LOGINSuara tawa Gala yang ceria dan sedikit menggema memenuhi ruang keluarga, membuat suasana jadi hangat dan hidup. Bocah kecil itu duduk bersila di lantai, matanya berbinar-binar menatap layar televisi yang menampilkan filem kartun warna-warni. Sementara tangan mungilnya sesekali menunjuk ke arah layar, seolah ingin berbagi kegembiraan dengan Senja yang duduk di sampingnya. Senja tersenyum lembut, matanya menyorot penuh kasih pada wajah polos keponakan nya yang tengah larut dalam keceriaan masa kecilnya.
Tiba-tiba, dari arah ruang makan, sosok Bi Atun muncul dengan langkah ringan. Wajahnya yang tampak mulai keriput tersenyum ramah saat menyapa, "Permisi Non Senja dan Den Gala, sudah ditunggu tuan di meja makan untuk makan malam bersama." Suaranya hangat, membawa rasa nyaman khas seorang pengurus rumah tangga yang sudah seperti keluarga sendiri. Senja mengangguk sopan dengan senyum yang mengembang, membalas dengan suara tenang, "Iya, Bi. Terimakasih." Wajahnya tetap cerah, menandakan hubungan hangat antar mereka. Bi Atun pun membalas anggukan kecil sebelum kembali ke dapur. Senja beranjak dari tempat duduknya, lalu menatap Gala dengan penuh kelembutan. Sorot matanya yang teduh dan senyum manisnya seakan mengajak Gala untuk mengakhiri waktu bermain dan bersiap menyambut kebersamaan di meja makan. "Ayo kita makan malam dulu, Papa Gala, udah nungguin di meja makan," ucapnya pelan namun hangat. Gala menoleh, wajahnya yang sebelumnya ceria kini sedikit enggan beranjak, tapi dengan suara kecil yang penuh hormat, ia menjawab, "Iya, aunty." Perlahan bocah itu berdiri, menggandeng tangan Senja berjalan menuju meja makan. Sky sudah duduk di kursi meja makan dengan senyum lembut yang mengembang di bibirnya, matanya berbinar menyambut kedatangan Gala yang berlari kecil menuju meja makan. "Ayo kita makan malam dulu, sayang," ujarnya sambil mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan kecil putranya. Gala menatap ayahnya dengan sorot mata ceria yang jarang terlihat akhir-akhir ini, "Iya, Pa," jawabnya penuh semangat, seolah beban kesedihan yang selama ini membayangi lenyap sejenak. Sejak kehadiran Senja, aunty yang baru datang, ada secercah kebahagiaan yang perlahan mengisi hari-hari Gala. Bocah itu bahkan tak lagi bertanya tentang ibunya yang selalu sibuk dengan pekerjaan nya, wajah murungnya tersamar oleh tawa kecil dan rasa nyaman yang mulai tumbuh. Senja duduk di sebelah Gala, dengan perasaan sedikit canggung. Dia merasa segan pada kakak iparnya, apalagi sejak kedatangan nya, Sky tampak selalu memasang wajah datar dan dingin. "Aunty suapin Gala makan, ya?" Suara Gala, berhasil memecah keheningan di meja makan. Senja menatap teduh wajah tampan sang keponakan. "Iya, sayang. Gala mau makan pakai apa?" tanya Senja dengan suara lembut penuh perhatian. Gala menjawab cepat, "Pakai ayam goreng dan sayur," ucapnya dengan suara ceria yang mengalir tanpa beban. Senja mengangguk sambil menyiapkan piring kecil berisi makanan yang Gala minta, menata potongan ayam goreng renyah dan sayur hijau yang segar. "Pakai ini aja makannya?" Tanya Senja, sambil menunjukan piring berisi nasi, sayur dan ayam goreng. "Iya aunty, pakai itu aja." Jawab Gala. Senja mulai menyuapi Gala makan dengan telaten, terlihat sangat sabar meladeni setiap cerita dan pertanyaan dari bocah tersebut. Diam-diam, Sky tersenyum tipis memperhatikan putranya yang tampak bahagia, dia pun merasa kagum pada adik iparnya. Menurut Sky, meskipun Senja belum menikah dan memiliki anak, namun dia sudah sangat pandai mengurus anak. Sangat bertolak belakang dengan kakaknya Lena, istrinya itu sangat egois, lebih mementingkan karir di bandingkan mengurus anak sendiri. "Gala kenapa nggak makan sendiri?" Tanya Sky, pada putranya. "Aunty Senja kan mau makan juga." Lanjutnya lagi. Gala langsung menoleh pada Senja, seolah meminta jawaban dari aunty nya itu. "Gala makan aja dulu ya, aunty nanti aja makannya setelah selesai menyuapi Gala." Ujar Senja, menjelaskan. "Gala makan sendiri aja, aunty ambil makan, kita makan bareng." Ucapnya memasang wajah polos. "Nggak papa kok aunty suapin Gala makan dulu, aunty nanti bisa makan bareng Bibi dan sus Rini. Sekarang habiskan makan Gala, ya. Ini tinggal sedikit lagi biar aunty suapin." "Iya, aunty." Jawab Gala, patuh. Sky tau jika adik iparnya merasa canggung, ia pun segera beranjak dari ruang makan hendak menuju balkon kamarnya untuk merokok. "Habisin makan Gala ya, papa mau ke kamar duluan. Selesai makan langsung ke kamar istirahat, Gala boleh tidur di kamar papa kalau mau." Ujar Sky sebelum pergi meninggalkan meja makan. "Iya, Pa. Tapi nanti Gala mau tidur di temani aunty Senja aja, papa mau ikut sekalian tidur sama Gala dan aunty? Kita bisa tidur bertiga di kamar Gala, muat kok." Ucap bocah tersebut dengan polosnya. Seketika itu, Senja langsung tersedak air liur nya sendiri. Dia terkejut dan malu mendengar apa yang baru saja di ucapkan keponakan nya itu. "Gala jangan bicara seperti itu, kita tidak boleh tidur bertiga." Bisik Senja, lirih. Gala mengerutkan keningnya, kemudian menjawab. "Kenapa tidak boleh aunty? Gala pernah kok tidur bertiga sama mama dan papa, di kamar Gala." Senja menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia bingung bagaimana harus menjelaskan pada keponakannya yang belum tau apa-apa. "Gala... b_buka muat atau tidak nya tidur di kamar Gala, hanya saja kalau tidur bertiga sama papa dan aunty itu emang tidak boleh. Pokoknya Gala jangan tanya kenapa lagi ya, suatu saat pasti Gala bakalan ngerti. Ya udah sekarang habisin makanan nya ya, habis itu istirahat udah malam, besok pagi kan Gala harus berangkat ke sekolah." "Iya, aunty." Jawab Gala, nurut. Berbeda dengan respon Senja, Sky justru mengulum senyum samar, lalu pergi menuju ke kamar nya yang ada di lantai atas.Senja melangkah keluar dari kamar Gala dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut membangunkan keponakannya yang baru saja terlelap. Wajahnya masih terlihat lelah, mata yang semula berbinar kini menyimpan kekhawatiran mendalam. Sejak pulang dari sekolah, Gala memang tak henti merengek, bahkan terkadang sampai menangis bertanya tentang keberadaan ayah dan ibunya, pertanyaan-pertanyaan yang Senja sendiri tak mampu jawab dengan pasti. Suara kecil Gala yang terus memanggil nama kedua orang tuanya mengiris hati Senja, membuat dadanya sesak setiap kali harus berpura-pura tersenyum untuk menenangkan Keponakannya.Senja menatap ke arah pintu kamar yang baru saja ia tutup perlahan, napasnya tertahan sejenak. Dalam keheningan malam yang mulai merayap masuk, ia merasakan beban berat menggantung di pundaknya. Kakak dan kakak iparnya belum kembali sejak pertengkaran hebat semalam, dan ketidakhadiran mereka menciptakan kekosongan yang menusuk di rumah mewah ini."Akhirnya Gala, bisa tidur juga,
Pagi-pagi sinar matahari yang masuk melalui jendela besar rumah mewah ini terasa lebih dingin dan hampa dari hari-hari biasanya. Suasana yang biasanya masih terdengar suara tawa dari Gala saat bercanda dengan ayahnya Sky, kini berubah menjadi sunyi yang menusuk. Senja duduk di sebelah keponakannya Gala, menatap bocah kecil dengan wajah polos itu yang sedang sarapan dengan tenang menikmati bubur ayam."Kemana sih Mbak Lena sama Mas Sky? Kok sampai pagi begini belum juga pada pulang, ya?" Senja bertanya dalam hati, suaranya lirih dan penuh kegelisahan. Matanya tak lepas dari sosok Gala yang sesekali menatap ke arahnya."Apa mereka tidak peduli sama Gala? Kalaubiya, ksihan sekali Gala, jadi korban keegoisan orang tuanya. Lebih tepatnya Mbak Lena sih yang salah karna dia sudah mengkhianati suaminya di belakang." Senja menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Rasa sedih dan kekhawatiran pada sang keponakan melingkupi hatinya, seolah rumah megah ini hanyalah sebuah istana kosong tanpa
Setelah Senja keluar dari ruang kerja Sky dengan langkah cepat, Lena menatap sosok suaminya yang masih tenggelam dalam layar laptopnya. Wajahnya yang tadi penuh sinisme saat menatap sang adik, kini berubah menjadi senyum manis yang mengembang. Dengan langkah ringan, dia mendekat pada Sky, lalu memeluk nya dari belakang, merengkuh tubuhnya seolah ingin menghapus penat yang terlihat di wajah lelaki itu. "Mas... kamu masih kerja ya?" suaranya lembut, nyaris berbisik. Namun Sky tak mengalihkan pandangannya dari layar laptop, jari-jarinya tetap menari di atas keyboard tanpa menanggapi pelukan istrinya itu. Lena menunduk sedikit, bibirnya mengerut pelan, lalu mencoba menggoda dengan sentuhan tangannya yang mulai meraba dada Sky. "Ini udah malam lho, Mas. Bisa dilanjutkan besok lagi kerjanya," ujarnya penuh harap, mencoba mencuri perhatian suaminya.Sayangnya Sky tetap dingin, seolah Lena hanyalah bayangan yang tak berarti di sela kesibukan itu. Hatinya masih begitu sakit dengan pengkhianat
Selesai makan malam bersama putra dan adik iparnya, Sky langsung kembali ke kamar, ia masuk ke ruang kerja yang ada di dalam kamar, menyelesaikan pekerjaan yang sengaja dibawa pulang karna malas lembur di kantor. Sementara itu, dimeja makan Senja baru selesai makan malam bersama keponakannya, Gala. Dari arah pintu, muncul Lena yang baru pulang dari kantor, melihat putranya duduk di meja makan ia langsung menyapa dengan suara lembut. "Selamat malam, sayang." Senja dan Gala, menoleh ke arah sumber suara, Gala langsung berlari kecil menuju pintu begitu Lena muncul. "Mama..." Soraknya kegirangan. Mata bocah itu berbinar-binar, tangan mungilnya meraih ke arah sang ibu. Lena menunduk sejenak, membalas pelukan Gala dengan hangat, wajahnya menunjukkan sedikit kelelahan yang tersamar oleh senyum penuh kasih. "Gala udah selesai makan malam, ya?" Tanya Lena, mengusap rambut Gala dengan lembut, suaranya hangat meski sedikit letih. Senja mengamati momen itu dari meja makan, merasa ada kehan
Senja menatap Sky dengan mata membesar, detak jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Jalanan menuju komplek perumahan Green Garden sudah terlewati, namun Sky terus mengendarai mobil nya. "Lho, Mas... ini kita mau kemana?" Tanya Senja penasaran, suaranya sedikit bergetar, mencoba menyembunyikan rasa ketakutana yang mulai merayap.Sky tetap mengemudi dengan tenang, jarinya mantap menggenggam setir, matanya fokus ke depan. Ia menjawab pertanyaan Senja tanpa menoleh, suaranya terdengar dingin tapi tetap santai, "Kita ke hotel."Kata-kata itu seperti petir di siang bolong bagi Senja. Ia menoleh ke arah Sky, tatapannya langsung mengunci pada kakak iparnya dengan campuran panik dan curiga. "Ngapain kita ke hotel, Mas? Kamu jangan macam-macam ya? Ingat... aku ini adik iparmu, adeknya Mbak Lena, istrinya Mas Sky," katanya dengan suara sedikit meninggi, berusaha menegaskan posisinya dan menjaga jarak.Sky tersenyum tipis, tatapan matanya tetap lurus ke depan, dengan nada santai ia menjawab pert
Pagi itu sinar matahari menembus jendela, menerangi meja makan yang sudah tersusun rapi dengan piring-piring berisi sarapan hangat. Senja melangkah masuk keruang makan, matanya menangkap wajah-wajah yang sudah familiar: Lena dengan setelan kerja yang rapi, wajahnya tampak cantik dengan make up flawlees, rambutnya tersisir sempurna. Dia melirik Senja dari sudut matanya, terlihat ada ketegangan di sana, teringat tentang kejadian tadi malam.Di samping Lena, Sky duduk tegap mengenakan jas kantor, wajahnya tampak serius dan tenang, seolah tidak perduli dengan keadaan di sekitarnya kecuali pada sang putra, Gala.Senja mengambil tempat duduk di bangku sebelah Gala, keponakannya yang pintar, lucu dan lincah. Gala yang sudah rapi dengan seragam itu langsung memandang Senja dengan mata berbinar, menyapa dengan suara riang, "Selamat pagi, Aunty!"Senja tersenyum lembut, menundukkan kepala sedikit sambil mengusap rambut Gala dengan penuh kasih. "Pagi, sayang," ucap Senja dengan suara hangat, mem
Gala sudah masuk ke dalam kelasnya, kini tinggal Sky dan Senja, yang masih berada di depan sekolah Gala. Senja berdiri kaku di samping mobil hitam yang terparkir rapi, matanya sesekali menatap Sky dengan campuran rasa canggung dan ragu. Udara pagi yang sejuk seolah menambah ketegangan pada Senja. Sk
Bukannya Sky tidak suka dengan keberadaan Senja di rumahnya saat ini, hanya saja dia sedikit terkejut dengan kedatangan adik iparnya yang tiba-tiba, apalagi saat ini istrinya sendang tidak ada di rumah. Saat ini lelaki tersebut sedang duduk di balkon kamar, menikmati sebatang rokok yang terselip
Pagi ini Senja sangat sibuk, dari mulai masak untuk sarapan dan mengurus segala keperluan dan kebutuhan keponakannya Gala, yang akan berangkat ke sekolah, ia sudah seperti seorang ibu untuk keponakannya itu.Senja duduk di sebelah Gala, menyuapi keponakannya nasi dan lauk sup ayam yang tadi ia masa
Senja melangkah perlahan menuju walk in closet, jemarinya gemetar saat membuka pintu dan meraih setelan jas hitam yang rapi tergantung di dalamnya. Dengan hati-hati, ia megambil pakaian itu dan membawanya ke arah kakak iparnya yang tengah duduk di tepi ranjang, hanya mengenakan handuk putih yang ma







