Share

Debar berbeda

Author: ORI GAMII
last update Last Updated: 2025-12-29 16:22:56

Pembukaan kafe Andrew berjalan lancar. Prosesi pemotongan pita hingga kedatangan para tamu berlangsung tanpa kendala berarti. Suasana tampak hidup sejak pagi.

Memasuki jam makan siang, kafe itu mulai dipadati pengunjung. Promo khusus yang ditawarkan hari itu cukup menarik perhatian, belum lagi dukungan promosi dari Harry dan Feli melalui media sosial yang hasilnya terasa sangat signifikan.

Ditambah lagi, relasi Andrew dari klub miliknya ikut membantu menarik minat banyak orang. Nama Andrew yang sudah cukup dikenal membuat kafe tersebut cepat ramai, bahkan sebelum hari benar-benar beranjak sore.

Di tengah kesibukan itu, Harry dan Feli terlihat mondar-mandir ikut mengantar pesanan bergantian dengan pegawai lain.

Sesekali mereka berpapasan di antara meja-meja, saling melempar senyum singkat sebelum kembali sibuk. Meski lelah, wajah keduanya justru tampak cerah, seolah menikmati ritme kerja hari itu.

Tawa kecil kadang terdengar saat mereka saling berpapasan, memberi kesan hangat dan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Bintang Ihsan
tuu kan , yosi berniat jahat, mau minta uang sama feli
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Berharap nya sih Felli panggil Harry sayang wkwkwk
goodnovel comment avatar
WIDYA
waaaahhhhh..... si yosi dah mulai beraksi. dia jd penguntit . bisa gak matanya di bikin bintitan....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tergoda Teman Papa    Kantor baru

    Keesokan paginya, Bricia sudah mengenakan rok span selutut dan kemeja satin putih. Rambutnya ia ikat rapi membentuk kuncir kuda. Satu embusan napas kasar lolos dari bibirnya saat ia menatap cermin. Tubuhnya terasa lelah, matanya pun sedikit sembap. Semalaman ia hampir tak tidur. Nomor asing tadi malam tak hanya mengirim satu video. Dan setelah ia memblokirnya, nomor lain muncul mengirim hal yang sama. Potongan-potongan video Leo bersama seorang wanita, dalam situasi yang tak pantas untuk dilihat ulang. Dan anehnya wajah wanitanya tak terlihat jelas. Awalnya, Bricia sempat berpikir itu rekaman baru. Namun setelah beberapa video masuk bertubi-tubi, ia sadar, semuanya hanyalah rekaman lama. Disimpan dan dikumpulkan. Dan kini sengaja dikirimkan padanya. “Huft…” napasnya kembali berat. Tujuannya sudah pasti bukan membuatnya cemburu. Ini lebih ke usaha perlahan untuk menghancurkan kepercayaan dirinya. Bahkan kini kalimat Leo terus terngiang. Dan setiap mengingatnya, jemari Bric

  • Tergoda Teman Papa    Kenapa begini?

    [Apa kamu suka bunganya, Bri? Cantik, ya. Tapi tahukah kamu… mereka justru iri saat melihatmu. Karena ternyata, kamu jauh lebih cantik dari mereka.] Sepenggal kalimat itu membuat Bricia terkekeh kecil. Ia menggulingkan tubuhnya ke samping, memeluk bantal sambil tetap memegang surat beramplop merah muda dari Andrew. Seakan dunia di sekitarnya mengecil, bahkan ia sama sekali tak memedulikan apa pun yang sedang terjadi di ruang tamu antara Papanya, Louisa, dan Amanda. Begitu tawanya mereda, Bricia kembali meluruskan kertas itu, matanya menelusuri baris-baris berikutnya dengan senyum yang tak juga pudar. [Setelah bunga anggrek putih itu, nanti aku akan mengirimkan bunga yang lain. Supaya mereka semua tahu, kalau Bricia jauh lebih cantik dari bunga apa pun.] Tawa Bricia langsung pecah kembali begitu membaca kalimat itu. Ia buru-buru menutup wajah dengan bantal, seolah ingin menyembunyikan senyum lebarnya sendiri. “Ya ampun… nggak jelas banget sih Om-om satu ini,” gumamnya, meski nada

  • Tergoda Teman Papa    Baby-nya gini amat, sih!

    “Oh ya, Manda… ini Louisa. Calon istriku.” Amanda sontak menegakkan tubuh. Wajahnya seketika memucat, seolah kalimat itu menghantamnya tanpa aba-aba. Napasnya langsung tertahan begitu saja. Dulu, Eric hanya mengatakan bahwa Louisa adalah sepupu Diana. Tidak lebih. Tapi sekarang, status itu berubah begitu saja, tanpa pernah ia duga. Bricia yang menangkap perubahan suasana di ruangan itu langsung merasa tak nyaman. Ia tahu ini bukan lagi ruang yang pantas untuknya. “Aku ke kamar dulu, ya,” ucapnya pelan sambil sedikit membungkuk sopan. Tanpa menunggu respons, Bricia segera melangkah pergi, meninggalkan ruang tamu yang mendadak terasa berat oleh ketegangan orang dewasa. Begitu Bricia menghilang dari pandangan, Eric bergerak mendekat ke sisi Louisa. Tangannya terangkat, melingkari pinggang perempuan itu dengan gestur protektif dan penuh kepemilikan. Louisa sedikit terkejut, tapi tak menolak. Sejak tadi, mata Amanda tak lepas dari gerak-gerik mereka berdua. Dari cara Eric berdiri,

  • Tergoda Teman Papa    Calon istriku

    Bricia meregangkan tubuh begitu memasuki rumahnya. Jam menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit. Ia akhirnya menyerah dan memilih pulang dari kafe Andrew. Selain lelah, hatinya juga sedikit malas karena Andrew tak kunjung kembali. Padahal alasan ia bertahan di sana sejak tadi hanya ingin menghabiskan waktu bersama Andrew. Namun baru beberapa langkah masuk, langkah Bricia langsung terhenti. Matanya membelalak kecil. Di dekat sofa, dua pot anggrek putih berdiri berdampingan, tertata rapi dan tampak segar. Kelopaknya mekar dengan cantik dan memberi kesan tenang sekaligus elegan. Ia bisa menebak tanpa perlu bertanya, itu pasti dari Andrew untuk Louisa. Hanya saja, ia tak menyangka jumlahnya dua pot. Dadanya terasa sedikit menghangat bercampur heran. Kenapa dua? Untuk siapa yang satu lagi? Apakah untuk dirinya? Saat Bricia hendak menyentuh pot bunga itu, Louisa muncul dari arah dapur. Di tangannya ada sebuah amplop berwarna merah muda yang masih tersegel. Dengan senyum kecil

  • Tergoda Teman Papa    Debar berbeda

    Pembukaan kafe Andrew berjalan lancar. Prosesi pemotongan pita hingga kedatangan para tamu berlangsung tanpa kendala berarti. Suasana tampak hidup sejak pagi. Memasuki jam makan siang, kafe itu mulai dipadati pengunjung. Promo khusus yang ditawarkan hari itu cukup menarik perhatian, belum lagi dukungan promosi dari Harry dan Feli melalui media sosial yang hasilnya terasa sangat signifikan. Ditambah lagi, relasi Andrew dari klub miliknya ikut membantu menarik minat banyak orang. Nama Andrew yang sudah cukup dikenal membuat kafe tersebut cepat ramai, bahkan sebelum hari benar-benar beranjak sore. Di tengah kesibukan itu, Harry dan Feli terlihat mondar-mandir ikut mengantar pesanan bergantian dengan pegawai lain. Sesekali mereka berpapasan di antara meja-meja, saling melempar senyum singkat sebelum kembali sibuk. Meski lelah, wajah keduanya justru tampak cerah, seolah menikmati ritme kerja hari itu. Tawa kecil kadang terdengar saat mereka saling berpapasan, memberi kesan hangat dan

  • Tergoda Teman Papa    Tunggu ayah datang, Feli!

    Saat tiba di kafe milik Andrew, suasana sudah cukup ramai. Hari itu Andrew memang sengaja mengumpulkan seluruh karyawan, termasuk para tukang dan mandor yang sebelumnya mengerjakan renovasi, untuk makan bersama. Selain sebagai ucapan terima kasih, Andrew ingin membangun kedekatan agar ke depannya kerja sama mereka berjalan lebih hangat dan solid. Begitu Andrew dan Bricia melangkah masuk, beberapa pasang mata langsung menoleh. Satu per satu orang menyapa dengan anggukan sopan. Bricia refleks berdiri sedikit lebih dekat ke sisi Andrew, sikapnya canggung tanpa bisa ia sembunyikan. Ia merasa kikuk, seolah semua orang menganggapnya pasangan Andrew, padahal hubungan mereka sendiri belum pernah diberi nama. Dan perasaan itu membuat pipi Bricia menghangat, sementara ia hanya bisa tersenyum kecil dan menunduk sesekali, berusaha terlihat tenang meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Andrew menangkap kegugupan itu. Ia sedikit memiringkan tubuhnya, lalu berucap pelan agar han

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status