LOGIN
Pasar Triwindu Solo siang itu begitu terik. Satria Wisesa pemuda berusia 24 tahun menyeka keringat yang bercucuran di dahinya dengan handuk lober yang sudah bolong-bolong. Bahunya terasa ngilu luar biasa setelah memanggul peti kayu berisi keramik kuno seberat 50 kilogram.
"Woi, Satria! Jalan pakai mata, jangan pakai dengkul! Itu keramik dinasti Qing, kalau pecah, kamu mau ganti pakai ginjal?!" teriakan melengking itu berasal dari Koh Asun, pemilik toko barang antik tempat Satria bekerja sebagai kuli panggul. Satria hanya bisa menunduk, meminta maaf. Pandangan matanya memang payah. Sejak remaja, ia menderita rabun parah. Untuk membeli kacamata yang layak saja uangnya tidak pernah cukup karena upahnya habis untuk makan sehari-hari dan bayar kosan sempit. Karena kekurangannya ini, Satria menjadi bulan-bulanan dan ejekan kuli lain di pasar. “Si Rabun Pembawa Sial,” begitu mereka biasa memanggilnya. "Maaf, Koh. Tadi agak buram," kata Satria pelan. "Halah, alasan! Ya sudah, cepat bersihkan gudang belakang! Kemarin ada borongan barang loakan masuk. Kalau ada yang bagus, bersihkan. Kalau sampah, buang!" titah Koh Asun ketus. Satria melangkah ke gudang belakang yang gelap dan berdebu. Saat sedang memilah tumpukan koin kuno berkarat dan patung-patung kayu yang sudah dimakan rayap, jemarinya menyentuh sesuatu yang dingin di dasar sebuah kotak kayu lapuk. Sebuah liontin giok berbentuk naga. Kondisinya memprihatinkan. Warnanya kusam, diselimuti tanah kering, dan permukaannya penuh retakan rambut. Satria mendekatkan giok itu ke matanya yang rabun. Entah mengapa, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk membersihkan benda itu. Saat Satria menggosok permukaan giok dengan ujung jarinya, sekelumit pinggiran retakan giok yang tajam menggores ibu jarinya. Darah segar menetes, langsung terserap ke dalam retakan giok naga tersebut. WUZISSS! Seketika, liontin giok itu memancarkan cahaya hijau pekat yang menyengat. Satria terperanjat, namun tubuhnya kaku tak bisa bergerak. Rasa hangat menjalar dari tangannya, mengalir cepat menuju dadanya, lalu melesat naik ke kedua matanya. Matanya terasa seperti terbakar selama beberapa detik. "Ahg...!" Satria memejamkan mata rapat-rapat karena rasa perih yang teramat sangat. Satria mengerjapkan mata. Kamar gudang yang tadinya remang-remang kini terlihat begitu terang benderang. Debu-debu yang beterbangan di udara bahkan bisa ia lihat dengan sangat jelas. Rabunnya hilang total! "M-mataku! Aku bisa melihat dengan jelas?" bisik Satria tidak percaya. Namun, kejutan belum selesai. Ketika ia menatap dinding bata gudang, pandangannya tiba-tiba menembus semen dan bata tersebut. Ia bisa melihat seorang perempuan paruh baya sedang mandi. Satria membelalak, langsung berbalik mengarahkan mata menatap kotak kayu. Matanya menembus lapisan kayu, memperlihatkan isi di dalamnya secara detail tanpa harus membukanya. Kemampuan Tembus Pandang! Satria menyadari, liontin giok naga tadi telah menyatu ke dalam dadanya—meninggalkan tato naga hijau samar dan memberikan dirinya mata dewa "Netra Kawaskithan". Saat Satria masih terpaku dengan kekuatannya, suara langkah kaki terdengar dari arah depan toko. Suara sepatu hak tinggi yang anggun, diikuti langkah berat pria paruh baya. Satria melongok ke arah toko depan. Menggunakan mata barunya, ia bisa melihat aura yang keluar dari barang-barang antik di toko Koh Asun. Kebanyakan barang memancarkan aura abu-abu tipis artinya barang palsu atau replika baru. Hanya ada satu dua barang yang memancarkan aura kuning tipis—barang asli tapi usianya muda tidak mempunyai nilai tinggi. Di depan toko, Koh Asun sedang membungkuk-bungkuk hormat kepada dua orang tamu VIP. Pria paruh baya itu adalah Baskoro Himawan, seorang konglomerat besar dan kolektor barang antik kelas kakap dari Jakarta. Di sampingnya, berdiri seorang gadis muda berwajah sangat cantik, anggun, dengan aura dingin yang memikat. Dia adalah Liana Himawan, putri Baskoro yang terkenal cerdas dan mewarisi bakat ayahnya dalam menilai barang antik. "Koh Asun, saya dengar Anda baru mendapatkan arca perunggu ganesha peninggalan kerajaan Mataram Kuno? Saya sengaja datang dari Jakarta untuk melihatnya," ujar Baskoro dengan suara berwibawa. "Oh, tentu saja ada, Pak Baskoro! Ini barang jaminan asli 100%! Saya dapat dari galian di daerah Klaten. Mari silakan dilihat." Koh Asun dengan bangga mengeluarkan sebuah arca perunggu kecil dari dalam kotak beludru merah. Baskoro mengeluarkan kaca pembesar, mulai meneliti. Liana pun ikut mengamati dengan kening sedikit berkerut. Dari balik tirai gudang, Satria memfokuskan pandangannya pada arca perunggu tersebut. Dengan kemampuan tembus pandangnya, Satria melihat bagian dalam arca. Alangkah terkejutnya ia saat melihat struktur logam bagian dalam arca itu sangat rapi, bahkan ada kode produksi modern yang sengaja dikikis di bagian dasarnya, lalu ditutup dengan karat buatan menggunakan zat kimia. Arca itu memancarkan aura abu-abu pekat—palsu! Koh Asun sedang berusaha menipu sang konglomerat demi uang miliaran rupiah. "Bagaimana, Liana?" tanya Baskoro pada putrinya. Liana tampak ragu. "Karat dan patinasinya terlihat alami, Pa. Tekstur perunggunya juga terasa tua. Tapi entah kenapa, perasaanku agak janggal." Ia membolak balik arca tersebut. Koh Asun langsung menimpali dengan lihai, "Aduh, Nona Liana, perasaan bisa menipu, tapi fisik barang tidak! Ini saya lepas 2 Miliar Rupiah saja karena Pak Baskoro adalah langganan lama saya. Kalau kolektor lain, saya minta 3 Miliar!" Baskoro mengangguk dengan senyuman tipis, tampaknya mulai tergiur dan bersiap mengeluarkan buku ceknya. "Baiklah, Koh Asun. Saya percaya pada reputasi—" "Jangan dibeli, Pak! Barang itu palsu!" Sebuah suara lantang memotong ucapan Baskoro. Koh Asun, Baskoro, dan Liana serentak menoleh ke arah sumber suara. Di sana, Satria berdiri dengan pakaian kulinya yang dekil, namun tatapannya tajam dan lurus, bukan lagi tatapan sayu dari si kuli rabun. Wajahnya Koh Asun langsung memerah padam karena marah sekaligus panik. "Satria!! Kurang ajar kamu ya! Kuli panggul miskin tahu apa soal barang antik? Cepat balik ke gudang sebelum saya pecat kamu!" Liana Himawan menatap Satria dengan mata indahnya yang jeli. Ada sesuatu yang berbeda dari kuli di depannya ini. Sorot matanya sangat percaya diri. "Tunggu," potong Liana, menahan Koh Asun. Ia beralih menatap Satria. "Kamu bilang arca ini palsu? Apa buktinya? Kalau kamu hanya asal bicara dan bikin rusuh toko majikanmu, kamu bisa dilaporkan ke polisi atas pencemaran nama baik lho." Satria melangkah maju tanpa rasa takut. Aliran energi hangat dari giok naga di dadanya membuat jiwanya terasa begitu tenang. "Mbak, kalau mbak tidak percaya, coba ambil cairan alkohol murni atau aseton, terus gosok bagian bawah arca ini agak keras. Karat hijaunya akan luntur karena itu hanya lumutan kimia buatan," kata Satria tenang. Satria lalu menunjuk titik spesifik di bagian dalam guratan jubah arca. "Kalau Pak Baskoro rela merusak sedikit bagian lipatan jubah di belakang arca ini dengan jarum, Anda akan menemukan bagian dalamnya bukan perunggu murni kuno, tapi ini campuran besi modern. Di bagian dasarnya yang dilapisi semen tipis, sebenarnya ada bekas nomor seri pabrikan logam di Klaten yang dibuat tahun lalu." Mendengar penjelasan detail dari Satria, wajah Koh Asun pucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari dahinya. Melihat reaksi Koh Asun, Baskoro Himawan yang sudah berpengalaman belasan tahun di dunia bisnis langsung tahu bahwa kuli di depannya ini tidak sedang menggertak."Lakukan Penguncian Pasif di seluruh markas cabang sekarang juga, Vanya!"Suara bariton Satria memotong kepanikan yang menyelimuti saluran komunikasi internal. Ia berdiri tegap di tengah halaman Villa Himawan, kemeja gelapnya tersapu angin malam. Manik mata keemasannya berotasi pekat dengan pendar Netrakawaskitan yang menembus batas cakrawala.Pak Baskoro melangkah cepat ke samping menantunya, wibawa kepemimpinan sang Ketua Klan Himawan seketika membakar semangat di sekelilingnya."Vanya, dengar titah Penguasa Utama!" "Perintahkan seluruh pimpinan cabang di lima benua untuk mengaktifkan perisai darurat terdalam! Tutup rapat seluruh gerbang utama, jangan ada satu prajurit pun yang keluar untuk melayani provokasi mereka!"BZZZZZZTTT!"S-siap, Pak Baskoro! Siap, Den Satria!" sahut Vanya tanpa basa basi. Jemarinya menari cepat di konsol siber, memancarkan sinyal perintah tertinggi ke seluruh pelosok bumi. "Sinyal perintah Penguasa Utama berhasil dikirim! Seluruh cabang di lima benua mula
SWUUUUSSHH!Dengan satu pukulan Sentuhan Refleks tingkat rendah di titik saraf leher, Satria memukul mundur gelombang racun di tubuh Komandan Pertama, lalu melempar tubuh pria tua itu menembus pusaran angin yang menghempaskannya jauh ke jalur luar perbatasan. Satria berdiri tegak kembali di tengah sunyinya jurang kematian. Ia mengusap mantel hitamnya yang sedikit terkena debu, lalu menatap ke arah langit selatan yang perlahan mulai terang oleh kilatan api pertarungan Larasati yang telah usai.BZZT... CRACKLE..."Den Satria," panggil Pak Hendra melalui saluran internal Villa Himawan. "Pak Baskoro menyampaikan kalau perisai Gajah Putih di villa telah dikunci. Non Liana dan Den Nagendra aman tanpa ada gangguan sedikit pun."Satria menyunggingkan senyum tipis yang lega. "Terima kasih, Pak Hendra. Sampaikan pada Papa... penyusup jalur darat sudah disapu bersih.""Siap, Den Satria!"Satria membalikkan tubuhnya, melangkah pelan kembali menuju arah Villa Himawan. Malam pembantaian senyap tel
Malam yang membeku di rimba perbatasan mendadak hening secara mencekam. Dua puluh penyusup elit Sekte Bayangan Merah membeku di tempat, merasakan tekanan hawa membunuh milik Satria Wisesa yang menghimpit dada mereka hingga sulit bernapas. Udara di sekeliling jurang itu mendadak mengendap berat, seolah pepohonan tua dan batu karang di sekitar mereka ikut tunduk pada sang Penguasa Utama Himawan.Komandan Pertama Bayangan Merah meremas erat gagang sepasang belati beracunnya. Keringat dingin merembes di balik topeng tengkorak merah yang ia kenakan. Batin iblis tuanya berteriak panik—skenario terbaik Trah Sangkala telah hancur sejak detik pertama Satria menapakkan kaki di celah jurang ini."J-jangan gentar!" raung Komandan Pertama seraya menggelegarkan aura racun merah dari seluruh pori-pori kulitnya. "Dia cuma datang seorang diri! Kepung dia! Gunakan Ajian Jarum Jiwa Sangkala!"SWUUUUSSHH-BZZZZZZTTT!Atas perintah komandannya, lima belas prajurit penyusup melompat serentak membelah kegela
Baskoro menyandarkan punggungnya, menatap peta hologram dengan tatapan tajam nan bijaksana."Vanya," ucap Baskoro. "Berapa estimasi waktu mereka mencapai titik pendaratan pantai selatan?""Kalau kecepatan kapal siluman mereka konstan, mereka akan mendarat di pesisir selatan dalam waktu empat belas jam dari sekarang, Pak Baskoro!" sahut Vanya cepat. "Tepat saat tengah malam!"Hendra menunduk sedikit ke arah Baskoro dan Satria, menyampaikan laporan teknisnya. "Den Satria, Pak Baskoro... seluruh sistem pengamanan Faksi Himawan di wilayah selatan sudah siaga satu. Apa kita perlu mengerahkan armada utama untuk menghadang mereka di pantai?"Baskoro mengangkat sebelah tangannya pelan, seketika membuat suasana kembali hening menantikan keputusan sang Ketua Klan."Mengerahkan seluruh armada utama ke pantai selatan adalah kekeliruan strategi, Hendra," tegas Baskoro lugas. "Trah Sangkala terkenal kelicikannya. Serangan tiga divisi di pantai bisa jadi cuma umpan untuk memancing kekuatan utama kit
"Sshhh!"Satria masuk hingga pangkal, lalu berhenti sejenak, membiarkan Liana menyesuaikan. Dahi bersandar di dahi istrinya. “Masih sempit, Li…”Liana membuka mata, menatapnya dengan pupil yang melebar. “Gerak… tolong gerak…”Satria mulai bergerak. Perlahan di awal—hampir keluar sepenuhnya, lalu mendorong kembali hingga dalam. Setiap hentakan terasa basah dan berat. Bunyi kulit bertemu kulit pelan-pelan memenuhi keheningan kamar. Liana memeluk lehernya erat, kuku-kukunya meninggalkan jejak di punggung yang masih penuh memar dari pertempuran.“Enak… ahh… di situ… lagi…”Satria mempercepat sedikit. Satu tangannya turun di antara mereka, jari-jari memutar klitoris Liana seirama hentakannya. Liana semakin basah, semakin terbuka. Cairannya membasahi pangkal kejantanannya setiap kali dia masuk.“Satria… aku mau… ahh… mau keluar…”“Keluarin,” bisik Satria serak di telinganya. “Keluarin di sekeliling aku. Biar aku rasain kamu bergetar.”Liana mencapai puncak dengan tubuh yang menegak. Dinding
Malam itu, setelah pertempuran di Kediaman Utama, seluruh kompleks Himawan Tower masih dipenuhi asap dan debu. Tim keamanan dan pemadam kebakaran bekerja tanpa henti, tapi jelas bahwa Penthouse utama tidak bisa lagi dihuni—setidaknya untuk beberapa minggu ke depan.Pak Baskoro sudah mengatur segalanya. Villa cadangan Himawan Group di kawasan Jakarta Selatan disiapkan dalam hitungan jam. Tempat itu lebih kecil dari Penthouse, tapi lebih hangat—sebuah rumah bergaya kolonial dengan halaman luas dan pepohonan rimbun yang menenangkan.Mobil hitam berlapis baja berhenti di depan gerbang villa. Satria turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Liana yang menggendong Nagendra. Bayi itu tertidur pulas setelah seharian penuh dengan ketegangan dan teriakan—seolah-olah dia tahu bahwa dia aman sekarang.“Kita sampai, Li,” kata Satria pelan, tangannya meraih pinggang Liana.Liana menatap rumah di hadapannya. “Akhirnya kita kembali ke sini,” bisiknya. ***Di dalam villa, suasana terasa berbeda. Tid







