LOGINWulan merasa beruntung, setelah beberapa kali melakukan kesalahan, ia tak bertemu dengan Indah. Hari itu, sang mandor seolah-olah enggan untuk berkeliaran sembari mengamati dirinya.
Perempuan tersebut lebih sibuk bermain ponsel di dalam kantornya. Sesekali, ia hanya nampak bercakap-cakap dengan Sari yang kemungkinan besar hanya membicarakan perihal produk-produk yang telah habis atau yang baru saja datang.![]()
Wulan melalui hari-hari tanpa Santoso tak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Meski terkadang masih merindukan hangat pelukannya, namun perlahan ia tak mengingat-ingat pria itu lagi.Kondisi tersebut didukung oleh sikap Santoso yang sepertinya memang menjauh dari dirinya. Pria tersebut nyaris tak pernah mengirim pesan terlebih dahulu.Setelah kepergiannya, Wulan memang haru berinisiatif untuk mengirim pesan kepada Santoso terlebih dahulu barulah pria itu membalasnya.
Tepat jam sepuluh malam, Wulan sampai di rumah. Perasaannya yang tak karuan semakin bertambah saat Sari sengaja mengejutkannya ketika membuka pintu."Jahat kamu, Sar!" pekiknya dengan napas yang terengah-engah, "kamu mau jantungku copot!""Gak mungkin, lah," sahut Sari sambil merangkul sahabat karibnya itu. "Jantungmu aku pegangin erat-erat," imbuhnya seraya meremas dada Wulan.
Sehabis maghrib, Wulan merasa seluruh sendi-sendinya hendak terlepas setelah ia bekerja seharian. Selain itu, rasa lelah tersebut disebabkan lebih karena percintaan yang begitu ganas bersama dengan Yudha dan Sari. Malam tadi, ia benar-benar merasa bebas dan tak merasa berdosa sedikit pun. Dalam kesempatan itu, bayangan Santoso benar-benar lenyap dari pikirannya. Apalagi bayangan Heru yang sekarang entah dimana.Kedatangan Sari yang mengejutkan, yang pada mulanya dianggap sebagai persoala
"Kenapa mukamu nampak masam banget gitu, Wulan?" tanya Yudha dengan gerak-gerik yang nampak mengejek Wulan. Sikapnya itu membuat Wulan kian merasa enggan, karena ternyata yang datang bukanlah Santoso, melainkan Yudha.Seandainya ia tahu Yudha yang datang, ia merasa takkan membukakan pintu untuknya. Kendati demikian, karena sudah terlanjur membukakan pintu untuknya, ia pun tidak berencana untuk mengusirnya pergi."Mau masuk atau nunggu pintu?" ujar Wulan ketus, masih merasa jengkel dengan
Malam telah datang dan kesunyian kembali menyeruak ke seluruh ruangan, saat Santoso dan Wulan kembali duduk berdampingan di ruang depan. Rambut Wulan masih nampak basah karena ia baru saja mandi setelah hari itu berulang kali bercintaa hebat dengan Santoso.Selama itu, mereka bersuka ria karena sama-sama punya kesempatan untuk saling meluapkan rasa setelah beberapa waktu saling terdiam. Akan tetapi, ketika Santoso telah kembali berpakaian rapi, keduanya merasa bila inilah saat terakhir mereka untuk berjumpa.
Suasana tiba-tiba sunyi ketika Wulan berciuman penuh gairah dengan Santoso. Ia tak mendengarkan apa-apa lagi, kecuali nafasnya yang telah memburu, mengejar gairahnya yang tak terkendali.Hanya dalam hitungan detik, Wulan merasakan sensasi aneh ketika bibirnya bertaut dengan bibir Santoso. Ia merasakan jika gairahnya semakin meluap-luap, lebih dahsyat ketimbang saat-saat yang lainnya. Kini Wulan bahkan nampak lebih agresif ketimbang Santoso, karena jemari tangannya telah berkelana menuju







