Share

Bab 2. NETRA KAWASKITHAN

Penulis: Hisa NK
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 17:35:28

"Koh Asun," suara Baskoro Himawan terdengar berat dan menekan. "Apa benar yang dikatakan kuli ini? Kamu mencoba menjual barang replika modern padaku?"

"B-Bukan begitu, Pak Baskoro! Sumpah, demi Tuhan, anak ini cuma kuli panggul gila yang dendam karena sering saya tegur!" Koh Asun berteriak histeris, menunjuk wajah Satria dengan jari yang gemetaran. "Dia itu rabun! Huruf di koran saja tidak bisa baca, bagaimana bisa dia melihat nomor seri di lipatan jubah arca? Dia cuma asal bicara untuk merusak bisnis saya!"

Mendengar kata 'rabun', Liana kembali menatap Satria. Memang benar, penampilan Satria sangat lusuh, kaosnya dekil, dan ada bekas luka gores di jemarinya yang masih segar. Namun, sorot mata pemuda di depannya ini sama sekali tidak mencerminkan orang yang menderita rabun.

"Pa, buat buktiinnya mudah aja," ucap Liana tenang namun tegas. Ia menatap Satria. "Kebetulan saya membawa cairan pembersih karat khusus dan kaca pembesar pembesaran di mobil."

"Silakan, Nona," jawab Satria tenang, tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya. Energi hangat dari liontin giok naga di dadanya membuat jiwanya terasa semakin kuat.

Liana segera memberi kode kepada pengawal berbaju hitam yang berdiri di luar toko. Hanya dalam waktu dua menit, pengawal itu kembali membawa sebuah tas kerja kecil berisi peralatan kurasi milik Liana.

Liana mengambil sebotol cairan kimia pelarut dan sekotak kapas. Dengan gerakan anggun namun cekatan, ia menuangkan cairan itu ke kapas, lalu menggosokkannya dengan kuat pada bagian bawah arca perunggu ganesha tersebut.

SREK... SREK...

Hanya dalam beberapa kali gosokan, ketakutan Koh Asun menjadi kenyataan. Warna hijau patina yang tadinya terlihat sangat meyakinkan sebagai karat kuno berusia ratusan tahun, mulai luntur dan menempel pekat di kapas. Di bawahnya, menyembul lapisan logam baru yang mengilat—bukan perunggu tua, melainkan kuningan murah yang disepuh.

Baskoro maju selangkah. Pria paruh baya itu merebut arca tersebut, lalu menggunakan pisau saku kecilnya, mengikis sedikit semen tipis di bagian lipatan, persis di titik yang ditunjuk Satria tadi.

KREK.

Lapisan semen buatan itu rontok, dengan kaca pembesar Baskoro bisa melihat dengan sangat jelas sebuah angka cetakan pabrik modern yang belum sempat terkikis 2024.

BRAK!

Baskoro menggebrak meja kayu jati di depannya hingga cangkir teh di atasnya ikut bergetar. "Koh Asun!! Berani-beraninya kamu menipu saya dengan barang loakan baru!"

"P-Pak Baskoro, maaf, Pak! Saya juga ditipu sama orang galian. Saya bersumpah saya tidak tahu!" Koh Asun langsung menjatuhkan diri ke lantai, memohon maaf dengan wajah pucat pasi. Reputasinya di Pasar Triwindu Solo hancur lebur dalam satu detik.

Baskoro tidak sudi mendengarkan ratapan Koh Asun. Ia membalikkan badannya, menatap Satria dengan pandangan yang berbeda.

"Anak muda," ujar Baskoro, suaranya melunak namun tetap berwibawa. "Bagaimana kamu bisa tahu sedetail itu tanpa menyentuh barang sama sekali? Bahkan putriku yang lulusan kurator seni di London hampir terkecoh."

Satria tersenyum tipis. Ia tentu tidak mungkin mengatakan kalau memiliki mata tembus pandang. "Saya sudah bertahun-tahun memanggul dan membersihkan barang di pasar ini, Pak. Meskipun mata saya sering bermasalah, hidung saya bisa mencium bau zat kimia pengawet yang dipakai Koh Asun, dan insting saya tahu mana barang yang asli," bohong Satria dengan lancar.

Liana berjalan mendekati Satria. Gadis konglomerat itu menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Meskipun pakaian pemuda itu sangat dekil, karisma yang terpancar dari matanya membuat jantung Liana berdesir aneh. "Siapa namamu?" tanya Liana.

"Satria. Satria Wisesa, Mbak eh Nona."

"Satria... kamu punya bakat yang sangat luar biasa," timpal Liana tulus. Ia kemudian mengambil sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tulisan emas dari dalam tasnya, menyelipkannya ke jemari Satria yang kasar. "Toko Koh Asun sudah tidak aman lagi untuk kamu seudah kejadian tadi. Kalau kamu butuh pekerjaan yang benar-benar menghargai kemampuanmu, hubungi aku."

Setelah itu, Baskoro dan Liana melangkah keluar dari toko dengan langkah tegap, meninggalkan Koh Asun yang masih bersimpuh di lantai dan Satria yang menggenggam kartu nama berlapis emas tersebut.

"Satriaaaaa, Aseemm!! Keparat kamu ya! Pergi kamu dari tokoku! Jangan pernah injakkan kaki kirimu di Pasar Triwindu lagi!"

Benar saja, begitu mobil Alphard milik Baskoro Himawan melesat pergi, Koh Asun bangkit dan langsung mengamuk. Ia mengambil sisa uang upah mingguan Satria yang tidak seberapa dari dalam laci, lalu melemparkannya ke atas lantai hingga berserakan.

"Kuli sialan! Gara-gara kamu, bisnis dua miliarku hancur! Hubunganku dengan keluarga Himawan sekarang putus. Pergi kamu, bangsat!" maki Koh Asun dengan mata mendelik merah dan logat kental Tionghoa.

Satria tidak marah ketika majikannya memaki dan mengejek, tidak juga gemetar seperti biasanya. Ia justru merasa sebuah beban besar telah terangkat dari pundaknya. Dengan tenang, ia membungkuk, memungut lembaran uang seratus ribuan, matanya menatap Koh Asun dengan tatapan dingin yang membuat mantan majikannya itu mendadak mati kutu.

"Pergi!!"

"Tanpa Koh usir pun, saya sudah mau pergi. Terima kasih untuk upahnya, Koh. Anggap aja ini upah terakhir saya menyelamatkan Koh Asun dari jeruji penjara karena menipu konglomerat," ujar Satria datar.

Satria membalikkan badan, melangkah keluar dari toko antik itu dengan dada tegak.

***

Malamnya, di dalam kamar kos berukuran 2 x 3 meter yang pengap dan hanya beralaskan kasur tipis, Satria duduk bersila. Ia melepas kaos dekilnya dan melihat ke cermin buram di pojok kamar.

Di dadanya, tepat di atas jantung, guratan tato naga hijau giok terlihat bersinar samar sebelum akhirnya meredup dan menyatu dengan kulitnya. Saat ia memfokuskan pikirannya, sebuah aliran energi hangat langsung mengalir ke kedua matanya.

WUZIS.

Seketika, pandangan Satria menembus dinding batako kosan. Ia bisa melihat ibu kos yang memakai baju minim di seberang lorong sedang sibuk menghitung uang.

"Kekuatan liontin giok naga ini benar-benar nyata," bisik Satria, jemarinya bergetar karena takjub sekaligus ngeri. "Selama dua puluh empat tahun aku dihina, diinjak-injak, dan dianggap sampah hanya karena miskin dan rabun. Mulai hari ini, nggak ada yang bisa merendahkan nama Satria Wisesa lagi!"

Satria melirik kartu nama hitam-emas milik Liana Himawan yang tergeletak di atas kasur.

Ia tahu, tawaran dari anak konglomerat seperti Liana adalah jalan tol menuju kesuksesan. Namun, Satria tahu diri. Kalau ia datang ke Jakarta sekarang hanya membawa modal pakaian lusuh, ia hanya akan dianggap sebagai manusia rendahan. Liana mungkin menghormati bakatnya, tapi dunia luar akan tetap memandangnya rendah.

“Aku harus punya modal sendiri. Aku harus berdiri sejajar dengan mereka sebagai seorang pria, bukan sebagai bawahan yang berutang budi,” batin Satria.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 262

    Pagi datang dengan cahaya yang lembut menyusup lewat celah tirai.Nagendra terbangun lebih dulu. Aurelia masih tertidur di lengannya, wajah tersembunyi di dada, napas teratur. Rambutnya berantakan, bibir sedikit bengkak, dan di leher serta bahu terlihat beberapa jejak kemerahan yang ditinggalkan semalam. Nagendra mengusap punggung wanita itu pelan, menatap langit-langit kamar, membiarkan keheningan pagi menenangkan sisa adrenalin dari pertarungan kemarin.Dua bulan lagi.Ia masih sulit percaya. Setelah bertahun-tahun penuh darah, residual, dan ancaman yang tidak pernah benar-benar hilang, akhirnya mereka sampai di titik ini. Tidak ada lagi pintu yang harus ditutup. Tidak ada lagi benih yang harus dibakar. Hanya pernikahan, dan hidup yang menunggu di depan.Aurelia menggeliat pelan, mata masih terpejam. “Sudah pagi…?” suaranya parau.“Belum,” jawab Nagendra rendah. Ia mengecup puncak kepala Aurelia. “Tidur lagi. Badanmu masih lelah.”Aurelia menggeleng kecil, lalu mengangkat wajah, men

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 261

    Aurelia menggigit bibir. “Kamu nggak lelah setelah berperang seharian?”“Lelah,” jawab Nagendra rendah. “Tapi lebih lapar.” Ia mencium Aurelia dalam, lidah masuk perlahan, sementara pinggulnya mulai bergerak lagi—lambat, dalam, sengaja menggesek setiap inci. “Boleh?”Aurelia menjawab dengan mengangkat pinggulnya, menerima. “Boleh… pelan dulu.”Nagendra menurut. Ia keluar hampir seluruhnya, lalu masuk lagi sangat lambat, menikmati bagaimana Aurelia meremasnya. Satu tangan meraih kaki Aurelia dan menekannya ke dada wanita itu, membuka lebih lebar. Sudutnya langsung berubah menjadi lebih dalam.Aurelia mengerang panjang. “Nagendra… ahh, dalam banget…”“Suka?” tanya Nagendra di telinga Aurelia, suaranya serak.“Suka… terus…”Nagendra mulai mempercepat sedikit. Setiap hentakan dalam, basah, dan terukur. Ia menunduk, menghisap leher Aurelia, meninggalkan jejak kemerahan baru. Tangan bebasnya meremas payudara Aurelia, ibu jari memainkan puting yang sudah mengeras.“Kamu sempit sekali malam i

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 260

    Di dalam ruang kerja utamanya yang luas, Satria Wisesa sedang meneliti laporan akhir yang diserahkan oleh Ratu Pramudya dan Vanya Cedric di atas meja kayu jati."Seluruh sisa aset Aliansi di sektor energi dan pertambangan di luar pulau sudah sepenuhnya berada di bawah kendali Himawan Group, Satria," lapor Ratu Pramudya dengan suara tegas nan profesional. "Tidak ada lagi celah hukum atau finansial yang bisa digunakan pihak luar untuk menggugat posisi kita."Vanya menambahkan sambil mengetuk layar tablet taktisnya. "Sistem pemantauan Netrakwaskitan digital yang terintegrasi dengan satelit juga sudah aktif penuh 24 jam. Jaringan perimeter Jakarta kini steril dari segala frekuensi ghaib asing."Satria mengangguk puas. Ia melipat berkas tersebut dan menatap ketiga wanita andalannya itu dengan sorot mata berwibawa. "Bagus. Pertahankan tingkat pengawasan ini. Kita tidak boleh lengah sedikit pun, terutama menjelang persiapan pernikahan Nagendra dan Aurelia bulan depan.""Baik, Satria. Kami ak

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 259

    Satria dan Nagendra melangkah berdampingan meninggalkan ruangan basement B3 yang kini telah berubah menjadi reruntuhan hangus. Larasati berjalan tepat di belakang mereka, memastikan area tersebut sepenuhnya steril sebelum tim medis dan unit pembersih padepokan tiba.Saat pintu lift utama terbuka di lantai dasar, suasana lobi Mansion Himawan menyambut mereka dengan ketenangan yang kontras. Sisa-sisa debu ghaib sama sekali tidak mencemari udara di atas berkat sistem pertahanan ghaib berlapis yang dipasang Vanya."Den Satria," suara Vanya terdengar menyambut dari ruang kontrol utama melalui pengeras suara internal. "Tim medis sudah mengamankan subjek di basement. Kondisi tubuhnya stabil, meskipun simpul sarafnya sempat terbakar habis oleh sisa energi purba Sangkala. Kami sedang memproses pembersihan memori dan identitasnya untuk melacak siapa dalang lokal yang menanam jimat-jimat itu."Satria mengangguk tegas sembari berjalan melintasi pualam lobi. "Bagus, Vanya. Cari tahu siapa pun yang

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 258

    Ruang istirahat masih terasa hangat ketika tablet di meja tiba-tiba bergetar hebat.Layar menyala sendiri. Wajah Vanya muncul, pucat dan tegang. “Den Satria, ada lonjakan sisa energi yang sangat besar di Tanjung Priok. Cirinya sama dengan yang dulu muncul di Puncak dan Menteng, tapi jauh lebih kuat. Dan ada titik kedua… tepat di bawah kita. Lantai basement B3. Lingkaran mantra sedang aktif.”Satria langsung berdiri. “Di bawah gedung ini?”“Dia diam selama seluruh prosesi. Menunggu semua orang lengah.”Nagendra sudah bergerak menuju pintu. “Ibu dan Aurelia baru saja turun lewat lift utama.”“Larasati, kunci semua lift sekarang!” perintah Satria lewat alat komunikasi. “Vanya, matikan listrik cadangan di B3. Nagendra, ikut aku. Kita lewat tangga darurat.”Mereka berlari.Lampu darurat menyala merah di sepanjang tangga. Semakin turun, semakin berat udara yang mereka hirup. Bau tanah basah dan besi sudah terasa menyengat dari tiga lantai sebelum sampai. Seolah ada sesuatu di bawah sana yan

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 257

    Gemuruh tepuk tangan dan penghormatan di Aula Agung Gedung Pertemuan Pusat Jakarta perlahan mereda saat Nagendra mengangkat satu tangan. Pendar ganda merah-emas di matanya menyurut, berganti dengan sorot mata yang tenang, jernih, namun menyimpan ketegasan luar biasa. Di usianya yang masih muda, aura pimpinan yang ia pancarkan berdiri sejajar di samping nama besar ayahnya, Satria Wisesa.Setelah prosesi pengangkatan Pangeran Mahkota selesai, para tetua trah dan pejabat faksi dibubarkan untuk segera mengeksekusi perintah pembersihan jaringan sisa-sisa Aliansi. Satria, Liana, Nagendra, dan Aurelia melangkah kembali menuju area privat gedung, dikawal ketat oleh Larasati, Ratu Pramudya serta Vanya.Saat memasuki ruang istirahat khusus Patriarch, Aurelia menghentikan langkahnya sejenak. Wajahnya yang semula tegang saat berhadapan dengan puluhan tetua kini mengendur. Ia menoleh menatap Nagendra, jemarinya yang ramping mengusap lengan jubah kebesaran hitam yang dikenakan pemuda itu."Pangeran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status