登入Di dalam mobil, Devan tampak jauh lebih tegang dari biasanya. Jarinya mencengkeram kemudi cukup erat, membuat Fira yang duduk di sampingnya memandangnya heran."Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Fira memecah keheningan."Aku nggak enak saja sama Pak Dewa. Pasti mereka akan berpikiran yang macam-macam tentang kita," jelas Devan jujur. Mendengar kekhawatiran itu, Fira justru tertawa renyah. "Kamu ini polos sekali sih, Mas! Sekali-kali melakukan sesuatu yang sedikit melenceng kenapa sih memangnya? Kita itu manusia biasa, bukan malaikat," kata Fira santai.Devan menoleh sekilas ke arah Fira sebelum kembali memfokuskan pandangan ke jalan. "Tapi... apakah kamu nggak merasa gimana gitu?""Merasa gimana-gimana sih, Mas? Maksud kamu apa?" tanya Fira yang gagal paham dengan arah pembicaraan tunangannya."Ya maksudku... kita kan mau bermalam bersama," ujar Devan kikuk.Fira terkekeh pelan. "Mas, bukankah sebelumnya aku juga pernah menginap di apartemen kamu?"Devan langsung menggaruk kepalan
"Iya, Mas... aku serius," bisik Alya lembut penuh keyakinan.Kali ini, Dewa benar-benar bermain dengan tingkat kewaspadaan dan kehati-hatian tertinggi. Bahkan saat memberikan rangsangan awal, ia melakukannya dengan begitu telan dan penuh kesabaran, memastikan setiap inci pergerakannya tidak memicu reaksi negatif pada tubuh sang istri.Begitu dirasa perut Alya tetap rileks dan sama sekali tidak ada tanda-tanda kram, Dewa perlahan melanjutkan aksinya. "Apa sakit, Sayang?" bisiknya di sela napas yang memburu."Tidak, Mas..." jawab Alya pelan.Dewa pun menyatukan miliknya sedikit demi sedikit hingga masuk dengan sempurna ke dalam dekapan hangat milik sang istri."Pelan-pelan ya... jangan terlalu dalam," pinta Alya dengan jari yang meremas erat bahu suaminya.Dewa mengangguk patuh. Ia memulai ritmenya dengan gerakan yang sangat lembut, lambat, dan terukur. Meskipun tempo yang digunakan begitu lambat, gelombang keintiman dan kenikmatan yang mereka rasakan justru begitu membuai. Tak be
"Apa?" Kedua bola mata Dewa terbelalak lebar, menatap sang istri dengan rasa tak percaya. "Memiliki wanita lain? Astaga, Sayang... dari mana kamu bisa memiliki pikiran seliar itu, hah?" tanya Dewa kaget setengah mati. Alya sontak melepaskan pelukannya, lalu menatap sang suami dengan bibir mengerucut kesal. "Buktinya, kemarin aku melihat ada satu set perhiasan mewah di dalam mobilmu! Aku kira itu untukku... Tapi ternyata itu bukan untukku, kan? Itu pasti untuk wanita lain!" cecar Alya dengan nada cemburu yang kentara. Mendengar jawaban itu, ekspresi wajah Dewa seketika berubah. Sesaat ia terkejut, sebelum akhirnya menyadari bahwa set perhiasan untuk klien yang dibeli Devan ternyata disalahpahami oleh istrinya sebagai hadiah perselingkuhan. Tak kuasa menahan geli, Dewa pun mendadak tertawa terbahak-bahak. Tawa itu justru membuat Alya semakin jengkel dan merengut sebal. "Tuh kan! Kenapa malah tertawa?! Apa ada yang lucu?!" tanyanya sinis dengan mata menyipit. "Habisnya... kamu
Keesokan paginya, Alya terbangun dengan perasaan yang berbunga-bunga. Sepanjang pagi, ia diam-diam menantikan momen di mana Dewa akan memberikan kejutan hadiah mewah yang kemarin ia lihat di kantor. Namun, hingga Dewa bersiap-siap dan melangkah keluar rumah untuk berangkat bekerja, pria itu sama sekali tidak menyinggung soal hadiah ataupun mengeluarkan bungkusan apa pun.Alya sempat merasa heran, namun ia buru-buru menepis pikiran negatif dari kepalanya. 'Pasti nanti setelah pulang kerja, Mas Dewa baru akan memberikannya, mungkin lengkap dengan buket bunga,' bicit Alya menghibur diri sendiri.Setelah suaminya berangkat, Alya kembali naik ke lantai atas untuk menyibukkan diri. Ia mulai membersihkan lemari pakaian, lalu berlanjut merapikan ruangan kosong di sebelah kamar utama yang rencananya akan disiapkan sebagai kamar buah hati mereka kelak. Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat hingga sore hari pun menjelang.Setelah membersihkan diri dan merapikan penampilannya, Alya turun ke l
Sore harinya, saat Devan ingin memberikan hadiah untuk klien Dewa, tiba-tiba pria itu ada urusan mendesak. Mau tidak mau, ia harus melaporkan hal tersebut langsung kepada atasannya."Mohon maaf, Pak Dewa, bagaimana kalau besok saja saya antar?" kata Devan dengan nada serba salah.Dewa yang mendengar itu mengangguk santai. "Ya sudah, enggak apa-apa. Kalau memang kamu ada urusan mendesak, pulanglah. Mobilnya aku bawa.""Baik, Pak. Terima kasih banyak," jawab Devan. Setelah menyerahkan kunci mobil kepada Dewa, Devan pun bergegas pergi. Tanpa sempat dipindahkan, seluruh hadiah yang dibeli untuk kliennya itu ia letakkan begitu saja di dalam mobil.Malam itu, setelah selesai makan malam, Dewa mengajak Alya untuk keluar. Sejak sore, perutnya terasa tidak nyaman dan ia sangat ingin memakan sesuatu yang segar."Kamu ngidam ya, Mas?" tanya Alya sambil tersenyum geli."Iya, Sayang. Aku benar-benar ingin makan makanan yang segar," keluh Dewa sambil memegang perutnya.Dewa lantas mendekat
Fira pun menggeleng cepat. "Tidak, Bu. Saya belum hamil. Ini untuk pesanan saudara saya," jelas Fira sambil tersenyum canggung."Oh, kirain Mbaknya yang lagi ngidam," balas ibu-ibu itu ramah.Setelah bungkusan rujak pesanan mereka selesai disiapkan dan dibayar, Fira dan Devan langsung bergegas kembali menuju mobil operasional."Akhirnya dapat juga rujaknya. Untung tadi abangnya nggak antre panjang," kata Fira lega begitu masuk ke dalam kabin mobil."Iya, tapi ibu-ibu tadi ngaco banget ya," sahut Devan sambil memasang sabuk pengamannya."Iya, masa iya aku dibilang hamil. Perutku rata dan seksi begini. Apa mata ibu itu rabun?" ujar Fira mendengus geli sambil mengibaskan rambutnya.Devan tersenyum tipis, lalu menyalakan mesin mobil dan perlahan melajukannya meninggalkan area pinggir jalan tersebut. Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, suasana di dalam mobil terasa santai."Oh ya, Mas. Kalau kita sudah menikah nanti, apa kamu ingin cepat-cepat punya anak atau mau ditunda dulu?"







