Home / Romansa / Tergoda Teman Papa / Tunggu ayah datang, Feli!

Share

Tunggu ayah datang, Feli!

Author: ORI GAMII
last update Last Updated: 2025-12-28 21:50:03

Saat tiba di kafe milik Andrew, suasana sudah cukup ramai.

Hari itu Andrew memang sengaja mengumpulkan seluruh karyawan, termasuk para tukang dan mandor yang sebelumnya mengerjakan renovasi, untuk makan bersama. Selain sebagai ucapan terima kasih, Andrew ingin membangun kedekatan agar ke depannya kerja sama mereka berjalan lebih hangat dan solid.

Begitu Andrew dan Bricia melangkah masuk, beberapa pasang mata langsung menoleh. Satu per satu orang menyapa dengan anggukan sopan. Bricia refleks berdiri sedikit lebih dekat ke sisi Andrew, sikapnya canggung tanpa bisa ia sembunyikan.

Ia merasa kikuk, seolah semua orang menganggapnya pasangan Andrew, padahal hubungan mereka sendiri belum pernah diberi nama. Dan perasaan itu membuat pipi Bricia menghangat, sementara ia hanya bisa tersenyum kecil dan menunduk sesekali, berusaha terlihat tenang meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Andrew menangkap kegugupan itu. Ia sedikit memiringkan tubuhnya, lalu berucap pelan agar han
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (9)
goodnovel comment avatar
Bintang Ihsan
yosi bakal berniat jahat sama feli, , hary tolong lindungi feli
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Dih ngapain coba si Yosi nguping.
goodnovel comment avatar
WIDYA
boleh gak sih si yosi disumpah in stroke. dosa gak ya kira kira....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tergoda Teman Papa    Lima tahun lalu...

    "Lalu... ini punya siapa?" tanya Louisa dengan kebingungan yang sama dengan Bricia. Bricia menatap kotak itu lebih lama. Entah kenapa, perutnya tiba-tiba terasa mual, seolah ada yang mengaduk di dalamnya. “Kalau bukan punyamu, mungkin salah kirim?” ucap Louisa ragu. Bricia menggeleng pelan. Ada rasa tak enak yang tiba-tiba muncul, seperti sebuah firasat. Tangannya sedikit gemetar saat ia mendekat dan berdiri di depan kotak itu."Dia nulis nama lengkapmu di sini, Bri. Jadi bisa dipastikan, ini memang untukmu." Suara Louisa kembali terdengar. Setelah mengumpulkan keberaniannya, akhirnya Bricia membuka lakban penutup dengan perlahan. Meski ada keyakinan ini bukan miliknya, tapi Bricia merasa ada pesan di dalamnya yang sengaja ditujukan untuk dirinya. Ketika semua lakban terbuka, detik berikutnya, napas Bricia langsung tersendat. Di dalam kotak itu ada sebuah boneka kain. Bentuknya kecil, lusuh… dan hanya memiliki satu kaki. Bagian tubuhnya terdapat noda merah kecokelatan

  • Tergoda Teman Papa    Paket

    “Kamu… cantik.” Bricia sedikit terkejut, tapi tetap tersenyum sopan. “Terima kasih,” jawabnya agak kikuk. Lucas menarik kembali tangannya, lalu menunjuk kursi kosong di sebelahnya. “Silakan duduk. Kita satu tim.” Bricia mengangguk dan menarik kursinya perlahan. Matanya sempat menyapu sekitar, lalu kembali ke layar di depannya, diam-diam ia menyesali kenyataan bahwa ia harus duduk tepat di samping lelaki yang menurutnya agak terlalu cringe. “Kepala tim kita namanya Carmen,” lanjut Lucas santai. “Janda muda, dan... masih seksi.” Alis Bricia hampir terangkat, tapi ia menahannya. Lucas malah ikut menyeringai kecil, matanya berkedip genit. “Ssst... tapi jangan bilang dia, ya." Lucas terkekeh. "Tapi sepertinya dia belum datang.” “Oh…” Bricia mengangguk pendek, ia tak tahu harus merespons apa. “Nanti kamu harus kenalan. Oh iya, dia suka banget cokelat,” tambah Lucas lagi, seolah itu yang informasi penting untuk Bricia. Dan Bricia baru hendak menyalakan komputernya ketika bunyi high h

  • Tergoda Teman Papa    Kantor baru

    Keesokan paginya, Bricia sudah mengenakan rok span selutut dan kemeja satin putih. Rambutnya ia ikat rapi membentuk kuncir kuda. Satu embusan napas kasar lolos dari bibirnya saat ia menatap cermin. Tubuhnya terasa lelah, matanya pun sedikit sembap. Semalaman ia hampir tak tidur. Nomor asing tadi malam tak hanya mengirim satu video. Dan setelah ia memblokirnya, nomor lain muncul mengirim hal yang sama. Potongan-potongan video Leo bersama seorang wanita, dalam situasi yang tak pantas untuk dilihat ulang. Dan anehnya wajah wanitanya tak terlihat jelas. Awalnya, Bricia sempat berpikir itu rekaman baru. Namun setelah beberapa video masuk bertubi-tubi, ia sadar, semuanya hanyalah rekaman lama. Disimpan dan dikumpulkan. Dan kini sengaja dikirimkan padanya. “Huft…” napasnya kembali berat. Tujuannya sudah pasti bukan membuatnya cemburu. Ini lebih ke usaha perlahan untuk menghancurkan kepercayaan dirinya. Bahkan kini kalimat Leo terus terngiang. Dan setiap mengingatnya, jemari Bric

  • Tergoda Teman Papa    Kenapa begini?

    [Apa kamu suka bunganya, Bri? Cantik, ya. Tapi tahukah kamu… mereka justru iri saat melihatmu. Karena ternyata, kamu jauh lebih cantik dari mereka.] Sepenggal kalimat itu membuat Bricia terkekeh kecil. Ia menggulingkan tubuhnya ke samping, memeluk bantal sambil tetap memegang surat beramplop merah muda dari Andrew. Seakan dunia di sekitarnya mengecil, bahkan ia sama sekali tak memedulikan apa pun yang sedang terjadi di ruang tamu antara Papanya, Louisa, dan Amanda. Begitu tawanya mereda, Bricia kembali meluruskan kertas itu, matanya menelusuri baris-baris berikutnya dengan senyum yang tak juga pudar. [Setelah bunga anggrek putih itu, nanti aku akan mengirimkan bunga yang lain. Supaya mereka semua tahu, kalau Bricia jauh lebih cantik dari bunga apa pun.] Tawa Bricia langsung pecah kembali begitu membaca kalimat itu. Ia buru-buru menutup wajah dengan bantal, seolah ingin menyembunyikan senyum lebarnya sendiri. “Ya ampun… nggak jelas banget sih Om-om satu ini,” gumamnya, meski nada

  • Tergoda Teman Papa    Baby-nya gini amat, sih!

    “Oh ya, Manda… ini Louisa. Calon istriku.” Amanda sontak menegakkan tubuh. Wajahnya seketika memucat, seolah kalimat itu menghantamnya tanpa aba-aba. Napasnya langsung tertahan begitu saja. Dulu, Eric hanya mengatakan bahwa Louisa adalah sepupu Diana. Tidak lebih. Tapi sekarang, status itu berubah begitu saja, tanpa pernah ia duga. Bricia yang menangkap perubahan suasana di ruangan itu langsung merasa tak nyaman. Ia tahu ini bukan lagi ruang yang pantas untuknya. “Aku ke kamar dulu, ya,” ucapnya pelan sambil sedikit membungkuk sopan. Tanpa menunggu respons, Bricia segera melangkah pergi, meninggalkan ruang tamu yang mendadak terasa berat oleh ketegangan orang dewasa. Begitu Bricia menghilang dari pandangan, Eric bergerak mendekat ke sisi Louisa. Tangannya terangkat, melingkari pinggang perempuan itu dengan gestur protektif dan penuh kepemilikan. Louisa sedikit terkejut, tapi tak menolak. Sejak tadi, mata Amanda tak lepas dari gerak-gerik mereka berdua. Dari cara Eric berdiri,

  • Tergoda Teman Papa    Calon istriku

    Bricia meregangkan tubuh begitu memasuki rumahnya. Jam menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit. Ia akhirnya menyerah dan memilih pulang dari kafe Andrew. Selain lelah, hatinya juga sedikit malas karena Andrew tak kunjung kembali. Padahal alasan ia bertahan di sana sejak tadi hanya ingin menghabiskan waktu bersama Andrew. Namun baru beberapa langkah masuk, langkah Bricia langsung terhenti. Matanya membelalak kecil. Di dekat sofa, dua pot anggrek putih berdiri berdampingan, tertata rapi dan tampak segar. Kelopaknya mekar dengan cantik dan memberi kesan tenang sekaligus elegan. Ia bisa menebak tanpa perlu bertanya, itu pasti dari Andrew untuk Louisa. Hanya saja, ia tak menyangka jumlahnya dua pot. Dadanya terasa sedikit menghangat bercampur heran. Kenapa dua? Untuk siapa yang satu lagi? Apakah untuk dirinya? Saat Bricia hendak menyentuh pot bunga itu, Louisa muncul dari arah dapur. Di tangannya ada sebuah amplop berwarna merah muda yang masih tersegel. Dengan senyum kecil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status