MasukSepeninggal Sari, mata Wulan tak juga terpejam. Hatinya masih gundah memikirkan nasibnya yang buruk.
Ia tak habis pikir, setelah memberikan segalanya untuk Santoso, ternyata pria itu tak menganggapnya sebagai hubungan yang serius.
Wulan terus menangis untuk meratapi nasibnya yang tak bersahabat. Ia lantas mengutuk kebodohannya yang mau saja terbuai oleh rayuan setiap lak
Wulan merasa beruntung, setelah beberapa kali melakukan kesalahan, ia tak bertemu dengan Indah. Hari itu, sang mandor seolah-olah enggan untuk berkeliaran sembari mengamati dirinya.Perempuan tersebut lebih sibuk bermain ponsel di dalam kantornya. Sesekali, ia hanya nampak bercakap-cakap dengan Sari yang kemungkinan besar hanya membicarakan perihal produk-produk yang telah habis atau yang baru saja datang.Posisi Sari memang cukup penting, ia membuat berbagai catatan tentang stok barang di toko tersebut. Karyawan lain sempat bingung, mengapa karyawan baru seperti dia mendapatkan kepercayaan sebesar itu.Wulan seringkali kerepotan saat mendapatkan pertanyaan semacam itu dari kawan-kawannya yang lain. Sebagai seorang sahabat karib, ia pun berusaha sekuat mungkin untuk melindunginya.
Sepeninggal Sari, mata Wulan tak juga terpejam. Hatinya masih gundah memikirkan nasibnya yang buruk.Ia tak habis pikir, setelah memberikan segalanya untuk Santoso, ternyata pria itu tak menganggapnya sebagai hubungan yang serius.Wulan terus menangis untuk meratapi nasibnya yang tak bersahabat. Ia lantas mengutuk kebodohannya yang mau saja terbuai oleh rayuan setiap laki-laki yang datang kepadanya.Ia merasa sangat menyesal setelah mengobral tubuhnya untuk memuaskan hasrat yang entah mengapa selalu menguasai dirinya.Seiring dengan malam yang semakin larut, suasana pun semakin sunyi. Lalu lalang kendaraan di jalan terus berkurang.Kini, hanya ada detak jam dinding yang menemani Wulan dalam kensendirian. Setiap ketukan
Sesampainya di rumah, mereka berdua bergegas duduk berdampingan di ruang depan. Wulan tampak sangat menikmati momen tersebut.Ia merasa rindu kepada kekasih gelapnya itu. Meskipun ia tak berjumpa dengan pria tersebut hanya dalam hitungan hari saja.Wulan melingkarkan lengannya ke punggung Santoso dan melekatkan tubuhnya ke dada pria tersebut. Dengan nafas yang mulai memburu, Santoso membalas perlakuan itu dengan memeluk erat Wulan.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Wulan mendongak ke atas. Menatap wajah Santoso yang juga menatap dirinya.Keduanya bergegas saling mendekatkan wajah mereka. Bibir Wulan yang kering segera menyambut bibir Santoso.Dua kulit yang kering itu tanpa menunggu lama menjadi basah. Basah kar
Wulan masih menatap wajah Asih yang tampak kalem dan jujur. Bila orang lain yang mengutarakan hal tersebut kepadanya, seratus persen ia takkan mempercayainya.‘Namun yang menyampaikan semua ini Asih. Orang yang tak pernah sekalipun berbohong kepadaku,’ pikirnya.Sejak mereka duduk di ruang istirahat tersebut, Wulan merasa jika kenyataan hidup ia dan Sari jauh lebih gelap ketimbang yang ia ketahui.Ia tahu, jika Sari memang telah berselingkuh di depan matanya sendiri. Ia juga sadar, jika sahabat karibnya itu menjadi pemicu kegilaannya selama ini.Akan tetapi, ia tak habis pikir jika majikannya pun memiliki hubungan khusus dengan dirinya. Dan yang lebih membuat Wulan prihatin, sahabat karibnya itu menjalin hubungan asmara di majikannya satu atap dengan istrinya
Malam yang gila bersama dengan Yudha tak lagi membuat Wulan merasa berdosa, seolah-olah ia telah lupa jika dirinya telah bersuami. Ia menikmati segala apa yang diberikan oleh pria tersebut, seakan-akan dia merupakan suami sah untuknya.Kini, Wulan tak lagi menyesali kegilaan itu seperti sebelum-sebelumnya. Bahkan, ia merasa lebih membutuhkan hubungan gila tersebut meski pernah menolaknya mentah-mentah.Bayang-bayang Yudha yang sangat perkasa di hadapannya masih terngiang hingga saat ia berada di Toko Kelontong Agustina.Seperti biasanya, ia sedang duduk sambil mengemasi produk-produk yang kali ini berupa ceriping singkong yang sangat digemari pembeli.Beberapa waktu yang lalu, Wulan selalu merasa jika ceriping singkong tersebut merupakan produk yang menjanjikan untuk ia
Wulan sangat ketakutan ketika genggaman tangan tersebut masih membekap kedua matanya. Dalam kegelapan ia membayangkan berbagai skenario buruk yang sebentar lagi akan menimpa dirinya.Ia yakin jika yang membekap matanya merupakan tangan seorang manusia. Namun, yang membuatnya semakin bingung: bagaimana cara orang tersebut masuk ke dalam rumah, karena ia telah mengunci pintu rumah.Satu-satunya cara untuk melepaskan diri yang ia pikirkan sekarang adalah berteriak sekuat mungkin. Ia berharap ada orang yang melintas di jalan dan mendengar teriakan itu dan kemudian datang untuk menolongnya.Namun, saat ia hendak mulai berteriak, tiba-tiba saja tangan tersebut beralih dari mata menuju ke mulutnya, seolah-olah telah menduga jika Wulan akan melakukannya.Oleh karena itu, s







