/ Romansa / Terapi Hasrat Dokter Bagas / Bab 1 — "Kau Dipecat!"

공유

Terapi Hasrat Dokter Bagas
Terapi Hasrat Dokter Bagas
작가: Dark_Pen

Bab 1 — "Kau Dipecat!"

작가: Dark_Pen
last update 최신 업데이트: 2025-10-16 09:18:08

“Kau dipecat, dr. Bagaskara.”

Suara lantang dari ketua komite etik rumah sakit membuat Bagaskara terdiam. Ia berdiri dengan tubuh yang kaku. Jemarinya menggenggam map laporan medis yang isinya sudah ia hafal di luar kepala.

Ia dituduh lalai dalam mengerjakan tugasnya. Seorang pasien meninggal dunia akibat kekeliruan resep yang ia berikan.

Tidak ada bantahan keluar dari mulut Bagas. Laporan hasil lab menjadi bukti kuat atas kelalaiannya. Dua minggu lalu, ia ingat dan yakin jika obat dan resep yang ia berikan benar. Ada kejanggalan di sini.

Namun tidak ada yang bisa ia lakukan, semua bukti menguatkan tuduhan itu.

Bagas tertunduk dengan wajah kecewa. Ia sempat melirik ke sudut ruangan. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian elegan, Madame Renata, duduk sebagai salah satu anggota dewan kehormatan. Ia tampak tersenyum saat putusan pemecatan Bagaskara dijatuhkan.

Sidang selesai, semuanya bubar. Bagas berjalan keluar meninggalkan gedung rumah sakit yang kini bukan lagi rumahnya. Jas putih tergenggam di tangannya. Ia menerima amplop pesangon, jumlah yang tidak sepadan dengan karirnya yang hancur hari ini.

Langit mulai mendung, gerimis perlahan jatuh mengiringi langkahnya menuju ke apartemen. Apartemen yang ia beli atas nama kekasihnya, Tania. Dua bulan lagi mereka dijadwalkan akan menikah.

“Apa yang harus aku katakan pada Tania?” batinnya lirih.

Bagas sadar, kehancuran karirnya hari ini mungkin akan mengecewakan Tania. Apalagi mereka akan menikah dua bulan lagi.

“Bagaimana ini?”

Ia benar-benar kehilangan arah. Bagas langsung mempercepat langkahnya. Ia ingin segera di tiba di apartemen. Tania adalah satu-satunya rumah yang ia pikir dapat menggenggam luka ini bersama.

Bagas akhirnya tiba di sana. Bajunya sedikit basah akibat gerimis yang sedari tadi seolah menertawakannya di luar.

Tangannya terangkat ingin mengetuk, namun berhenti di udara.

Raut wajahnya langsung berubah, rahangnya mengeras, darah mendidih di ubun-ubunnya. Samar, ia mendengar suara desahan Tania dan tawa laki-laki dari dalam. Desahan yang terdengar sangat manja, bahkan lebih manja dari yang selama ini ia dengar.

“Tania! Buka!”

Bagas menggedor pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring.

“Buka, Tania!”

Samar dari dalam terdengar langkah kaki mendekat. Pintu perlahan terbuka.

“Kau!”

Darahnya mendidih, jantungnya berdetak kencang. Seorang lelaki yang ia kenal berdiri di depan pintu dengan senyum penuh kemenangan. Dr. Yanuar, rekan sejawat Bagas.

Jas yang sedari tadi ia genggam jatuh, saat melihat Tania di dalam dengan keadaan yang hampir tanpa busana.

“Apa yang kau lakukan disini, bajingan?”

Bagas mencengkeram leher Yanuar, namun dengan cepat ditepis dan di dorong ke belakang.

Yanuar terkekeh pelan. Ia berjalan masuk ke dalam dan duduk di sebelah Tania yang masih di sofa.

Sambil mengecup pipinya pelan, Yanuar berkata.

“Lihatlah Tania, itu calon suami yang kau bangga-banggakan dulu?”

Bagas semakin geram, tangannya mulai mengepal.

“Dia hanya dokter sampah, dia pembunuh.”

Yanuar kembali menoleh ke arah Bagas.

“Dasar dokter gadungan,” katanya pelan namun begitu menusuk jantung Bagas.

Bagas tercengang, dia kaget sekaligus heran.

“Kau… dari mana kau tau itu?”

Yanuar sama sekali tidak pernah ada di rapat komite. Bagaimana ia tahu semua ini?

Yanuar kembali bangkit namun kini sambil merangkul pinggang mulus Tania.

“Haha. Bagas, Bagas, kau memang pantas seperti ini. Dan Tania…” ia melirik ke arah gadis itu sambil mengelus pipinya. Lalu kembali menoleh ke arah Bagas dengan senyum licik di bibirnya.

“Dia pantas mendapatkan yang lebih baik dari sekedar sampah sepertimu.”

Darah Bagas langsung mendidih, kesabarannya telah habis. Ia langsung menerjang dan menghajar Yanuar. Namun sayang, postur tubuh yang jauh berbeda membuat Bagas babak belur disana.

“Tania…” lirih Bagas sambil meringkuk di lantai menahan sakit.

Namun wanita itu hanya tersenyum puas, seolah hubungan mereka selama ini tidak ada artinya.

“Benar kata Yanuar. Kau sampah, Bagas.”

Kata-kata itu begitu menyakitkan menembus relung hati Bagas. Hari ini, ia telah ditinggalkan oleh karirnya. Tania satu-satunya harapan Bagas untuk bertahan. Namun, harapan itu kini kembali di hempaskan. Dengan tega, Tania mengucapkan kalimat yang jauh lebih pedih daripada sayatan pedang.

“Keluar!” bentak Tania.

Bagas hanya bisa pasrah saat Yanua menyeret dan melemparnya keluar dari apartemen yang ia beli susah payah demi Tania. Namun kini, yang menikmatinya malah orang yang berbeda.

Sebelum kembali menutup pintu, Tania berteriak dengan lantang. “Kau pikir aku mau menikah dengan pecundang sepertimu, Bagas? Pecundang yang bahkan tidak mampu menjaga pekerjaannya sendiri.”

Kata-kata itu begitu menusuk, apalagi keluar dari mulut wanita yang selama ini ia perjuangkan.

“Pergi!” bentaknya kembali.

“Sudah sayang, jangan rusak kecantikanmu untuk memarahi sampah seperti dia.” Yanuar kembali merangkul pinggang Tania. Membuat hati Bagas semakin berdarah.

Tania tersenyum, senyumnya begitu manis. Namun, bagi Bagas senyuman itu begitu pahit—karena kini bukan lagi ditujukan untuknya.

“Pergilah pecundang, kau mengganggu saja!”

Brak!

Pintu ditutup dengan keras hingga udara menampar wajah Bagas.

Samar dari dalam suara tawa dan desah halus kembali terdengar. Bagas berdiri mematung sejenak di depan, lalu membungkuk mengambil jas putih yang kini tidak lagi ada harganya.

Sebelum pergi, Bagas menatap kembali pintu apartemen itu—apartemen yang menjadi saksi antara luka dan perjuangannya.

Bagas melangkah meninggalkan tempat yang seharusnya akan dia huni bersama Tania kelak.

Di luar, hujan semakin deras. Setiap rintik yang menetes di bahu seolah terus menertawainya. Ia berjalan pelan sambil sesekali terhuyung. Semua dunianya hancur hari ini. Semua harapan yang dia pupuk selama ini gugur seketika. Memar di wajah, lebam di tubuh tidak seberapa dibandingkan rasa sakit hati yang ia alami saat ini.

Dari kejauhan, suara deru mobil terdengar. Bagas berhenti saat sedan hitam menepi di depannya. Kaca jendela turun, wajah yang tidak asing terlihat di sana—Madame Renata.

“Aku turut prihatin atas pemecatanmu, Bagas. Dunia medis kadang tidak selalu adil untuk orang jujur sepertimu,” ucap Ranata manis, menatap Bagas dengan senyum tipis.

“Kalau anda hanya ingin mengasihani saya, pergi saja. Saya tidak butuh itu.” Bagas berjalan melewatinya, ia sama sekali tidak peduli.

“Aku tidak mengasihanimu. Aku hanya sedang mengambil apa yang sudah menjadi milikku sejak awal.”

Kata-kata itu membuat Bagas berhenti, dan kembali menoleh.

“Ambil ini.”

Madame Renata memberikan sebuah kartu nama berlogo Re:Vive — Klinik Rehabilitasi untuk Para Istri.

Renata tersenyum, tatapannya begitu tajam dan penuh makna ke arah Bagas.

“Datanglah kesana. Kau akan bekerja untukku. Kau akan menyembuhkan mereka dengan cara yang tidak pernah diajarkan di tempat manapun.”

Setelah menyerahkan kartu tersebut, Renata kembali pergi meninggalkan Bagas di ujung jalan dengan tanda tanya di kepala.

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
takbir mietha
Keren thor
댓글 모두 보기

최신 챕터

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 102 — Peresmian

    Dua hari berlalu dengan kesibukan yang luar biasa. Mayra menjalankan tugasnya dengan sempurna; ia mengawasi Santi dalam mengatur sistem janji temu, memastikan dr. Elina memiliki semua instrumen tes yang dibutuhkan, dan mengarahkan Mirna untuk menjaga kebersihan lobi agar tetap mengkilap. Di lantai dua, Mayra juga mulai terbiasa dengan meja kerja barunya yang elegan, tempat di mana ia merasa seperti seorang ratu kecil yang menjaga pintu masuk ke dunia Bagas.Sesuai instruksi Bagas, acara peresmian sore itu dibuat sangat terbatas dan eksklusif.Pukul lima sore, lobi lantai satu sudah disulap menjadi ruang resepsi yang mewah. Aroma bunga lili putih dan melati menyatu dengan wangi parfum-parfum kelas atas. Beberapa kolega dokter dari rumah sakit Bagas sudah hadir, berbincang mengenai prospek klinik baru ini. Santi dan Mirna tampak sibuk melayani tamu dengan minuman, sementara dr. Elina berbincang santai dengan beberapa tamu sejawat.“Selamat Dokter Bagas, saya ikut senang dengan peresmian

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 101 — Staf Baru

    Pagi harinya, Mayra terjaga. Badannya terasa pegal, selangkangannya masih sedikit nyeri akibat ukuran milik Bagas yang menghujam nya dengan sangat ganas semalam.Ia berbalik namun tangannya hanya menyentuh ruang kosong. Mayra langsung sadar jika Bagas tidak ada lagi di sana.Dengan mata yang masih sayu, Mayra berusaha bangkit. Tubuh polosnya masih tersembunyi di balik selimut.“Bagas?!” panggilnya lembut. “Kamu di mana?”“Mayra, kamu sudah bangun?”Bagas muncul dari arah balkon, ia memegang secangkir kopi hangat di tangannya. Sepertinya dokter itu baru selesai mandi, terlihat dari jubah mandi yang masih membalut tubuhnya.Bagas langsung mendekat, meletakkan cangkir kopinya di atas nakas.Ia menunduk, menatap Mayra yang masih duduk sambil memegang selimut menutupi tubuhnya.Mayra juga ikut tersenyum, saat satu kecupan lembut mendarat di keningnya.“Mandi dulu,” kata Bagas pelan. “Ada beberapa staf yang akan datang nanti. Mereka akan mengisi beberapa posisi di klinik ini.”Mayra mengang

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 100 — "Ah! Terus, Dok!"

    Mayra mencoba menguasai rasa gugupnya. Dengan bimbingan tangan Bagas yang memegangi kepalanya, ia mulai menggerakkan kepalanya maju mundur, mencoba mengakomodasi ukuran kejantanan Bagas yang luar biasa. Lidahnya yang lembut mulai mengeksplorasi setiap jengkal tekstur kejantanan pria itu, membuat Bagas mengerang rendah sambil memejamkan mata."Nghhh... May, seperti itu... ahh, bagus sekali," desah Bagas dengan suara parau.Dorongan Bagas di dalam mulut Mayra menjadi semakin dalam dan berirama. Mayra masih canggung. Gerakan mulut dan lidahnya masih kaku. Ini kali pertama baginya.“Ugh!”Hampir saja Mayra tersedak saat Bagas mendorong miliknya masuk hingga menyentuh kerongkongannya.“Ah! Sayang, pelan-pelan. Aku belum biasa,” rengek Mayra dengan liur yang mulai membasahi bibirnya.Bagas tersenyum. “Maaf sayang, aku terlalu bersemangat.”Ia kembali, mengarahkan kejantanannya ke dalam mulut Mayra. Gadis itu kembali membuka mulutnya dan menyambut benda asing itu ke dalam hangat kulumannya.

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 99 — Malam Bersama Mayra

    Malam yang dingin hadir menyelimuti kota. Namun di lantai tiga gedung klinik, suasana terasa begitu hangat. Mayra baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi. Rambutnya masih lembab, ia hanya mengenakan jubah mandi putih untuk menutupi semua aset berharga dari tubuhnya. Sore tadi ia bersama Bagas telah mengambil barang-barang pribadi miliknya di kontrakan.Mayra berdiri di depan cermin, menatap tubuhnya sendiri yang terbalut jubah mandi halus yang begitu nyaman di kulit. Ia tersenyum lembut, rasa senang menyeruak memenuhi dirinya. Bayangan Bagas satu-satunya yang ingatan yang terlintas dalam pikirannya saat ini.Tangannya meraih hairdryer dan mulai mengeringkan rambutnya. Aroma shampo menguar menyapa penciumannya. Begitu tenang. Hangat.Suara putaran hairdryer yang memenuhi ruangan perlahan mereda saat Mayra menekan tombol off. Keheningan menyelimuti kamar studio itu, hanya menyisakan detak jantung Mayra yang masih belum stabil sejak ia menginjakkan kaki di lantai tiga ini. Ia

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 98 — Wanita Pertama

    Bagas melepaskan pautan bibir mereka dengan perlahan, membiarkan napas Renata yang tersenggal memburu di depan wajahnya. Ia mengusap bibir bawah Renata yang sedikit basah dengan ibu jarinya, memberikan tatapan yang seolah menjanjikan surga sekaligus neraka di gedung barunya nanti."Aku tidak pernah membandingkanmu dengan siapa pun, Renata," bisik Bagas serak, memberikan kepastian palsu yang sangat dibutuhkan oleh ego wanita itu. "Tapi profesionalisme dan kesenangan pribadi adalah dua hal yang berbeda. Mayra adalah efisiensi, sedangkan kamu... kamu adalah candu."Renata tersenyum puas, harga dirinya yang sempat terusik kini kembali pulih karena sanjungan maut Bagas. "Pastikan saja kamu menepati janjimu tentang 'Kunci Malam Jumat' itu, Bagas. Karena jika tidak, kamu tahu seberapa jauh tanganku bisa menjangkaumu.""Aku pria yang menepati janji," sahut Bagas sambil berdiri tegak kembali, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. “Lagi pula kau pemilik saham terbesar di klinik batuku, mana m

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 97 — Klinik Baru

    Satu bulan berlalu. Bagas sudah selesai mendesain sebuah gedung yang ia beli melalui agen properti kenalan Renata. Gedung tiga lantai yang terletak tidak jauh dari pusat kota. Secara tempat dan letak, bangunan ini benar-benar sangat strategis dan sesuai keinginan Bagas.Ia sudah mempersiapkan semuanya. Gedung itu siap pakai, tinggal Bagas mengisi beberapa staf untuk membantu dirinya di sana.Orang pertama yang terlintas di pikiran Bagas adalah Suster Mayra. Ia ingin suster cantik itu kembali menjadi asisten pribadinya namun kini di kliniknya sendiri.Bagas keluar dari bangunan tersebut, berdiri di depan menatap tempat yang sebentar lagi akan menjadi istana baru baginya untuk ‘menyembuhkan’ luka para wanita yang kesepian. Ia tersenyum tipis, menarik napas dalam-dalam seolah sedang mengumpulkan energi dan semangat baru.Siang itu, Bagas langsung berangkat menuju ke klinik Re:Vive—klinik yang telah membuat sisi gelap dirinya terbuka dan ia cukup menikmatinya.Klinik itu masih terlihat se

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status