Masuk"Pak Dewa, perusahaan Rehan benar-benar sudah dinyatakan pailit. Apa langkah kita selanjutnya?" tanya Devan sopan saat memberikan berkas dokumen keuangan terkini kepada atasannya.Dewa yang sedang menatap layar laptopnya hanya mengulas senyum sinis. Tanpa ragu, ia menutup laptop mewahnya dengan gerakan tenang namun tegas."Batalkan seluruh kontrak kerja samanya," ujar Dewa singkat."Baik, Pak. Saya urus surat pembatalannya sekarang," sahut Devan membungkuk hormat, lalu pamit keluar dari ruang CEO tersebut.Sementara itu, di ruang kerjanga Rehan duduk termangu dengan kepala tertunduk dalam. Pikirannya benar-benar kalut dan pusing luar biasa. Satu per satu penanam modal menarik dananya secara mendadak. Banyak kontrak kerja sama dengan mitra bisnis utama yang dibatalkan secara sepihak. Kas perusahaannya kini benar-benar kosong melompong.Di tengah keputusasaan yang mencekik leher itu, layar ponsel Rehan menyala menampilkan panggilan masuk dari Devan. Dengan napas memburu dan secer
Setelah keluar dari restoran mewah itu, Randy memboyong Sinta menuju sebuah kompleks apartemen eksklusif di pusat kota. Begitu pintu unit penthouse terbuka, mata Sinta membelalak terpana melihat interiornya yang teramat megah dan modern—suasananya sebelas dua belas dengan penthouse milik Dewa yang pernah ia lihat."Kamu boleh tinggal di sini," ujar Randy santai seraya menaruh kartu akses di atas meja. "Serius, Mas? Aku boleh tinggal di sini?" tanya Sinta memastikan, matanya berbinar tak percaya."Seriuslah. Apa sih yang enggak buat kamu?" sahut Randy dengan senyum manisnya.Tanpa ragu, Sinta langsung berhambur memeluk leher Randy. "Terima kasih banyak, Mas! Kamu baik banget!"Tak berhenti di situ, Randy merogoh dompet kulitnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit tanpa batas. "Nih. Gunakan kartu ini untuk berbelanja semua kebutuhanmu.""Serius, Mas, kamu memberikan kartu ini padaku?""Seriuslah. Apa aku kelihatan sedang berbohong?" kata Randy terkekeh.Sinta benar-benar dibua
"Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu!" teriak Rehan gemetar, dadanya naik turun meluapkan amarah yang membuncah.Sinta justru terkekeh sumbang. Ia menoleh, menatap Rehan dengan sorot mata dingin penuh penghinaan. "Terserah kamu mau ngomong apa, Mas. Yang jelas, aku mau pergi dari hidupmu sekarang juga!"Sinta berbalik, menyambar tas belanjaan dan menyeret kopernya menuju pintu. Rehan yang panik langsung berlari mengejar dan menahan lengan istrinya."Sinta! Kamu tidak boleh pergi!" cengkeram Rehan makin erat, matanya memerah penuh keputusasaan. "Kita selesaikan masalah ini baik-baik!""Lepasin aku, Mas! Sakit tahu enggak?!" bentak Sinta keras. Ia berontak sekuat tenaga, menghentakkan tangannya hingga genggaman Rehan terlepas, lalu melangkah lebar keluar kamar.Keributan hebat itu memancing sang mama keluar dari kamarnya. Melihat Sinta yang menggeret koper terburu-buru menuju pintu depan, sang mama tak sedikit pun berniat mencegah."Biarkan saja dia pergi, Rehan!"
Sepulang kerja, Rehan melangkah gontai membuka pintu rumahnya yang terasa makin hampa. Tubuhnya roboh begitu saja di atas sofa ruang tamu. Lelaki itu merebahkan diri, memejamkan mata sejenak seraya memijat pelipisnya yang terasa pening luar biasa akibat tekanan krisis perusahaan."Bagaimana, Rehan? Masalah dana di perusahaanmu apa sudah beres?" tanya sang mama yang berjalan menghampiri dari arah dapur.Rehan menghela napas panjang tanpa membuka mata. "Belum, Ma. Rehan masih bingung mencari dana darurat dari mana lagi. Investor makin mendesak."Netra Rehan melirik ke sekeliling ruangan, menyadari suasana yang terlampau sunyi. "Sinta di mana, Ma?" tanya Rehan pelan."Entahlah," sahut sang mama dengan nada dingin tak peduli. "Dari pagi sudah keluar dan sampai sekarang belum pulang-pulang."Rehan yang belakangan ini sudah tak lagi tergila-gila pada istrinya hanya diam. Wajahnya tampak biasa saja, tak ada rasa khawatir berlebih seperti dulu. Namun, ketika waktu bergerak cepat dan menu
Sore itu, Dewa dan Alya pergi ke mansion Dewa untuk membahas pesta pernikahan dengan orang tua Dewa. "Mas..." panggil Alya ragu. Dewa menoleh sekilas lalu tersenyum manis. "Ya, sayang? Ada apa?"Alya menghela nafas, memberanikan diri mengungkapkan isi pikirannya. "Soal pernikahan kita nanti kalau boleh, gimana kalau kita adakan prosesi akad nikah saja? Nggak usah pakai pesta yang megah-megah. Kalau dipikir-pikir, pesta megah itu cuma buang-buang uang saja, Mas."Dewa terkekeh pelan, menggenggam erat jari Alya dengan tangan kirinya. "Tapi kita tetap perlu pesta yang megah itu, Sayang. Menikah itu kan sekali seumur hidup, jadi aku ingin pesta pernikahan yang berkesan untuk kita berdua."Alya akhirnya mengangguk pelan. Ia melemparkan tatapannya keluar jendela mobil, menyaksikan pepohonan dan bangunan yang berlalu cepat. Dalam hati kecilnya, Alya merasa tidak pantas menjadi ratu semalam di sebuah panggung pernikahan megah yang disaksikan ribuan pasang mata. Namun, di sisi lain, ia
Seminggu berlalu, pagi itu, pintu rumah Rehan terbuka pelan. Sinta melangkah masuk dengan santai, menyeret koper barunya dan menenteng beberapa tas belanjaan mewah. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia berjalan menuju ruang tengah dan langsung ikut bergabung duduk bersama Rehan dan mama mertuanya.Rehan mengepalkan tangannya rapat-rapat, mencoba menahan gejolak amarah yang membakar dada. Namun, sang mama tidak tinggal diam."Dasar wanita enggak tahu diuntung!" teriak sang mama seraya bangkit berdiri, menunjuk wajah menantunya. "Uang untuk bayar gaji karyawan kamu bawa pergi untuk bersenang-senang! Kamu ini punya otak apa enggak, Sinta?!"Sinta menatap mama mertuanya dengan tatapan sinis. Sama sekali tak ada rasa takut di matanya. "Itu kompensasi buat aku, Ma. Aku habis keguguran gara-gara Mas Rehan. Jadi wajar kalau aku pergi liburan dan belanja-belanja menenangkan diri."Sinta lantas membuka salah satu tas belanjaannya, merogoh kotak perhiasan kecil dan menyodorkannya ke meja. "Ni







