Masuk
"Kau terlambat sepuluh menit, Aruna Ayudya. Di perusahaanku, sepuluh menit adalah waktu yang cukup untuk kehilangan satu miliar."
Suara bariton itu menyambar tepat saat Aruna baru saja menginjakkan kaki di ambang pintu ruangan luas yang menghadap langsung ke jantung kota Viance. Aruna berdiri mematung. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Rambutnya sedikit acak-acakan karena ia terpaksa berlari lima blok dari stasiun bawah tanah setelah bus yang ditumpanginya mogok total.
"Maaf, Tuan. Ada kendala teknis di Viance Bawah…" Aruna membela diri.
"Aku tidak menggajimu untuk menjelaskan masalah teknis distrik kumuh," potong Leonardi tanpa menoleh.
Pria itu berdiri membelakanginya, menatap deretan gedung pencakar langit melalui dinding kaca raksasa. Jas hitamnya tampak sempurna tanpa lipatan sedikit pun, kontras dengan penampilan Aruna yang berantakan karena keringat dan air hujan yang mulai menetes dari ujung pakaiannya.
"Duduk. Atau silakan keluar sekarang dan biarkan penagih hutang itu menyeret ayahmu."
Langkah Aruna yang tadinya ragu seketika tercekat. Dingin menjalar dari ujung kakinya hingga ke tengkuk. "Bagaimana Anda?"
Leonardi akhirnya berbalik. Ia tidak terlihat seperti CEO muda berumur 30 tahun yang ramah seperti di sampul majalah bisnis.
"Duduk," perintahnya lagi. Kali ini suaranya lebih rendah, lebih berat, dan jauh lebih mengancam.
Aruna berjalan mendekat dengan lutut yang lemas. Ia duduk di kursi kulit yang dingin, mencoba mengatur napasnya. Namun, aroma sandalwood dan parfum maskulin yang tajam dari arah Leonardi justru membuatnya makin tertekan. Ruangan ini terlalu kedap suara, terlalu sunyi, seolah-olah jeritan paling keras pun tidak akan bisa keluar dari sini.
"Aku sudah mempelajari riwayat hidupmu," ucap Leonardi sembari menyandarkan tubuh di pinggiran meja, tepat di depan Aruna. "Lulusan terbaik Universitas Eldoria, fasih tiga bahasa, jenius dalam analisis data."
Aruna menelan ludah. "Terima kasih, Tuan. Saya yakin kemampuan saya bisa memajukan divisi…"
"Tapi semua itu tidak berguna jika kau tidak punya uang untuk membayar transplantasi ginjal ibumu bulan depan, bukan?"
Kalimat itu bagai hantaman godam di dada Aruna. Ia mengepalkan tangan di atas pangkuannya. "Saya datang untuk melamar posisi analis senior, Tuan. Saya bisa bekerja lembur, saya bisa melakukan apa pun yang perusahaan minta."
"Aku tidak butuh analis," Leonardi mencondongkan tubuhnya. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Aruna bisa melihat pantulan wajahnya yang pucat di manik mata hitam Leonardi. "Perusahaanku punya ribuan analis. Aku butuh sesuatu yang lain."
"Maksud Anda?"
"Aku butuh seseorang yang bisa masuk ke sebuah ruangan di rumahku. Seseorang yang tidak akan bertanya, tidak akan membantah, dan bersedia membuang harga dirinya demi keselamatan keluarganya."
Aruna mengerutkan kening, jantungnya berdegup kencang karena firasat buruk yang mulai merayapi akal sehatnya. "Pekerjaan macam apa itu?"
Leonardi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengambil map hitam bertuliskan Obsidian dan membukanya. Di dalamnya bukan deskripsi pekerjaan kantor, melainkan daftar angka-angka yang sangat besar.
"Rumah sakit terbaik di Viance untuk ibumu. Tim dokter spesialis sudah kusiapkan. Beasiswa penuh untuk adikmu, Renata, hingga ia lulus perguruan tinggi. Dan semua catatan hutang judi ayahmu pada sindikat Viance akan terhapus dalam satu jam jika kau menandatangani ini."
Aruna merasa udara di sekitarnya mendadak hilang. "Syaratnya?"
"Sederhana," Leonardi mengeluarkan sebuah kontrak dengan sampul hitam elegan. "Kau akan tinggal bersamaku di Obsidian Manor. Kau akan mematuhi setiap kata-kataku, mengikuti setiap aturanku. Tidak ada protes, tidak ada penolakan."
Aruna merasa seluruh tubuhnya gemetar. Ia bukan wanita bodoh. Ia tahu persis apa yang sedang ditawarkan pria di depannya ini. Ini bukan kontrak kerja, ini adalah kontrak kepemilikan.
"Anda ingin, membeli saya?" bisik Aruna dengan suara nyaris hilang.
Leonardi tersenyum tipis "Aku tidak membelimu, Aruna. Aku sedang menawarkan pertukaran. Aku memberikan kebebasan untuk keluargamu, dengan imbalan kebebasanmu sendiri. Kau yang memutuskan apakah harga dirimu lebih mahal daripada nyawa ibumu dan masa depan adikmu."
Leonardi menggeser sebuah pulpen emas berat ke hadapan Aruna. Suasana mendadak hening. Aruna hanya terpaku menatap dokumen itu sambil mencerna ucapan pria yang ada di depannya itu. Sementara Leonardi mengamati Aruna yang sibuk berperang dalam pikirannya. Sebelah bibir Leonardi terangkat sekilas.
"Sepuluh menitmu sudah habis, Aruna.” ucap Leonardi memecah keheningan yang bertahan beberapa saat. “Pilihannya sekarang adalah tanda tangani ini dan jadilah 'asisten pribadiku', atau keluar dari pintu itu dan biarkan penagih hutang itu mematahkan kaki ayahmu sebelum mereka mematikan mesin penyambung nyawa ibumu."
Aruna menatap pulpen itu, lalu menatap mata Leonardi. Tidak ada kehangatan di sana, hanya obsesi yang gelap dan keinginan untuk mengendalikan.
Tangan Aruna gemetar saat ia meraih pulpen emas itu. Pikirannya melayang pada wajah ibunya yang pucat di ranjang rumah sakit dan ketakutan di mata adiknya setiap kali pintu rumah mereka digedor preman.
"Hanya... asisten pribadi?" tanya Aruna, mencoba mencari sisa harga diri yang tersisa.
Leonardi berdiri tegak, merapikan kancing jasnya dengan tenang seolah kemenangan sudah ada di tangannya. "Di depan publik, ya. Tapi di balik pintu Obsidian Manor, kau adalah milikku sepenuhnya. Kau akan melakukan apa pun yang aku perintahkan, Aruna. Apa pun."
Aruna memejamkan mata. Air mata setetes jatuh ke atas kertas kontrak itu, otaknya masih berpikir apakah ia harus melakukan ini?
Angin laut menampar wajah mereka, dingin tapi nyata. Tidak ada kiasan romantis, tidak ada penebusan instan. Hanya kenyataan: mereka selamat, tapi harga yang dibayar sangat tinggi. Julian mati, Sheilla masih hidup, dan The Nest mulai runtuh secara perlahan.Aruna menatap Leonardi, matanya datar tapi tajam. “Kita lanjutkan ini sampai selesai. Tidak ada yang tersisa untuk mereka, tidak ada kompromi.”Leonardi menoleh padanya. “Setuju. Tapi kita lakukan ini dengan rencana. Kita tidak bisa gegabah.”Aruna mengangguk lagi. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya siap. Mereka tidak lagi menjadi pion. Mereka adalah ancaman.Di kejauhan, pulau The Nest mulai membakar puing-puingnya sendiri akibat ledakan terakhir Julian dan sabotase sistem. Asap hitam dan api menyelimuti fasilitas itu. Mereka selamat, tapi bukan tanpa kerugian. Ini adalah kemenangan yang pahit. Kehilangan Julian, trauma yang menempel, tapi dengan satu hal yang jelas: mereka masih hidup, dan Sheilla akan membayar.Dan untuk pertama kal
“Aku tidak pernah tahu cara mencintai tanpa mengurung,” ucapnya pelan, seolah Aruna bisa mendengar. “Aku kira dengan menahanmu di sini, aku bisa membuat dunia berhenti melukaimu.”Napasnya tersendat. Dadanya terasa sesak, tapi tidak menyakitkan. Lebih seperti kelelahan yang akhirnya mencapai batas.“Aku salah.”Panel di depannya menunjukkan hitungan mundur penghancuran total. Dua menit tersisa.Julian membuka mata untuk terakhir kalinya. Ia menatap ruang kendali yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kekuasaannya, ruang di mana ia membuat keputusan yang menghancurkan hidup banyak orang, termasuk dirinya sendiri.Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba menyelamatkan apa pun.Ia membiarkan sistem berjalan sesuai rancangan.“Untuk pertama kalinya dalam hidupku,” gumamnya lirih, “aku tidak mengurung apa pun.”Lampu padam satu per satu. Alarm berhenti. Keheningan menyelimuti ruang pusat sepenuhnya.Beberapa detik kemudian, ledakan dari sektor luar mengguncang struktur The Nest. Ruang ken
Leonardi menatap Julian dengan muak. Baginya, Julian adalah pria yang telah mencuri Aruna dan menyiksanya. Namun, ia juga melihat nilai strategis dari informasi tersebut. Selain itu, ia melihat bagaimana Aruna menatap Julian, bukan dengan cinta, melainkan dengan rasa kemanusiaan yang tersisa."Kita tidak punya banyak waktu. Pasukan keamanan Sheilla akan segera mengepung sektor ini," kata Leonardi. Ia memandang Julian yang tampak pasrah pada kematian. "Jika dia ingin hidup, dia harus merangkak sendiri."Tiba-tiba, suara Sheilla menggema melalui pengeras suara laboratorium. "Kalian pikir kalian sudah menang? Aku telah mengaktifkan protokol pembersihan diri. Dalam sepuluh menit, seluruh Sektor Pusat akan diisi dengan gas saraf. Nikmatilah saat-saat terakhir kalian bersama."Leonardi mengumpat. Ia tahu Sheilla tidak main-main. Ia segera menggendong Aruna dengan satu lengan dan menyampirkan senjatanya di lengan lain. "Kita pergi sekarang!"Aruna menatap Julian untuk terakhir kalinya saat L
Namun Julian terus memaksakan dirinya. Ia lebih baik mati dan menghancurkan seluruh laboratorium ini daripada melihat kakaknya menyakiti Aruna lagi. Di tengah kepulan asap dan suara alarm yang memekakkan telinga, Aruna merasakan sinyal Leonardi kini sudah berada tepat di bawah struktur bangunan laboratorium.Leonardi sudah di sini.Aruna menatap Sheilla yang mulai panik. "Ini sudah berakhir, Sheilla. Kau meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah kau rampas kemanusiaannya."Tiba-tiba, seluruh lampu di laboratorium mati total. Keheningan sesaat yang mencekam terjadi sebelum suara ledakan besar terdengar dari pintu akses darurat. Di tengah kegelapan, Aruna tahu bahwa sang predator yang sesungguhnya telah kembali untuk menuntut balas.Pintu laboratorium terlempar dari engselnya. Di tengah asap dan cahaya merah lampu darurat, sesosok pria berdiri dengan senjata laras panjang. Namun, sebelum Leonardi bisa melangkah masuk, Julian memberikan satu kejutan terakhir; ia mem
Ruang laboratorium utama kini dipenuhi oleh dengung mesin yang semakin meninggi. Aruna tetap terbaring di meja operasi, namun matanya tidak lagi kosong. Penjelasan Sheilla tentang rekayasa genetiknya bukan hanya menghancurkan mental Aruna, tetapi juga memberikan pemahaman baru tentang bagaimana sistem di kepalanya bekerja. Jika ia adalah bagian dari desain Vane, maka ia adalah pemilik otoritas tertinggi atas sistem tersebut, bukan Sheilla.Sheilla berdiri di depan monitor pusat, jemarinya bergerak cepat memasukkan perintah ekstraksi data. Ia begitu percaya diri karena menganggap Aruna sudah hancur total dan Julian hanyalah raga yang tidak berdaya. Sheilla tidak menyadari bahwa pengakuannya tentang asal-usul Aruna telah menyatukan dua jiwa yang selama ini ia adu domba.Di samping Aruna, Julian masih terengah di dalam tabung kaca. Monitor biometriknya menunjukkan grafik yang sangat tidak stabil. Pengakuan Sheilla bahwa cintanya pada Aruna hanyalah hasil rancangan ayahnya telah mengha
Maafkan aku, Julian, batin Aruna pahit. Kau harus tetap menjadi korban agar aku bisa menjadi pemenang.Sheilla mulai memasangkan kabel-kabel baru ke belakang telinga Aruna. "Ini akan sedikit menyakitkan, Aruna. Tapi kau tidak akan merasakannya karena kau sudah tidak ada lagi di sana, bukan?"Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap lampu operasi di atasnya dengan mata yang kosong. Namun, di balik sarung tangan medis yang menempel di lehernya, Aruna bisa merasakan getaran dari anting-anting mutiaranya. Bram sedang melakukan sinkronisasi terakhir.Pesta kematian keluarga Vane akan segera dimulai, dan Aruna Ayudya siap menjadi konduktor bagi simfoni kehancuran yang akan membakar habis "The Nest"."Mulai proses integrasi," perintah Sheilla.Seketika, rasa sakit yang luar biasa kembali meledak di saraf kranial Aruna. Namun kali ini, ia tidak menjerit. Ia menyambut rasa sakit itu sebagai sinyal bahwa gerbang menuju inti pertahanan Sheilla telah terbuka lebar.***Lampu laboratorium di Sektor







