya yang salah jalan dempet-dempet” ngegas Anya tak terima, dengan kedua tangannya berada di pinggang. Membiarkan belanjaannya di bawah.Pria dingin itu tetap pada posisinya. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi.“Memang salah mbak,” balasnya tenang. “Yang nggak fokus.”“Kamu..” Anya mendesis geram,

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 39.

    “udah nggak usah, kamu duduk aja” Adyan mengambil piring yang miliknya yang di ambil oleh Nayla, istrinya itu akan mencuci piring bekas mereka sarapan.“tapi mas,..” Nayla yang sudah berdiri menatap tak mengerti kearah suaminya.“udah kamu duduk aja, biar Anya yang cuci piring” ucap Adyan, lalu melihat kearah depan tv dimana adiknya duduk santai di sana. “Anya,.” Serunya memanggil sang adik.Anya yang merasa terpanggil melihat kearah abangnya, “Iya bang,” jawabnya menatap sang kakak.“Sini kamu,” perintah Adyan dengan tegas, dengan tatapan tajamnya. Segera Anya langsung berdiri dari duduknya, berjalan mendekati kakaknya yang tengah bersama kakak iparnya.“Iya bang, kenapa?” tanyanya saat sudah berada di depan Adyan,“beresin meja makan, habis itu cuci piring. Kalau mau d

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 33.

    Adyan baru saja pulang kerumah, dia masuk kedalam melihat rumahnya sudah rapi dan terlihat harum. Di berdiri melihat sekeliling yang bersih, “Apa dia tadi keluar kamar?” batin Adyan melihat kearah pintu kamarnya yang tertutup. Ada rasa ragu untuk mendekat, ia ragu bertemu dengan Nayla

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 32.

    Nayla menatap Adyan yang masih diam membisu setelah ia bicara panjang lebar tadi. Tak ada satu kata pun keluar dari mulut pria itu. Tak ada bantahan, tak ada penjelasan—bahkan sekadar penolakan pun tidak.Perlahan jemarinya yang sejak tadi menggenggam lengan Adyan mengendur, seolah k

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 31.

    “Jadi..pacarmu yang kamu maksud selama ini adalah Nayla,.” Suara Danyon terdengar berat, ia berdiri tegap menatap adiknya yang duduk tertunduk tak berani melihat kearahnya.“Nayla perempuan yang selama ini kamu gumamkan dalam tidurmu,?” Nada suaranya melembut, tapi

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 30.

    Suasana sunyi yang terasa di dalam mobil, berbanding terbalik dengan suasana jalan yang ramai dengan kendaraan menyalip pelan satu sama lain. Nayla yang duduk tepat di sebelah Adyan sesekali mencuri pandang kearah sang suami yang diam fokus menyetir tanpa suara. “Mas..” panggil Nayla

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status