Se connecter
“Kau dipecat, dr. Bagaskara.”
Suara lantang dari ketua komite etik rumah sakit membuat Bagaskara terdiam. Ia berdiri dengan tubuh yang kaku. Jemarinya menggenggam map laporan medis yang isinya sudah ia hafal di luar kepala. Ia dituduh lalai dalam mengerjakan tugasnya. Seorang pasien meninggal dunia akibat kekeliruan resep yang ia berikan. Tidak ada bantahan keluar dari mulut Bagas. Laporan hasil lab menjadi bukti kuat atas kelalaiannya. Dua minggu lalu, ia ingat dan yakin jika obat dan resep yang ia berikan benar. Ada kejanggalan di sini. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan, semua bukti menguatkan tuduhan itu. Bagas tertunduk dengan wajah kecewa. Ia sempat melirik ke sudut ruangan. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian elegan, Madame Renata, duduk sebagai salah satu anggota dewan kehormatan. Ia tampak tersenyum saat putusan pemecatan Bagaskara dijatuhkan. Sidang selesai, semuanya bubar. Bagas berjalan keluar meninggalkan gedung rumah sakit yang kini bukan lagi rumahnya. Jas putih tergenggam di tangannya. Ia menerima amplop pesangon, jumlah yang tidak sepadan dengan karirnya yang hancur hari ini. Langit mulai mendung, gerimis perlahan jatuh mengiringi langkahnya menuju ke apartemen. Apartemen yang ia beli atas nama kekasihnya, Tania. Dua bulan lagi mereka dijadwalkan akan menikah. “Apa yang harus aku katakan pada Tania?” batinnya lirih. Bagas sadar, kehancuran karirnya hari ini mungkin akan mengecewakan Tania. Apalagi mereka akan menikah dua bulan lagi. “Bagaimana ini?” Ia benar-benar kehilangan arah. Bagas langsung mempercepat langkahnya. Ia ingin segera di tiba di apartemen. Tania adalah satu-satunya rumah yang ia pikir dapat menggenggam luka ini bersama. Bagas akhirnya tiba di sana. Bajunya sedikit basah akibat gerimis yang sedari tadi seolah menertawakannya di luar. Tangannya terangkat ingin mengetuk, namun berhenti di udara. Raut wajahnya langsung berubah, rahangnya mengeras, darah mendidih di ubun-ubunnya. Samar, ia mendengar suara desahan Tania dan tawa laki-laki dari dalam. Desahan yang terdengar sangat manja, bahkan lebih manja dari yang selama ini ia dengar. “Tania! Buka!” Bagas menggedor pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring. “Buka, Tania!” Samar dari dalam terdengar langkah kaki mendekat. Pintu perlahan terbuka. “Kau!” Darahnya mendidih, jantungnya berdetak kencang. Seorang lelaki yang ia kenal berdiri di depan pintu dengan senyum penuh kemenangan. Dr. Yanuar, rekan sejawat Bagas. Jas yang sedari tadi ia genggam jatuh, saat melihat Tania di dalam dengan keadaan yang hampir tanpa busana. “Apa yang kau lakukan disini, bajingan?” Bagas mencengkeram leher Yanuar, namun dengan cepat ditepis dan di dorong ke belakang. Yanuar terkekeh pelan. Ia berjalan masuk ke dalam dan duduk di sebelah Tania yang masih di sofa. Sambil mengecup pipinya pelan, Yanuar berkata. “Lihatlah Tania, itu calon suami yang kau bangga-banggakan dulu?” Bagas semakin geram, tangannya mulai mengepal. “Dia hanya dokter sampah, dia pembunuh.” Yanuar kembali menoleh ke arah Bagas. “Dasar dokter gadungan,” katanya pelan namun begitu menusuk jantung Bagas. Bagas tercengang, dia kaget sekaligus heran. “Kau… dari mana kau tau itu?” Yanuar sama sekali tidak pernah ada di rapat komite. Bagaimana ia tahu semua ini? Yanuar kembali bangkit namun kini sambil merangkul pinggang mulus Tania. “Haha. Bagas, Bagas, kau memang pantas seperti ini. Dan Tania…” ia melirik ke arah gadis itu sambil mengelus pipinya. Lalu kembali menoleh ke arah Bagas dengan senyum licik di bibirnya. “Dia pantas mendapatkan yang lebih baik dari sekedar sampah sepertimu.” Darah Bagas langsung mendidih, kesabarannya telah habis. Ia langsung menerjang dan menghajar Yanuar. Namun sayang, postur tubuh yang jauh berbeda membuat Bagas babak belur disana. “Tania…” lirih Bagas sambil meringkuk di lantai menahan sakit. Namun wanita itu hanya tersenyum puas, seolah hubungan mereka selama ini tidak ada artinya. “Benar kata Yanuar. Kau sampah, Bagas.” Kata-kata itu begitu menyakitkan menembus relung hati Bagas. Hari ini, ia telah ditinggalkan oleh karirnya. Tania satu-satunya harapan Bagas untuk bertahan. Namun, harapan itu kini kembali di hempaskan. Dengan tega, Tania mengucapkan kalimat yang jauh lebih pedih daripada sayatan pedang. “Keluar!” bentak Tania. Bagas hanya bisa pasrah saat Yanua menyeret dan melemparnya keluar dari apartemen yang ia beli susah payah demi Tania. Namun kini, yang menikmatinya malah orang yang berbeda. Sebelum kembali menutup pintu, Tania berteriak dengan lantang. “Kau pikir aku mau menikah dengan pecundang sepertimu, Bagas? Pecundang yang bahkan tidak mampu menjaga pekerjaannya sendiri.” Kata-kata itu begitu menusuk, apalagi keluar dari mulut wanita yang selama ini ia perjuangkan. “Pergi!” bentaknya kembali. “Sudah sayang, jangan rusak kecantikanmu untuk memarahi sampah seperti dia.” Yanuar kembali merangkul pinggang Tania. Membuat hati Bagas semakin berdarah. Tania tersenyum, senyumnya begitu manis. Namun, bagi Bagas senyuman itu begitu pahit—karena kini bukan lagi ditujukan untuknya. “Pergilah pecundang, kau mengganggu saja!” Brak! Pintu ditutup dengan keras hingga udara menampar wajah Bagas. Samar dari dalam suara tawa dan desah halus kembali terdengar. Bagas berdiri mematung sejenak di depan, lalu membungkuk mengambil jas putih yang kini tidak lagi ada harganya. Sebelum pergi, Bagas menatap kembali pintu apartemen itu—apartemen yang menjadi saksi antara luka dan perjuangannya. Bagas melangkah meninggalkan tempat yang seharusnya akan dia huni bersama Tania kelak. Di luar, hujan semakin deras. Setiap rintik yang menetes di bahu seolah terus menertawainya. Ia berjalan pelan sambil sesekali terhuyung. Semua dunianya hancur hari ini. Semua harapan yang dia pupuk selama ini gugur seketika. Memar di wajah, lebam di tubuh tidak seberapa dibandingkan rasa sakit hati yang ia alami saat ini. Dari kejauhan, suara deru mobil terdengar. Bagas berhenti saat sedan hitam menepi di depannya. Kaca jendela turun, wajah yang tidak asing terlihat di sana—Madame Renata. “Aku turut prihatin atas pemecatanmu, Bagas. Dunia medis kadang tidak selalu adil untuk orang jujur sepertimu,” ucap Ranata manis, menatap Bagas dengan senyum tipis. “Kalau anda hanya ingin mengasihani saya, pergi saja. Saya tidak butuh itu.” Bagas berjalan melewatinya, ia sama sekali tidak peduli. “Aku tidak mengasihanimu. Aku hanya sedang mengambil apa yang sudah menjadi milikku sejak awal.” Kata-kata itu membuat Bagas berhenti, dan kembali menoleh. “Ambil ini.” Madame Renata memberikan sebuah kartu nama berlogo Re:Vive — Klinik Rehabilitasi untuk Para Istri. Renata tersenyum, tatapannya begitu tajam dan penuh makna ke arah Bagas. “Datanglah kesana. Kau akan bekerja untukku. Kau akan menyembuhkan mereka dengan cara yang tidak pernah diajarkan di tempat manapun.” Setelah menyerahkan kartu tersebut, Renata kembali pergi meninggalkan Bagas di ujung jalan dengan tanda tanya di kepala.Matahari mulai condong ke arah barat, menciptakan bias warna oranye kemasan yang memantul di deretan pohon pinus Desa Gunung Jati. Udara sore itu terasa sejuk, membawa aroma tanah basah dan wangi bunga kopi yang mekar di kejauhan. Bagas berdiri di teras rumah kayunya, menyandarkan tubuh pada tiang penyangga yang kokoh. Ia menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang penuh dengan rasa syukur dan kedamaian yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun hidup di hiruk-pikuk kota.Di depannya, hamparan kebun yang ia rawat sendiri kini mulai membuahkan hasil. Sayur-mayur tumbuh subur, dan beberapa pohon buah yang ia tanam setahun lalu mulai menampakkan kuncupnya. Namun, bukan kebun itu yang menjadi sumber kebahagiaan utamanya.Suara tawa renyah terdengar dari dalam rumah. Bagas menoleh dan melihat pemandangan yang selalu berhasil menghangatkan hatinya. Mayra, dengan perut yang kini sudah membulat besar di usia tujuh bulan, duduk di sofa panjang sambil melipat pakaian bayi yang baru
Hari-hari yang mereka lalui kini begitu hangat, perut Mayra semakin buncit, kehamilan Tania semakin baik. Bagas merasa hidupnya begitu lengkap dengan kehadiran dua wanita yang sama-sama sedang mengandung benihnya ini.Bahkan kini Bagas sudah lebih terbuka dan bergaul dengan warga desa. Mantan psikolog itu benar-benar telah berdamai dengan hidupnya. Bagas benar-benar telah melupakan kehidupan gelapnya di kota.Kini, umur kandungan Mayra sudah jalan 7 bulan. Perut wanita itu semakin Buncit, dan kehamilan Tania mulai berjalan empat bulan, perutnya juga mulai tampak membesar walau tidak sebesar Mayra.Para warga yang terkadang datang hanya untuk menyapa benar-benar kagum kepada Bagas. Bagaimana tidak, Bagas memiliki dua orang istri yang sama-sama hamil tetapi bisa hidup dengan rukun.Sore itu, Sarah yang kini sudah sangat dekat dengan keluarga Bagas terlihat datang bertamu. Resepsionis puskesmas itu datang membawa buah di tangannya.“Hai, Mas Bagas,” sapanya lembut saat melihat Bagas seda
Malam itu, hujan turun dengan sangat deras di lereng Gunung Jati, seolah alam pun tahu bahwa ada api yang siap berkobar di dalam rumah kayu itu. Suasana di dalam kamar utama terasa begitu pekat dengan aroma terapi cendana dan hawa dingin yang justru memicu adrenalin.Tania berdiri di tepi ranjang, mengenakan daster tipis transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kini lebih berisi. Kabar dari bidan tadi siang benar-benar membakar mentalnya. Di sisi lain, Mayra sudah bersandar di bantal, menatap Bagas dengan tatapan yang seolah berkata bahwa malam ini adalah pesta untuk mereka bertiga.Bagas mendekat, ia melepaskan kemejanya, memamerkan dada bidang dan otot perutnya yang mengeras karena kerja keras di kebun. Ia menarik Tania ke dalam pelukannya, melumat bibir wanita itu dengan sangat lapar—sebuah ciuman penebusan atas puasa sebulan penuh.Bagas merebahkan Tania di tengah ranjang, diapit oleh dirinya dan Mayra. Tidak ada lagi kecanggungan. Mayra mulai membantu melepaskan pakaian
Tidak terasa, waktu satu bulan berlalu. Hari ini, jadwal Bagas membawa dua wanitanya untuk kembali ke puskesmas. Ia ingin memastikan kandungan dua wanitanya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.Bagas menuntun Mayra masuk ke dalam mobil. Perut gadis itu kini sudah semakin membesar di usia kandungannya yang jalan empat bulan. Tania ikut berjalan di belakang mereka, keadaan fisik Tania cukup baik akhir-akhir ini, tapi tidak dengan mentalnya. Wanita itu begitu rindu sentuhan Bagas. Cukup sesak rasanya memendam rasa di saat pria yang ia cintai bersenggama dengan Mayra tepat di sebelahnya. Namun apa boleh buat, ia tidak bisa apa-apa.Tania masuk ke dalam mobil. Ia tersenyum kepada Mayra. Ia sangat berharap hari ini ada kabar baik dari bidan. Semoga hari ini adalah akhir dari puasanya akan sentuhan Bagas.Mobil sedan putih milik Bagas perlahan memasuki area parkir Puskesmas Gunung Jati. Udara pagi itu cukup cerah, namun suasana di dalam mobil terasa sedikit tegang karena harapan besar yan
Keesokan paginya, Bagas beraktivitas seperti biasanya di kebunnya. Ia sibuk merawat tanamannya yang mulai tumbuh.Sementara di dalam, Mayra sibuk mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan-ringan. Tania juga ikut membantu, walau Mayra sudah melarangnya berulang kali.“Enggak apa-apa, May, cuma cuci piring, kok,” ujarnya lembut.“Tapi kan kata bidan kamu harus bedrest total, Tan,” sela Mayra sambil memasukkan baju ke dalam mesin cuci.“Ya kalau cumi tidur mulu yang ada tambah stres nanti aku, bosan May.” Tania masih bersikeras sambil terus membilas piring di wastafel.“Ya udah, deh. Tapi nanti kalau Bagas marah, aku enggak tanggung jawab, ya?”Tania mengulum senyum. “Emang Bagas bisa marah sama kita, May?” Tania menoleh sambil tersenyum tipis.“Hehe, iya sih. Mana mungkin dia bisa marah sama kita, ya?”Dua wanita yang sama-sama mencintai Bagas itupun tertawa bersama. Hidup mereka cukup rukun walau sebenarnya hingga kini tidak ada ikatan pernikahan resmi di antara mereka.“May, buatin kopi
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hujan mulai reda menyisakan gerimis yang masih membawa udara sejuk di malam hari.“Mbak Sarah mau pulang sekarang?” tanya Bagas setelah memeriksa keluar jika hujan sudah mulai reda.Sarah mengangguk pelan. “Boleh, Mas,” katanya.“Ya sudah, sebentar ya, saya ambil payung dulu.” Bagas langsung ke belakang untuk mengambil payung yang tadi ia simpan. Tidak lama kemudian Bagas kembali dan melihat Sarah sudah berdiri dan bersiap-siap untuk pulang.“Sayang, kamu hati-hati, ya?” ujar Mayra sambil mendekat ke arah Bagas. Tania pun sama, ia memegang lengan Bagas sambil tersenyum. “Nanti langsung balik ya?” katanya.Sarah hanya berdiri diam melihat kehangatan keluarga itu. Tidak pernah terbayang di dalam benaknya jika ada pria beristri dua, namun kedua istrinya tampak akur dan rukun. Ini anomali, semua kasus yang pernah di lihat Sarah pasti akan ada pertengkaran apabila seorang lelaki memiliki dua wanita.Pipi Sarah merona merah saat ia tidak sengaja membaya







