MasukJ_jadi Mas Sky, udah... udah tau kalau Mbak Lena, selingkuh di belakang Mas?" Tanya Senja, dengan ekspresi terkejut sekaligus panik. Sky mengagguk mantap, namun tatapannya matanya terus memperhatikan Senja. "Jadi kamu juga udah tau ternyata kalau Mbak mu itu selingkuh? Terus kenapa kamu malah diam-diam aja? Sengaja mau menutupi dari aku?" Ujar Sky, pada adik iparnya. Dia sedikit kecewa karena ternyata dirinya yang terakhir mengetahui hal itu. Senja menggeleng cepat, kemudian menjelaskan pada kakak iparnya. "Mas Sky jangan salah paham dulu, aku juga belum lama tau tentang perselingkuhan Mbak Lena." "Terus sekarang aku harus gimana menurut Kamu?" Sky bertanya pada Senja, ia ingin mendengar pendapat dari adik iparnya. Senja mendelik terkejut. "K_kenapa Mas Sky malah tanya ke aku? Aku nggak tau, ini kan rumah tangga kalian." Jawab Senja dengan jujur. "Aku tau ini rumah tangga aku dan Mbak mu, tapi aku cuma ingin dengan pendapat kamu aja boleh kan, Sen?" Kata Sky, masih penasaran
Setelah mengantar Gala ke sekolah, Sky lagi-lagi tidak langsung mengantar Senja pulang ke rumahnya, melainkan malah membawa gadis tersebut ketempat kerjanya. Sky memarkir mobilnya di depan gedung tinggi berwarna abu-abu dengan kaca reflektif yang berkilauan diterpa matahari pagi. Dia menoleh ke arah Senja yang tampak cemberut di kursi penumpang, bibirnya mengerucut dan alisnya berkerut. "Ayo turun, kita udah sampai," ucap Sky dengan suara lembut tapi tegas. Senja menatap ke luar jendela, napasnya memburu. "Ini di mana sih, Mas? Kamu ngapain malah bawa aku ke sini? Seharusnya anterin aku pulang ke rumah aja," suaranya mengandung sedikit kesal dan kebingungan. Sky tersenyum menatap adik iparnya, kemudian menjawab pertanyaan dari Senja. "Ini tempat kerjaku, Senja. Ayo kita turun... aku mau ngomong sesuatu sama kamu, sekaligus kamu temani aku kerja sebentar." Mendengar itu, Senja menggigit bibir bawahnya, tubuhnya kaku. "A-apa? I-ini tempat kerja kamu, Mas? Nggak ah, aku nggak mau nemen
"Hore... Papa udah pulang!" sorak Gala dengan penuh semangat, suaranya kecil namun riang menggema di ruang makan. Matanya berbinar-binar saat melihat Sky melangkah turun dari tangga, sosok ayah sempat menghilang satu hari tanpa kabar. Bocah kecil itu dengan cepat menoleh ke arah Senja yang duduk di sebelahnya, lalu kembali memusatkan perhatian pada pria yang kini tersenyum manis padanya.Sky mengangkat tangan sebentar, senyum hangat terukir di wajahnya. Ia melangkah mendekat ke meja makan dan menundukkan kepala, lalu mencium lembut pucuk kepala Gala. "Selamat pagi, jagoan Papa," sapanya dengan nada lembut, penuh kasih sayang yang membuat suasana pagi itu terasa hangat.Gala membalas dengan senyum lebar yang menampakkan deretan giginya kecil yang putih dan rapi. "Selamat pagi, Pa," katanya penuh semangat, matanya berbinar cerah. "Ayo kita sarapan bareng, Pa."Sky mengangguk, matanya lalu melirik ke arah Senja yang segera berdiri dari kursinya dan sibuk menata piring serta gelas di meja
Senja melangkah keluar dari kamar Gala dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut membangunkan keponakannya yang baru saja terlelap. Wajahnya masih terlihat lelah, mata yang semula berbinar kini menyimpan kekhawatiran mendalam. Sejak pulang dari sekolah, Gala memang tak henti merengek, bahkan terkadang sampai menangis bertanya tentang keberadaan ayah dan ibunya, pertanyaan-pertanyaan yang Senja sendiri tak mampu jawab dengan pasti. Suara kecil Gala yang terus memanggil nama kedua orang tuanya mengiris hati Senja, membuat dadanya sesak setiap kali harus berpura-pura tersenyum untuk menenangkan Keponakannya.Senja menatap ke arah pintu kamar yang baru saja ia tutup perlahan, napasnya tertahan sejenak. Dalam keheningan malam yang mulai merayap masuk, ia merasakan beban berat menggantung di pundaknya. Kakak dan kakak iparnya belum kembali sejak pertengkaran hebat semalam, dan ketidakhadiran mereka menciptakan kekosongan yang menusuk di rumah mewah ini."Akhirnya Gala, bisa tidur juga,
Pagi-pagi sinar matahari yang masuk melalui jendela besar rumah mewah ini terasa lebih dingin dan hampa dari hari-hari biasanya. Suasana yang biasanya masih terdengar suara tawa dari Gala saat bercanda dengan ayahnya Sky, kini berubah menjadi sunyi yang menusuk. Senja duduk di sebelah keponakannya Gala, menatap bocah kecil dengan wajah polos itu yang sedang sarapan dengan tenang menikmati bubur ayam."Kemana sih Mbak Lena sama Mas Sky? Kok sampai pagi begini belum juga pada pulang, ya?" Senja bertanya dalam hati, suaranya lirih dan penuh kegelisahan. Matanya tak lepas dari sosok Gala yang sesekali menatap ke arahnya."Apa mereka tidak peduli sama Gala? Kalaubiya, ksihan sekali Gala, jadi korban keegoisan orang tuanya. Lebih tepatnya Mbak Lena sih yang salah karna dia sudah mengkhianati suaminya di belakang." Senja menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Rasa sedih dan kekhawatiran pada sang keponakan melingkupi hatinya, seolah rumah megah ini hanyalah sebuah istana kosong tanpa
Setelah Senja keluar dari ruang kerja Sky dengan langkah cepat, Lena menatap sosok suaminya yang masih tenggelam dalam layar laptopnya. Wajahnya yang tadi penuh sinisme saat menatap sang adik, kini berubah menjadi senyum manis yang mengembang. Dengan langkah ringan, dia mendekat pada Sky, lalu memeluk nya dari belakang, merengkuh tubuhnya seolah ingin menghapus penat yang terlihat di wajah lelaki itu. "Mas... kamu masih kerja ya?" suaranya lembut, nyaris berbisik. Namun Sky tak mengalihkan pandangannya dari layar laptop, jari-jarinya tetap menari di atas keyboard tanpa menanggapi pelukan istrinya itu. Lena menunduk sedikit, bibirnya mengerut pelan, lalu mencoba menggoda dengan sentuhan tangannya yang mulai meraba dada Sky. "Ini udah malam lho, Mas. Bisa dilanjutkan besok lagi kerjanya," ujarnya penuh harap, mencoba mencuri perhatian suaminya.Sayangnya Sky tetap dingin, seolah Lena hanyalah bayangan yang tak berarti di sela kesibukan itu. Hatinya masih begitu sakit dengan pengkhianat
Gala baru saja keluar dari kelasnya, matanya langsung berbinar saat melihat Senja yang sudah menunggu tak jauh dari gerbang sekolah. Dengan langkah kecil yang lincah, dia berlari ke arah Senja, seraya memanggil dengan suara riang, "Aunty..." Tubuh mungilnya berlari ringan di antara kerumunan anak-a
Pagi ini, wajah Sky, tampak sedikit ceria dari biasanya. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan dingin kini memancarkan semangat yang sulit disembunyikan. Senyum tipis terukir di bibirnya, memberi kesan hangat yang jarang terlihat. Setelah mengantarkan putranya ke sekolah, Sky langsung pulang ke ru
Pagi ini Senja, sengaja tidak ikut mengantarkan Gala, berangkat ke sekolah dengan alasan mendadak sakit kepala. Meski awalnya bocah berusia lima tahun itu sempat merengek, tapi Senja berhasil memberi pengertian hingga akhirnya Gala, pun nurut.Senja, sengaja melakukan semua itu untuk menghindar dar
Senja melangkah perlahan menuju walk in closet, jemarinya gemetar saat membuka pintu dan meraih setelan jas hitam yang rapi tergantung di dalamnya. Dengan hati-hati, ia megambil pakaian itu dan membawanya ke arah kakak iparnya yang tengah duduk di tepi ranjang, hanya mengenakan handuk putih yang ma







