MasukKeesokan paginya, Satria memulai langkah pertamanya. Ia tidak pergi ke toko antik mewah, melainkan melangkah menuju kawasan Pasar Klithikan Notoharjo Solo—pusatnya pasar loak, besi tua, dan barang-barang bekas yang bercampur lumpur. Ratusan pedagang menggelar lapak mereka seadanya di atas terpal plastik di pinggir jalan.
Satria berjalan perlahan di antara kerumunan, mengaktifkan kemampuan Netra Kawaskithan-nya. Pandangannya menyapu lapak demi lapak. Sebagian besar barang yang digelar memancarkan aura abu-abu redup artinya benar-benar barang rongsokan tak berharga atau replika murahan. "Mampir, Mas. Bisa diliat-liat dulu. Buat Kang Mas ganteng, aku kasih murah lho iki." Satu orang perempuan cantik yang sedang menunggu lapak menyapanya seraya memperlihatkan barang antik. Namun, di mata Satria barang itu jelas-jelas palsu. "Makasih, Mbak. Nanti saja." Satu orang perempuan berbisik pada perempuan di sebelahnya, ia memuji ketampanan Satria. "Ganteng banget. Liat ototnya, mengoda!" Baru kali Satria merasa di atas awan, biasanya orang berbisik menghina fisik dan matanya. Satria terus berjalan hingga langkahnya terhenti di sebuah lapak paling pojok yang sepi pengunjung. Lapak itu milik seorang kakek tua bertopi caping yang menjual alat pancing bekas dan tumpukan batu kali hitam untuk hiasan taman. DEG! Jantung Satria mendadak berdegup kencang. Matanya melebar. Di pojok terpal, ada seongkok batu hitam berukuran sebesar bola takraw yang tertutup lumpur kering dan lumut mati. Di mata orang biasa, itu hanyalah batu kali jelek yang berat dan tidak ada harganya, namun di mata Satria barang itu berharga walaupun ia belum bisa menaksir harga jualnya. Satria menarik napas dalam-dalam, berusaha tenang. "Mbah, batu hitam yang ini dijual?" tanya Satria sambil menunjuk batu tersebut dengan nada santai, seolah tidak tertarik. Kakek tua itu mendongak, mengisap rokok klobotnya, lalu terkekeh. "Oh, itu? Batu itu, dulu dibawa cucu Mbah dari kali di pedalaman Kalimantan waktu ikut proyek nebang kayu. Kalau kamu mau, bayar saja dua puluh ribu rupiah buat gantiin uang rokok Mbah." Satria hampir saja bersorak saking senangnya. Namun, tepat saat Satria merogoh kantong celana untuk mengambil lembaran uang, sebuah sepatu boots kulit yang tebal tiba-tiba menendang batu hitam tersebut dengan kasar hingga menggelinding menjauh hingga membentur tiang listrik. "Hei, si Rabun! Kuli miskin, rongsokan begini pun kamu beli? Memangnya matamu yang rusak itu sudah nggak bisa bedakan mana batu mana sampah?!" Satria menoleh tajam. Di belakangnya ada Danu—kepala kuli panggul Pasar Triwindu yang berbadan gempal, ada tato di lengannya. Dia yang paling sering memukuli, memeras uang tip, dan mengejek Satria. Di sampingnya, ada tiga anak buahnya yang berbadan kekar, menatap Satria dengan pandangan merendahkan dan tawa mengejek. Danu meludahi tanah, menatap Satria dengan seringai kebencian. "Koh Asun titip salam buat kamu, Satria. Katanya, lidah kuli yang matanya rusak kayak kamu ini harus dipotong biar nggak bisa ngomong sembarangan lagi." Satria melirik sekeliling. Lapak kakek tua ini berada di pojok paling belakang pasar, dekat tembok pembatas yang berbatasan dengan saluran air besar dan rimbunnya pohon bambu. Tempatnya sepi, tertutup dari pandangan ramai pengunjung pasar. Danu sengaja memojokkan Satria ke daerah ini agar bisa menghajarnya tanpa gangguan. "Danu," suara Satria terdengar sangat tenang, membuat seringai di wajah Danu perlahan memudar. "Selama ini aku mengalah karena aku butuh pekerjaan. Tapi hari ini, urusan kita sudah beda." "Dasar Bocah ... banyak bacot! Hajar dia!" perintah Danu pada anak buahnya. Dua kuli berbadan kekar langsung maju. Salah satunya melayangkan bogem mentah ke wajah Satria. Dulu dengan mata rabunnya, Satria pasti sudah tersungkur. Namun sekarang, energi hangat dari giok naga di dadanya berdesir kencang. Di mata Satria, gerakan pukulan itu mendadak melambat seperti rekaman slow-motion. Hebatnya lagi, Netra Kawaskithan Satria bisa melihat titik lemah aliran darah dan otot di bahu pria itu yang menegang. Satria sedikit memiringkan kepala, menghindari pukulan dengan sangat mudah. Sebelum kuli itu sempat menarik tangannya, Satria melayangkan satu pukulan cepat tepat ke arah ulu hati lawan. BUGH! "HOEKK!" Kuli itu langsung ambruk ke tanah, memegangi perutnya sambil muntah karena kehabisan napas. Melihat temannya tumbang dalam satu sergapan, kuli kedua menjadi naik pitam. Ia mencabut sebilah balok kayu dari sela tumpukan sampah dan mengayunkannya ke kepala Satria. Satria tidak menghindar. Ia mengangkat lengan kirinya untuk menangkis, sementara tangan kanannya bergerak cepat menepuk sendi siku lawan dengan kekuatan penuh. KREK! BUGH! Balok kayu itu terlepas. Kuli kedua menjerit kesakitan karena sendi sikunya bergeser, disusul tendangan telak Satria di dadanya hingga ia terpental ke tumpukan ban bekas. Danu dan satu anak buahnya yang tersisa melongo tak percaya. Kuli rabun yang biasanya mereka piting dan pudar uangnya, kini menjelma menjadi monster dalam hitungan detik. "Kurang ajar! Maju bareng!" teriak Danu, suaranya mulai bergetar panik. Danu mencabut pisau lipat dari sakunya, sementara anak buahnya menerjang dari sisi kanan. Satria memfokuskan Netra Kawaskithan. Ia melihat pergerakan otot kaki mereka sebelum melangkah. Dengan kelincahan yang luar biasa, Satria menekuk lututnya, menyapu kaki anak buah Danu hingga terjatuh ke tanah, lalu memutar tubuhnya ke belakang Danu. Sebelum Danu sempat menusukkan pisaunya, Satria sudah mencengkeram pergelangan tangan Danu dan memelintirnya ke belakang. *CEKLEK!* "AAAGHH! Ampun! Aaampun, Satria!" Danu menjerit histeris saat pisaunya terjatuh dan lengannya terkunci di posisi yang sangat menyakitkan. Satria mendekatkan wajahnya ke telinga Danu, berbisik dingin, "Pulang dan beri tahu Koh Asun. Kalau dia atau kalian berani ganggu aku lagi, aku akan patahkan semua tulang kalian. Paham?!" "P-Paham! Paham, Satria!" Satria melepaskan cengkeramannya, lalu menendang bokong Danu hingga bos kuli itu jatuh tersungkur di dekat got. Dengan langkah tertatih-tatih, Danu dan ketiga anak buahnya lari kocar-kacir meninggalkan sudut pasar yang tidak pernah dilewati orang-orang. Satria mengembuskan napas panjang. Ia merapikan pakaian yang sedikit kusut, lalu berjalan kembali ke arah lapak kakek tua yang tadi sempat ketakutan melihat perkelahian. "Mbah, maaf jadi bikin keributan. Ini seratus ribu untuk batu ini. Kembaliannya buat simpanan mbah," kata Satria sopan, menyerahkan selembar uang. Kakek itu menerima uang dengan tangan agak gemetar, lalu mengangguk. "Ambil saja, Le. Cepat pergi sebelum mereka bawa rombongan lebih banyak." "Baik, Mbah!" Satria memungut batu hitam berlumut itu. Beratnya sekitar dua kilogram. Ia kembali memeriksa bagian dalam batu. Pancaran aura hijaunya memang indah, Satria sadar: ini adalah batu giok mentah rough jade. Di pasar loak atau di tangan kolektor lokal Solo, batu mentah yang belum dipotong dan belum disertifikasi laboratorium tidak akan laku miliaran rupiah. Nilai taksiran dari netranya menunjukkan angka sekitar 15 hingga 20 juta rupiah, kalau dijual apa adanya ke toko permata lokal. Angka yang sangat realistis dan cukup sebagai modal awal. "Bisa kaya mendadak kalau mataku selamanya kayak gini!"Pagi datang dengan cahaya yang lembut menyusup lewat celah tirai.Nagendra terbangun lebih dulu. Aurelia masih tertidur di lengannya, wajah tersembunyi di dada, napas teratur. Rambutnya berantakan, bibir sedikit bengkak, dan di leher serta bahu terlihat beberapa jejak kemerahan yang ditinggalkan semalam. Nagendra mengusap punggung wanita itu pelan, menatap langit-langit kamar, membiarkan keheningan pagi menenangkan sisa adrenalin dari pertarungan kemarin.Dua bulan lagi.Ia masih sulit percaya. Setelah bertahun-tahun penuh darah, residual, dan ancaman yang tidak pernah benar-benar hilang, akhirnya mereka sampai di titik ini. Tidak ada lagi pintu yang harus ditutup. Tidak ada lagi benih yang harus dibakar. Hanya pernikahan, dan hidup yang menunggu di depan.Aurelia menggeliat pelan, mata masih terpejam. “Sudah pagi…?” suaranya parau.“Belum,” jawab Nagendra rendah. Ia mengecup puncak kepala Aurelia. “Tidur lagi. Badanmu masih lelah.”Aurelia menggeleng kecil, lalu mengangkat wajah, men
Aurelia menggigit bibir. “Kamu nggak lelah setelah berperang seharian?”“Lelah,” jawab Nagendra rendah. “Tapi lebih lapar.” Ia mencium Aurelia dalam, lidah masuk perlahan, sementara pinggulnya mulai bergerak lagi—lambat, dalam, sengaja menggesek setiap inci. “Boleh?”Aurelia menjawab dengan mengangkat pinggulnya, menerima. “Boleh… pelan dulu.”Nagendra menurut. Ia keluar hampir seluruhnya, lalu masuk lagi sangat lambat, menikmati bagaimana Aurelia meremasnya. Satu tangan meraih kaki Aurelia dan menekannya ke dada wanita itu, membuka lebih lebar. Sudutnya langsung berubah menjadi lebih dalam.Aurelia mengerang panjang. “Nagendra… ahh, dalam banget…”“Suka?” tanya Nagendra di telinga Aurelia, suaranya serak.“Suka… terus…”Nagendra mulai mempercepat sedikit. Setiap hentakan dalam, basah, dan terukur. Ia menunduk, menghisap leher Aurelia, meninggalkan jejak kemerahan baru. Tangan bebasnya meremas payudara Aurelia, ibu jari memainkan puting yang sudah mengeras.“Kamu sempit sekali malam i
Di dalam ruang kerja utamanya yang luas, Satria Wisesa sedang meneliti laporan akhir yang diserahkan oleh Ratu Pramudya dan Vanya Cedric di atas meja kayu jati."Seluruh sisa aset Aliansi di sektor energi dan pertambangan di luar pulau sudah sepenuhnya berada di bawah kendali Himawan Group, Satria," lapor Ratu Pramudya dengan suara tegas nan profesional. "Tidak ada lagi celah hukum atau finansial yang bisa digunakan pihak luar untuk menggugat posisi kita."Vanya menambahkan sambil mengetuk layar tablet taktisnya. "Sistem pemantauan Netrakwaskitan digital yang terintegrasi dengan satelit juga sudah aktif penuh 24 jam. Jaringan perimeter Jakarta kini steril dari segala frekuensi ghaib asing."Satria mengangguk puas. Ia melipat berkas tersebut dan menatap ketiga wanita andalannya itu dengan sorot mata berwibawa. "Bagus. Pertahankan tingkat pengawasan ini. Kita tidak boleh lengah sedikit pun, terutama menjelang persiapan pernikahan Nagendra dan Aurelia bulan depan.""Baik, Satria. Kami ak
Satria dan Nagendra melangkah berdampingan meninggalkan ruangan basement B3 yang kini telah berubah menjadi reruntuhan hangus. Larasati berjalan tepat di belakang mereka, memastikan area tersebut sepenuhnya steril sebelum tim medis dan unit pembersih padepokan tiba.Saat pintu lift utama terbuka di lantai dasar, suasana lobi Mansion Himawan menyambut mereka dengan ketenangan yang kontras. Sisa-sisa debu ghaib sama sekali tidak mencemari udara di atas berkat sistem pertahanan ghaib berlapis yang dipasang Vanya."Den Satria," suara Vanya terdengar menyambut dari ruang kontrol utama melalui pengeras suara internal. "Tim medis sudah mengamankan subjek di basement. Kondisi tubuhnya stabil, meskipun simpul sarafnya sempat terbakar habis oleh sisa energi purba Sangkala. Kami sedang memproses pembersihan memori dan identitasnya untuk melacak siapa dalang lokal yang menanam jimat-jimat itu."Satria mengangguk tegas sembari berjalan melintasi pualam lobi. "Bagus, Vanya. Cari tahu siapa pun yang
Ruang istirahat masih terasa hangat ketika tablet di meja tiba-tiba bergetar hebat.Layar menyala sendiri. Wajah Vanya muncul, pucat dan tegang. “Den Satria, ada lonjakan sisa energi yang sangat besar di Tanjung Priok. Cirinya sama dengan yang dulu muncul di Puncak dan Menteng, tapi jauh lebih kuat. Dan ada titik kedua… tepat di bawah kita. Lantai basement B3. Lingkaran mantra sedang aktif.”Satria langsung berdiri. “Di bawah gedung ini?”“Dia diam selama seluruh prosesi. Menunggu semua orang lengah.”Nagendra sudah bergerak menuju pintu. “Ibu dan Aurelia baru saja turun lewat lift utama.”“Larasati, kunci semua lift sekarang!” perintah Satria lewat alat komunikasi. “Vanya, matikan listrik cadangan di B3. Nagendra, ikut aku. Kita lewat tangga darurat.”Mereka berlari.Lampu darurat menyala merah di sepanjang tangga. Semakin turun, semakin berat udara yang mereka hirup. Bau tanah basah dan besi sudah terasa menyengat dari tiga lantai sebelum sampai. Seolah ada sesuatu di bawah sana yan
Gemuruh tepuk tangan dan penghormatan di Aula Agung Gedung Pertemuan Pusat Jakarta perlahan mereda saat Nagendra mengangkat satu tangan. Pendar ganda merah-emas di matanya menyurut, berganti dengan sorot mata yang tenang, jernih, namun menyimpan ketegasan luar biasa. Di usianya yang masih muda, aura pimpinan yang ia pancarkan berdiri sejajar di samping nama besar ayahnya, Satria Wisesa.Setelah prosesi pengangkatan Pangeran Mahkota selesai, para tetua trah dan pejabat faksi dibubarkan untuk segera mengeksekusi perintah pembersihan jaringan sisa-sisa Aliansi. Satria, Liana, Nagendra, dan Aurelia melangkah kembali menuju area privat gedung, dikawal ketat oleh Larasati, Ratu Pramudya serta Vanya.Saat memasuki ruang istirahat khusus Patriarch, Aurelia menghentikan langkahnya sejenak. Wajahnya yang semula tegang saat berhadapan dengan puluhan tetua kini mengendur. Ia menoleh menatap Nagendra, jemarinya yang ramping mengusap lengan jubah kebesaran hitam yang dikenakan pemuda itu."Pangeran







