LOGIN"Koh Asun," suara Baskoro Himawan terdengar berat dan menekan. "Apa benar yang dikatakan kuli ini? Kamu mencoba menjual barang replika modern padaku?"
"B-Bukan begitu, Pak Baskoro! Sumpah, demi Tuhan, anak ini cuma kuli panggul gila yang dendam karena sering saya tegur!" Koh Asun berteriak histeris, menunjuk wajah Satria dengan jari yang gemetaran. "Dia itu rabun! Huruf di koran saja tidak bisa baca, bagaimana bisa dia melihat nomor seri di lipatan jubah arca? Dia cuma asal bicara untuk merusak bisnis saya!" Mendengar kata 'rabun', Liana kembali menatap Satria. Memang benar, penampilan Satria sangat lusuh, kaosnya dekil, dan ada bekas luka gores di jemarinya yang masih segar. Namun, sorot mata pemuda di depannya ini sama sekali tidak mencerminkan orang yang menderita rabun. "Pa, buat buktiinnya mudah aja," ucap Liana tenang namun tegas. Ia menatap Satria. "Kebetulan saya membawa cairan pembersih karat khusus dan kaca pembesar pembesaran di mobil." "Silakan, Nona," jawab Satria tenang, tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya. Energi hangat dari liontin giok naga di dadanya membuat jiwanya terasa semakin kuat. Liana segera memberi kode kepada pengawal berbaju hitam yang berdiri di luar toko. Hanya dalam waktu dua menit, pengawal itu kembali membawa sebuah tas kerja kecil berisi peralatan kurasi milik Liana. Liana mengambil sebotol cairan kimia pelarut dan sekotak kapas. Dengan gerakan anggun namun cekatan, ia menuangkan cairan itu ke kapas, lalu menggosokkannya dengan kuat pada bagian bawah arca perunggu ganesha tersebut. SREK... SREK... Hanya dalam beberapa kali gosokan, ketakutan Koh Asun menjadi kenyataan. Warna hijau patina yang tadinya terlihat sangat meyakinkan sebagai karat kuno berusia ratusan tahun, mulai luntur dan menempel pekat di kapas. Di bawahnya, menyembul lapisan logam baru yang mengilat—bukan perunggu tua, melainkan kuningan murah yang disepuh. Baskoro maju selangkah. Pria paruh baya itu merebut arca tersebut, lalu menggunakan pisau saku kecilnya, mengikis sedikit semen tipis di bagian lipatan, persis di titik yang ditunjuk Satria tadi. KREK. Lapisan semen buatan itu rontok, dengan kaca pembesar Baskoro bisa melihat dengan sangat jelas sebuah angka cetakan pabrik modern yang belum sempat terkikis 2024. BRAK! Baskoro menggebrak meja kayu jati di depannya hingga cangkir teh di atasnya ikut bergetar. "Koh Asun!! Berani-beraninya kamu menipu saya dengan barang loakan baru!" "P-Pak Baskoro, maaf, Pak! Saya juga ditipu sama orang galian. Saya bersumpah saya tidak tahu!" Koh Asun langsung menjatuhkan diri ke lantai, memohon maaf dengan wajah pucat pasi. Reputasinya di Pasar Triwindu Solo hancur lebur dalam satu detik. Baskoro tidak sudi mendengarkan ratapan Koh Asun. Ia membalikkan badannya, menatap Satria dengan pandangan yang berbeda. "Anak muda," ujar Baskoro, suaranya melunak namun tetap berwibawa. "Bagaimana kamu bisa tahu sedetail itu tanpa menyentuh barang sama sekali? Bahkan putriku yang lulusan kurator seni di London hampir terkecoh." Satria tersenyum tipis. Ia tentu tidak mungkin mengatakan kalau memiliki mata tembus pandang. "Saya sudah bertahun-tahun memanggul dan membersihkan barang di pasar ini, Pak. Meskipun mata saya sering bermasalah, hidung saya bisa mencium bau zat kimia pengawet yang dipakai Koh Asun, dan insting saya tahu mana barang yang asli," bohong Satria dengan lancar. Liana berjalan mendekati Satria. Gadis konglomerat itu menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Meskipun pakaian pemuda itu sangat dekil, karisma yang terpancar dari matanya membuat jantung Liana berdesir aneh. "Siapa namamu?" tanya Liana. "Satria. Satria Wisesa, Mbak eh Nona." "Satria... kamu punya bakat yang sangat luar biasa," timpal Liana tulus. Ia kemudian mengambil sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tulisan emas dari dalam tasnya, menyelipkannya ke jemari Satria yang kasar. "Toko Koh Asun sudah tidak aman lagi untuk kamu seudah kejadian tadi. Kalau kamu butuh pekerjaan yang benar-benar menghargai kemampuanmu, hubungi aku." Setelah itu, Baskoro dan Liana melangkah keluar dari toko dengan langkah tegap, meninggalkan Koh Asun yang masih bersimpuh di lantai dan Satria yang menggenggam kartu nama berlapis emas tersebut. "Satriaaaaa, Aseemm!! Keparat kamu ya! Pergi kamu dari tokoku! Jangan pernah injakkan kaki kirimu di Pasar Triwindu lagi!" Benar saja, begitu mobil Alphard milik Baskoro Himawan melesat pergi, Koh Asun bangkit dan langsung mengamuk. Ia mengambil sisa uang upah mingguan Satria yang tidak seberapa dari dalam laci, lalu melemparkannya ke atas lantai hingga berserakan. "Kuli sialan! Gara-gara kamu, bisnis dua miliarku hancur! Hubunganku dengan keluarga Himawan sekarang putus. Pergi kamu, bangsat!" maki Koh Asun dengan mata mendelik merah dan logat kental Tionghoa. Satria tidak marah ketika majikannya memaki dan mengejek, tidak juga gemetar seperti biasanya. Ia justru merasa sebuah beban besar telah terangkat dari pundaknya. Dengan tenang, ia membungkuk, memungut lembaran uang seratus ribuan, matanya menatap Koh Asun dengan tatapan dingin yang membuat mantan majikannya itu mendadak mati kutu. "Pergi!!" "Tanpa Koh usir pun, saya sudah mau pergi. Terima kasih untuk upahnya, Koh. Anggap aja ini upah terakhir saya menyelamatkan Koh Asun dari jeruji penjara karena menipu konglomerat," ujar Satria datar. Satria membalikkan badan, melangkah keluar dari toko antik itu dengan dada tegak. *** Malamnya, di dalam kamar kos berukuran 2 x 3 meter yang pengap dan hanya beralaskan kasur tipis, Satria duduk bersila. Ia melepas kaos dekilnya dan melihat ke cermin buram di pojok kamar. Di dadanya, tepat di atas jantung, guratan tato naga hijau giok terlihat bersinar samar sebelum akhirnya meredup dan menyatu dengan kulitnya. Saat ia memfokuskan pikirannya, sebuah aliran energi hangat langsung mengalir ke kedua matanya. WUZIS. Seketika, pandangan Satria menembus dinding batako kosan. Ia bisa melihat ibu kos yang memakai baju minim di seberang lorong sedang sibuk menghitung uang. "Kekuatan liontin giok naga ini benar-benar nyata," bisik Satria, jemarinya bergetar karena takjub sekaligus ngeri. "Selama dua puluh empat tahun aku dihina, diinjak-injak, dan dianggap sampah hanya karena miskin dan rabun. Mulai hari ini, nggak ada yang bisa merendahkan nama Satria Wisesa lagi!" Satria melirik kartu nama hitam-emas milik Liana Himawan yang tergeletak di atas kasur. Ia tahu, tawaran dari anak konglomerat seperti Liana adalah jalan tol menuju kesuksesan. Namun, Satria tahu diri. Kalau ia datang ke Jakarta sekarang hanya membawa modal pakaian lusuh, ia hanya akan dianggap sebagai manusia rendahan. Liana mungkin menghormati bakatnya, tapi dunia luar akan tetap memandangnya rendah. “Aku harus punya modal sendiri. Aku harus berdiri sejajar dengan mereka sebagai seorang pria, bukan sebagai bawahan yang berutang budi,” batin Satria.Sosok merah tertawa, suara yang sama persis dengan tawa Satria. “Masih melindungi anak yang seharusnya milik kami? Klasik. Tapi kali ini kau tidak akan sempat.”Ia mengangkat tangan. DZAAAAARR!Gelombang energi merah pekat meledak. Satria menahan dengan perisai, tapi lantai di bawah kakinya retak. Hendra terpaksa menyingkir lebih jauh.“Den Satria,” kata Vanya lagi, suaranya hampir pecah. “Sinyal energi di ruang itu tidak stabil! Kalau kamu paksa terus, naga merah makin tau cara mengalahkanmu! Aku mohon, jangan dipaksa untuk terus menyerang!”Satria tidak menjawab. Ia melepaskan perisai dan menyerang balik dengan kecepatan penuh. SWUSSHH! CRAAKK! BRAKKK!Tombak emas berputar, menusuk bahu sosok merah, lalu menyabet kaki. Salinan itu terluka, tapi langsung pulih lebih cepat dari yang seharusnya.Hendra berbicara lagi, suara rendah. “Dia tidak bisa mati dengan mudah, Den. Trah Sangkala membuatnya dari potongan terkuat tubuhmu. Ditambah darah Naga Merah murni. Kau sedang melawan vers
Sebuah bola energi terbang menuju orang itu. Tapi orang itu hanya menggeser tubuh sedikit. Bola itu menghantam dinding, membuat debu berterbangan.“Masih belum stabil,” gumamnya. “Racun naga merahnya masih mengganggu, kan, Den? Kamu terlalu berbahaya… buat semua orang, termasuk ayahmu.”Satria melangkah di antara mereka. “Cukup. Nagendra... Ayah bilang pergi, Nak!”Nagendra menatap ayahnya, napasnya memburu. “Yah…”“Pergi,” ulangi Satria lebih lembut. “Aku percaya kamu bisa melindungi ibu dan yang lain. Itu tugasmu sekarang.”Dari luar pintu, suara tembakan dan teriakan semakin dekat.Larasati mencoba bangkit, suaranya lemah. “Nagendra… c-cepat…”Nagendra menggigit bibir sampai berdarah. Akhirnya ia berlutut, mengangkat tubuh Larasati ke punggungnya. Cahaya di tubuhnya redup sedikit, dipaksa untuk stabil.Ia menatap orang itu sekali lagi. “Lo nggak akan selamat, Pak!”Orang itu hanya tersenyum. “Kita lihat saja nanti.”Nagendra berlari keluar membawa Larasati. “Hendra.” Satria menata
“Aku nggak mau lari lagi, Bu. Aku mau bertarung.”Liana menarik lengan Nagendra lebih kuat. “Nagendra, dengarkan ibu! Kamu belum siap. Kekuatanmu masih tidak stabil!”“Aku siap, Bu. Jangan khawatir!” suara Nagendra meninggi, mata merah-emasnya berdenyut. “Aku udah lelah jadi korban yang cuma bisa disembunyiin. Kali ini aku yang lawan!”Satria berdiri di depan mereka, perisai energi emasnya membesar. “Nagendra, ini bukan soal berani atau takut. Ini soal waktu. Kalau kamu melepaskan keduanya sekarang, racun Naga Merah bisa menguasai—”Ledakan kedua mengguncang jendela. Kaca pecah. Bayangan hitam meloncat masuk.Larasati sudah di depan. Pedang peraknya berputar, memotong lengan penyerang pertama. “Dua di kiri! Tiga di kanan! Vanya, bagaimana situasi sekarang?!”Suara Vanya terdengar cepat dari komunikator. “Sistem keamanan aktif, tapi mereka sudah masuk ke area pengamanan. Ada enam sinyal di sisi timur, empat di utara. Den Satria, mereka membawa alat pengisap energi!”Ratu Pramudya berdi
Di ruang kontrol, Vanya masih sibuk memantau pergerakan unggahan-unggahan di media sosial. Wajahnya tegang, jari-jarinya terus menari di atas konsol. Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar—berita baru yang mulai menyebar dengan cepat."Den Satria!" panggil Vanya melalui komunikator. "Ada yang harus saya laporkan. Ini penting."Satria menekan tombol komunikator di telinganya. "Apa, Vanya?""Trah Sangkala sudah mulai menyebarkan data itu. Mereka mengumumkan kalau Nagendra campuran Naga Murni dan Naga Merah. Mereka menyebutnya... 'monster yang harus dimusnahkan'. Berita ini sudah mulai menyebar di semua media public."Satria mengepalkan tangannya, matanya menyala emas. "Vanya, aku butuh kamu un—""Tunggu, Den," potong Vanya, suaranya tiba-tiba berubah. "Ada yang aneh.""Apa?"Vanya terdiam sejenak, lalu suaranya kembali terdengar dengan nada bingung. "Tanggapan publik... mereka tidak memihak Trah Sangkala. Mereka... mereka membela Nagendra."Satria mengerutkan kening. "Apa maksudmu
"Aku cuma takut... gimana kalau foto-foto itu terus menyebar?" suara Nagendra masih bergetar, meskipun pelukan Satria masih erat melingkari tubuhnya. "Gimana kalau mereka nggak berhenti? Gimana kalau reputasi Ayah hancur karena aku?"Satria melepaskan pelukannya, menatap putranya dengan mata yang tenang. "Dengar, Nak. Ayah sudah menghadapi lebih buruk dari ini. Trah Sangkala sudah mencoba menghancurkan Ayah berkali-kali. Tapi Ayah masih di sini. Dan Ayah masih berdiri."Nagendra menggeleng, air matanya masih mengalir. "Tapi ini beda, Yah. Ini... ini foto-foto aku. Ini aib keluarga. Orang-orang akan bilang Ayah gagal mendidik anak. Mereka akan—""Cukup," potong Satria dengan tegas, tapi lembut. "Ayah tidak peduli apa kata orang. Ayah cuma peduli mental kamu. Kamu masa depan kami, Nagendra!"Liana melangkah mendekat, meraih tangan Nagendra dan menggenggamnya erat. "Nagendra, lihat ibu. Ibu tidak marah. Ibu hanya khawatir. Dan ibu tahu kamu pasti sangat malu dan takut. Tapi kamu pulang.
"Kakek... foto-foto itu... semuanya tersebar..."Suara Nagendra pecah, nyaris tak terdengar di antara embun pagi Gunung Lawu yang mulai menebal. Tangannya gemetar memegang ponsel, layar yang masih menampilkan unggahan-unggahan dengan foto dirinya dalam pelukan wanita asing. Jantungnya berdetak begitu kencang, seolah ingin meledak dari dadanya.Pak Baskoro mendekat, meraih ponsel dari tangan cucunya. Matanya yang tua dan tajam langsung menangkap gambar-gambar itu. Wajahnya tidak berubah—tetap tenang, tetap tegas—tapi di dalam dadanya, sesuatu bergemuruh. Bukan marah pada Nagendra, tapi marah pada Trah Sangkala."Ini..." Pak Baskoro menghela napas panjang. "Mereka tidak pernah berhenti, bukan?"Nagendra tidak menjawab. Dadanya naik turun dengan cepat, dan air mata mulai mengalir di pipinya. Tapi kali ini, bukan karena malu—tapi karena ketakutan yang menghujam jauh di dalam hatinya."Kakek..." bisiknya, suaranya bergetar. "Ayah... Ayah pasti marah. Ayah pasti... nggak mau lagi ngakuin ak







