Setiap tarikan napas terasa seperti pecahan kaca yang menggores tenggorokanku. Tulang rusukku patah. Darah keluar dari bibirku, menodai lantai marmer putih menjadi merah."Kamu nggak bisa diam, ya? Mau buat dia jadi gila?" teriak ayahku dengan begitu keras hingga seluruh rumah itu seolah bergetar.Aku ingin mengatakan bahwa itu hanya kecelakaan, tetapi tenggorokanku dipenuhi darah. Aku tidak bisa mengeluarkan suara.Di dekat meja kaca yang hancur, adikku, Chloe, meringkukkan badanya. Kedua tangannya menutupi telinga sambil menjerit melengking. "Dia sengaja! Dia mau membunuhku! Jauhkan dia dariku! Jauhkan dia!"Ibuku, Elena, berlutut di hadapannya. Dia merawat luka gores kecil di lengan Chloe sambil membujuknya."Nggak apa apa, Sayang. Nggak apa apa. Ibu di sini. Dia nggak akan mengganggumu lagi."Aku berusaha mengangkat tangan, meminta pertolongan.Namun, yang keluar dari bibirku hanya buih bercampur darah. Kegelapan perlahan menyelimutiku."Ayah ... Ibu ...." Suaraku nyaris tak terden
อ่านเพิ่มเติม