LOGINPukul empat sore, Senja sudah tiba di depan pintu rumah kakaknya, tangan segera menekan bel.
Ting tong... Bunyi suara bel bergema, tak lama, suara langkah kaki mendekat, dan pintu terbuka perlahan. Di balik pintu, Bi Atun tersenyum manis, wajahnya berseri menyambut kedatangan adik dari majikannya. "Non Senja sudah sampai, silahkan masuk, Non," sapanya ramah dengan suara hangat yang membuat Senja mengangguk kecil. Senja membalas senyum itu dengan lembut, menundukkan kepala sedikit, "Makasih, Bi." Ia melangkah masuk, merasakan udara rumah yang familiar namun tetap membawa beban pikiran yang belum usai. Langkahnya mantap meski hatinya masih penuh perasaan campur aduk. Ia melewati ruang tamu yang rapi dan harum, menuju kamar yang selalu menjadi tempatnya beristirahat saat menginap di sini. Senja hanya meletakkan tas yang di bawahnya ke dalam kamar, setelah itu ia kembali keluar untuk menanyakan keberadaan keponakan nya pada Bi Atun. "Bi... Gala dimana ya?" Dari arah dapur, Bi Atun berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Senja. Di tangan nya membawa minuman dingin dan cemilan untuk Senja. "Den Gala ada di dalam kamarnya Non, mungkin lagi mandi. Silahkan di munim dulu Non, pasti lelah setelah perjalanan panjang." Ujar Bi Atun meletakkan minuman dan makanan di atas meja ruang keluarga. "Makasih banyak, Bi." Ucap Senja, tulus. "Sebenarnya Bibi tidak perlu repot-repot, Senja bisa ambil minum sendiri." Jawabnya dengan nada santai. Gadis tersebut duduk di sofa, mengambil minuman yang sudah di sediakan Bi Atun, lalu meneguknya hingga tersisa setengah. "Ah... seger banget Bi. Tenggorokan Senja yang kering langsung basah. Ya udah Bi, Senja mau lihat Gala dulu di kamarnya." "Silahkan, Non. Den Gala pasti happy banget kalau tau aunty nya sudah datang. Dari sejak pulang sekolah, Den Gala sudah heboh cerita kalau aunty nya mau datang." Kata Bi Atun, memberi tahu Senja. Senja tersenyum manis, senang karena keponakan nya itu begitu antusias menanti kedatangannya. Perasaan yang awalnya setengah hati untuk datang ke rumah sang kakak, kini berubah menjadi senang karena keponakan nya. "Kalau gitu Senja, pamit ke kamar Gala dulu Bi." Pamitnya sekali lagi. "Silahkan, Non." Jawab Bi Atun, singkat. Senja segera melangkah menuju kamar keponakan nya di lantai atas, gadis itu sampai berlari kecil karena tidak sabar memberi kejutan pada Gala, tentang kedatangannya. Saking senangnya, Senja sampai tak sengaja menabrak Sky yang baru saja keluar dari kamarnya. Bruuukk... Bunyi suara sesuatu yang jatuh ke lantai, siapa lagi kalau bukan tubuh Senja yang menimpa tubuh kakak iparnya, Sky. Gadis itu merasakan sakit di bagian dadanya karna kedua benda kenyal miliknya menumbuk dada atletis kakak iparnya. "Aduh... sakitnya susu ku." Keluh Senja, lirih. Meski suaranya sangat lirih, namun masih terdengar jelas oleh kakak iparnya. "Makannya kalau jalan itu lihat-lihat," jawab Sky dengan nada datar. Senja segera beranjak dari atas tubuh kakak iparnya, kemudian merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Ma_maaf Mas, Senja nggak sengaja." Ucapnya dengan nada sedikit bergetar. Sky tidak menjawab, dia pun segera berdiri lalu berjalan melewati adik iparnya tanpa berniat menjawab permintaan maaf adik iparnya. Senja mendesah kecil, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar sang keponakan. Tampak pintu kamar Gala terbuka sedikit, Senja langsung saja masuk ke kamar keponakan nya. "Gala..." Sapanya pada bocah berusia lima tahun. Gala yang baru selesai menyisir rambut di bantu oleh pengasuhnya, segera menoleh ke sumber suara. Wajahnya langsung berbinar saat melihat Senja masuk ke kamar nya. "Aunty Senja udah datang. Yey... yey... Aunty Senja udah datang." Sorak Gala berlari kecil menghampiri aunty nya. Senja tersenyum manis, ia langsung membawa Gala ke dalam gendongan nya. "Aunty kangen banget sama Gala," ujar Senja sambil mencium gemas pipi Gala. Bocah itu cekikikan di dalam gendongan Senja, merasakan geli karna kelakuan aunty nya. "Gala juga kangen banget sama aunty, tapi aunty jangan ciumin Gala kaya gini! Geli aunty," Senja langsung menghentikan kelakuannya, kemudian menurunkan tubuh kecil sang keponakan. "Ya udah... sekarang kita turun ke lantai bawah yuk, kita nonton filem kartun di ruang keluarga." Ajak Senja pad Gala. Lagi-lagi bocah kecil itu mersorak kegirangan, kalau ada aunty nya di sini, Gala tidak akan merasakan kesepian lagi sebab Senja begitu perduli dan sayang pada keponakan nya itu. Mungkin jika bisa memilih, Gala ingin Senja saja yang jadi ibunya.Senja melangkah keluar dari kamar Gala dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut membangunkan keponakannya yang baru saja terlelap. Wajahnya masih terlihat lelah, mata yang semula berbinar kini menyimpan kekhawatiran mendalam. Sejak pulang dari sekolah, Gala memang tak henti merengek, bahkan terkadang sampai menangis bertanya tentang keberadaan ayah dan ibunya, pertanyaan-pertanyaan yang Senja sendiri tak mampu jawab dengan pasti. Suara kecil Gala yang terus memanggil nama kedua orang tuanya mengiris hati Senja, membuat dadanya sesak setiap kali harus berpura-pura tersenyum untuk menenangkan Keponakannya.Senja menatap ke arah pintu kamar yang baru saja ia tutup perlahan, napasnya tertahan sejenak. Dalam keheningan malam yang mulai merayap masuk, ia merasakan beban berat menggantung di pundaknya. Kakak dan kakak iparnya belum kembali sejak pertengkaran hebat semalam, dan ketidakhadiran mereka menciptakan kekosongan yang menusuk di rumah mewah ini."Akhirnya Gala, bisa tidur juga,
Pagi-pagi sinar matahari yang masuk melalui jendela besar rumah mewah ini terasa lebih dingin dan hampa dari hari-hari biasanya. Suasana yang biasanya masih terdengar suara tawa dari Gala saat bercanda dengan ayahnya Sky, kini berubah menjadi sunyi yang menusuk. Senja duduk di sebelah keponakannya Gala, menatap bocah kecil dengan wajah polos itu yang sedang sarapan dengan tenang menikmati bubur ayam."Kemana sih Mbak Lena sama Mas Sky? Kok sampai pagi begini belum juga pada pulang, ya?" Senja bertanya dalam hati, suaranya lirih dan penuh kegelisahan. Matanya tak lepas dari sosok Gala yang sesekali menatap ke arahnya."Apa mereka tidak peduli sama Gala? Kalaubiya, ksihan sekali Gala, jadi korban keegoisan orang tuanya. Lebih tepatnya Mbak Lena sih yang salah karna dia sudah mengkhianati suaminya di belakang." Senja menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Rasa sedih dan kekhawatiran pada sang keponakan melingkupi hatinya, seolah rumah megah ini hanyalah sebuah istana kosong tanpa
Setelah Senja keluar dari ruang kerja Sky dengan langkah cepat, Lena menatap sosok suaminya yang masih tenggelam dalam layar laptopnya. Wajahnya yang tadi penuh sinisme saat menatap sang adik, kini berubah menjadi senyum manis yang mengembang. Dengan langkah ringan, dia mendekat pada Sky, lalu memeluk nya dari belakang, merengkuh tubuhnya seolah ingin menghapus penat yang terlihat di wajah lelaki itu. "Mas... kamu masih kerja ya?" suaranya lembut, nyaris berbisik. Namun Sky tak mengalihkan pandangannya dari layar laptop, jari-jarinya tetap menari di atas keyboard tanpa menanggapi pelukan istrinya itu. Lena menunduk sedikit, bibirnya mengerut pelan, lalu mencoba menggoda dengan sentuhan tangannya yang mulai meraba dada Sky. "Ini udah malam lho, Mas. Bisa dilanjutkan besok lagi kerjanya," ujarnya penuh harap, mencoba mencuri perhatian suaminya.Sayangnya Sky tetap dingin, seolah Lena hanyalah bayangan yang tak berarti di sela kesibukan itu. Hatinya masih begitu sakit dengan pengkhianat
Selesai makan malam bersama putra dan adik iparnya, Sky langsung kembali ke kamar, ia masuk ke ruang kerja yang ada di dalam kamar, menyelesaikan pekerjaan yang sengaja dibawa pulang karna malas lembur di kantor. Sementara itu, dimeja makan Senja baru selesai makan malam bersama keponakannya, Gala. Dari arah pintu, muncul Lena yang baru pulang dari kantor, melihat putranya duduk di meja makan ia langsung menyapa dengan suara lembut. "Selamat malam, sayang." Senja dan Gala, menoleh ke arah sumber suara, Gala langsung berlari kecil menuju pintu begitu Lena muncul. "Mama..." Soraknya kegirangan. Mata bocah itu berbinar-binar, tangan mungilnya meraih ke arah sang ibu. Lena menunduk sejenak, membalas pelukan Gala dengan hangat, wajahnya menunjukkan sedikit kelelahan yang tersamar oleh senyum penuh kasih. "Gala udah selesai makan malam, ya?" Tanya Lena, mengusap rambut Gala dengan lembut, suaranya hangat meski sedikit letih. Senja mengamati momen itu dari meja makan, merasa ada kehan
Senja menatap Sky dengan mata membesar, detak jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Jalanan menuju komplek perumahan Green Garden sudah terlewati, namun Sky terus mengendarai mobil nya. "Lho, Mas... ini kita mau kemana?" Tanya Senja penasaran, suaranya sedikit bergetar, mencoba menyembunyikan rasa ketakutana yang mulai merayap.Sky tetap mengemudi dengan tenang, jarinya mantap menggenggam setir, matanya fokus ke depan. Ia menjawab pertanyaan Senja tanpa menoleh, suaranya terdengar dingin tapi tetap santai, "Kita ke hotel."Kata-kata itu seperti petir di siang bolong bagi Senja. Ia menoleh ke arah Sky, tatapannya langsung mengunci pada kakak iparnya dengan campuran panik dan curiga. "Ngapain kita ke hotel, Mas? Kamu jangan macam-macam ya? Ingat... aku ini adik iparmu, adeknya Mbak Lena, istrinya Mas Sky," katanya dengan suara sedikit meninggi, berusaha menegaskan posisinya dan menjaga jarak.Sky tersenyum tipis, tatapan matanya tetap lurus ke depan, dengan nada santai ia menjawab pert
Pagi itu sinar matahari menembus jendela, menerangi meja makan yang sudah tersusun rapi dengan piring-piring berisi sarapan hangat. Senja melangkah masuk keruang makan, matanya menangkap wajah-wajah yang sudah familiar: Lena dengan setelan kerja yang rapi, wajahnya tampak cantik dengan make up flawlees, rambutnya tersisir sempurna. Dia melirik Senja dari sudut matanya, terlihat ada ketegangan di sana, teringat tentang kejadian tadi malam.Di samping Lena, Sky duduk tegap mengenakan jas kantor, wajahnya tampak serius dan tenang, seolah tidak perduli dengan keadaan di sekitarnya kecuali pada sang putra, Gala.Senja mengambil tempat duduk di bangku sebelah Gala, keponakannya yang pintar, lucu dan lincah. Gala yang sudah rapi dengan seragam itu langsung memandang Senja dengan mata berbinar, menyapa dengan suara riang, "Selamat pagi, Aunty!"Senja tersenyum lembut, menundukkan kepala sedikit sambil mengusap rambut Gala dengan penuh kasih. "Pagi, sayang," ucap Senja dengan suara hangat, mem
Pagi ini, wajah Sky, tampak sedikit ceria dari biasanya. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan dingin kini memancarkan semangat yang sulit disembunyikan. Senyum tipis terukir di bibirnya, memberi kesan hangat yang jarang terlihat. Setelah mengantarkan putranya ke sekolah, Sky langsung pulang ke ru
Lima hari berlalu... Lena, akhirnya kembali ke rumah setelah selesai dengan urusan pekerjaan dan urusan perselingkuhannya bersama bos nya. Lena membuka pintu rumah dengan langkah pelan, tubuhnya yang lelah masih terasa berat setelah perjalanan panjang dari luar kota. Lampu-lampu di ruang setiap ru
Gala sudah masuk ke dalam kelasnya, kini tinggal Sky dan Senja, yang masih berada di depan sekolah Gala. Senja berdiri kaku di samping mobil hitam yang terparkir rapi, matanya sesekali menatap Sky dengan campuran rasa canggung dan ragu. Udara pagi yang sejuk seolah menambah ketegangan pada Senja. Sk
Bukannya Sky tidak suka dengan keberadaan Senja di rumahnya saat ini, hanya saja dia sedikit terkejut dengan kedatangan adik iparnya yang tiba-tiba, apalagi saat ini istrinya sendang tidak ada di rumah. Saat ini lelaki tersebut sedang duduk di balkon kamar, menikmati sebatang rokok yang terselip







