LOGINKalau sudah jodoh, apa memang akan se mudah ini jalannya? Ghana mengemudikan sendiri mobil miliknya itu dengan seorang perempuan yang duduk di sisi kiri tanpa henti membuat dia berkeringat saking gugupnya. “Apa? Mas mengumpat?” Kia menyingkirkan rambut yang menutupi area telinganya. Reflek Ghana menoleh gelagapan. “Iya? Mengumpat? Siapa?” “Oo, bukan Mas yang mengumpat ya? Aku denger tadi, masa iya dari luar mobil, ada pintu yang nggak ketutup rapat apa ya?” Kia memeta sekitar, pun ke pintu di bangku belakangnya. Semakin dicari semakin gusar Ghana di sana, dia benar-benar seperti anak remaja yang baru mengenal apa itu cinta, seperti terlupa yang sudah terlewati sebelum masa tiga tahun sendiri itu. Dia menjulurkan tangannya setengah ke belakang di mana Kia sedikit berputar untuk mencari-cari, merengkuh pundak Kia yang kemudian dia ajak kembali menghadap ke depan. Namun, alih-alih keberanian itu menyudahi kegilaannya, tangan yang bersentuhan tak sengaja dengan pipi Kia justru
Melihat perkembangan asmara putri mereka, Abimana dan Raniya seakan kembali menyelami kisah mereka di masa lalu yang mungkin akan berjalan semulus itu jika tak ada kisah kelam yang membuat Raniya benci juga salah paham tak berujung. “Kenapa tertawa, Sayang?” Abimana memicing, dia agak terganggu dengan sebutan tua yang sejak tadi Zayn katakan. Raniya menggelengkan kepalanya. “Kok bisa setipe sama mamanya sih, Mas! Hahaha … cuman selisih tiga tahun aja loh!” Wajah Abimana semakin mengerut, lagi dan lagi soal umur itu dibahas yang kini dia mempunyai saingannya. Si pria yang menjadi tambatan hati si putri tercinta. “Tapi, yang matang memang memuaskan,” kata Raniya dengan godaannya. Reflek senyum malu di wajah Abimana itu terbit, anggap saja itu keunggulannya sebagai pria matang yang dulu tidak segera menikah. “Memuaskan dalam hal apa?” Abimana masih membalas, belum puas rupanya. Raniya sedikit mencondongkan tubuhnya ke samping lengan sang suami. “Pemikiran, karakter, uang, t
Apa harus sekarang dan sudah waktunya? Ghana tampak mempertimbangkan berulang kali sebelum hanya untuk sekadar menyimpan nomor telepon Kia di ponselnya. Tak lupa sebelum dan sesudah nama perempuan itu diberikan gambar bunga_bunga sepatu. “Kia,” ucapnya lirih, itu kesekian kalinya. Teringat bagaimana setiap kali tatapan mereka bertemu meskipun singkat tanpa sepatah kata, lalu tadi sedikit berbeda dengan sorot agak tajam yang menunjukkan rasa kesal. “Tapi, dia kesal karena apa?” Ghana menggaruk dagunya, dia harus sepusing itu memikirkan perempuan yang lebih muda 10 tahun darinya, pun dia yang sudah pernah mempunyai beberapa mantan kekasih sekaligus mantan calon istri, rasanya lucu. “Ares atau adiknya mengatakan sesuatu?” Rasanya tidak mungkin karena membahas soal Kia saja masih baru dan selepas mereka bersitatap, Ghana juga percaya Ares tidak akan selancang itu, apalagi adik Ares yang tidak tahu apa-apa. Dia dengar soal ucapan Ares? Calon istri? Ghana menegakkan punggungnya, ke
“Ghana!” panggilan itu menggema sekali sampai ke dalam dada Kia, seseorang datang menghampiri si pria yang dikaguminya. “Aku pikir nggak dateng, Bro! Belum selesai urusin calon istri?” Kali ini, bukan sekadar menggema, tetapi meledak dalam dada Kia. Calon istri, pria bernama Ghana itu yang kabarnya selama tiga tahun tak membawa pasangan sama sekali mendadak sudah merencanakan pernikahan. “Kakak oke?” Zayn menyesal, dia terlewat kabar itu. Kia melipat bibirnya seraya mengangguk, lalu menarik lengan Zayn agar berjalan mengikutinya, meninggalkan tempat awal mereka berdiri dan tidak berlama-lama. Namun, sekilas garis pandangan mereka bertemu, iris Kia bersama Ghana yang berjarak itu, hanya sebentar dengan kesan yang dalam kemudian terpaksa teralihkan karena keramaian. “Aku nggak cemburu ya, Zayn!” katanya. Zayn reflek melipat keningnya. “Siapa yang bilang begitu?” “Ya, ya, siapa tau kamu mikir ke sana.” “Astaga, Kak. Bukan! Justru, aku khawatir kamu kecewa karena fakta yang
Cukup berat untuk mengungkapkannya, apalagi pria itu lebih tua dari mereka dan bisa disebut senior oleh Zayn. Akan tetapi, “Gimanapun juga aku yang papa dan Kakak amanahkan bertanggung jawab di sini, jadi posisiku dan dia bisa sama. Aku cari tau tentang dia dulu.” Itu keputusan Zayn yang tidak bisa Kia nego, berani mengungkapkan juga harus berani dengan segala risikonya, lagipula Zayn melakukan itu semua demi kebaikannya agar tidak berlarut kagum dan meletakkan perasaan pada tempat yang salah. Ghana Abizar Rutono, nama itu sudah Zayn kantongi. Pria yang usianya sepuluh tahun dari kakaknya dengan pengalaman dan rekam jejak bisnis baik tanpa kekalahan yang fatal, selalu mempunyai inovasi baru demi melegakan rekanan bisnis yang bekerja sama dengannya, pun yang terpenting adalah rekam jejak kehidupan percintaannya itu, kening Zayn sampai terlipat dalam untuk membacanya, termasuk hubungan kekeluargaan pria yang kerap disapa Bos Ghan itu. “Kamu nggak berlebihan ke kakakmu begitu?” Abi
Banyak hal yang Kia khawatirkan sepanjang masa menunggu dan mempersiapkan semua sampai pada tahun kelulusannya yang kemudian disusul oleh sang adik, keduanya berhasil untuk meneruskan rencana bersekolah bersama di luar negeri. Rumah besar itu kembali sepi ditinggalkan dua penghuninya, lebih terasa kental pada Raniya yang sepanjang hari lebih banyak di rumah, apalagi ketika sang suami bekerja, dengan Abimana yang masih aktif bekerja itu kerinduannya pada suasana ramai semakin menjadi. “Kakak, adek … ternyata nyawanya rumah ini kalian,” katanya sambil membuatkan kopi untuk sang suami. Abimana menoleh, mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel yang terang di tangannya. “Kita ke sana yuk, Sayang!” ajaknya, soal kesibukan sudah bisa Abimana bagi bersama saudara yang lain, ia telah membaginya. “Mas juga kangen sama anak-anak, minggu depan mau?” Raniya mengerjap. “Beneran? Aku kangen berat ini, Mas. Waktu kamu kerja, kerasa banget gimana sepinya, udah kamu kasih bibik, tapi tetap aja
“Nggak semudah itu kami percaya,” kata Diniati melengos, malu sekali pada keluarga Aksara yang baru saja pergi sembari mengomel panjang dan mencaci makinya itu. Abimana memahami perasaan Diniati, kedatangannya memang mendadak, apalagi ia tidak pernah mengenal orang tua Raniya dulu. “Dengan apa sa
“Kamu belum jawab pertanyaanku,” kata Abimana seraya menyandarkan punggungnya dan melipat tangan ke depan dada, menatap lekat Raniya.“Dia … jadi, sebenarnya dua minggu lagi itu aku mau menikah, Om. Tapi, calon suamiku ketahuan selingkuh dan bawa perempuan lain ke apartemen yang rencananya akan ka
[Kamu baik-baik aja, kan? Bilang saja kalau ada yang sakit, Raniya! Aku seperti yang tadi, akan bertanggung jawab ke kamu.]Ya, Raniya sedang butuh, tetapi tanggung jawab yang tak sama artinya dengan maksud Abimana.“O-oo, iya, hehehe … agak sakit sedikit aja, selebihnya oke kok! Om sibuk nggak?”
“Dia ganteng, pinter, baik, mapan, sayang keluarga … pilihan Mama nggak mungkin salah, Raniya. Lihat baik-baik!” terang Diniati sambil menunjuk kelima foto pria tampan itu bergantian dengan gaya yang berbeda. “Namanya Aksara, seganteng wajah dan sifatnya!” “Memangnya, Mama udah kenal banget sampe







