Share

Bab 49. Restu

Author: Moonlight
last update publish date: 2026-05-28 19:19:17

Tidak mempunyai pengalaman dekat dengan seorang ibu, justru sebaliknya. Tantangan Raniya untuk bisa meluluhkan dan mengambil percaya di hati tante Sena tak serta merta mudah. Akan tetapi, Raniya tidak ingin menyerah lagi demi hubungannya bersama Abimana yang tak melepaskannya begitu saja, pria itu akan selalu menjadi garda terdepan dan menunggunya setiap kali usaha dengan menjamin kenyamanan dan keamanan.

“Om segitunya, kayak aku mau ditampar aja!” omel Raniya karena menurutnya Abimana berleb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 50. One Step Closer

    Senggol kanan, senggol kiri. Saling lirik-lirik sebelum akhirnya duduk berhadapan dengan tante Sena yang pernah marah sekali karena Abimana dianggap memanfaatkan perempuan tidak berdaya, apalagi baru saja direnggut keperawanannya dalam kondisi mabuk. Abimana menegakkan punggungnya, berdeham gugup, berbeda dengan Raniya yang datang lagi mendapatkan pelukan hangat, lebih disayang dibandingkan dirinya. “Mau apa?” tanya tante Sena memicing. “Tentu saja yang tidak jauh-jauh dari perempuan yang sekarang Tante peluk itu,” jawab Abimana menunjuk Raniya dengan segala centilnya meledek, bahkan jual mahal sekali. “Aku meminta restu untuk kami, Te. Kali ini dan yang terakhir, izinkan dan restui kami memulai kehidupan baru. Izinkan aku menikahi Raniya dengan segala kesungguhan dan segenap hati, bukan semata karena kejadian malam itu, tapi karena aku sangat mencintainya. Te, kenalan-kenalan itu aku tolak karena aku menunggunya kembali,” katanya sedikit mengadu. Tante Sena menghela nafasnya.

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 49. Restu

    Tidak mempunyai pengalaman dekat dengan seorang ibu, justru sebaliknya. Tantangan Raniya untuk bisa meluluhkan dan mengambil percaya di hati tante Sena tak serta merta mudah. Akan tetapi, Raniya tidak ingin menyerah lagi demi hubungannya bersama Abimana yang tak melepaskannya begitu saja, pria itu akan selalu menjadi garda terdepan dan menunggunya setiap kali usaha dengan menjamin kenyamanan dan keamanan. “Om segitunya, kayak aku mau ditampar aja!” omel Raniya karena menurutnya Abimana berlebihan. “Kita nggak tau marahnya orang bagaimana, meskipun nggak pernah juga. Saya khawatir,” jawab Abimana hampir saja menelpon perawat untuk bersiaga seperti Raniya sedang berperang. Raniya menepuk lengan kekasihnya itu, om-om yang kelewat khawatir karena saking sayangnya. Demi apapun ia merasa beruntung sekali mendapatkan kesempatan untuk dicintai lagi oleh pria itu meskipun memang jarak usia mereka terbentang jauh. “Aku masuk ya,” kata Raniya sementara Abimana menunggu di ruang tengah sem

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 48. Mengejar Restu

    “Nggak ada yang tidur sekamar, Te,” ujar Abimana langsung mendapatkan lirikan tajam dari tante Anggun. Wanita itu menoleh pada Raniya yang mendapatkan banyak pelukan tadi, sampai sekarang mereka masih meyakini perceraian itu terjadi karena Abimana selingkuh dan tidak mau Raniya mengalami hal itu lagi meskipun selama tiga tahun terakhir Abimana sudah menyesalinya. “Raniya, beneran nggak kasih rayuan gombal?” Tante Anggun memastikan, tak lupa lirikan penuh curiga ia lemparkan pada Abimana. Raniya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. “Nggak sama sekali kok, Tante. Kami bertemu lagi di versi yang jauh lebih baik dan perasaan yang jauh lebih besar,” tuturnya. “Kamu secinta itu sama buaya ini, heh? Yakin mau balikan sama dia?” Raniya menoleh pada Abimana yang juga melihat ke arahnya. “Iya, Raniya mau banget memperbaiki semua bareng Mas Abi, Te. Banyak mimpi yang ingin kami wujudkan dan hanya bisa kami raih jika kami bersama. Tiga tahun cukup buat Raniya dan Mas Abi saling

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 47. Mulai Dari Awal

    Anggap saja malam itu Abimana tertidur karena faktanya sepanjang malam pria itu terus terjaga memandang wajah pulas sang mantan istri-Raniya. Entah mantan seperti apa mereka, rasanya tak pantas dianggap sebagai mantan jika mengingat bagaimana mereka berciuman kemarin. “Om, masih di kamar ya?” Raniya benar-benar datang pagi itu selepas mandi. Raniya berjalan dengan langkah kecilnya menuju kamar Abimana, melihat pintunya tidak tertutup rapat, ia pun mendorong pintu itu dan tiba-tiba tubuhnya ditarik kemudian didorong hingga terjerembab ke atas ranjang dengan Abimana di atasnya. “Om, ya ampun!” Raniya menekan dadanya, memukul lengan Abimana yang hanya memakai kaos singlet itu. “Udah mandi?” Abimana mengangguk. “Cuddle bentar boleh?” “Hem, sini!” Raniya membiarkan kepala Abimana berada di ceruk lehernya, jika dulu dirinya terganggu sekali, kali ini tidak, justru yang akan menahan Abimana untuk berlama-lama. Cukup lama keduanya diam sambil menikmati kebersamaan yang telah lama d

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 46. Ayo, Bersama!

    Raniya meremat dan mengacak rambut Abimana yang rakus menciuminya, seisi rongga mulut Raniya tak luput dari absen pria itu. Namun, tak hanya bibirnya yang dikulum habis, leher sampai tulang selangkanya pun basah dibuat pria itu seiring dengan suara desah yang Raniya suarakan tanpa malu. “Om!” Raniya menggelengkan kepalanya, menahan jari-jari Abimana yang hendak membuka kancing kemejanya. “Tempatnya pak Dani,” katanya sembari menangkup wajah merah tampan yang diliputi gairah itu. Abimana terpejam singkat sebelum menatap dalam mata sendu Raniya yang kini tersenyum tepat di hadapannya. Abimana ikut tersenyum, lalu mengecup bibir tipis basah itu lagi sebelum menurunkan Raniya dengan hati-hati. “Boleh nggak sih baikan langsung dimakan gini?” canda Raniya sambil merapikan kemeja dan rambutnya. “Awas berubah pikiran lagi!” kata Abimana kemudian merengkuh Raniya dan memeluknya lebih wajar. “Berubah pikiran apa nih? Mendadak pengen naik kasur gitu?” Raniya tergelak melihat ekspresi ge

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 45. Kali Ini, Tulus!

    Hanya untuk melihat seberapa serius Raniya menginginkan kebersamaan mereka yang bukan sekadar atas desakan lain kemudian kembali berubah di lain waktu. “Pak Dani!” Raniya menepuk lengan belakang sekretaris pribadi Abimana itu, pulang kerja dia langsung ke kantor Abimana selagi pria itu belum pulang. Dani berjengit, hampir saja sate minuman kaleng di tangannya dilemparkan. Raniya terkekeh. “Om Abi ada, kan?” “Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?” Dani mengakrabkan diri, lagipula jarak usianya dengan Raniya itu tidak jauh, mereka seharusnya bisa berteman. “Bapak lagi ada rapat sampe malem, tapi di sini memang. Mau nunggu?” “Lama ya?” Dani mengangguk. “Kalau menurut agenda sih sampe jam delapan malem, tapi kebanyakan bisa lebih. Kalau mau nunggu nggak apa, bisa di ruanganku,” jawabnya memberi solusi, lalu condong sedikit pada Raniya. “Kalau kelamaan di sini, nanti banyak yang curiga loh! Ada beberapa yang penasaran kamu siapanya pak Abi,” bisiknya. Perasaan Raniya reflek dilem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status