แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Cocojam
Aku teringat makan malam keluarga bulan lalu. Acara yang sangat resmi. Aku mengenakan gaun putih, bagaikan hantu yang berdiri sendirian di sudut ruangan.

Namun, putri-putri dari keluarga rival tetap menemukanku.

"Wah, lihat siapa yang ada di sini. Putri yang tak terlihat." Bella Sudarsa mengadang jalanku dengan seringai kejam di bibirnya.

Dua gadis lain, yang sama-sama merupakan sainganku di akademi balet, berdiri di kedua sisinya.

"Aku dengar kamu merebut tempatku di Royal." Suara Bella terdengar begitu licik, "Apa kamu benar-benar merasa dirimu cukup hebat?"

Mereka mendorongku masuk ke ruang ganti, lalu menguncinya.

"Kamu pikir dirimu istimewa?" Anna mengeluarkan gunting kecil, lalu mulai menggunting gaunku. "Bahkan orang tuamu sendiri saja nggak peduli sama kamu."

Aku mencoba melawan, tetapi jumlah mereka terlalu banyak.

"Tolong, jangan," pintaku dengan suara bergetar. "Tempat itu boleh untukmu. Akan kuberikan padamu."

"Sudah terlambat." Bella menginjak jari kakiku dengan sepatu hak tingginya yang runcing. "Seharusnya sejak awal kamu tahu posisi dirimu."

Darah merembes menembus stoking putihku.

Namun, aku menahan jeritan dan air mataku. Jika aku mengeluarkan sedikit suara atau isakan saja, pasti akan terdengar oleh Chloe. Dia akan kembali mengalami krisis emosi.

Mereka meninggalkanku di sana selama satu jam penuh. Mereka baru membiarkanku keluar setelah acara makan malam selesai.

Aku berjalan tertatih kembali ke rumah besar dengan gaun yang sudah rusak. Saat Elena melihat gaunku yang robek dan jari kakiku yang berdarah, wajahnya langsung menjadi kaku.

"Sera! Kamu ngapain saja?"

Aku menundukkan kepala, menyembunyikan kedua tanganku yang berdarah di belakang punggung.

"Maaf, Bu. Aku akan ganti baju."

Kegelapan akhirnya benar-benar menguasaiku.

Aku mendengar Victor sedang berbicara di telepon. "Ya, Chloe kambuh lagi. Kirim dokter terbaik. Kami akan membawanya ke rumah sakit swasta sekarang."

Langkah kaki tergesa-gesa berlalu di sampingku. Tidak seorang pun berhenti untuk bertanya kenapa aku sediam itu.

"Sera, cepat ambilkan headphone peredam suara milik Chloe!" perintah Elena tanpa melirikku sedikit pun. Aku mencoba menjawab, tetapi bibirku tidak bisa bergerak.

"Menyedihkan. Selalu saja berusaha mencuri perhatian Chloe," gumam Victor dengan nada jijik.

Pikiran terakhirku adalah hari ketika aku mengemasi semua sepatu balet dan pakaian latihanku, lalu menguncinya di dalam sebuah peti untuk selamanya.

"Kenapa kamu berhenti?" tanya pelatih baletku dengan terkejut. "Kamu murid paling berbakat yang pernah aku ajar!"

"Suara sepatu balet ... membuat adikku ingin mati," jawabku sambil menatap lantai, tidak sanggup menatap mata pelatihku yang dipenuhi kekecewaan.

"Dokter bilang otaknya butuh keheningan mutlak."

Kini, semua mimpi yang telah kukunci rapat-rapat itu, ikut mati bersamaku di tempat ini.

Suara mobil dokter pribadi terdengar semakin dekat. Aku mendengar Elena berteriak, "Chloe! Bertahanlah! Dokternya sudah datang!"

Suara langkah kaki yang tergesa-gesa memenuhi ruangan, lalu pintu rumah besar dibuka lebar.

Embusan angin malam mengusir aroma anyir darah di udara.

"Di mana pasiennya?" tanya seorang pria dengan suara yang terasa begitu akrab.

"Di sini! Cepat! Putriku sudah hampir nggak sadarkan diri!" jawab Victor dengan panik sambil menunjuk ke arah meja yang pecah.

Aku berharap ada seseorang, siapa pun itu, yang mau menundukkan kepala dan melihat bahwa masih ada seorang putri lain yang sedang bersimbah darah, menunggu untuk diselamatkan.

Tim medis langsung bergegas menghampiri Chloe dan membalut luka di lengannya dengan hati-hati. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa aku sedang sekarat di sudut ruangan.

"Serangan gangguan sensorik adalah kondisi darurat yang sangat kritis ...." Suara itu perlahan memudar. Lalu ... tidak ada apa-apa lagi.

Tubuhku tiba-tiba terasa sangat ringan. Seolah ada sesuatu yang meninggalkan ragaku.

Rasa sakitnya lenyap.

Aku melayang di udara. Aku menunduk dan melihat tubuhku sendiri.

Gadis berusia 19 tahun itu terbaring di genangan darahnya sendiri. Wajahnya pucat dan darah telah mengering di bibirnya.

Jari-jarinya patah. Kukunya dipenuhi darah.

Itu adalah aku.

Sera Chaniago.

Putri sulung kepala Keluarga Chaniago, yang mati di tangga marmer rumahnya sendiri.

"Cepat! Masukkan dia ke mobil!" suara Victor terdengar dari lantai bawah.

Victor mengangkat adikku dengan hati-hati, yang kini sudah mengenakan headphone peredam suaranya, lalu melangkah menuju mobil Maybach yang telah menunggu di luar.

"Dia akan baik-baik saja, 'kan?" Elena mengikuti di belakangnya, matanya tampak berkaca-kaca untuk putri bungsunya yang terluka.

"Dia akan baik-baik saja kalau segera ditangani," jawab dokter itu meyakinkan. "Lukanya nggak dalam."

Pintu mobil terbuka. Victor dengan lembut membaringkan Chloe di kursi belakang.

Elena hendak masuk ke dalam mobil, tetapi dia tiba tiba berhenti. "Tunggu, di mana Sera?"

Rohku melayang mendekati mobil, memandangi wajah Elena yang dipenuhi kebingungan.

"Lupakan saja dia! Chloe lebih penting!" bentak Victor sambil terus memasangkan sabuk pengaman pada putri kesayangannya.

Elena ragu hanya sesaat, lalu masuk ke dalam mobil.

Mesin mobil menyala dan Maybach itu perlahan meninggalkan rumah besar.

Ban Maybach melindas kelopak-kelopak mawar putih yang berserakan di jalan masuk.

Aku melayang di udara malam, memandangi mobil yang membawa seluruh keluargaku menghilang ke dalam kegelapan.

Hanya aku yang tahu bahwa mawar-mawar putih yang hancur terlindas itu adalah hadiah yang telah kurawat selama enam bulan untuk ulang tahun Victor.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tenggelam Dalam Keheningan yang Membunuhku   Bab 10

    Jeritan Chloe menggema di seluruh aula. Topengnya sudah hancur. Monster yang sesungguhnya akhirnya terlihat."Sampah?" Tubuh Victor gemetar. Dia merasa seolah-olah inilah pertama kalinya dia benar-benar melihat putrinya. "Kamu menyebut kakakmu sendiri sampah?""Memangnya aku salah?" Chloe benar-benar melepaskan "topengnya", sorot matanya dipenuhi kegilaan. "Dia dari awal cuma figuran! Kalau dia nggak ada, semua kasih sayang kalian pasti jadi milikku!"Mendengar itu, Elena akhirnya kehilangan kesabaran. Dia berdiri dengan tubuh gemetar lalu menampar Chloe dengan keras."Dasar monster!" teriak Elena sekuat tenaga. "Sera itu kakakmu sendiri! Dia menyerahkan semuanya demi kamu!"Chloe memegangi pipinya yang panas. Tak ada penyesalan sedikit pun di matanya. Yang ada hanya kebencian murni."Menyerahkan segalanya?" Dia mencibir. "Dia memang nggak pantas punya semua itu sejak awal! Lagi pula, bukan aku yang mendorongnya hingga jatuh dari tangga. Ayah sendiri yang menjatuhkannya!"Kata-kata itu

  • Tenggelam Dalam Keheningan yang Membunuhku   Bab 9

    Cassio berbalik tajam, lalu mengarahkan pistol itu tepat ke arah jantung Chloe."Halusinogen?" Dia tertawa penuh sindiran. "Kamu yakin masih mau terus memainkan sandiwara ini?"Chloe mundur selangkah, wajahnya sepucat mayat."A ... aku nggak bohong! Ada bukti laporan lab!""Kalau begitu, jelaskan ini." Cassio mengeluarkan sebuah kuitansi dari saku jasnya lalu melemparkannya dengan keras ke wajah Chloe."Ini kuitansi dari pasar gelap," ucapnya. "Aku sendiri yang meretas jaringan mereka."Itu adalah slip transaksi dari seorang penjual pasar gelap. Nama pembelinya tercetak sangat jelas. Chloe Chaniago.Barang yang dibeli, halusinogen kelas industri. Jumlahnya cukup untuk membuat seseorang kehilangan kewarasan selamanya.Tanggal transaksinya adalah sehari sebelum kecelakaan. Artinya, sejak awal Chloe sudah merencanakan semua ini untuk menjebakku. Vas mawar putih yang jatuh hanya memberinya alasan sempurna untuk memulai pertunjukan lebih cepat.Napas terkejut terdengar serempak di seluruh r

  • Tenggelam Dalam Keheningan yang Membunuhku   Bab 8

    Arwahku akhirnya melihat kebenaran yang sebenarnya begitu buruk.Adikku tidak pernah mengalami overstimulasi. Dia hanya menikmati peran sebagai korban untuk mengendalikan keluarga.Ternyata yang dia tunjukkan hanyalah sandiwara yang telah diperhitungkan matang-matang setiap penyakitnya "kambuh". Setiap jeritan adalah alat untuk memanipulasi semua orang di sekitarnya.Pemakamanku diadakan tiga hari kemudian.Aula rumah besar bergaya gotik itu ditata muram dan khidmat, dengan lampu kristal raksasa di langit-langit yang memancarkan cahaya kuning redup.Setiap keluarga mafia besar mengirim perwakilan untuk memberikan penghormatan, termasuk para gadis yang dulu suka merundungku.Bella Sudarsa yang mengenakan gaun hitam bermerek, berbisik-bisik dengan beberapa sosialita lain."Katanya sebelum mati dia sempat mencoba meracuni adiknya. Memang dia pantas dapat balasannya.""Syukurlah dia sudah pergi. Dunia jauh lebih baik tanpa psikopat seperti dia.""Kasihan Chloe. Kalau dari awal dia tahu kak

  • Tenggelam Dalam Keheningan yang Membunuhku   Bab 7

    Para bos memeriksa botol kecil itu, wajah mereka perlahan berubah muram.Chloe terus memeluk Victor, air matanya mengalir deras."Ayah, sebenarnya aku benar-benar nggak mau membahas ini ...." Suaranya bergetar. "Tapi Sera selalu bersikap seolah-olah dia yang paling hebat. Jauh di dalam hatinya, dia berharap aku mati."Victor menatap putrinya yang tampak rapuh. Rasa bersalah yang tadi tumbuh karena buku harian dan catatan medis perlahan mulai memudar.Rasa bersalah karena telah membunuh putrinya sendiri terlalu berat untuk ditanggung. Karena itu, pikirannya mati-matian mencari penjahat untuk disalahkan.Percaya bahwa Sera adalah monster jauh lebih mudah daripada menghadapi kenyataan. Itu satu-satunya jalan keluar baginya.Di sampingnya, Elena seolah berpegang pada harapan yang sama. Dia dengan sengaja menyingkirkan foto-foto mengerikan yang tadi dibanting dokter tua itu ke atas meja dari pikirannya. Tatapannya kembali jatuh pada putri bungsunya dengan penuh rasa iba.Beberapa hari berik

  • Tenggelam Dalam Keheningan yang Membunuhku   Bab 6

    "Depresinya baru mulai membaik setelah menjalani pengobatan." Dokter Geri membalik ke halaman terakhir berkas itu. "Terapi mingguan memberinya sedikit harapan untuk tetap bertahan hidup."Victor menatapnya dengan linglung. "Tunggu. Bukannya Chloe yang punya masalah psikologis? Sejak kecil dia yang harus rutin menjalani perawatan ...."Dokter Geri langsung memotongnya dengan dingin. "Kamu salah, Victor. Chloe menolak setiap pemeriksaan neurologis yang pernah kami jadwalkan."Dia membuka berkas lain. Nama Sera tercetak jelas di sana."Orang yang diam-diam datang untuk terapi setiap minggu adalah putri sulungmu."Dunia Victor seakan runtuh seketika."Nggak .... Itu nggak mungkin ...," gumamnya. "Chloe itu autis. Dia yang butuh pengobatan ....""Putri bungsumu nggak pernah mau bekerja sama dalam pemeriksaan medis apa pun," ujar dokter itu datar. "Justru Bu Sera yang memohon bantuanku saat dia benar-benar putus asa. Dia memohon padaku untuk membantunya keluar dari kegelapan."Wajah Elena pu

  • Tenggelam Dalam Keheningan yang Membunuhku   Bab 5

    Kata-kata itu begitu menusuk di hati Victor. Dia jatuh berlutut dan mengeluarkan raungan penuh penderitaan.Saat itu, terdengar langkah kaki yang mendekat. Suara langkah kaki itu adalah Dokter Geri, dokter yang paling dipercaya oleh keluarga mereka. Dia memasuki ruang kerja dengan wajah serius sambil membawa sebuah map dokumen tebal berwarna cokelat."Victor. Ada beberapa hal yang harus kamu lihat."Dokter tua itu langsung membanting map tersebut ke atas meja. Setumpuk foto dan hasil rontgen meluncur."Apa semua ini?" tanya Victor dengan mata merah."Penderitaan Sera nggak dimulai hari ini," kata Dokter Geri dengan suara sedingin es. "Ini adalah catatan medis yang diam-diam kubuat untuknya."Victor tersentak saat melihat foto pertama.Foto itu memperlihatkan jari kaki Sera yang hancur. Semua kukunya tercabut hingga habis, sementara dagingnya membengkak sampai nyaris tidak bisa dikenali."Patah remuk parah pada jari kaki." Dokter Geri menunjuk hasil rontgen itu. "Ini terjadi tiga bulan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status