LOGIN“Iya… iya… di situ… jangan berhenti…”Satria menggeram pelan. Tangan satu menahan pinggang Liana agar tetap menerima setiap dorongan, sementara tangan lainnya menyusup ke rambut istrinya, mencengkeram lembut dan menarik kepala Liana sedikit ke belakang.“Ngghh...Satria ... aahh... aku milikmu.” desah Liana di sela napasnya yang putus-putus. Suaranya sudah bergetar. “Selamanya… hanya kamu… hanya kamu, Satria…”“Ulangi,” perintah Satria serak, semakin cepat. “Bilang lagi.”“Aku milik kamu… ahh… selamanya… cuma kamu yang boleh… ngghh… masukin aku sedalam ini…”Satria menjawab dengan ciuman yang menelan setiap kata itu. Lidahnya menyusup masuk, menuntut, tangan kekarnya meremas payudara yang bergerak liar. Sementara pinggulnya terus bergerak tanpa ampun. Irama mereka semakin mendesak. Peluh mulai membasahi pelipis, punggung, dan dada mereka. Napas saling bertubrukan. Kulit saling melekat. “Satria… aku… aku mau…” suara Liana sudah hampir menangis. “Aku nggak kuat… ahh… mau keluar…”“Kelua
Desahan kecil itu keluar dari tenggorokan Liana saat lidah Satria menyusup masuk, menuntut, mengeksplorasi, seolah ingin menghapus seluruh kelelahan malam ini hanya dengan satu ciuman. Tangan Satria yang masih memeluk pinggangnya kini naik, menelusuri lengkungan punggung yang terbuka dari balik gaun navy blue, jari-jarinya hangat dan sedikit kasar di kulit halus Liana. Setiap usapan membuat tubuh Liana semakin melemas, semakin menempel erat ke dada bidang suaminya.Satria memperdalam ciuman. Dia tidak buru-buru, tapi juga tidak memberi ruang bagi Liana untuk berpikir. Napas mereka saling bertubrukan, panas, cepat. Ketika akhirnya bibir mereka berpisah sejenak, benang saliva tipis sempat terlihat di antara mereka sebelum putus. Liana terengah pelan, dahi bersandar di dahi Satria, mata setengah terpejam.“Sayangg…” suaranya serak, hampir seperti bisikan.“Hm?” Satria menjawab dengan suara bariton rendah yang bergetar di dada. Dia tidak melepaskan pinggang Liana. Sebaliknya, dia menarik
“Delapan puluh miliar!” sahut taipan otomotif di sebelahnya.“Seratus miliar!” potong seorang direktur bank swasta dengan suara yang hampir histeris.Liana menegang di kursi. “Gila… energi pemikatnya bekerja sangat cepat, Sat.”“Vanya, kunci jaringan frekuensi pemancar di bawah panggung,” perintah Satria tenang, suaranya hampir tidak terdengar di tengah keributan tawaran.“Siap, Den! Aura-Link mengeksekusi netralisir siber dalam tiga… dua… satu!”Bersamaan dengan hitungan mundur Vanya, Satria menghentakkan tumit sepatu kulitnya secara terukur ke atas lantai marmer ballroom.DUMMM!Gelombang kejut energi giok naga yang tak kasatmata menjalar cepat di bawah lantai, menghantam langsung fondasi panggung utama.BZZZZTTT!Suara dengungan halus yang hanya bisa dirasakan oleh kepekaan batin memutus habis seluruh benang energi hitam. Pemancar siber milik *Sovereign Crown Syndicate* di bawah panggung seketika korslet dan terbakar tanpa menimbulkan api terbuka. Aura pekat di dalam ballroom mengu
Sebuah undangan datang di pagi hari, saat sinar matahari masih lembut menembus dinding kaca lantai atas Himawan Tower.Hendra masuk ke ruang kerja utama dengan langkah tegap, membawa sebuah amplop tebal berwarna hitam mengilap yang diikat pita emas tipis. Di sudut amplop tertera stempel resmi The Grand Heritage Auction Committee beserta logo Hotel Indonesia Kempinski.“Den Satria, undangan ini baru saja diantar langsung oleh ajudan Pak Baskoro,” ucap Hendra sambil menyerahkan amplop tersebut. “Beliau berpesan agar Den dan Mbak Liana berkenan hadir. Acara ini bersifat tertutup dan sangat selektif.”Satria menerima amplop itu tanpa buru-buru. Jari-jarinya yang panjang membuka segel dengan rapi. Di dalam, terdapat kartu undangan berbahan kertas tebal berkualitas tinggi, bertuliskan kaligrafi emas. Liana yang sedang duduk di sofa dekat jendela mengangkat wajahnya dari tablet. “Papa sendiri yang mengirimkan?”“Ya, Mbak,” jawab Hendra. “Beliau sudah mengonfirmasi kehadiran bersama beberapa
"Semua jejak penyusupan Sovereign Crown di bursa efek sudah bersih total, Mbak Li. Bahkan perwakilan resmi mereka di London baru saja merilis pernyataan maaf dan menarik seluruh klaim investasi mereka di Asia Pasifik," ujar Vanya Cedric dengan jemari yang menari lincah di atas papan ketik laptop khususnya.Mereka bertiga kini berada di dalam ruang kerja utama Himawan Tower. Di balik dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan pencakar langit Jakarta di sore hari, atmosfer ruangan terasa sangat tenang dan mantap.Liana yang berdiri di samping meja kerja Satria menghela napas lega, menyerahkan segelas minum dingin kepada Vanya. "Luar biasa cepat, Vanya. Papa sampai geleng-geleng kepala waktu lihat laporan stabilisasi saham dari tim direksi tadi.""Itu karena kita punya peta visual paling akurat di dunia, Mbak," jawab Vanya sembari melirik Satria dengan rasa hormat yang tinggi. "Kolaborasi antara algoritma siber saya dan ketajaman mata batin Den Satria bikin sistem kita bisa men
Sementara itu, di lantai teratas Hotel Mulia Jakarta, Victor Vance sedang berdiri di hadapan belasan layar monitor raksasa sembari memegang segelas champagne. Pria pirang itu tersenyum puas melihat pergerakan bursa saham yang menurutnya sudah sepenuhnya berada dalam genggaman Sovereign Crown Syndicate.Namun, senyuman di wajah anggunnya seketika sirna ketika seluruh layar monitor di ruangan itu mendadak berkedip merah membara.BZZZZTTT!Suara dengungan frekuensi tinggi yang sangat memekakkan telinga meledak dari seluruh pengeras suara di ruangan tersebut. Gelombang elektromagnetik buatan yang semula ditujukan untuk mencuci otak warga Jakarta mendadak berbalik arah, menghantam balik sistem saraf para peretas asing milik Victor Vance."Aaaargh!" beberapa peretas Eropa buatan Victor menjerit kesakitan sembari memegangi kepala mereka, jatuh tersungkur dari kursi mereka dengan hidung yang mengeluarkan darah segar."Apa-apaan ini?!" bentak Victor Vance histeris, melemparkan gelas kristalnya







