Share

Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya
Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya
Penulis: Hisa NK

Bab 1. SI RABUN PEMBAWA SIAL

Penulis: Hisa NK
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 17:31:07

Pasar Triwindu Solo siang itu begitu terik. Satria Wisesa pemuda berusia 24 tahun menyeka keringat yang bercucuran di dahinya dengan handuk lober yang sudah bolong-bolong. Bahunya terasa ngilu luar biasa setelah memanggul peti kayu berisi keramik kuno seberat 50 kilogram.

"Woi, Satria! Jalan pakai mata, jangan pakai dengkul! Itu keramik dinasti Qing, kalau pecah, kamu mau ganti pakai ginjal?!" teriakan melengking itu berasal dari Koh Asun, pemilik toko barang antik tempat Satria bekerja sebagai kuli panggul.

Satria hanya bisa menunduk, meminta maaf. Pandangan matanya memang payah. Sejak remaja, ia menderita rabun parah. Untuk membeli kacamata yang layak saja uangnya tidak pernah cukup karena upahnya habis untuk makan sehari-hari dan bayar kosan sempit. Karena kekurangannya ini, Satria menjadi bulan-bulanan dan ejekan kuli lain di pasar. “Si Rabun Pembawa Sial,” begitu mereka biasa memanggilnya.

"Maaf, Koh. Tadi agak buram," kata Satria pelan.

"Halah, alasan! Ya sudah, cepat bersihkan gudang belakang! Kemarin ada borongan barang loakan masuk. Kalau ada yang bagus, bersihkan. Kalau sampah, buang!" titah Koh Asun ketus.

Satria melangkah ke gudang belakang yang gelap dan berdebu. Saat sedang memilah tumpukan koin kuno berkarat dan patung-patung kayu yang sudah dimakan rayap, jemarinya menyentuh sesuatu yang dingin di dasar sebuah kotak kayu lapuk.

Sebuah liontin giok berbentuk naga.

Kondisinya memprihatinkan. Warnanya kusam, diselimuti tanah kering, dan permukaannya penuh retakan rambut. Satria mendekatkan giok itu ke matanya yang rabun. Entah mengapa, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk membersihkan benda itu.

Saat Satria menggosok permukaan giok dengan ujung jarinya, sekelumit pinggiran retakan giok yang tajam menggores ibu jarinya. Darah segar menetes, langsung terserap ke dalam retakan giok naga tersebut.

WUZISSS!

Seketika, liontin giok itu memancarkan cahaya hijau pekat yang menyengat. Satria terperanjat, namun tubuhnya kaku tak bisa bergerak. Rasa hangat menjalar dari tangannya, mengalir cepat menuju dadanya, lalu melesat naik ke kedua matanya. Matanya terasa seperti terbakar selama beberapa detik.

"Ahg...!" Satria memejamkan mata rapat-rapat karena rasa perih yang teramat sangat.

Satria mengerjapkan mata. Kamar gudang yang tadinya remang-remang kini terlihat begitu terang benderang. Debu-debu yang beterbangan di udara bahkan bisa ia lihat dengan sangat jelas. Rabunnya hilang total!

"M-mataku! Aku bisa melihat dengan jelas?" bisik Satria tidak percaya.

Namun, kejutan belum selesai. Ketika ia menatap dinding bata gudang, pandangannya tiba-tiba menembus semen dan bata tersebut. Ia bisa melihat seorang perempuan paruh baya sedang mandi. Satria membelalak, langsung berbalik mengarahkan mata menatap kotak kayu. Matanya menembus lapisan kayu, memperlihatkan isi di dalamnya secara detail tanpa harus membukanya.

Kemampuan Tembus Pandang!

Satria menyadari, liontin giok naga tadi telah menyatu ke dalam dadanya—meninggalkan tato naga hijau samar dan memberikan dirinya mata dewa "Netra Kawaskithan".

Saat Satria masih terpaku dengan kekuatannya, suara langkah kaki terdengar dari arah depan toko. Suara sepatu hak tinggi yang anggun, diikuti langkah berat pria paruh baya.

Satria melongok ke arah toko depan. Menggunakan mata barunya, ia bisa melihat aura yang keluar dari barang-barang antik di toko Koh Asun. Kebanyakan barang memancarkan aura abu-abu tipis artinya barang palsu atau replika baru. Hanya ada satu dua barang yang memancarkan aura kuning tipis—barang asli tapi usianya muda tidak mempunyai nilai tinggi.

Di depan toko, Koh Asun sedang membungkuk-bungkuk hormat kepada dua orang tamu VIP.

Pria paruh baya itu adalah Baskoro Himawan, seorang konglomerat besar dan kolektor barang antik kelas kakap dari Jakarta. Di sampingnya, berdiri seorang gadis muda berwajah sangat cantik, anggun, dengan aura dingin yang memikat. Dia adalah Liana Himawan, putri Baskoro yang terkenal cerdas dan mewarisi bakat ayahnya dalam menilai barang antik.

"Koh Asun, saya dengar Anda baru mendapatkan arca perunggu ganesha peninggalan kerajaan Mataram Kuno? Saya sengaja datang dari Jakarta untuk melihatnya," ujar Baskoro dengan suara berwibawa.

"Oh, tentu saja ada, Pak Baskoro! Ini barang jaminan asli 100%! Saya dapat dari galian di daerah Klaten. Mari silakan dilihat." Koh Asun dengan bangga mengeluarkan sebuah arca perunggu kecil dari dalam kotak beludru merah.

Baskoro mengeluarkan kaca pembesar, mulai meneliti. Liana pun ikut mengamati dengan kening sedikit berkerut.

Dari balik tirai gudang, Satria memfokuskan pandangannya pada arca perunggu tersebut. Dengan kemampuan tembus pandangnya, Satria melihat bagian dalam arca. Alangkah terkejutnya ia saat melihat struktur logam bagian dalam arca itu sangat rapi, bahkan ada kode produksi modern yang sengaja dikikis di bagian dasarnya, lalu ditutup dengan karat buatan menggunakan zat kimia.

Arca itu memancarkan aura abu-abu pekat—palsu! Koh Asun sedang berusaha menipu sang konglomerat demi uang miliaran rupiah.

"Bagaimana, Liana?" tanya Baskoro pada putrinya.

Liana tampak ragu. "Karat dan patinasinya terlihat alami, Pa. Tekstur perunggunya juga terasa tua. Tapi entah kenapa, perasaanku agak janggal." Ia membolak balik arca tersebut.

Koh Asun langsung menimpali dengan lihai, "Aduh, Nona Liana, perasaan bisa menipu, tapi fisik barang tidak! Ini saya lepas 2 Miliar Rupiah saja karena Pak Baskoro adalah langganan lama saya. Kalau kolektor lain, saya minta 3 Miliar!"

Baskoro mengangguk dengan senyuman tipis, tampaknya mulai tergiur dan bersiap mengeluarkan buku ceknya. "Baiklah, Koh Asun. Saya percaya pada reputasi—"

"Jangan dibeli, Pak! Barang itu palsu!"

Sebuah suara lantang memotong ucapan Baskoro. Koh Asun, Baskoro, dan Liana serentak menoleh ke arah sumber suara. Di sana, Satria berdiri dengan pakaian kulinya yang dekil, namun tatapannya tajam dan lurus, bukan lagi tatapan sayu dari si kuli rabun.

Wajahnya Koh Asun langsung memerah padam karena marah sekaligus panik. "Satria!! Kurang ajar kamu ya! Kuli panggul miskin tahu apa soal barang antik? Cepat balik ke gudang sebelum saya pecat kamu!"

Liana Himawan menatap Satria dengan mata indahnya yang jeli. Ada sesuatu yang berbeda dari kuli di depannya ini. Sorot matanya sangat percaya diri.

"Tunggu," potong Liana, menahan Koh Asun. Ia beralih menatap Satria. "Kamu bilang arca ini palsu? Apa buktinya? Kalau kamu hanya asal bicara dan bikin rusuh toko majikanmu, kamu bisa dilaporkan ke polisi atas pencemaran nama baik lho."

Satria melangkah maju tanpa rasa takut. Aliran energi hangat dari giok naga di dadanya membuat jiwanya terasa begitu tenang. "Mbak, kalau mbak tidak percaya, coba ambil cairan alkohol murni atau aseton, terus gosok bagian bawah arca ini agak keras. Karat hijaunya akan luntur karena itu hanya lumutan kimia buatan," kata Satria tenang.

Satria lalu menunjuk titik spesifik di bagian dalam guratan jubah arca. "Kalau Pak Baskoro rela merusak sedikit bagian lipatan jubah di belakang arca ini dengan jarum, Anda akan menemukan bagian dalamnya bukan perunggu murni kuno, tapi ini campuran besi modern. Di bagian dasarnya yang dilapisi semen tipis, sebenarnya ada bekas nomor seri pabrikan logam di Klaten yang dibuat tahun lalu."

Mendengar penjelasan detail dari Satria, wajah Koh Asun pucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari dahinya.

Melihat reaksi Koh Asun, Baskoro Himawan yang sudah berpengalaman belasan tahun di dunia bisnis langsung tahu bahwa kuli di depannya ini tidak sedang menggertak.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 262

    Pagi datang dengan cahaya yang lembut menyusup lewat celah tirai.Nagendra terbangun lebih dulu. Aurelia masih tertidur di lengannya, wajah tersembunyi di dada, napas teratur. Rambutnya berantakan, bibir sedikit bengkak, dan di leher serta bahu terlihat beberapa jejak kemerahan yang ditinggalkan semalam. Nagendra mengusap punggung wanita itu pelan, menatap langit-langit kamar, membiarkan keheningan pagi menenangkan sisa adrenalin dari pertarungan kemarin.Dua bulan lagi.Ia masih sulit percaya. Setelah bertahun-tahun penuh darah, residual, dan ancaman yang tidak pernah benar-benar hilang, akhirnya mereka sampai di titik ini. Tidak ada lagi pintu yang harus ditutup. Tidak ada lagi benih yang harus dibakar. Hanya pernikahan, dan hidup yang menunggu di depan.Aurelia menggeliat pelan, mata masih terpejam. “Sudah pagi…?” suaranya parau.“Belum,” jawab Nagendra rendah. Ia mengecup puncak kepala Aurelia. “Tidur lagi. Badanmu masih lelah.”Aurelia menggeleng kecil, lalu mengangkat wajah, men

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 261

    Aurelia menggigit bibir. “Kamu nggak lelah setelah berperang seharian?”“Lelah,” jawab Nagendra rendah. “Tapi lebih lapar.” Ia mencium Aurelia dalam, lidah masuk perlahan, sementara pinggulnya mulai bergerak lagi—lambat, dalam, sengaja menggesek setiap inci. “Boleh?”Aurelia menjawab dengan mengangkat pinggulnya, menerima. “Boleh… pelan dulu.”Nagendra menurut. Ia keluar hampir seluruhnya, lalu masuk lagi sangat lambat, menikmati bagaimana Aurelia meremasnya. Satu tangan meraih kaki Aurelia dan menekannya ke dada wanita itu, membuka lebih lebar. Sudutnya langsung berubah menjadi lebih dalam.Aurelia mengerang panjang. “Nagendra… ahh, dalam banget…”“Suka?” tanya Nagendra di telinga Aurelia, suaranya serak.“Suka… terus…”Nagendra mulai mempercepat sedikit. Setiap hentakan dalam, basah, dan terukur. Ia menunduk, menghisap leher Aurelia, meninggalkan jejak kemerahan baru. Tangan bebasnya meremas payudara Aurelia, ibu jari memainkan puting yang sudah mengeras.“Kamu sempit sekali malam i

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 260

    Di dalam ruang kerja utamanya yang luas, Satria Wisesa sedang meneliti laporan akhir yang diserahkan oleh Ratu Pramudya dan Vanya Cedric di atas meja kayu jati."Seluruh sisa aset Aliansi di sektor energi dan pertambangan di luar pulau sudah sepenuhnya berada di bawah kendali Himawan Group, Satria," lapor Ratu Pramudya dengan suara tegas nan profesional. "Tidak ada lagi celah hukum atau finansial yang bisa digunakan pihak luar untuk menggugat posisi kita."Vanya menambahkan sambil mengetuk layar tablet taktisnya. "Sistem pemantauan Netrakwaskitan digital yang terintegrasi dengan satelit juga sudah aktif penuh 24 jam. Jaringan perimeter Jakarta kini steril dari segala frekuensi ghaib asing."Satria mengangguk puas. Ia melipat berkas tersebut dan menatap ketiga wanita andalannya itu dengan sorot mata berwibawa. "Bagus. Pertahankan tingkat pengawasan ini. Kita tidak boleh lengah sedikit pun, terutama menjelang persiapan pernikahan Nagendra dan Aurelia bulan depan.""Baik, Satria. Kami ak

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 259

    Satria dan Nagendra melangkah berdampingan meninggalkan ruangan basement B3 yang kini telah berubah menjadi reruntuhan hangus. Larasati berjalan tepat di belakang mereka, memastikan area tersebut sepenuhnya steril sebelum tim medis dan unit pembersih padepokan tiba.Saat pintu lift utama terbuka di lantai dasar, suasana lobi Mansion Himawan menyambut mereka dengan ketenangan yang kontras. Sisa-sisa debu ghaib sama sekali tidak mencemari udara di atas berkat sistem pertahanan ghaib berlapis yang dipasang Vanya."Den Satria," suara Vanya terdengar menyambut dari ruang kontrol utama melalui pengeras suara internal. "Tim medis sudah mengamankan subjek di basement. Kondisi tubuhnya stabil, meskipun simpul sarafnya sempat terbakar habis oleh sisa energi purba Sangkala. Kami sedang memproses pembersihan memori dan identitasnya untuk melacak siapa dalang lokal yang menanam jimat-jimat itu."Satria mengangguk tegas sembari berjalan melintasi pualam lobi. "Bagus, Vanya. Cari tahu siapa pun yang

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 258

    Ruang istirahat masih terasa hangat ketika tablet di meja tiba-tiba bergetar hebat.Layar menyala sendiri. Wajah Vanya muncul, pucat dan tegang. “Den Satria, ada lonjakan sisa energi yang sangat besar di Tanjung Priok. Cirinya sama dengan yang dulu muncul di Puncak dan Menteng, tapi jauh lebih kuat. Dan ada titik kedua… tepat di bawah kita. Lantai basement B3. Lingkaran mantra sedang aktif.”Satria langsung berdiri. “Di bawah gedung ini?”“Dia diam selama seluruh prosesi. Menunggu semua orang lengah.”Nagendra sudah bergerak menuju pintu. “Ibu dan Aurelia baru saja turun lewat lift utama.”“Larasati, kunci semua lift sekarang!” perintah Satria lewat alat komunikasi. “Vanya, matikan listrik cadangan di B3. Nagendra, ikut aku. Kita lewat tangga darurat.”Mereka berlari.Lampu darurat menyala merah di sepanjang tangga. Semakin turun, semakin berat udara yang mereka hirup. Bau tanah basah dan besi sudah terasa menyengat dari tiga lantai sebelum sampai. Seolah ada sesuatu di bawah sana yan

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 257

    Gemuruh tepuk tangan dan penghormatan di Aula Agung Gedung Pertemuan Pusat Jakarta perlahan mereda saat Nagendra mengangkat satu tangan. Pendar ganda merah-emas di matanya menyurut, berganti dengan sorot mata yang tenang, jernih, namun menyimpan ketegasan luar biasa. Di usianya yang masih muda, aura pimpinan yang ia pancarkan berdiri sejajar di samping nama besar ayahnya, Satria Wisesa.Setelah prosesi pengangkatan Pangeran Mahkota selesai, para tetua trah dan pejabat faksi dibubarkan untuk segera mengeksekusi perintah pembersihan jaringan sisa-sisa Aliansi. Satria, Liana, Nagendra, dan Aurelia melangkah kembali menuju area privat gedung, dikawal ketat oleh Larasati, Ratu Pramudya serta Vanya.Saat memasuki ruang istirahat khusus Patriarch, Aurelia menghentikan langkahnya sejenak. Wajahnya yang semula tegang saat berhadapan dengan puluhan tetua kini mengendur. Ia menoleh menatap Nagendra, jemarinya yang ramping mengusap lengan jubah kebesaran hitam yang dikenakan pemuda itu."Pangeran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status