로그인"I_ini Mas, dasinya." Ucap Senja dengan suara sedikit bergetar, ia memberikan dasi yang di pilih asal kepada kakak iparnya, Sky.Sky menatap dasi di tangan Senja, tersenyum tipis saat melihat dasi yang dipilih Senja. Dalam hati Sky, memuji selera adik iparnya itu yang dianggap cukup bagus, padahal semua dasi yang ada di lemari Sky merupakan pilihannya sendiri."Tolong pakaikan dasinya," perintah Sky pada Senja. Dengan langkah santai ia menghampiri Senja, lalu berdiri tegap di depan gadis tersebut.Senja menahan nafasnya, gugup karna jaraknya dengan Sky terlalu dekat. "M_mas Sky, pasang sendiri aja ya? A-aku kurang pandai memasang dasi... ta_takut nya nanti malah nggak rapi lagi." Jawab Senja, beralasan, suaranya sedikit tergagap karna saking gugupnya dan tidak nyaman dengan keadaan.Rupanya Sky tidak menerima alasan Senja, dia menatap tajam manik mata adik iparnya. "Nggak usah banyak alasan, buruan pakaikan dasinya Senja." Kata Sky, dengan nada lembut namun penuh penekanan.Mau tidak
Pagi ini Gala sangat bahagia karna bisa sarapan pagi dengan keluarga yang lengkap. Ada ayahnya, ibunya dan Aunty-nya yang selalu ada menemani hari-harinya. Setelah beberapa hari pergi dari rumah, akhirnya Lena kembali setelah Sky mengajaknya berbicara hal serius tentang kelangsungan rumah tangganya."Gala bahagia banget pagi ini karena bisa sarapan bersama-sama, ada Papa, Mama dan Aunty. Semoga saja bisa seperti ini setiap hari," ujarnya penuh harap.Senja melirik sekilas kakak dan kakak iparnya, Sky tampak merasa bersalah pada putra semata wayangnya. Sebagai seorang ayah dia merasa belum bisa membuat putranya bahagia. Sementara Lena, dia tampak cuek dengan ucapan putranya, tidak terlalu mengambil pusing omongan Gala, karna dia masih kecil.Sky mengusap lembut kepala putranya. "Maafin Papa, ya nak karna belum bisa membuat Gala bahagia. Tapi Papa akan selalu mengusahakan agar kita selalu bersama-sama terus." Gala tersebut lebar, kemudian mengangguk. "Iya, Pa." Jawabnya singkat.Dalam
J_jadi Mas Sky, udah... udah tau kalau Mbak Lena, selingkuh di belakang Mas?" Tanya Senja, dengan ekspresi terkejut sekaligus panik. Sky mengagguk mantap, namun tatapannya matanya terus memperhatikan Senja. "Jadi kamu juga udah tau ternyata kalau Mbak mu itu selingkuh? Terus kenapa kamu malah diam-diam aja? Sengaja mau menutupi dari aku?" Ujar Sky, pada adik iparnya. Dia sedikit kecewa karena ternyata dirinya yang terakhir mengetahui hal itu. Senja menggeleng cepat, kemudian menjelaskan pada kakak iparnya. "Mas Sky jangan salah paham dulu, aku juga belum lama tau tentang perselingkuhan Mbak Lena." "Terus sekarang aku harus gimana menurut Kamu?" Sky bertanya pada Senja, ia ingin mendengar pendapat dari adik iparnya. Senja mendelik terkejut. "K_kenapa Mas Sky malah tanya ke aku? Aku nggak tau, ini kan rumah tangga kalian." Jawab Senja dengan jujur. "Aku tau ini rumah tangga aku dan Mbak mu, tapi aku cuma ingin dengan pendapat kamu aja boleh kan, Sen?" Kata Sky, masih penasaran
Setelah mengantar Gala ke sekolah, Sky lagi-lagi tidak langsung mengantar Senja pulang ke rumahnya, melainkan malah membawa gadis tersebut ketempat kerjanya. Sky memarkir mobilnya di depan gedung tinggi berwarna abu-abu dengan kaca reflektif yang berkilauan diterpa matahari pagi. Dia menoleh ke arah Senja yang tampak cemberut di kursi penumpang, bibirnya mengerucut dan alisnya berkerut. "Ayo turun, kita udah sampai," ucap Sky dengan suara lembut tapi tegas. Senja menatap ke luar jendela, napasnya memburu. "Ini di mana sih, Mas? Kamu ngapain malah bawa aku ke sini? Seharusnya anterin aku pulang ke rumah aja," suaranya mengandung sedikit kesal dan kebingungan. Sky tersenyum menatap adik iparnya, kemudian menjawab pertanyaan dari Senja. "Ini tempat kerjaku, Senja. Ayo kita turun... aku mau ngomong sesuatu sama kamu, sekaligus kamu temani aku kerja sebentar." Mendengar itu, Senja menggigit bibir bawahnya, tubuhnya kaku. "A-apa? I-ini tempat kerja kamu, Mas? Nggak ah, aku nggak mau nemen
"Hore... Papa udah pulang!" sorak Gala dengan penuh semangat, suaranya kecil namun riang menggema di ruang makan. Matanya berbinar-binar saat melihat Sky melangkah turun dari tangga, sosok ayah sempat menghilang satu hari tanpa kabar. Bocah kecil itu dengan cepat menoleh ke arah Senja yang duduk di sebelahnya, lalu kembali memusatkan perhatian pada pria yang kini tersenyum manis padanya.Sky mengangkat tangan sebentar, senyum hangat terukir di wajahnya. Ia melangkah mendekat ke meja makan dan menundukkan kepala, lalu mencium lembut pucuk kepala Gala. "Selamat pagi, jagoan Papa," sapanya dengan nada lembut, penuh kasih sayang yang membuat suasana pagi itu terasa hangat.Gala membalas dengan senyum lebar yang menampakkan deretan giginya kecil yang putih dan rapi. "Selamat pagi, Pa," katanya penuh semangat, matanya berbinar cerah. "Ayo kita sarapan bareng, Pa."Sky mengangguk, matanya lalu melirik ke arah Senja yang segera berdiri dari kursinya dan sibuk menata piring serta gelas di meja
Senja melangkah keluar dari kamar Gala dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut membangunkan keponakannya yang baru saja terlelap. Wajahnya masih terlihat lelah, mata yang semula berbinar kini menyimpan kekhawatiran mendalam. Sejak pulang dari sekolah, Gala memang tak henti merengek, bahkan terkadang sampai menangis bertanya tentang keberadaan ayah dan ibunya, pertanyaan-pertanyaan yang Senja sendiri tak mampu jawab dengan pasti. Suara kecil Gala yang terus memanggil nama kedua orang tuanya mengiris hati Senja, membuat dadanya sesak setiap kali harus berpura-pura tersenyum untuk menenangkan Keponakannya.Senja menatap ke arah pintu kamar yang baru saja ia tutup perlahan, napasnya tertahan sejenak. Dalam keheningan malam yang mulai merayap masuk, ia merasakan beban berat menggantung di pundaknya. Kakak dan kakak iparnya belum kembali sejak pertengkaran hebat semalam, dan ketidakhadiran mereka menciptakan kekosongan yang menusuk di rumah mewah ini."Akhirnya Gala, bisa tidur juga,
Gala baru saja keluar dari kelasnya, matanya langsung berbinar saat melihat Senja yang sudah menunggu tak jauh dari gerbang sekolah. Dengan langkah kecil yang lincah, dia berlari ke arah Senja, seraya memanggil dengan suara riang, "Aunty..." Tubuh mungilnya berlari ringan di antara kerumunan anak-a
Pagi ini, wajah Sky, tampak sedikit ceria dari biasanya. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan dingin kini memancarkan semangat yang sulit disembunyikan. Senyum tipis terukir di bibirnya, memberi kesan hangat yang jarang terlihat. Setelah mengantarkan putranya ke sekolah, Sky langsung pulang ke ru
Pagi ini Senja, sengaja tidak ikut mengantarkan Gala, berangkat ke sekolah dengan alasan mendadak sakit kepala. Meski awalnya bocah berusia lima tahun itu sempat merengek, tapi Senja berhasil memberi pengertian hingga akhirnya Gala, pun nurut.Senja, sengaja melakukan semua itu untuk menghindar dar
Senja melangkah perlahan menuju walk in closet, jemarinya gemetar saat membuka pintu dan meraih setelan jas hitam yang rapi tergantung di dalamnya. Dengan hati-hati, ia megambil pakaian itu dan membawanya ke arah kakak iparnya yang tengah duduk di tepi ranjang, hanya mengenakan handuk putih yang ma







