Home / Romansa / Terapi Gila Atasanku / Kenapa Kamu Membuang Benihmu Mas?

Share

Kenapa Kamu Membuang Benihmu Mas?

Author: CitraAurora
last update publish date: 2026-08-11 09:38:06

"Devan," panggil Dewa dengan suara berat dan datar yang menusuk tulang.

​Devan langsung menegakkan posisinya dan berbalik. "Iya, Pak Dewa?"

​"Bukannya aku menyuruhmu mengurus berkas eksternal dan memindahkan barang-barang Alya dari bawah?" tegur Dewa. "Kenapa kamu masih mengobrol di sini?"

​"Maaf, Pak Dewa. Saya hanya sedang menjelaskan kerja asisten pada Alya," jawab Devan sopan, meski ia bisa merasakan perubahan emosi atasannya yang mendadak tajam.

​"Penjelasanmu sudah cukup," potong Dewa dingin. "Segera turun ke lantai bawah dan selesaikan tugasmu. Aku butuh berkas investasi eksternal di mejaku sebelum jam makan siang."

​"Baik, Pak. Saya permisi dulu," pamit Devan membungkuk hormat, lalu memberikan anggukan kecil pada Alya sebelum berjalan cepat keluar ruangan.

​Kini, tinggal Alya dan Dewa yang tersisa di ruangan itu. 

Suasana mendadak hening, hanya terdengar deru halus pendingin udara.

​Dewa melangkah maju mendekati meja Alya. Setiap tumpuan langkah kakinya terasa seperti hitungan mundur bagi wanita itu. 

Dewa menghentikan langkahnya tepat di hadapan Alya, menundukkan kepala hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.

​"Apa kamu lupa tugas utamamu, Alya?" bisik Dewa rendah, sarat akan nada posesif.

​Alya menahan napasnya, meremas pinggiran meja. "S-saya hanya bertanya soal alur kerja pada Pak Devan, Pak Dewa..."

​"Bertanya tidak perlu memakai senyuman seperti itu," pangkas Dewa cepat. Tangannya terulur, jarinya yang hangat menyentuh dagu Alya dan mengangkatnya pelan agar wanita itu menatap lurus ke matanya. "Ingat posisi dan rahasiamu di sini, Alya. Perhatianmu, senyumanmu, dan masalah tubuhmu di kantor ini... hanya boleh ditunjukkan padaku."

​Alya menelan ludahnya yang terasa kering. "Bapak tidak berhak mengatur emosi dan cara saya bersikap pada rekan kerja!"

​Dewa terkekeh dingin, mengusap bibir bawah Alya dengan ibu jarinya secara perlahan. 

"Aku berhak atas segalanya tentangmu, Alya. Karena saat rasa sakit di panggulmu itu kambuh lagi nanti, bukan Devan atau suamimu yang bisa menyembuhkannya."

​Dewa melepaskan cengkeramannya di dagu Alya, lalu merapikan lengan kemejanya dengan santai.

​"Buatkan aku kopi hitam tanpa gula, lalu bawa ke ruanganku sekarang. Terapimu sebagai asisten pribadiku baru saja dimulai."

….

Malam itu, suasana rumah terasa sunyi saat Alya melangkahkan kakinya yang lelah menembus pintu depan.

Baru saja ia hendak merebahkan tubuhnya yang letih setelah seharian bekerja di kantor, samar-samar terdengar suara erangan pelan dari arah kamar mandi utama.

​Napas Alya tertahan. 

Dengan langkah ragu dan dada berdebar, Alya berjalan mendekati pintu kamar mandi yang sedikit renggang. 

Melalui celah kecil itu, matanya membelalak lebar.

​Di dalam sana, terlihat Rehan—suaminya—berdiri tanpa sehelai benang pun di bawah sorotan lampu yang terang. 

Pria itu tampak sibuk memacu organ intimnya sendiri dengan gerakan cepat, matanya terpejam rapat sambil menatap layar ponsel di genggamannya.

​"Oh, Shinta... ahh, puaskan aku, Sayang..." desah Rehan penuh gairah, menyebut nama wanita lain dengan begitu mesra.

​Deg!

​Alya seketika menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. 

Air matanya merembes keluar tanpa bisa ditahan, menetes membasahi pipinya yang pucat. 

Hatinya hancur berkeping-keping. 

Selama dua tahun pernikahan mereka, Alya hidup dalam kesepian yang menyiksa. 

Ia harus menahan pahitnya penolakan berulang kali hingga tubuhnya mengidap penyakit yang mengerikan. 

Namun di balik itu semua... suaminya justru memuaskan gairahnya sendiri sembari mendesahkan nama wanita lain?

​Dengan tubuh gemetar dan dada yang sesak oleh rasa cemburu serta kehampaan, Alya berjalan mundur lalu terduduk di tepi ranjang. 

Air matanya terus mengalir deras. Namun, reaksi tubuhnya sungguh tak berbelas kasihan. 

Visual keperkasaan suaminya yang baru saja ia lihat, hal yang tak pernah ia dapatkan selama dua tahun, justru memicu aliran darah di panggulnya. 

Organ intimnya mulai berdenyut ngilu, mengirimkan gelombang sensasi membakar yang sangat familiar.

​Saat pintu kamar mandi terbuka dan Rehan keluar hanya dengan handuk melilit pinggangnya, Alya mendongak dengan mata memerah.

​"Apa yang kamu lakukan, Mas?" tanya Alya dengan suara bergetar berat.

​Rehan menghentikan langkahnya, menatap Alya tanpa rasa bersalah sedikit pun. 

"Kenapa? Kamu melihatnya?" balasnya dingin, melempar pertanyaan balik tanpa beban.

​Alya berdiri, menatap suaminya dengan tatapan hancur. "Selama ini aku kesepian dan menahan sakit, tapi kamu malah bermain sendiri di dalam, Mas?! Kamu lebih memilih membuang benihmu daripada kamu tanam di dalam rahimku?!"

​"Alya!" teriak Rehan menaikkan intonasi suaranya, memotong ucapan istrinya dengan tatapan tajam. 

"Kamu dari awal kan tahu kalau aku tidak pernah mencintai kamu! Tapi kamu tetap sok suci menerima perjodohan konyol ini!"

​Kata-kata itu bagaikan sembilu yang menyayat dada Alya hingga tak berbekas.

​"Lalu... lalu bagaimana dengan Mama yang setiap hari menuntut cucu dari kita, Mas?" ucap Alya lirih.

​Rehan meraih pakaian kerjanya dari atas kursi, mengibaskannya santai. "Biar saja. Nanti kalau Mama lelah menuntut, beliau juga akan berhenti sendiri."

​Tanpa mempedulikan kondisi Alya yang terguncang, Rehan memakai pakaiannya dengan cepat, menyambar kunci mobil, dan melangkah keluar kamar meninggalkan Alya dalam kehampaan. 

Suara dentuman pintu depan yang ditutup kasar menandai kepergian suaminya.

Rehan Wijaya adalah pria yang dua tahun lalu menikahinya.

Pernikahan itu bukan karena cinta, melainkan sebuah perjodohan.

Saat pertama kali melihat Rehan, Alya langsung jatuh hati, dan menerima perjodohan itu. Padahal saat itu Rehan berusaha menolak karena ada wanita yang Rehan cintai.

Alhasil Rehan tak pernah mau menyentuh Alya, dan kerap kali memuaskan nafsunya sendiri dengan foto mantan kekasihnya.

Kini, ​Alya terkulai di atas sprei dingin, menangisi nasib rumah tangganya yang tragis. 

Namun, penderitaannya belum selesai.

​"Aw... s-sakit..."

​Alya merintih pelan. Tangannya meremas kuat bagian bawah perutnya saat rasa ngilu dan kram hebat mulai mengunci otot-otot pinggulnya. 

Rasa terbakar itu kembali menyengat, membakar akal sehatnya akibat luapan emosi dan stimulasi yang tak tersalurkan.

"Enghh..."

Tubuhnya meliuk menahan ketegangan pembuluh darah yang kian membengkak.

Sama seperti kemarin, Alya membuka celananya, tangannya masuk ke dalam miliknya dan mulai memijat pelan, tapi akibat melihat adegan tadi Alya tak bisa fokus melakukan terapi sendiri.

"Sial! Kenapa tidak bisa…?" Alya meringis menahan sakit, dengan tangan yang terus memijat miliknya sendiri. 

Hingga nama Dewa lewat dalam kepalanya.

"Pak Dewa…"

Dia bergegas mengambil ponsel. Bersamaan dengan itu Dewa mengirim pesan.

[Alya, ada dokumen pekerjaan penting yang harus direvisi. Kamu datang ke rumahku sekarang juga.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Rara 25
Ah aku mulai jatuh cinta dengan Dewa
goodnovel comment avatar
M.hamzah Perkebunan
Cerita nya seru
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
kkk keren banget cerita mu kak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terapi Gila Atasanku   Pembawa Sial!

    "Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu!" teriak Rehan gemetar, dadanya naik turun meluapkan amarah yang membuncah.​Sinta justru terkekeh sumbang. Ia menoleh, menatap Rehan dengan sorot mata dingin penuh penghinaan. "Terserah kamu mau ngomong apa, Mas. Yang jelas, aku mau pergi dari hidupmu sekarang juga!"​Sinta berbalik, menyambar tas belanjaan dan menyeret kopernya menuju pintu. Rehan yang panik langsung berlari mengejar dan menahan lengan istrinya.​"Sinta! Kamu tidak boleh pergi!" cengkeram Rehan makin erat, matanya memerah penuh keputusasaan. "Kita selesaikan masalah ini baik-baik!"​"Lepasin aku, Mas! Sakit tahu enggak?!" bentak Sinta keras. Ia berontak sekuat tenaga, menghentakkan tangannya hingga genggaman Rehan terlepas, lalu melangkah lebar keluar kamar.​Keributan hebat itu memancing sang mama keluar dari kamarnya. Melihat Sinta yang menggeret koper terburu-buru menuju pintu depan, sang mama tak sedikit pun berniat mencegah.​"Biarkan saja dia pergi, Rehan!"

  • Terapi Gila Atasanku   Aku Ingin Cerai!

    Sepulang kerja, Rehan melangkah gontai membuka pintu rumahnya yang terasa makin hampa. Tubuhnya roboh begitu saja di atas sofa ruang tamu. Lelaki itu merebahkan diri, memejamkan mata sejenak seraya memijat pelipisnya yang terasa pening luar biasa akibat tekanan krisis perusahaan.​"Bagaimana, Rehan? Masalah dana di perusahaanmu apa sudah beres?" tanya sang mama yang berjalan menghampiri dari arah dapur.​Rehan menghela napas panjang tanpa membuka mata. "Belum, Ma. Rehan masih bingung mencari dana darurat dari mana lagi. Investor makin mendesak."​Netra Rehan melirik ke sekeliling ruangan, menyadari suasana yang terlampau sunyi. "Sinta di mana, Ma?" tanya Rehan pelan.​"Entahlah," sahut sang mama dengan nada dingin tak peduli. "Dari pagi sudah keluar dan sampai sekarang belum pulang-pulang."​Rehan yang belakangan ini sudah tak lagi tergila-gila pada istrinya hanya diam. Wajahnya tampak biasa saja, tak ada rasa khawatir berlebih seperti dulu. Namun, ketika waktu bergerak cepat dan menu

  • Terapi Gila Atasanku   Tak Rela!

    Sore itu, Dewa dan Alya pergi ke mansion Dewa untuk membahas pesta pernikahan dengan orang tua Dewa. ​"Mas..." panggil Alya ragu. ​Dewa menoleh sekilas lalu tersenyum manis. "Ya, sayang? Ada apa?"​Alya menghela nafas, memberanikan diri mengungkapkan isi pikirannya. "Soal pernikahan kita nanti kalau boleh, gimana kalau kita adakan prosesi akad nikah saja? Nggak usah pakai pesta yang megah-megah. Kalau dipikir-pikir, pesta megah itu cuma buang-buang uang saja, Mas."​Dewa terkekeh pelan, menggenggam erat jari Alya dengan tangan kirinya. "Tapi kita tetap perlu pesta yang megah itu, Sayang. Menikah itu kan sekali seumur hidup, jadi aku ingin pesta pernikahan yang berkesan untuk kita berdua."​Alya akhirnya mengangguk pelan. Ia melemparkan tatapannya keluar jendela mobil, menyaksikan pepohonan dan bangunan yang berlalu cepat. Dalam hati kecilnya, Alya merasa tidak pantas menjadi ratu semalam di sebuah panggung pernikahan megah yang disaksikan ribuan pasang mata. Namun, di sisi lain, ia

  • Terapi Gila Atasanku   Tamparan

    Seminggu berlalu, pagi itu, pintu rumah Rehan terbuka pelan. Sinta melangkah masuk dengan santai, menyeret koper barunya dan menenteng beberapa tas belanjaan mewah. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia berjalan menuju ruang tengah dan langsung ikut bergabung duduk bersama Rehan dan mama mertuanya.​Rehan mengepalkan tangannya rapat-rapat, mencoba menahan gejolak amarah yang membakar dada. Namun, sang mama tidak tinggal diam.​"Dasar wanita enggak tahu diuntung!" teriak sang mama seraya bangkit berdiri, menunjuk wajah menantunya. "Uang untuk bayar gaji karyawan kamu bawa pergi untuk bersenang-senang! Kamu ini punya otak apa enggak, Sinta?!"​Sinta menatap mama mertuanya dengan tatapan sinis. Sama sekali tak ada rasa takut di matanya. "Itu kompensasi buat aku, Ma. Aku habis keguguran gara-gara Mas Rehan. Jadi wajar kalau aku pergi liburan dan belanja-belanja menenangkan diri."​Sinta lantas membuka salah satu tas belanjaannya, merogoh kotak perhiasan kecil dan menyodorkannya ke meja. "Ni

  • Terapi Gila Atasanku   Kamu Gila Mas!

    Fira melangkah makin mendekat ke meja kerja Alya dengan dahi berkerut curiga. Pandangannya mengarah tepat ke sela-sela bawah meja yang tertutup rapat oleh panel kayu depan.​"Mbak Alya beneran enggak apa-apa? Suaranya aneh banget, kayak ada orang di bawah..." ujar Fira seraya membungkukkan tubuhnya, hendak mengintip ke kolong meja.​Jantung Alya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di bawah sana, Dewa sengaja menghentikan pergerakan jarinya, namun pria itu justru sengaja mengecup pangkal paha dalam Alya, membuat tubuh Alya gemetar hebat menahan sensasi yang membakar.​Dengan sisa keberanian dan kepanikan yang membumbung tinggi, Alya sengaja menyenggol tumpukan berkas dan wadah pulpen di tepi mejanya hingga jatuh berserakan ke lantai.​Berbagai alat tulis dan kertas bertebaran tepat di depan kaki Fira, menghentikan niat gadis itu untuk mengintip.​"Aduh! Maaf, Fira... tanganku lemas banget, pusing," potong Alya cepat dengan suara bergetar.

  • Terapi Gila Atasanku   Ada Apa Di bawah Mejamu?

    Telepon di ruang kerja Direktur Keuangan perusahaan Rehan berdering keras. Rehan, yang masih terduduk lemas di sofa rumahnya, terpaksa menelepon sang Direktur keuangan untuk mengabarkan situasi darurat.​"Uang gaji karyawan... dibawa kabur sama Sinta, Pak," kata Rehan dengan suara bergetar.​Di ujung telepon, sang manajer keuangan mendengus keras. "Pak Rehan, saya enggak mau tahu! Pihak perusahaan dan seluruh karyawan tidak akan peduli dengan masalah rumah tangga Bapak! Kalau hari ini gaji tidak cair, karyawan bakal mogok dan terus menuntut perusahaan. Kantor bisa hancur, Pak!"​"Tolong beri saya waktu," bisik Rehan pasrah sebelum menutup telepon. Kepala Rehan serasa mau pecah.​Dalam kondisi bingung setengah mati, ia mulai menghubungi satu per satu kolega bisnisnya untuk meminjam uang. Namun, respons yang diterimanya sungguh menyakitkan. Sebagian besar menolak secara halus, sementara beberapa yang bersedia meminjamkan hanya mampu memberi angka kecil yang jauh dari kata cukup.​Sebaga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status