LOGINSetelah rapi dan beres, Honey tersenyum dan kembali ke ruang HRD. Ternyata manajer yang dimaksud sudah datang. Honey pun melaporkan diri sebagai Axel Clarkson.
“Tunggu dulu Anda bilang aku akan menjadi asisten?” pekik Honey kaget.
“Benar, kamu akan bertugas sebagai asisten pribadi The Midas. Ayo ikut aku!”
Begitu mereka mendekat, terdengar suara ribut di dalam ruangan The Midas. Manajer itu sempat menoleh pada Honey dan mengernyit. Honey yang polos diam saja dan tak mengerti.
“Maaf Tuan, ada apa ini?”
The Midas benar-benar mengamuk karena kertas-kertas pekerjaannya kini menghilang. “Sekarang pecat dia. Dasar tidak becus!” tunjuk The Midas semena-mena pada staf kebersihan yang ia tuduh menghilangkan miliknya.
“Sungguh Pak, bukan aku yang membuang kertas itu.” Staf itu kembali menangis.
“Tuan, biar dicari dahulu. Mungkin kertas itu jatuh atau tersimpan di tempat lain,” ujar manajer HR menyela.
“Apa yang dimaksud adalah kertas pekerjaan di atas meja?” sahut Honey memotong.
“Maaf, tadi aku yang disuruh untuk membereskan ruangan ini jadi aku mengumpulkan kertas itu dan menyimpannya di dalam laci,” jawab Honey membuat The Midas berbalik padanya. Ia langsung menunduk dan membuka laci meja lalu kertas yang dimaksud itu berada di sana.
“Siapa yang sudah berani masuk dan membereskan milikku tanpa ijin?”
“Tuan, perkenalkan ... ini adalah asisten barumu, Axel Clarkson!”
Manajer itu langsung menarik pergelangan tangan Honey dan membawanya pada The Midas. Mata Honey membesar saat menengadah pada sosok tinggi di depannya. Sedangkan kening Rei langsung mengernyit.
“Baru satu hari dan kamu sudah berani mengacak-acak meja kerjaku!” hardik The Midas Rei terdengar tajam pada Honey.
Honey menggigit bibirnya. Ia berusaha menahan gemetar di tangannya. Ia pernah mendengar suara itu, mirip dengan suara pria asing yang membawanya ke kamar hotel. Honey makin tercekat, mungkinkah itu adalah pria yang sama? Rasanya tidak mungkin.
“Aku tidak butuh asisten tidak becus sepertimu!” The Midas makin memarahinya.
Honey makin menunduk, lalu buru-buru keluar sebelum air matanya pecah di hadapan calon bos barunya.
The Midas Rei mengangkat kepala, keningnya berkerut. Asisten barunya barusan kabur? Ia bukan tipe bos yang sabar, tapi biasanya staf hanya terdiam ketakutan bukan menangis begitu. Sekilas rasa janggal menyelinap, meski ia segera menepisnya.
“Manajer Mills,” suaranya datar. “Kenapa kamu memberiku mahasiswa magang cengeng begitu? Aku butuh asisten pria yang kuat!”
Alesandra Mills, manajer HRD tetap menghadapi kekesalan bosnya dengan tenang. “Tuan, Axel Clarkson adalah satu-satunya mahasiswa yang diterima magang di sini dan sesuai dengan spesifikasi yang diberikan. Kita tidak punya kandidat lain sekarang. Kalau mencari kandidat lain, Anda harus menunggu tiga minggu lagi.”
The Midas Rei jadi kesal. Ia meminta dengan jelas jika asistennya harus seorang pria yang bisa ia andalkan. Ternyata yang datang adalah seorang pria lemah yang gampang menangis.
Sementara itu, Honey yang terguncang bersembunyi di toilet wanita. Ia menutup pintu rapat-rapat. Air matanya menetes deras, bercampur dengan perasaan takut yang belum hilang sejak malam itu.
Jantungnya serasa berhenti ketika ia menyadari suara pria itu. The Midas ternyata adalah Rei Alexander. Sosok yang sama dari malam tragis di Hotel Poseidon. Meskipun, Honey tidak mengingat wajah pria itu, tapi suaranya tidak akan pernah hilang dari ingatan Honey. Suara dalam yang khas, makin menusuk saat Honey mengetahui jika itu bos barunya adalah pria yang sama yang merengut kehormatannya.
Tangannya bergetar saat menyeka mata. Bagaimana bisa dunia sekecil ini? Pikirannya kacau. Kalau Rei mengenalinya, maka pria itu akan langsung memecatnya. Honey tidak akan memperoleh surat magang, lalu Axel akan tahu, begitu pula dengan ayahnya. Ia tidak sanggup menanggung rasa malu itu.
Beberapa menit kemudian, Alesandra Mills menemukan Honey keluar dari kamar mandi. Tatapannya tajam, tapi ia masih berbicara lembut layaknya seorang bibi. “Clarkson, dengar baik-baik. Kamu magang di sini bukan untuk melakukan hobimu. Jika The Midas menolakmu, surat magangmu batal. Kamu mengerti konsekuensinya kan?”
Honey terdiam, lalu mengangguk pelan. Ia tidak punya pilihan. Ia sangat membutuhkan surat magang itu dan menjadi asisten pria bagi The Midas Rei adalah satu-satunya cara.
Mereka lalu kembali ke ruang kerja The Midas. Suasana hening, pandangan The Midas hanya terarah pada layar di sampingnya. Ia bahkan tidak menoleh ketika Alesandra mendorong Honey ke depan.
“Tuan, ini adalah asisten Anda. Dia akan mulai bekerja hari ini.”
Perlahan, Rei melirik. Tatapan dinginnya jatuh pada wajah Honey. Honey pun memberanikan diri menatap bos barunya itu tapi hanya berakhir menunduk.
Honey menahan napas. Entah bagaimana caranya ia bertahan menjadi asisten pria seperti The Midas. Pandangannya menusuk seolah sedang mencari kesamaan bayangan di malam itu, atau hanya Honey yang merasakannya.
Napas Rei tercekat kala teleponnya diputuskan sepihak oleh Axel Clarkson. Yang lebih mengejutkan adalah ketika Axel ternyata mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh Rei pada Honey di Boston. Rei kemudian berdiri dari posisi duduknya dengan kepala penuh pertanyaan. Entah bagaimana caranya masalah itu bisa keluar dan diketahui oleh Axel.Rei lantas mengambil lagi ponselnya untuk menghubungi nomor ponsel Honey lagi. namun yang terjadi malah ponsel Honey telah dimatikan total. Rasa cemas di hati Rei masuk dan membuatnya resah. Ia tak bisa memungkiri jika rasa takut akan kehilangan Honey mulai masuk dan menguasai hatinya.Axel Clarkson bukan orang yang ramah pada Rei Harristian. Dari awal mereka bertemu, Axel sudah benci setengah mati padanya. Sekarang saat ia mengetahui yang dilakukan oleh Rei pada Honey, pastilah Axel tak akan pernah bisa menoleransinya sama sekali.“Shit ... apa yang harus gue lakuin sekarang?” ucap Rei merutuki dirinya se
Selama perjalanan bulan madunya, Arjoona terus menghubungi putranya Rei memberikannya kabar setiap hari. Sama seperti hari ini saat malam hari, Rei baru saja di apartemennya sendirian dan tengah menerima sambungan telepon dari sang ayah.“Kamu terdengar bahagia? Apa ada yang terjadi?” tanya Arjoona di tengah pembicaraan soal bulan madu kedua Arjoona dan Claire melalui sambungan telepon. Rei terkekeh kecil dan mendengus.“Dad, aku sedang jatuh cinta!” jawab Rei dengan santainya bersandar separuh berbaring di sofa ruang tengah sambil tersenyum lebar.“Oh ya? Apa ... yang kamu maksud itu Axel?” tebak Arjoona dengan santai. Rei terkekeh karena tebakan yang benar dari sang Ayah. “Kok Daddy tau aja? Daddy ngintip ya!” canda Rei lalu terkekeh lagi. Arjoona tak ikut tertawa tapi Rei yakin jika ayahnya juga ikut bahagia.“Kamu tuh! Apa kamu yakin dengan pilihan kamu sekarang?” tanya Arjoona membuat suara kekeh Rei berhenti. Ia memutar bola matanya melirik ke beberapa arah di ruangan tempatnya
“Honey ... apa benar yang dikatakan Daddy! Si Brengsek itu yang sudah menghamilimu!” hardik Axel menaikkan nada suaranya nyaris membentak Honey. Abraham cukup terkejut dengan perubahan sikap Axel. Ternyata ia benar-benar tak tahu tentang hal tersebut. Abraham ikut berdiri dan memegang pundak Axel.“Kamu tidak tahu soal ini?” Axel menoleh pada ayahnya dengan kening mengernyit.“Jadi Daddy tahu dan tak bilang padaku!” Axel makin menaikkan suara pada ayahnya itu. Abraham memandang Axel yang malah terlihat marah padanya. Axel kecewa dengan Abraham yang tak mengatakan apa pun soal Rei Harristian. Sementara Honey makin terisak.“Aku melakukan penyelidikan dan menemukan jika Rei Harristian adalah orang yang telah memberikan cek pada Honey, satu hari setelah kejadian itu. Honey meminta aku untuk menghentikan semua penyelidikanku soal Rei! Dia meminta aku melupakan semua itu dan memulai semuanya dari awal lagi!” jelas Abrah
“Bekerja samalah denganku! Atau aku akan mempermalukanmu ke media. Jika aku membuka skandal percintaanmu dengan Dalton, bosmu itu tak akan menyukainya! Dia kan akan menghancurkan hidupmu!” sambung Christina makin menakut-nakuti. Charlotte menelan ludah pahit dan getir karena takut.“D-Dia bukan Axel Clarkson yang asli. A-Aku rasa dia bukan seorang pria!” aku Charlotte setelah tak tahan diancam seperti itu. Christina terdiam dan mengernyitkan keningnya. Rasanya ada yang aneh dengan semua itu.“Apa maksudmu dia bukan pria?” tanya Christina penuh keheranan. Charlotte mencoba menenangkan dirinya.“Itu hanya perkiraanku. Aku tidak punya buktinya!” elak Charlotte membuat Christina memicingkan mata padanya.“Bagaimana kamu bisa berspekulasi seperti itu? Apa kamu mengenal sosok asli asisten itu yang sebenarnya?” Charlotte tercekat dan pikirannya bergolak. Ia tengah mempertimbangkan apakah akan memberitah
Rei mengantarkan Honey sampai ke depan pintu lobi depan apartemennya setelah membukakan pintu untuknya. Ia tersenyum dan hendak ikut naik ke atas lobi sampai Honey berbalik dan Rei pun berhenti berjalan.“Terima kasih sudah mengantarkan aku, Pak!” ucap Honey seperti mencegah Rei untuk bisa naik dan masuk ke dalam. Rei tersenyum perlahan dan mencoba menyentuh jemari Axel alias Honey lagi. Tapi Axel dengan cepat memindahkan tangannya.“Apa aku boleh masuk ke dalam? Aku ingin memastikan jika kamu masuk dengan selamat,” ujar Rei mencoba membuat alasan agar bisa naik ke atas. Axel masih menghalangi dengan tetap berdiri di posisi yang sama.“Aku baik-baik saja. Kamu boleh pulang, Pak!” balas Honey menolak permintaan Rei yang ingin mengantarkannya masuk ke dalam. Rei mengangguk paham dan masih tersenyum manis.“Kalau begitu aku akan meneleponmu lagi nanti malam. Aku harap kamu akan mengangkat telepon dariku!” Honey
Christina Megan berdiri di balik sebuah dinding menunggu kesempatannya seperti seekor cheetah tengah memangsa. Matanya menatap ke arah pintu masuk lobi Tritone menunggu seseorang yang muncul dari sana. Target itu muncul menjawab rasa sabar Christina yang sudah menunggunya selama nyaris dua jam.Target itu adalah Charlotte Harper yang kembali menggunakan taksi. Ia kembali dengan sebuah spekulasi yang akan ia jual pada Dalton Curt. Kini Charlotte menebak jika yang menjadi Axel Clarkson adalah Honey yang merupakan saudara kandung Axel. Dengan langkah terburu-buru, Charlotte masuk ke dalam lift menuju lantai tempat Dalton tengah berada sekarang.Belum sempat pintu tertutup sempurna seseorang menerobos masuk. Dia adalah Cristina Megan yang langsung menekan tombol pintu tertutup. Mata Charlotte sontak membesar melihat keberadaan Christina yang tiba-tiba berdiri di depannya seperti akan menerkamnya.Christina tak terlihat bersahabat sama sekali. ia memandang tajam pada







